October 31, 2012

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa


“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”

Saya yakin kalian juga pernah membaca kalimat di atas, entah itu di buku-buku pelajaran, artikel-artikel pendidikan, atau mungkin kalian sering mengucapkan kalimat itu.

Saya adalah seorang guru, meski baru seumur jagung masa kerja saya sebagai seorang guru. Akan tetapi, lamanya masa mengajar tentu bukan menjadi tolak ukur profesionalitas seorang guru. Guru itu memiliki tanggung jawab yang sangat besar, dimana ia selalu dijadikan panutan oleh anak didiknya. Guru itu memiliki kewajiban untuk merubah anak didiknya “dari tidak tahu menjadi tahu”. Itulah sebuah proses panjang perjuangan seorang guru.

Juli 2011
Kali pertama saya menjadi seorang guru, saya sempat merasakan betapa berat amanah yang ada di pundak saya. Sebuah amanah yang merupakan titipan dari masing-masing wali murid, untuk mendidik anak-anak mereka menjadi putra-putri yang memilik kepribadian unggul. Namun, saya yakin bahwa saya bisa mengemban amanah ini, meski jalan yang akan saya lalui begitu terjal, mungkin berbelok, atau bahkan terperosok karena ketidakhati-hatian saya dalam memilih jalan.
Pertanyaan yang sering saya dengar adalah, 

“Apakah semua pendidik kita itu berkualitas?”

Mari saya ceritakan satu fakta yang membuat saya mengerutkan dahi. Saat pulang mudik lebaran ke Bengkulu, saya mendapatkan sebuah cerita dari salah satu teman ayah. Ia menceritakan bahwa banyak teman-temannya yang memiliki ijazah S1 dengan membayar uang dengan jumlah tertentu, kemudian menggunakan ijazah tadi untuk bisa ikut tes PNS. Tidak hanya itu, tes PNS zaman sekarang sudah tidak lagi murni mencari pegawai yang memiliki kinerja yang baik, melainkan sebagai ajang untuk menumpuk kekayaan bagi segelintir orang.

Dahi saya semakin berkerut, sementara sang bapak terus melanjutkan ceritanya.

“Ada rekan saya yang lulus PNS dengan menyogok, dan ditempatkan untuk mengajar di SD. Ijazah yang ia dapat bukan karena ikut perkuliahan, melainkan hanya sebatas membayar ke sebuah perguruan tinggi demi mendapatkan pengakuan bahwa ia sudah menyelesaikan pendidikan strata satu (S1). Pada saat pergantian Kepala Daerah, diadakan perpindahan tenaga pengajar, ada Guru yang tadinya mengajar matematika di SD kemudian dipindahkan ke SMP, yang semula mengajar di SMA dipindah tugaskan ke SD, dan sebaliknya. Rekan saya kaget, saat mengetahui bahwa dia dipindahkan ke SMA. Jika pindah ke SMA, otomatis beban mengajarnya lebih sulit dibandingkan dengan materi yang ada di SD. Rekan saya hanya sanggup bertahan beberapa bulan saja, sebelum akhirnya mengundurkan diri.”

Teman ayah mengakhiri ceritanya dengan menghembuskan nafas panjang, sambil berucap,

“Bagaimana nasib anak-anak saya jika kualitas pendidik seperti ini adanya?”

Saya pun akhirnya ikut menghela nafas panjang.
Inilah satu kisah dari sekian banyak kisah yang saya dengar. Masih banyak tenaga pengajar yang tidak memenuhi standar untuk bisa mengajar dengan baik. Banyak guru yang hanya lebih pintar dengan muridnya satu malam saja, dalam artian, materi ajar esok hari baru dipersiapkan pada malam harinya, dan terus demikian. Banyak guru yang kelabakan saat mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari murid yang sudah lebih banyak tahu tentang materi ajar.

Zaman semakin berkembang, anak-anak mendapatkan berbagai macam informasi dari sekian banyak media yang ada. Guru seharusnya bisa terus meningkatkan kemampuannya, agar bisa menjadi lebih baik dari hari ke hari. Tidak hanya jalan di tempat.

Satu potret menyedihkan lainnya adalah, sebuah kenyataan bahwa untuk menjadi guru sudah dijadikan sebuah ladang penambah kekayaan bagi pihak-pihak tertentu. Setelah menyelesaikan pendidikan Strata Satu (S1), saya sempat ingin pulang ke kampung halaman, mengabdikan diri pada bangsa, mendidik penerus bangsa ini menjadi putra-putri yang siap untuk memimpin bangsa ini menjadi lebih baik.

Namun, semangat saya akhirnya kalah. Semangat saya untuk pulang ke kampung halaman dan mengabdi, menjadi hilang saat melihat potret perekrutan tenaga pengajar yang tidak semestinya. Tes PNS yang diadakan hanya sebagai kedok, kenyataannya yang mempunyai uang lebih lah yang bisa menjadi PNS. Kualitas calon guru tidak menjadi persoalan, yang bayarannya besar, dialah yang akan lolos menjadi PNS.

“Lantas, jika kualitas tenaga pendidik tidak lagi penting, bagaimana nasib penerus bangsa ini?”

Namun, saya masih percaya, ada pihak-pihak yang betul-betul tulus mengabdikan diri menjadi tenaga pendidik. Semoga kedepannya potret pendidikan bangsa ini terus menjadi baik. Dengan baiknya kualitas tenaga pendidik, tentu akan menghasilkan anak didik yang memiliki kualitas lebih baik.

Guruku Adalah Pahlawanku


Dulu, saya adalah seorang anak yang sangat pemalu, tidak berani mengemukakan pendapat saat di kelas, tidak berani maju menjawab soal-soal yang dibuat oleh guru, tidak banyak bicara. Saya hanya suka dengan kesendirian, diam dan melakukan berbagai macam hal sendiri. Saya tidak banyak berinteraksi dengan teman-teman.

“Guruku adalah pahlawanku.”

Saya menyebutnya demikian, saya mempunyai seorang guru perempuan, beliau adalah guru yang mengajar tauhid, nama beliau adalah Ustadzah. Sulastri, S.Ag. Beliau begitu perhatian, selalu memberi kesempatan pada saya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang beliau ajukan, dan tidak pernah bosan, meski saya sangat susah untuk menjawab semua pertanyaan itu. Bukan karena saya tidak bisa menjawab, akan tetapi karena malu yang sangat berlebihan yang masih belum bisa saya kurangi.

Pada satu kesempatan, saya dipanggil oleh Ustadzah. Sulastri, beliau mengajarkan kepada saya bahwa “malu memang sebagian dari iman.”, Akan tetapi malu yang dimaksud disini adalah “Malu jika melakukan sesuatu yang tidak diridhoi oleh Allah.” Beliau sangat telaten menjelaskan kepada saya hakikat malu yang sesungguhnya. Selagi itu baik, jangan malu untuk melakukannya. Lakukanlah semua itu karena Allah SWT.

Saat itu, saya hanya mendengarkan dengan baik apa yang dijelaskan oleh beliau. Hingga akhirnya beberapa waktu kemudian, saat sudah masuk ke sekolah menengah atas, saya mulai percaya dengan kemampuan diri. Saya sudah mulai berani berinteraski dengan teman-teman, saya juga sudah berani mengemukakan pendapat, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung dan lain-lain. Sejak itu, saya mulai menemukan bahwa saya mampu, saya harus percaya dengan diri sendiri, bukan malah malu.

Ustadzah. Sulastri tidak hanya menjadikan saya percaya diri, akan tetapi beliau juga yang membuat saya bangkit lagi, saat saya sedang terpuruk. Saya pernah melakukan satu kesalahan fatal, yang membuat saya dijauhi oleh teman-teman. Beliau sempat meneteskan air mata, membuat saya ikut menangis haru, merasakan betapa beliau sangat peduli dengan anak didiknya. Saat guru-guru banyak yang mengacuhkan saya, disaat saya butuh dukungan dari mereka semua, Ustadzah. Sulastri datang dengan sabar menenangkan saya, mencoba untuk membuat saya kembali bangkit dari keterpurukan.

Saya sempat ingin mengakhiri hidup karena permasalahan yang tak kunjung usai, namun nasehat demi nasehat yang diberikan oleh beliau selalu terngiang di dalam benak saya,

“Bahwa hidup memang tidak akan pernah lepas dari permasalahan, yang perlu kita lakukan adalah menjadi diri kita yang terbaik. Selebihnya, biarkan Allah memperlihatkan betapa agung kuasa-Nya.”

Nasehat-nasehat yang selalu beliau sampaikan telah menjadikan saya lebih baik, menjadikan saya satu sosok yang mulai menata kembali jalan menuju Allah. Saya sempat lari, menjauh dan enggan untuk kembali kepada Tuhan yang telah memberikan sekian banyak anugerah, namun lagi-lagi Ustadzah. Sulastri yang menegarkanku, menyemangatiku, menanam kembali benih-benih kerinduan pada Tuhan.

Begitulah sosoknya, sosok yang sangat sederhana namun mengagumkan. Sosok yang begitu tawadhu’ meski pengetahuan yang beliau miliki begitu banyak. Sosok yang sampai hari ini masih tetap ada di lubuk hati saya, sosok pahlawan yang akan selalu ada di langit hatiku.

Begitulah seharusnya seorang guru, harus merangkul anak didiknya, jangan sampai mereka jatuh dan tidak mendapatkan uluran tangan untuk kembali bangkit. Guru adalah satu sosok yang memiliki kewajiban untuk mengerti semua peserta didiknya. Guruku Adalah pahlawanku.

October 30, 2012

Bait-bait Rasa


30 Oktober 2012
Sore ini, hujan rintik-rintik membasahi semesta, membiarkan angin berhembus bersamaan dengan jatuhnya air hujan ke bumi. Aku berdiri di depan kelas, menjabat satu persatu tangan murid-muridku, menghantarkan mereka pulang dengan senyum yang tak henti-hentinya terukir di bibirku. Aku memang berusaha mengakhiri pertemuan kami dengan menjabat tangan mereka.
Setelah menjabat tangan mereka, suara adzan ashar berkumandang, aku langsung shalat ashar berjama’ah bersama dengan murid-murid. Lepas shalat ashar, hujan masih setia dengan rintiknya, sementara anak-anak kelas VII sudah siap dengan pakaian taekwondo. Mereka masih menunggu pelatih taekwondo datang. Aku menghampiri mereka, bercanda bersama mereka, berbagi cerita, dan ikut berlari-lari kecil bersama mereka.
Sudah satu tahun lebih aku menjadi seorang guru, mengabdikan diri guna mendidik putra-putri bangsa ini menjadi putra-putri yang sholeh dan sholehah. Kerap kali berbagai macam komentar dari kawan-kawanku tentang profesiku,
“Betah amat jadi guru, emangnya enak?”
Saya tidak menjawab pertanyaan mereka dengan sorotan mata tajam, atau menjawab pertanyaan itu dengan kalimat,
“Masalah buat, lo?”
Tidak. Saya tidak menjawab pertanyaan itu dengan kalimat di atas. Saya hanya menjawab pertanyaan itu dengan senyuman, sambil berucap,
“Menjadi guru itu sebuah profesi yang sudah ada di dalam sini,” jawabku sambil menunjuk dadaku.
Mereka tidak tahu betapa aku menikmati profesi ini, mereka tidak tahu betapa banyak cerita-cerita bahagia yang sudah ada antara aku dan murid, meski aku baru mengajar kurang lebih 1 tahun 3 bulan lamanya. Namun, bagiku, menjadi guru adalah panggilan jiwa. Dan aku betul-betul bahagia dengan pilihan ini.
“Lantas, jika kebahagiaan bisa kuraih bersama mereka, alasan apa yang patut kuajukan untuk berhenti menjadi guru?”

“Ustadz, ikut latihan taekwondo, yuk,” ucap Imam, muridku yang kebetulan dekat denganku.
Tidak perlu berpikir panjang, aku langsung melepas baju kerja, kemudian membiarkan kaos oblong melekat di badanku, bersama dengan celana bahan berwarna hitam polos. Aku ikut bergabung bersama mereka di tengah halaman sekolah, basah di bawah rintik hujan. Mereka dengan penuh semangat menarik tanganku untuk ikut merasakan dunia mereka; canda, tawa, dan senyum mereka membuatku sungguh bahagia.
Andra langsung menarik tanganku ke bawah pancuran air hujan, mengajakku untuk merasakan kebahagiaannya, dan membiarkanku basah. Mereka berebut membasahi kaos oblong yang kukenakan. Aku hanya tertawa, melihat betapa lugu mereka, mereka berlari ke arahku dan menarik-narik tanganku dengan jari-jari mungil mereka. Arghhh Tuhan, sungguh bahagia itu sangat sederhana. Seperti sore ini, ikut latihan taekwondo bersama mereka saja aku sudah bahagia.
Wajah-wajah itu adalah wajah-wajah seribu malaikat yang selalu hadir dalam kehidupanku. Wajah-wajah itu adalah pelangi yang akan selalu ada di dalam hatiku. Semoga kebersamaan ini tetap ada, semoga kalian menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah.
Anak-anakku, kali ini izinkan aku menuliskan bait-bait rasaku pada kalian. Aku ingin kalian tahu bahwa aku bahagia bersama kalian.

Bait-Bait Rasa
Kalian adalah pelangi
Pelangi yang membuat duniaku lebih berwarna
Kalian adalah mentari
Mentari yang selalu menghangatkan semestaku
Kalian adalah rembulan
Rembulan yang selalu hadir menemani malamku
Kalian adalah bintang
Bintang yang setia menemani sang rembulan
Kalian adalah angin
Angin yang selalu berhembus menyejukkanku
Kalian adalah murid-muridku
Pelangi yang akan selalu ada di hatiku

October 19, 2012

Pergilah, Nak

Malam ini rintik hujan mengantarkan kepergian salah satu murid saya "Nida", semoga Engkau diterima di sisi-Nya. #nida

Rintik hujan masih menitik perlahan, jatuh bersama tetesan air mata orang-orang yang mencintaimu, Nak. Pergilah, kami rela melepasmu#Nida

Pergilah, Nak. Jangan Engkau menoleh ke belakang, berbaringlah dengan damai di alam sana. doa kami akan selalu menyertaimu.#Nida

"Aku tidak percaya" teriakku pada malam yang dingin, belum sempat kuucapkan kata perpisahan padamu, namun Takdir memisahkan#Nida

"Ini Hanya Mimpi" ucapku lirih pada angin yang berhembus. Nak, langkahmu memang berhenti sampai disini, namun kebaikanmu abadi#Nida

Kucoba untuk mengingat kembali raut wajahmu, wajah penuh semangat, berjuang menahan sakit yang diderita. Engkau sudah berusaha, Nak #Nida

Kucoba untuk merapal namamu di tengah malam yang gemerlap, "Nida", semua tentangmu akan selalu ada di langit hati kami #Nida

Pelangi hatiku, pergilah, Nak.....ada doa yang kami titipkan pada Allah tempatmu menuju. #Nida

October 03, 2012

Untaian Doa Nak Qois


Selasa, 2 Oktober 2012
Tepat pukul 13.40, saya sedang duduk di teras masjid, menemani anak-anak kelas 7 Al Ikhlas menghafal Al Qur’an. Ada yang sedang menghafal surat Al- Mursalat, ada juga yang sedang menghafal surat Al-Insaan. Saya bersandar pada tangga yang ada di teras masjid, sambil memerhatikan murid-murid secara bergantian.

Mataku terhenti pada sosok Qois, nama lengkapnya adalah Muhammad Qois Ruslan. Dia adalah ABK (anak berkebutuhan khusus). Namun bagi saya dia sama seperti yang lain. Dia bahkan istimewa di mata saya. Dia begitu baik dan sopan. Sedikit saja kekeliruan yang dia buat, maka kata “maaf” akan mengalir tulus dari dirinya. Dia tidak pernah malu untuk meminta maaf atas kesalahan yang dilakukannya. Itulah Qois, murid yang baru saja kukenal satu bulan terakhir.

Saya sering memanggilnya dengan panggilan “Qois”, ia lahir pada tanggal 12 Mei 1997. Sekarang umurnya sudah 15 tahun. Dia anak pertama dari 3 bersaudara. Dia sangat suka melukis, bahkan dia bercita-cita ingin menjadi pelukis terkenal. Ia ingin membuat lukisan seperti yang pernah dibuat oleh Leonardo da Vinci. Leonardo da Vinci adalah idolanya, dia paling suka dengan lukisan Monalisa.

Selain bercita-cita menjadi seorang pelukis, Qois juga ingin menjadi seorang astronot. Ia ingin menjelajah dunia luar angkasa.
Saya pernah tersenyum geli saat Qois bilang,

Ustadz, Qois nggak bisa ninggalin Indonesia, karena Qois pasti kangen dengan tempe pedas asli Indonesia.”

Teman-temannya langsung tertawa saat mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Qois. Saya hanya tersenyum, kemudian menatapnya dengan tatapan kasih sayang seorang guru pada anak didiknya. Dialah muridku, yang mengajarkanku sebuah ketulusan.

Qois memang perlu perhatian khusus, perlu pendamping yang memang mengerti akan sosok anak-anak yang seperti dia. Saya sengaja membaca buku-buku yang berkaitan dengan anak-anak yang berkebutuhan khusus. Saya ingin lebih tahu tentang dunia mereka. Saya ingin lebih banyak mengerti akan mereka. Tidak adil rasanya jika sebagai seorang guru, namun Saya tidak mengerti akan anak-anak seperti Qois. Saya terus belajar, belajar dan belajar agar bisa menjadi guru yang baik bagi mereka.

Qois pernah menulis selembar pesan dengan bolpoint berwarna hitam. Saya membaca pesan yang ditulisnya, kemudian menyimpannya dalam catatan harian yang selalu saya bawa. Qois sengaja menulis pesan itu sambil duduk di bagian pojok, dekat tiang yang ada di teras masjid. Qois merangkai kata-kata yang membuat saya tersentuh dan lagi-lagi terharu. Ingin rasanya saya memeluknya,

“Pesan Dari Qois”
Perkanalkan namaku Qois, aku takut ustadz lupa. Aku suka ustadz karena ustadz baik dan tegas mirip orangtuaku. Mungkin aku kurang sopan sedikit saat di masjid, tapi lain kali aku berjanji akan menjadi orang yang sopan. Ustadz, orangtuaku sedang pergi Haji. Pulangnya kira-kira Natal/Desember nanti.
Aku sedang menunggu mereka pulang. Ustadz, minta doanya juga, ya, semoga aku juga bisa pergi haji. Aku juga akan mendoakan ustadz, suatu saat nanti ustadz juga bisa pergi haji. Maaf jika terlalu lama, sudah dulu, ya.
Dari Qois, Menunggu orangtuanya pulang.

            Saya membaca tulisan yang ada di selembar kertas buram itu sambil senyum dan menahan air mata yang sudah memaksa untuk keluar dari tempatnya bersembunyi.

Nak Qois, terimakasih atas doa yang sudah dituliskan di selembar kertas itu. Terimakasih atas tulusmu, terimakasih sudah menjadi murid yang baik. Saat berhadapan dengan Nak Qois, kadang ustadz merasa kebingungan bagaimana cara mengajar yang baik agar Qois bisa mengerti apa yang ustadz jelaskan. Tapi, ustadz tidak akan menyerah. Ustadz akan terus berusaha agar bisa mengajar dengan baik, sehingga Nak Qois bisa menghapal dengan baik. Terimakasih atas doamu, Nak. Semoga apa yang dicita-citakan bisa tercapai. Ustadz yakin, suatu saat nanti Qois bisa mencapai mimpi-mimpi itu. Semoga Allah selalu memberikan rahmat-Nya.

October 02, 2012

Senyum Hannan


Hannan Hunafa (yang nyandang kamera)

Ia berjalan perlahan memasuki gerbang sekolah, menyambut tangan-tangan kami selaku gurunya. Ucapan salam yang ia ucapkan diiringi dengan senyumnya yang khas. Saya hafal dengan baik bagaimana dia tersenyum. Senyum yang selalu ia berikan pada siapa pun. Saya menikmati pemandangan ini, menikmati senyumnya yang menghiasi pagi meski kadang mendung menjelma.

            Kadang, aku sengaja mengajaknya untuk bercerita banyak hal. Tentang dia dan cita-cita yang dulu pernah ia rajut selagi masih kecil, tentang dia dan penyakit yang menggerogoti tubuhnya dan masih banyak lagi pembicaraan-pembicaraan yang pernah kami lakukan. Senyum tulus itu tidak pernah hilang dari wajahnya meski penyakit yang ia derita kerap kali datang di saat yang tidak tepat.

Hannan, begitu aku memanggilnya. Dia anak kedua dari 2 bersaudara. Dia memiliki seorang kakak. Makanan kesukaannya adalah telor dadar. Minuman favoritnya adalah air putih. Itu saja. Dia tidak terlalu memilih dalam hal makanan. Selagi itu baik dan halal, maka akan disantapnya dengan lahap.

Nama lengkapnya adalah Hannan Hunafa, sekarang dia sudah di kelas 8 Asy Syaja’ah. Entah sudah yang keberapa kalinya dia tidak mengikuti pelajaran saya. Kerap kali badannya lemah, tidak mampu untuk bertahan menerima pelajaran yang ada. Tiap kali melihat dia lemah, biasanya saya akan bilang.

“Mas Hannan istirahat di UKS aja, ya.”

Dia memang lebih sering di ruang UKS dibandingkan mengikuti pembelajaran dengan saya. Lagi-lagi, sakit yang ia derita lah yang menjadi penyebab ketidakhadirannya di kelas. Tak jarang pula dia tidak berangkat sekolah karena kondisinya sedang tidak stabil. Ada rasa kasihan yang sering datang tiap kali melihat senyumnya. Ada semangat yang terus membuncah dalam dada tiap kali melihatnya lemah tak berdaya, semangat untuk terus menuntunnya meski harus tertatih. Doa-doa sering kupanjatkan pada Yang Mahakuasa agar dia diberi kesembuhan.

Hannan, dia adalah murid saya yang paling suka bermain dengan komputer. Dia bisaa berdiam diri di depan layar komputernya, mencoba program ini dan itu, berselancar di dunia maya dan masih banyak lagi yang dia lakukan.

Saya sempat bertanya akan sakit yang di deritanya, dari pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan padanya, saya akhirnya tahu bahwa dia menderita penyakit diabetes. Dia sudah menderita diabetes sejak masih berumur 8 tahun. Tepatnya sejak ia masih duduk di kelas 3 Sekolah Dasar. Dan hingga hari ini, ia masih mencoba untuk bertahan, melawan penyakit yang hari demi hari terus menggerogoti tubuhnya yang mungil.

Dia tidaklah setinggi Ade Rai, dia juga tidak segemuk Ade Namnung, dialah Hannanku, muridku yang senyumnya selalu kunanti. Dia mengajarkanku bagaimana terus bersyukur di tengah penyakit yang dideritanya. Dia mengajarkanku untuk menerima takdir Tuhan dengan tulus. Karena ia percaya, Tuhan tidak akan mencoba umat-Nya diluar dari kemampuan umat.

Kadang, saat gula darahnya sedang tinggi, maka pusing akan menghampirinya, membuatnya terbaring lemah tak berdaya di ruang UKS. Ibunya dengan setia menemaninya saat kondisinya sedang kurang baik. Ibunya dengan sabar membawakan obat-obatan ke sekolah demi Hannan. Orangtuanya begitu menyayanginya. Jika gula darahnya sedang rendah, biasanya dia akan lemas, tidak bersemangat menantang hari. Namun, senyumnya tetap ada. Ah senyum itu.

Hannanku, tetaplah dengan senyummu, Nak. Tunjukkan pada dunia bahwa engkau bisa menyinari dunia dengan seukir senyum yang selalu menghiasi wajahmu. Tersenyumlah, meski kadang cobaan hidup yang begitu berat. Tersenyumlah meski kadang air mata harus ikut berurai bersama dengan senyumnya. Percayalah, Allah sangat menyayangi Nak Hannan.

Itulah Hannanku, laki-laki yang dengan penuh ketegaran menjalani hari-harinya bersama dengan diabetes yang dideritanya. Dialah Hannanku, murid yang selalu kurindukan kehadirannya. Dialah Hannanku, yang mengajarkanku banyak hal tentang hidup. Selamat berjuang meraih mimpi, Nak. Doa akan selalu saya panjatkan pada Tuhan, agar kasih-Nya tetap hadir dalam relung hatimu. 

Jihan


Namanya Jihan, dia sangat pendiam, dan cenderung pasif. Dia adalah anak yang berkebutuhan khusus. Di SMP Al Irsyad Purwokerto, tempat dimana saya mengabdikan diri pada dunia pendidikan adalah sekolah inklusi, dimana terdapat anak-anak yang istimewa yang belajar bersama dengan anak-anak yang lainnya. Mereka adalah anak-anak yang diberi Tuhan karunia yang istimewa.

Saya pertama kali kenal dengan Jihan pada tahun ajaran baru 2011/2012. Tepatnya pada tanggal 23 Juli 2011. Sudah hampir satu bulan saya mengajar, namun saya baru kenal dengan yanga namanya “Jihan”. Saat pertama kali melihat dia, saya betul-betul ingin tahu lebih banyak tentang dia. Saya masih ingat bagaimana dia duduk di pojok kelas, memainkan sepatunya, menggoyangkan sepatunya ke kanan dan ke kiri, sambil matanya mengikuti arah sepatunya mengayun. Saat itu, dia masih belum bisa berinteraksi dengan teman-temannya yang lain. Dia masih asyik dengan dunianya sendiri.

Saking saya pengen tahu lebih banyak tentang Jihan, saya sempatkan bertanya langsung kepada Wali Kelas 7 Sincere, bertemu dengan Guru BK (bimbingan konseling), bertanya pada rekan-rekan Guru yang kebetulan mengajar di kelas Jihan, dan berbincang banyak hal dengan teman-teman yang satu kelas dengannya. Jihan, dia istimewa.

Suatu ketika, saya sedang berdiri menunggu kedatangan murid-murid di gerbang sekolah. Jihan datang, kemudian langsung berlari menuju kelasnya. Dia sama sekali tidak menjabat tangan saya maupun Guru-guru yang lain. Dia memang masih belum rutin menjabat tangan kami, kalaupun dia menjabat tangan kami, bisaanya dengan cepat dia akan berlari menuju kelasnya. Dia tidak pernah membiarkan kami menatap kedua matanya secara langsung.

Setelah beberapa waktu, Jihan yang dulunya tidak pernah mau bersalaman sambil kontak mata dengan Guru, perlahan dia pun menjabat tangan kami dengan erat, kemudian menatap kedua mata kami. Ada selukis senyum yang hadir di wajahku, senyum bahagia melihat Jihan sudah mulai bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekolah tempat ia belajar.

Saya memang bukan kuliah di jurusan psikologi, sehingga saya memang tidak terlalu paham tentang anak-anak yang berkebutuhan khusus. Namun, melihat Jihan bisa lebih bersahabat dengan teman-temannya dan berinteraksi dengan Guru-guru adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Saya bahagia dengan perubahan kecil yang ada pada dirinya.

Semakin lama, saya semakin bahagia melihat perubahan-perubahan yang pada Jihan. Setiap pagi, saya melihat Jihan melakukan shalat dhuha di masjid sekolah. Sebelum jam tanda masuk dimulai, dia menyempatkan diri untuk shalat dhuha, menghadap pada Tuhan yang telah memberikan kita karunia yang tidak terhingga. Setelah shalat, bisaanya dia akan menunggu teman-temannya untuk bersama-sama menjabat tangan Guru-guru. Dia memang masih belum berani jika harus menjabat tangan guru-guru sendirian. Dia baru akan bersalaman, dan mengucapkan salam saat ada teman-teman yang lain ikut baris bersamanya.

Pernah suatu ketika, saya meneteskan air mata haru karena Jihan. Sejak masuk sekolah setelah libur Idul Fitri 1433 H, saya memang ditugaskan untuk mengontrol anak-anak kelas VIII saat mengambil air wudhu untuk shalat dzuhur. Setelah anak-anak selesai mengambil air wudhu, saya membiasakan mereka untuk berdoa setelah mengambil air wudhu, baru kemudian masuk ke dalam masjid. Jihan, dia belum bisa menghafal doa setelah wudhu. Saya selalu menuntunnya untuk baca doa setelah wudhu. Dan saya lakukan itu setiap hari.

Suatu ketika, saya langsung shalat sunnah tahiyyatul masjid dua rakaat dan membiarkan anak-anak membaca doa sendiri-sendiri tanpa ada pantauan saya. Saat saya sedang shalat, Jihan berdiri di samping saya, sambil memegang kedua tangannya seakan-akan dia sedang berdoa. Dia menunggui saya selesai mendirikan shalat. Setelah mengucapkan salam sebagai akhir dari shalat, saya berdiri dan bertanya,

“Mas Jihan ngapain dari tadi berdiri di samping ustadz?”
“Belum doa, Ustadz.” Jawabnya sambil mengangkat kedua tangannya untuk dituntun membaca doa setelah wudhu.
Mataku seketika basah oleh rembesan airmata haru. Haru karena Jihan begitu ingin bisa hafal doa setelah wudhu. Saya langsung membimbingnya berdoa, kemudian menyuruhnya untuk shalat sunnah dua raka’at terlebih dahulu.

Jihan, sinar matamu mengajarkanku banyak hal. Dengan keistimewaanmu, Tuhan mengajarkanku untuk lebih mengenal akan ciptaan-Nya. Semoga kebaikan selalu menyertaimu, Nak. Jadilah anak yang sholeh, yang akan menebarkan segala kebaikan kepada orang-orang yang ada di dekatmu. Salam dari gurumu, Arian Sahidi.

October 01, 2012

Catatan Hati di Awal Oktober


Dulu, saya memang sudah bercita-cita ingin mengabdikan diri di dunia pendidikan. Mendidik putra-putri bangsa ini menjadi putra-putri yang memiliki akhlak yang mulia. Rasanya akan sangat bangga melihat mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang unggul. Bagiku, bisa berinteraksi dengan berbagai macam karakter anak adalah satu anugerah yang sangat luar bisaa. Dari mereka, saya banyak belajar tentang berbagai macam hal; Tentang ketulusan, tentang kepedulian, dan banyak hal lain.

Pagi hari, senyum mereka adalah hal yang paling saya tunggu. Ucapan salam yang mereka sampaikan saat menjabat tangan ini adalah penambah energi positif bagi diri untuk bisa menjadi guru yang baik bagi mereka. Murid saya bermacam-macam; ada yang pendiam, aktif, dan sebagainya. Mereka menjadikan hidup saya lebih berwarna. Perhatian mereka, kepedulian mereka akan saya, dan ketulusan mereka merupakan anugerah yang luar bisaa.

Senin, 1 Oktober 2012
Hari ini, kami kedatangan beberapa Guru baru, guna mendidik mereka menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Selama ini saya mengajar full time, sehari saya mengajar kurang lebih 8 jam. Sedari pukul 06.30 sampai 14.30 itu saya hanya bisa istirahat kurang lebih 50 menit. Selebihnya ya ngajar. Dan Alhamdulillah hari ini ada tenaga tambahan untuk mengurangi jam mengajar saya.

Setidaknya kalau saya tidak full waktu ngajarnya, saya bisa sedikit lebih banyak waktu di kelas. Maklum, saya ini ceritanya jadi wali kelas (nggak ada yang nanyaaaaa… J). Lah kalau wali kelas nggak pernah di kelas bahaya, kan? Sampai hari ini saya sering kebingungan kapan ada waktu bagi saya untuk melihat anak-anak saat proses pembelajaran guru lain berlangsung. Dengan demikian, mungkin saya akan lebih mengenal mereka. Dengan sering berada di kelas, mungkin saya akan lebih tahu akan mereka.

Berhubungan dengan adanya Guru baru, jam mengajar saya di kelas 7 akan dilimpahkan ke Sang Guru baru. Jadi saya hanya akan mengajar kelas 8 dan 9 saja. Jujur, saya rada-rada sedih tidak lagi mengajar di kelas 7 (tissue, mana tissue? #nangis). Nah tadi saat saya mengajar di kelas 7, saya bilang ke anak-anak bahwa saya besok sudah tidak lagi mengajar mereka. Saya hanya akan mengajar kelas 8 dan 9. Suara anak-anak jadi riuh,

“Ustadz, ngajar di kelas 7 aja. Jangan Ustadz yang baru ngajarnya.” Mereka semua menginginkan saya tetap mengajar di kelas mereka. #terharu #lebay

Jujur, saat melihat mereka mengatakan bahwa mereka menginginkan saya tetap mengajar di kelas 7 membuat mata saya lembab. Ada bola-bola Kristal yang memaksa untuk jatuh, menitik ke baju kemaja berwarna ungu yang saya pakai (ini kenapa jadi ngebahas warna kemeja? J) . Namun, saya tidak mau terlihat cengeng di depan mereka. Saya tetap berusaha untuk tersenyum meski haru terus menyeruak di dalam dada.

Sebenarnya ngajar atau pun tidak, saya tetap akan bertemu mereka di sekolah, bertegur sapa, bercerita banyak hal, bercanda, dan lain sebagainya. Tapi, tentu akan berbeda dari bisaanya. Namun, setidaknya saya tetap bisa berinteraksi dengan mereka di luar jam pembelajaran (arghh sambil ngetik ini saya pengen nangisss #mendadak cengeng, ambil tissue sekotak.).

Saat pembelajaran selesai, mereka menjabat tangan saya satu persatu (jabat tangannya lebih lama dari bisaanya) mereka berebutan menjabat tangan saya, seakan-akan kami akan berpisah dan tidak akan bertemu lagi. Bahkan, ada satu murid yang tetap duduk di samping saya, kemudian menjabat tangan saya lebih lama dari yang lainnya.

“Ustadz, maafin Imam kalo banyak salah ama ustadz.” Ucapnya sambil tersenyum.

Saya hanya bisa membalas senyumnya dengan tulus. Ah Imam, dia murid yang baru 1 bulan ini saya kenal, namun dia begitu dekat dengan saya. Dia bahkan pernah menangis hanya karena candaan saya “ustadz ngambek 3 hari 3 malam”. Sambil terisak, dia bersender di samping saya. Dia memang begitu lembut, dan baik hati. Dia  mengajarkanku arti ketulusan.


Masih banyak cerita-cerita antara saya dan murid-murid. Kebersamaan kami merupakan garis kehidupan yang sudah digariskan oleh Tuhan; Ada Akmal Sobri, Tiap kali melihatnya, saya teringat akan diri saya yang dulu persis seperti dia. Dia sama pendiamnya dengan saya waktu seumuran dengan dia. Ada Faraj Ziyad yang sudah saya anggap sebagai adik sendiri, dia begitu taat dan baik (meski kadang saya terkesan terlalu mengatur dia menjadi sosok “jelmaan” diri saya). Ada Muhammad Musa yang selalu semangat menghafal juz 29. Ada M. Farhan Ihsanuddin yang sudah hampir menyelesaikan hafalan juz 29-nya. Ada Fauzan yang jago taekwondo. Ada Izaq Aqsa yang pandai melukis. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Setiap dari mereka memiliki keunikan sendiri, mereka memiliki kelebihan masing-masing yang siap mewarnai dunia. Selamat berjuang murid-muridku. Saya akan berusaha menjadi Guru yang baik bagi kalian.