October 03, 2012

Untaian Doa Nak Qois


Selasa, 2 Oktober 2012
Tepat pukul 13.40, saya sedang duduk di teras masjid, menemani anak-anak kelas 7 Al Ikhlas menghafal Al Qur’an. Ada yang sedang menghafal surat Al- Mursalat, ada juga yang sedang menghafal surat Al-Insaan. Saya bersandar pada tangga yang ada di teras masjid, sambil memerhatikan murid-murid secara bergantian.

Mataku terhenti pada sosok Qois, nama lengkapnya adalah Muhammad Qois Ruslan. Dia adalah ABK (anak berkebutuhan khusus). Namun bagi saya dia sama seperti yang lain. Dia bahkan istimewa di mata saya. Dia begitu baik dan sopan. Sedikit saja kekeliruan yang dia buat, maka kata “maaf” akan mengalir tulus dari dirinya. Dia tidak pernah malu untuk meminta maaf atas kesalahan yang dilakukannya. Itulah Qois, murid yang baru saja kukenal satu bulan terakhir.

Saya sering memanggilnya dengan panggilan “Qois”, ia lahir pada tanggal 12 Mei 1997. Sekarang umurnya sudah 15 tahun. Dia anak pertama dari 3 bersaudara. Dia sangat suka melukis, bahkan dia bercita-cita ingin menjadi pelukis terkenal. Ia ingin membuat lukisan seperti yang pernah dibuat oleh Leonardo da Vinci. Leonardo da Vinci adalah idolanya, dia paling suka dengan lukisan Monalisa.

Selain bercita-cita menjadi seorang pelukis, Qois juga ingin menjadi seorang astronot. Ia ingin menjelajah dunia luar angkasa.
Saya pernah tersenyum geli saat Qois bilang,

Ustadz, Qois nggak bisa ninggalin Indonesia, karena Qois pasti kangen dengan tempe pedas asli Indonesia.”

Teman-temannya langsung tertawa saat mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Qois. Saya hanya tersenyum, kemudian menatapnya dengan tatapan kasih sayang seorang guru pada anak didiknya. Dialah muridku, yang mengajarkanku sebuah ketulusan.

Qois memang perlu perhatian khusus, perlu pendamping yang memang mengerti akan sosok anak-anak yang seperti dia. Saya sengaja membaca buku-buku yang berkaitan dengan anak-anak yang berkebutuhan khusus. Saya ingin lebih tahu tentang dunia mereka. Saya ingin lebih banyak mengerti akan mereka. Tidak adil rasanya jika sebagai seorang guru, namun Saya tidak mengerti akan anak-anak seperti Qois. Saya terus belajar, belajar dan belajar agar bisa menjadi guru yang baik bagi mereka.

Qois pernah menulis selembar pesan dengan bolpoint berwarna hitam. Saya membaca pesan yang ditulisnya, kemudian menyimpannya dalam catatan harian yang selalu saya bawa. Qois sengaja menulis pesan itu sambil duduk di bagian pojok, dekat tiang yang ada di teras masjid. Qois merangkai kata-kata yang membuat saya tersentuh dan lagi-lagi terharu. Ingin rasanya saya memeluknya,

“Pesan Dari Qois”
Perkanalkan namaku Qois, aku takut ustadz lupa. Aku suka ustadz karena ustadz baik dan tegas mirip orangtuaku. Mungkin aku kurang sopan sedikit saat di masjid, tapi lain kali aku berjanji akan menjadi orang yang sopan. Ustadz, orangtuaku sedang pergi Haji. Pulangnya kira-kira Natal/Desember nanti.
Aku sedang menunggu mereka pulang. Ustadz, minta doanya juga, ya, semoga aku juga bisa pergi haji. Aku juga akan mendoakan ustadz, suatu saat nanti ustadz juga bisa pergi haji. Maaf jika terlalu lama, sudah dulu, ya.
Dari Qois, Menunggu orangtuanya pulang.

            Saya membaca tulisan yang ada di selembar kertas buram itu sambil senyum dan menahan air mata yang sudah memaksa untuk keluar dari tempatnya bersembunyi.

Nak Qois, terimakasih atas doa yang sudah dituliskan di selembar kertas itu. Terimakasih atas tulusmu, terimakasih sudah menjadi murid yang baik. Saat berhadapan dengan Nak Qois, kadang ustadz merasa kebingungan bagaimana cara mengajar yang baik agar Qois bisa mengerti apa yang ustadz jelaskan. Tapi, ustadz tidak akan menyerah. Ustadz akan terus berusaha agar bisa mengajar dengan baik, sehingga Nak Qois bisa menghapal dengan baik. Terimakasih atas doamu, Nak. Semoga apa yang dicita-citakan bisa tercapai. Ustadz yakin, suatu saat nanti Qois bisa mencapai mimpi-mimpi itu. Semoga Allah selalu memberikan rahmat-Nya.

2 comments:

  1. saya terharu ustadz,mengingat kondisi saya ketika di smp dahulu. terus motivasi kepada qois ustadz, agar dia punya kepercayaan diri. sehingga punya bisa punya karya seperti ustadz.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah, amin, terimakasih doanya

      Delete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan