October 02, 2012

Jihan


Namanya Jihan, dia sangat pendiam, dan cenderung pasif. Dia adalah anak yang berkebutuhan khusus. Di SMP Al Irsyad Purwokerto, tempat dimana saya mengabdikan diri pada dunia pendidikan adalah sekolah inklusi, dimana terdapat anak-anak yang istimewa yang belajar bersama dengan anak-anak yang lainnya. Mereka adalah anak-anak yang diberi Tuhan karunia yang istimewa.

Saya pertama kali kenal dengan Jihan pada tahun ajaran baru 2011/2012. Tepatnya pada tanggal 23 Juli 2011. Sudah hampir satu bulan saya mengajar, namun saya baru kenal dengan yanga namanya “Jihan”. Saat pertama kali melihat dia, saya betul-betul ingin tahu lebih banyak tentang dia. Saya masih ingat bagaimana dia duduk di pojok kelas, memainkan sepatunya, menggoyangkan sepatunya ke kanan dan ke kiri, sambil matanya mengikuti arah sepatunya mengayun. Saat itu, dia masih belum bisa berinteraksi dengan teman-temannya yang lain. Dia masih asyik dengan dunianya sendiri.

Saking saya pengen tahu lebih banyak tentang Jihan, saya sempatkan bertanya langsung kepada Wali Kelas 7 Sincere, bertemu dengan Guru BK (bimbingan konseling), bertanya pada rekan-rekan Guru yang kebetulan mengajar di kelas Jihan, dan berbincang banyak hal dengan teman-teman yang satu kelas dengannya. Jihan, dia istimewa.

Suatu ketika, saya sedang berdiri menunggu kedatangan murid-murid di gerbang sekolah. Jihan datang, kemudian langsung berlari menuju kelasnya. Dia sama sekali tidak menjabat tangan saya maupun Guru-guru yang lain. Dia memang masih belum rutin menjabat tangan kami, kalaupun dia menjabat tangan kami, bisaanya dengan cepat dia akan berlari menuju kelasnya. Dia tidak pernah membiarkan kami menatap kedua matanya secara langsung.

Setelah beberapa waktu, Jihan yang dulunya tidak pernah mau bersalaman sambil kontak mata dengan Guru, perlahan dia pun menjabat tangan kami dengan erat, kemudian menatap kedua mata kami. Ada selukis senyum yang hadir di wajahku, senyum bahagia melihat Jihan sudah mulai bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekolah tempat ia belajar.

Saya memang bukan kuliah di jurusan psikologi, sehingga saya memang tidak terlalu paham tentang anak-anak yang berkebutuhan khusus. Namun, melihat Jihan bisa lebih bersahabat dengan teman-temannya dan berinteraksi dengan Guru-guru adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Saya bahagia dengan perubahan kecil yang ada pada dirinya.

Semakin lama, saya semakin bahagia melihat perubahan-perubahan yang pada Jihan. Setiap pagi, saya melihat Jihan melakukan shalat dhuha di masjid sekolah. Sebelum jam tanda masuk dimulai, dia menyempatkan diri untuk shalat dhuha, menghadap pada Tuhan yang telah memberikan kita karunia yang tidak terhingga. Setelah shalat, bisaanya dia akan menunggu teman-temannya untuk bersama-sama menjabat tangan Guru-guru. Dia memang masih belum berani jika harus menjabat tangan guru-guru sendirian. Dia baru akan bersalaman, dan mengucapkan salam saat ada teman-teman yang lain ikut baris bersamanya.

Pernah suatu ketika, saya meneteskan air mata haru karena Jihan. Sejak masuk sekolah setelah libur Idul Fitri 1433 H, saya memang ditugaskan untuk mengontrol anak-anak kelas VIII saat mengambil air wudhu untuk shalat dzuhur. Setelah anak-anak selesai mengambil air wudhu, saya membiasakan mereka untuk berdoa setelah mengambil air wudhu, baru kemudian masuk ke dalam masjid. Jihan, dia belum bisa menghafal doa setelah wudhu. Saya selalu menuntunnya untuk baca doa setelah wudhu. Dan saya lakukan itu setiap hari.

Suatu ketika, saya langsung shalat sunnah tahiyyatul masjid dua rakaat dan membiarkan anak-anak membaca doa sendiri-sendiri tanpa ada pantauan saya. Saat saya sedang shalat, Jihan berdiri di samping saya, sambil memegang kedua tangannya seakan-akan dia sedang berdoa. Dia menunggui saya selesai mendirikan shalat. Setelah mengucapkan salam sebagai akhir dari shalat, saya berdiri dan bertanya,

“Mas Jihan ngapain dari tadi berdiri di samping ustadz?”
“Belum doa, Ustadz.” Jawabnya sambil mengangkat kedua tangannya untuk dituntun membaca doa setelah wudhu.
Mataku seketika basah oleh rembesan airmata haru. Haru karena Jihan begitu ingin bisa hafal doa setelah wudhu. Saya langsung membimbingnya berdoa, kemudian menyuruhnya untuk shalat sunnah dua raka’at terlebih dahulu.

Jihan, sinar matamu mengajarkanku banyak hal. Dengan keistimewaanmu, Tuhan mengajarkanku untuk lebih mengenal akan ciptaan-Nya. Semoga kebaikan selalu menyertaimu, Nak. Jadilah anak yang sholeh, yang akan menebarkan segala kebaikan kepada orang-orang yang ada di dekatmu. Salam dari gurumu, Arian Sahidi.

2 comments:

  1. “Mas Jihan ngapain dari tadi berdiri di samping ustadz?”
    “Belum doa, Ustadz.” Jawabnya sambil mengangkat kedua tangannya untuk dituntun membaca doa setelah wudhu.

    *nangis :(

    ReplyDelete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan