October 31, 2012

Guruku Adalah Pahlawanku


Dulu, saya adalah seorang anak yang sangat pemalu, tidak berani mengemukakan pendapat saat di kelas, tidak berani maju menjawab soal-soal yang dibuat oleh guru, tidak banyak bicara. Saya hanya suka dengan kesendirian, diam dan melakukan berbagai macam hal sendiri. Saya tidak banyak berinteraksi dengan teman-teman.

“Guruku adalah pahlawanku.”

Saya menyebutnya demikian, saya mempunyai seorang guru perempuan, beliau adalah guru yang mengajar tauhid, nama beliau adalah Ustadzah. Sulastri, S.Ag. Beliau begitu perhatian, selalu memberi kesempatan pada saya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang beliau ajukan, dan tidak pernah bosan, meski saya sangat susah untuk menjawab semua pertanyaan itu. Bukan karena saya tidak bisa menjawab, akan tetapi karena malu yang sangat berlebihan yang masih belum bisa saya kurangi.

Pada satu kesempatan, saya dipanggil oleh Ustadzah. Sulastri, beliau mengajarkan kepada saya bahwa “malu memang sebagian dari iman.”, Akan tetapi malu yang dimaksud disini adalah “Malu jika melakukan sesuatu yang tidak diridhoi oleh Allah.” Beliau sangat telaten menjelaskan kepada saya hakikat malu yang sesungguhnya. Selagi itu baik, jangan malu untuk melakukannya. Lakukanlah semua itu karena Allah SWT.

Saat itu, saya hanya mendengarkan dengan baik apa yang dijelaskan oleh beliau. Hingga akhirnya beberapa waktu kemudian, saat sudah masuk ke sekolah menengah atas, saya mulai percaya dengan kemampuan diri. Saya sudah mulai berani berinteraski dengan teman-teman, saya juga sudah berani mengemukakan pendapat, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung dan lain-lain. Sejak itu, saya mulai menemukan bahwa saya mampu, saya harus percaya dengan diri sendiri, bukan malah malu.

Ustadzah. Sulastri tidak hanya menjadikan saya percaya diri, akan tetapi beliau juga yang membuat saya bangkit lagi, saat saya sedang terpuruk. Saya pernah melakukan satu kesalahan fatal, yang membuat saya dijauhi oleh teman-teman. Beliau sempat meneteskan air mata, membuat saya ikut menangis haru, merasakan betapa beliau sangat peduli dengan anak didiknya. Saat guru-guru banyak yang mengacuhkan saya, disaat saya butuh dukungan dari mereka semua, Ustadzah. Sulastri datang dengan sabar menenangkan saya, mencoba untuk membuat saya kembali bangkit dari keterpurukan.

Saya sempat ingin mengakhiri hidup karena permasalahan yang tak kunjung usai, namun nasehat demi nasehat yang diberikan oleh beliau selalu terngiang di dalam benak saya,

“Bahwa hidup memang tidak akan pernah lepas dari permasalahan, yang perlu kita lakukan adalah menjadi diri kita yang terbaik. Selebihnya, biarkan Allah memperlihatkan betapa agung kuasa-Nya.”

Nasehat-nasehat yang selalu beliau sampaikan telah menjadikan saya lebih baik, menjadikan saya satu sosok yang mulai menata kembali jalan menuju Allah. Saya sempat lari, menjauh dan enggan untuk kembali kepada Tuhan yang telah memberikan sekian banyak anugerah, namun lagi-lagi Ustadzah. Sulastri yang menegarkanku, menyemangatiku, menanam kembali benih-benih kerinduan pada Tuhan.

Begitulah sosoknya, sosok yang sangat sederhana namun mengagumkan. Sosok yang begitu tawadhu’ meski pengetahuan yang beliau miliki begitu banyak. Sosok yang sampai hari ini masih tetap ada di lubuk hati saya, sosok pahlawan yang akan selalu ada di langit hatiku.

Begitulah seharusnya seorang guru, harus merangkul anak didiknya, jangan sampai mereka jatuh dan tidak mendapatkan uluran tangan untuk kembali bangkit. Guru adalah satu sosok yang memiliki kewajiban untuk mengerti semua peserta didiknya. Guruku Adalah pahlawanku.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan