November 09, 2012

Edisi Berbagi


Kali ini saya ingin berbagi hehe, sudah lama saya itu menanti rekaman juz 30 ini selesai, dan akhirnya selesai juga. Butuh waktu 1 bulan untuk menyelesaikan proses rekaman ini. Jadi lama, karena sering kali saat rekaman berlangsung, suara saya tiba-tiba serak dan lain sebagainya. Karena kesibukan yang menggunung juga membuat proses rekaman jadi lama #ngeles.

Suara saya tentu tidaklah sebagus bacaan Muammar yang merupakan Qori’ Internasional, namun semoga dengan kesederhanaan suara saya ini bisa memberi manfaat bagi ummat J

Dan Alhamdulillah, meski masih produksi rumahan, namun saya berharap rekaman juz 30 ini bisa memberi manfaat bagi ummat. Silahkan dishare kepada teman-teman kalian, dan semoga berkenan.

Terimakasih kepada pihak yang sudah bersedia membiayai proses rekaman juz 30 ini, dan sekarang saya sedang melanjutkan rekaman juz 29, kayaknya bakalan lama juga nih rekamannya. Lah kalo setiap juz saya membutuhkan waktu 1 bulan, 30 juz kapan selesainya? Haha

Baiklah, tidak perlu panjang lebar, Hanya ini yang bisa saya tuliskan, kalian bisa download file murattal juz 30 di ---> Murattal Juz 30

November 08, 2012

Sebuah Persembahan

Temu Tokoh

Kali ini, aku ingin menuliskan sebuah puisi yang aku tulis khusus buat murid-muridku. Puisi ini aku buat saat jam istirahat, kurang lebih butuh waktu 7 menit untuk merangkai kata menjadi kalimat-kalimat yang rada-rada aneh menurutku. Aku bukan tipe orang yang pandai merangkai kata menjadi kalimat yang indah bermakna. Namun, setidaknya aku mencoba untuk membuat sebuah persembahan untuk mereka, murid-muridku yang selama ini telah menjadi bagian dari kehidupanku.

∞∞

“Kadang”

Kadang, aku terdiam
Menatap wajah seribu malaikat yang ada di hadapanku
Kadang, aku tertawa
Saat kalian dengan lugunya menarik tanganku, mengajakku bermain bersama
Kadang, aku tertunduk malu
Saat kalian lebih rajin tadarus Al Qur’an dibandingkan aku
Kadang, aku menerawang
Saat kalian bertanya tentang hal yang tidak kumengerti
Namun, kadang aku berlari
Mengejar langkah kalian yang tak lagi lambat, kalian terus melangkah, mencoba meraih mimpi
Dan kini, aku berdiri di hadapan kalian
Tersenyum, tertawa, dan menikmati pagi
Meski kadang mentari enggan menampakkan sinarnya
Sekuat apa pun aku memegang kalian
Seerat apapun aku merangkul kalian
Suatu saat kalian akan pergi
Dan jika memang itu terjadi,
Aku berharap masih ada tentangku di lubuk hati kalian

November 07, 2012

Murid Saya Itu Romantis

pura-pura sedang baca :) 

Jika ada yang bertanya,
“Siapa murid yang paling romantis?”
Maka tidak perlu waktu lama untuk menemukan jawaban dari pertanyaan di atas, saya akan tersenyum dan menjawab dengan suara lantang, biar seluruh penjuru sekolah mendengar jawaban saya, bahwa murid saya yang paling romantis itu adalah,
“Azzam Helmi Muflih.”
Bukannya Azzam itu orangnya rada-rada aneh, ya? Lupakan dulu keanehan-keanehan yang ada pada diri Azzam, sekarang saya ingin mengatakan bahwa dialah murid yang paling romantis.
Saya mengenal Azzam pada semester satu tahun ajaran 2011/2012. Saat itu, saya menjadi pendamping wali kelas VIII Faithful. Sejak awal, saya memang sudah sering memperhatikan tingkah lakunya. Azzam yang rada-rada pemalu. Seingatnya saya, pada awal-awal saya bertemu dan berkenalan dengannya, dia tidak banyak bicara. Saya semakin kenal akan Azzam saat ia ikut mendesain kelas.
Hampir setiap hari dia ikut membantu teman-temannya mendesain kelas agar terlihat lebih indah. Azzam paling suka memakai jaket selama di dalam kelas. Dan saya harus mengingatkannya untuk melepas jaket selama proses belajar mengajar berlangsung dan mempersilahkan dia memakai kembali jaket kesayangannya saat jam pulang. Begitu setiap hari, tidak pernah bosan saya mengingatkannya untuk melepaskan jaket yang hampir sama setiap harinya.
Azzam, dia merupakan salah satu murid yang dekat dengan saya. Saya pertama kali home visit ke rumah Azzam, baru setelah itu ke rumah yang lainnya. Bahkan, saya pernah menjadikan namanya menjadi tokoh utama dalam cerpen “Jubah Cinta” dalam proyek “Antologi Orange Season 2”. Saat itu, saya begitu ingin banyak tahu tentang Azzam.
Jika saya dan Azzam sedang duduk bersebelahan, maka saya akan dengan senang hati mengatakan bahwa,
“Kita kayak kakak dan adik, ya, Mas?”
Azzam akan tertawa tiap kali saya mengatakan bahwa kami berdua tak ubahnya seperti kakak dan adik.
Jadi begini, Azzam itu terlihat lebih dewasa dari umurnya yang sebenarnya. Wajahnya terlihat lebih berumur, bahkan jika kami duduk bersebelahan, kami seperti seumuran. Biasanya Azzam dengan pede-nya bilang gini,
“Ustadz iri dengan kegantenganku, kan?”
Dan saya akan tersenyum mengangguk dengan terpaksa haha.
Azzam itu romantis, mengapa saya bilang romantis? Karena dia sangat detil memperhatikan saya. Jika ada penampilan saya yang rada-rada baru, maka Azzam lah orang pertama yang akan berkicau. Contoh, jika saya memakai minyak wangi yang berbeda dari biasanya, maka dialah murid yang pertama kali langsung berkomentar. Atau saat saya memakai Frame kacamata yang baru, maka dia juga yang paling sering mengomentari, atau saat saya mengenakan kemeja baru, maka dia juga yang paling usil dengan komentar-komentarnya yang kadang aneh.
latihan pidato

Azzam itu, murid putra yang paling romantis. Itu saja. Dengan komentar-komentarnya yang kadang aneh, dengan tingkahnya yang kadang usil, dengan senyumnya yang khas, dia sudah berhasil mencuri perhatian saya. Dalam artian, saya bahagia bisa memiliki murid seperti dia. Tidak lebih.
Saya masih ingat dengan baik, saat pertama kali berkunjung ke rumah Azzam, dari hasil home visit, saya baru tahu bahwa Azzam masih sangat susah untuk bangun pagi, kemudian mendirikan shalat subuh tepat waktu. Saya dan Azzam akhirnya membuat sebuah kesepakatan, dia akan mengirim sms ke saya tiap kali dia bangun pagi. Dia akan sms ke saya jam berapa dia shalat subuh, kemudian di sekolah nanti saya akan memastikan bahwa informasi yang ia berikan benar adanya.
Selain masih susah untuk shalat subuh tepat waktu, Azzam juga masih susah untuk shalat berjama’ah ke masjid. Saya dan Azzam pun akhirnya membuat kesepakatan lain, Azzam harus ke masjid minimal satu kali dalam satu hari. Dia boleh memilih mau ke masjid pada saat shalat Ashar, Maghrib, Isya atau subuh. Sedangkan dzuhurnya di sekolah.
Saya memang tidak memaksa Azzam untuk langsung shalat berjama’ah ke masjid lima kali dalam sehari. Saya ingin bertahap mengajarkan hatinya untuk mencintai masjid. Saya percaya, secara perlahan dia akan mulai terbiasa untuk shalat berjama’ah ke masjid.
Perjanjian yang kami buat cukup membantu Azzam untuk bisa shalat subuh tepat waktu, dan melatih hatinya untuk terpaut dengan masjid. Saya sering memberitahunya bahwa,
Surga merindukan pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid.
Biasanya, Azzam akan tersenyum simpul tiap kali saya mengucapkan kalimat itu.
Satu tahun sudah saya mengenal Azzam, sudah banyak cerita-cerita yang ada antara saya dan Azzam. Cerita saat bersepeda keliling Kota Purwokerto, canda tawa yang sering ada di antara kami, dan masih banyak lagi yang lain.
Dialah murid saya yang kadang membuat saya tertawa terbahak-bahak dengan tingkahnya yang kadang aneh. Dia pernah membuatkan kata-kata sok romantis di twitter, dan membuat saya harus menjawab kalimat-kalimat sok puitis itu dengan kalimat yang juga puitis. Atau dia juga yang pertama kali memanggil saya dengan Ustadz. Keren yang sempat membuat saya uring-uringan karena tidak menyukai panggilan itu. Dia juga yang pada awal-awal tahu bahwa saya aktif di twitter dan sejak itu mention-mention darinya sering masuk dalam notifikasi handphone saya. Dan masih banyak lagi yang lain.
Satu hal yang saya garis bawahi, semakin saya mengerti akan kondisi seorang siswa, baik itu di rumah, pergaulan dengan teman-teman baik di lingkungan sekolah maupun rumah, semakin mudah bagi saya untuk masuk ke hati mereka, dan mengajarkan mereka banyak hal. Semakin dekat saya dengan mereka, semakin saya mengerti cara yang baik untuk membimbing mereka.

November 06, 2012

Les Tambahan, Penting, Nggak Sih?


 

Pada saat pembelajaran Al-Qur’an sudah selesai, saya mengajukan sebuah pertanyaan pada Faraj.
            “Tadi malam hafalannya disiapin, nggak?” Tanya saya pada Faraj yang sedang mencoba untuk menghafal surat Al-Insan.
            “Nggak, Ustadz. Waktuku padat banget. Aku bingung kapan mau nyiapin hafalan untuk hari ini. Kemarin les ama Ustadz, setelah itu les di LIA sampai sore, malamnya juga ada les, terus hari ini ada UTS. Padat banget, Ustadz.”
            “Terus gue harus bilang wow, gitu?” Tanya saya iseng, biar dia tidak terlalu tegang.
“Nggak usah, Ustadz.” Jawabnya sambil menundukkan kepala.

Saya tersenyum, kemudian saya mempersilahkan dia untuk kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya, tidak lupa saya ingatkan agar ia menyiapkan hafalannya untuk pertemuan selanjutnya. Faraj menjabat tangan saya, kemudian berlalu pergi meninggalkan saya di masjid.

∞∞

Baik, sekarang coba perhatikan alasan Faraj tidak menyiapkan hafalannya. Alasannya adalah dia tidak memiliki waktu untuk menyiapkan semua itu. Lebih tepatnya dia masih kesulitan untuk membagi waktunya sebaik mungkin.
Setelah perbincangan pendek saya dengan Faraj, saya menatap kosong ke langit-langit masjid, mencoba mencari jawaban atas apa yang ada di dalam benak saya. Saya sedang berpikir, berusaha untuk menjawab pertanyaan yang tiba-tiba muncul begitu saja dalam benak saya.
“Les tambahan itu perlu, nggak sih?”
Pertanyaan itu menari-nari indah, menunggu sebuah jawaban yang akan datang menghampirinya. Ia mengaduk-ngaduk isi kepala saya, meminta jawaban sesegera mungkin. Namun saya acuh.
Saya berhenti mencari jawaban atas pertanyaan itu, saya memilih untuk menikmati segelas susu kedelai yang ada di meja. Beberapa saat kemudian, pertanyaan yang serupa kembali muncul,

“Les tambahan, perlukah?”

Menurut saya, les tambahan itu perlu, namun harus bisa menyesuaikan dengan kondisi anak. Pertanyaan yang muncul kemudian, dari semua les yang anak-anak ikuti, manakah yang bertahan dan betul-betul ia pahami? Otak mereka tak henti mencoba untuk memahami semua materi yang ada.” Komentar seorang guru.

Saya masih memandang dengan pandangan kosong.
Sebenarnya sudah beberapa kali Faraj mengutarakan alasan yang sama,
“Semalam ketiduran, Ustadz.”
Ia sering ketiduran karena lelah. Lelah dengan segudang aktifitas yang ia lakoni sehari-hari. Dia bahkan jauh lebih sibuk dari saya (mungkin hehe).
Saya mencoba untuk mengingat kembali saat-saat dimana saya seumuran dengannya. Perbedaan antara saya dengan Faraj jauh panggang dari pada api.
Dulu, saya tidak pernah mengambil les tambahan, karena memang saya berusaha untuk paham dengan materi saat di sekolah. Bukan berarti saya beranggapan bahwa Faraj tidak serius ketika proses belajar sedang berlangsung, bukan itu yang saya maksud.
Dulu, Saya tidak akan keluar kelas, sebelum saya bisa memahami apa yang dijelaskan oleh guru. Saya tidak akan mau beranjak dari bangku, hingga saya benar-benar memahami materi yang dipelajari hari itu. Sepulang sekolah, saya bermain dengan anak-anak yang sebaya. Saya menikmati masa kanak-kanak dengan penuh keceriaan.
Kadang saya berpikir, anak-anak yang sehari-harinya sibuk dengan les ini itu,“Kapan mereka punya waktu untuk menikmati kegembiraan masa kanak-kanak? Kapan waktu istirahat mereka?”
Jika hampir setiap hari, pulang sekolah dilanjutkan dengan les tambahan, saya yakin mereka tidak mempunyai waktu yang cukup untuk berekspresi dengan dunia mereka, dunia anak-anak. Dimana canda tawa selalu hadir dalam keseharian mereka. Bukan malah menghadirkan kerutan-kerutan di wajah karena terlalu banyak mikir.
Bukan saya melarang mereka untuk ikut les tambahan, akan tetapi jangan terlalu diforsir. Jangan terlalu padat waktunya. Beri mereka waktu yang cukup untuk berkreasi dengan dunia mereka, jangan sampai kemampuan mereka menjadi terhenti karena terlalu sibuk. Tadinya kita berharap dengan adanya les tambahan, mereka akan menjadi lebih mengerti, malah menjadi sebaliknya, mereka semakin pusing dan membuat semuanya menjadi percuma.
Anak-anak sekarang jauh berbeda dengan anak-anak zaman saya masih kecil. Itu wajar, karena memang waktunya pun jauh berbeda. 10 tahun yang lalu, sepulang sekolah saya biasa bermain kelereng, main petak umpet dengan teman-teman, mencari belalang di sawah dan lain sebagainya.
Setelah selesai bermain, kami akan pulang ke rumah masing-masing, menyiapkan diri untuk pergi mengaji Al-Qur’an di langgar-langgar yang ada di desa. Malam hari adalah waktu saya untuk belajar. Pada saat itu, saya tidak sesibuk murid-murid saya sekarang.
Saya mencoba untuk mencari tahu lebih banyak tentang alasan anak-anak mengikuti les tambahan, baik itu di BimBel, di sekolah, maupun di tempat-tempat yang lain. Simaklah jawaban mereka di bawah ini,

“Saya ikut les Bahasa Inggris karena disuruh oleh Orang tua. Jujur, saya bosan dengan kegiatan les. Saya hanya suka dengan les drum, karena memang itu adalah keinginan saya sendiri, bukan paksaan.”

“Saya mengikuti les karena pelajaran di sekolah kadang susah untuk dimengerti. Di tempat les saya bisa lebih paham dari pada penjelasan guru-guru di sekolah.”

“Ingin pintar, jadi sengaja ikut les, meski waktu istirahat jadinya sedikit, waktu bermain dengan teman-teman juga terbatas.”

“Teman-teman banyak yang ikut les, saya jadinya juga ingin ikutan les.”

“Jika Orang tua mempunyai waktu untuk menemani saya belajar di rumah, mungkin saya tidak akan ikut les tambahan. Tapi masalahnya Orang tua saya sibuk, tidak pernah mempunyai waktu untuk menemani saya belajar. Oleh karena itu, saya ikut lest tambahan.”

Dan masih banyak lagi jawaban dari anak-anak.
Les itu penting, tapi harus juga selektif dan tepat memilih. Dan sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan belaka. Pilihlah les yang benar-benar dibutuhkan buat menjadikan diri kita lebih memiliki manfaat di masyarakat kelak. Les nggak mesti harus di BimBel. Apalagi kalo tujuannya hanya buat eksistensi, nyari komunitas, ngegaya dan sok beken aja!
Kadang saya masih belum bisa mencerna dengan akal sehat saya, sejak TK sudah ada anak-anak yang ikut les. Lah zaman saya seumuran gitu masih seneng-senengnya main. Anak-anak zaman sekarang itu super keren. Aihh sungguh.
Jangan lupa juga dengan kewajiban kita menuntut ilmu Islam. Kalau ngaku beriman, harus mau meluangkan waktu untuk mempelajari ilmu agama. Coba perhatikan sekolah sekarang (di luar pesantren, MTs/MA, atau sekolah IT), jam pelajaran agama hanya sedikit. Apa yang bisa diperoleh dari jam yang hanya sedikit itu? Sementara seluruh aspek kehidupan melibatkan hukum syari’at.
Perlu diingat, bahwa Pendidikan ideal adalah, tatkala mampu menghasilkan rasa takut kepada ALLAH bagi sang pembelajar dan pengajarnya. Perhatikanlah! Allaahu a’lam.

November 05, 2012

Malam Bina Iman dan Amal


Serius memperhatikan


Sabtu, 3 November 2012
Sore ini, sejak pukul 15.00 seluruh guru (laki-laki) berkumpul di masjid sekolah, kami akan mengikuti MABID (Malam Bina Iman dan Amal) yang merupakan salah satu program sekolah. Kami berkumpul di masjid, beri’tikaf di rumah Allah SWT, dan akan diisi dengan berbagai macam kegiatan yang bisa memberikan pencerahan pada diri, agar bisa menjadi lebih baik. Masing-masing dari guru akan melakukan muhasabah diri, tentang hidup yang selama ini telah dilalui.
16.00
Ustadz. Darsitun, selaku ketua pelaksana kegiatan MABID membuka acara dengan memberikan siraman rohani kepada seluruh rekan guru yang hadir. Kami mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh Ust. Darsitun. Setelah itu, masing-masing dari rekan guru senior dipersilahkan untuk share kisah perjalanan mereka sejak pertama kali mengabdikan diri di Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto, agar bisa diambil pelajaran bagi kami yang merupakan guru baru. Masing-masing dari mereka memiliki kisahnya tersendiri, ada suka, ada duka yang menemani perjalanan mereka mendidik putra-putri bangsa ini.
 Masih sok serius nih :p
Setelah serangkaian acara selesai, kami menyiapkan diri untuk Shalat Maghrib. Malam ini kami akan menghabiskan malam bersama di masjid sekolah. Setelah selesai melaksanakan shalat maghrib, kami dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dengan seorang guru pengampu untuk tadarus Al Qur’an. Saya mengampu beberapa rekan guru, menyimak mereka membaca Kalam Ilahi Rabbi. Semoga dengan kesederhanaan dan kebersamaan ini akan terjalin sebuah hubungan yang membuat kami semakin bersatu padu, membina anak didik agar bisa menjadi lebih baik.
 Tadarus Al Qur'an

Setelah selesai tadarus Al-Qur’an, kami melaksanakan shalat Isya berjama’ah, dilanjutkan dengan kultum dari salah satu rekan guru. Setelah kultum, kami makan malam bersama. Arhhhh kebersamaan ini sungguh bermakna. Saya merasakan ikatan kekeluargaan yang begitu erat yang ada antara satu sama lain. Kami adalah sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain, dengan berbagai macam ciri yang berbeda. Semua menjadi satu dan memiliki tujuan yang sama, yaitu mengabdikan diri menjadi pendidik yang baik agar meraih ridho Ilahi.
Mari Makan

 Setelah makan malam selesai, acara dilanjutkan dengan siraman rohani dari Ust. Nur Hamdan. Beliau menyampaikan materi yang berkaitan dengan tujuan kita hidup. Beliau menjelaskan bahwa tujuan kita hidup adalah beribadah kepada Allah SWT. Salah satu pengabdian diri pada Allah SWT adalah dengan menegakkan syiar Islam di permukaan bumi, agar setiap langkah kita tetap berada pada jalur yang diridhoi Allah SWT.
Saya terdiam, kemudian bertanya pada diri,
“Apa yang sudah saya lakukan pada Agama yang selama ini telah saya anut sejak lahir? Kontribusi apa yang telah saya berikan pada Islam?”
Selama ini, rasanya saya hanya menuliskan target-target pribadi, dan tidak pernah saya menuliskan target-target yang ingin saya capai untuk Agama Islam. Saya malu pada Allah SWT, yang selalu memberikan nikmat-Nya, meski saya kadang lupa pada kewajiban untuk menyebarkan Agama Islam.
Setelah materi dari Ust. Nur Hamdan, acara diakhiri dengan pembagian hadiah bagi peserta MABID yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang materi-materi yang sudah disampaikan. Setelah itu, kami dipersilahkan istirahat.

03.00
Kami sudah bangun dari lelap tidur, sudah siap dengan pakaian shalat masing-masing. Pagi ini, kami akan mendirikan shalat tahajud berjama’ah. Saya diamanahi untuk mengimami shalat tahajud. Ust. Darsitun bilang,
“Shalat malam kali ini harus lama, Imam harus membaca 1 Juz.”
Saya hanya tersenyum dan segera memulai shalat malam dengan membaca Takbiratul Ihram. Kami hanyut dalam kekhusyu’an masing-masing, berharap amal ibadah yang kami lakukan bisa diterima oleh Allah SWT.

 04.15
Kami mendirikan shalat subuh berjama’ah, dilanjutkan dengan kultum dari dua orang rekan guru. Kami kembali diberikan pencerahan dari materi-materi yang disampaikan oleh masing-masing pembicara.
05.00
Dan sekarang, tiba saatnya kami lari pagi bersama-sama, menggerakkan anggota badan agar bisa menghasilkan tetesan keringat dan membuat tubuh menjadi lebih sehat. Kami lari pagi bersama, menyapa pagi dengan kehangatan yang ada di antara kami. Saya sungguh bahagia menikmati serangkaian kebersamaan ini. Setelah selesai lari pagi, kami melanjutkan kebersamaan dengan bermain bola kaki di halaman sekolah. 
 Sedang menunggu bola jatuh haha

Permainan cukup sengit, hingga akhirnya saya masuk menjadi pengacau bagi masing-masing pihak haha. Saya tidak mengenal kawan dan lawan. Saya mengarahkan bola ke arah mana saja yang saya suka. Kadang kawan menjadi lawan, kadang lawan menjadi kawan.
“Ayo, bagi bolanya, kita kawan,” ucap saya sambil tertawa, kemudian diikuti dengan derai tawa yang lainnya.
“Saya sudah tidak percaya lagi,” ujar Ust. Masnun
“Menang kalah tidak penting, yang penting berkeringat,” jawab Ustadz. Darsitun.
Permainan berlangsung dengan sangat sempurna alias kacau, bola sudah melebihi batas halaman sekolah (sudah masuk ke bagian lantai) tapi tetap dikejar, tidak ada yang namanya out haha. Selagi masih bisa dijangkau, maka tetap masih dalam koridor haha. Yang lebih anehnya lagi, gawang dari masing-masing pihak sangat kecillll, lebar gawang tidak lebih dari satu meter lol. Meski gawangnya kecil, namun bola tetap bisa melesat dengan indah dan menembus pertahanan keeper.
 Tersenyum Bahagia karena kebersamaan

Setelah selesai bermain bola, kami sarapan bareng, kemudian baru kembali ke rumah masing-masing. Semoga kebersamaan ini tetap ada. Amin.
Saya rasa hal ini perlu dilakukan oleh masing-masing sekolah. Kegiatan MABID ini sungguh banyak sekali manfaatnya. Saya belajar untuk bisa lebih mengeratkan jalinan silaturahmi satu sama lain, saya belajar untuk lebih mengerti masing-masing rekan guru agar bisa lebih kompak dalam berjuang di dalam dunia pendidikan, saya belajar untuk lebih taat pada Allah SWT, dari nasehat-nasehat yang disampaikan oleh pemateri, dan saya juga belajar untuk terus bersyukur akan karunia yang Allah berikan. Semoga apa yang kami lakukan bisa menjadi amal ibadah yang bisa menjadi bekal kami menghadap Allah SWT. Amin