September 11, 2012

Kritik dan Saran itu "Perlu"


“Tidak ada manusia yang sempurna, kesempurnaan itu hanya milik Allah.”

Mungkin itu kata yang tepat untuk saya ungkapkan di depan mereka. Iya, tidak ada manusia yang sempurna dan bukan berarti dengan ketidak sempurnaan itu seseorang lantas tidak bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, kan? Pun dengan saya. Bukan berarti karena saya seorang “Guru”, lantas apa yang saya lakukan adalah “benar”. Mungkin pernah ada murid yang tersakiti dengan ucapan saya, tingkah laku saya, dan lain sebagainya.

Saya sengaja menyebarkan angket kepada murid-murid tentang “Kesalahan” apa yang pernah saya lakukan pada mereka?, “Kritik dan Saran” yang mungkin selama ini mereka tidak berani untuk mengungkapkan, maka kali ini saya beri mereka kesempatan untuk mengungkapkannya dalam selembar kertas. Selembar kertas yang mana isinya nanti akan jadi perbaikan diri, agar saya bisa menjadi Guru yang baik bagi mereka, bisa menjadi teladan yang baik.

Karena “Guru yang baik adalah guru yang bisa menjadi teman yang baik bagi murid-muridnya, dan bisa menjadi teladan yang baik.” Dan saya ingin menjadi Guru yang baik. Saya sangat bersyukur, mereka akhirnya mau menuliskan unek-unek mereka selama ini yang kadang saya sendiri tidak menyadari semua itu. Kadang ada hal yang mungkin menurut saya benar, akan tetapi menurut murid itu tidak baik untuk mereka, atau mungkin mereka tidak menyukai hal itu.

Saya rasa, semua guru pun harus melakukan hal yang sama. Dalam artian memberikan kesempatan pada murid untuk memberikan “Kritik dan Saran” kepada Guru. Dengan demikian, kita bisa lebih mengerti “Apa sebenarnya yang diinginkan oleh murid agar proses belajar mengajar jadi lebih baik?” dengan baiknya proses belajar mengajar, maka tentu akan memberikan pengaruh yang baik bagi keberhasilan siswa.

Setelah saya bagikan angket, akhirnya saya banyak tahu tentang keluh kesah mereka selama ini yang mana saya tidak pernah menyadari itu. Kadang saya menganggap semuanya “Baik-baik saja”, namun ternyata ada sesuatu yang mengganjal pada diri murid. Dan sekarang saya baru menyadari itu.

Ketika saya bertanya tentang “Kesan” mereka saat pertama kali bertemu dengan saya, mereka banyak yang menjawab “Saya kurang bisa berbicara bahasa Indonesia.” hehe

Atau saya sempat nyengir ketika ada murid yang menulis di bagian terakhir kertasnya “Ojo suwe-suwe nunggu mbojo,” “Angger wis gede, ustadz aja jomblo bae,” hadeuhh saya butuh penerjemah dan setelah tahu artinya, saya pun paham bahwa mereka begitu perhatian dengan saya J

Insyaallah, niat baik saya untuk berbakti, mendidik putra-putri bangsa ini bisa lebih “Ikhlas”, sehingga apa yang saya ajarkan pada mereka bisa dimengerti dengan baik. Karena, kadang murid tidak bisa memahami apa yang kita ajarkan karena tidak adanya keihklasan Guru saat mengajar. Atau adanya kesalahan kita yang membuat mereka enggan untuk mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Jadi, beri mereka kesempatan untuk memberikan “Kritik dan saran” yang membangun, guna menjadikan kita lebih baik. Mari terus benahi diri, agar kita bisa menjadi teladan yang baik bagi mereka. Sehingga dengan pancaran kebaikan itu, nantinya akan mengetuk hati murid-murid kita untuk terus menjadi lebih baik.

2 comments:

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan