December 26, 2012

Bahasa Indonesia-ku, Apa kabarmu?




24 Desember 2012
Pagi ini saya pergi ke sekolah, setelah seminggu kemarin saya liburan ke Jogja dan Jakarta. Saat masuk gerbang sekolah, saya kaget melihat berbagai macam banner yang bertuliskan kata-kata motivasi berbahasa Inggris. Di bawah kalimat yang berbahasa Inggris tersebut tertulis artinya dengan bahasa Indonesia dengan ukuran lebih kecil. Entah kenapa, kok saya tidak rela melihat bahasa Indonesia berada di bawah kalimat berbahasa Inggris tersebut. Kesannya bahasa Indonesia menjadi nomor dua, sedangkan bahasa Inggris berada di posisi teratas. Kenapa tidak dibalik saja? Bahasa Indonesia di atas, baru kemudian bahasa Inggris di bagian bawah. Dengan demikian, menurut saya lebih adil.
“Bahasa Indonesia-ku, apa kabarmu?”
“Pernah nggak sih kita berpikir bahwa sebenarnya bahasa Indonesia sudah mulai tergeser keberadaannya oleh bahasa internasional yang bernama bahasa Inggris?”
 Kalo saya pernah dan bahkan merasa khawatir dengan keadaan bahasa pemersatu bangsa ini, ahh lo lebay deh, mungkin ada yang berkata gitu, tapi coba lihat deh lebih lanjut. Coba kalian pergi ke Mall, berasa kayak bukan di Indonesia, semua nama-nama toko, nama-nama jenis makanan yang dijual, dan lain-lain, hampir semuanya menggunakan bahasa Inggris, terus dimana letak bahasa Indonesia? Masa bahasa Indonesia kalah keren dengan bahasa Inggris yang merupakan bahasa asing.
“Emangnya nggak keren, ya, kalo nggak pake bahasa Inggris?”
Justru menurut saya itu keren, lagi. Karena kita merasa bangga dengan bahasa Indonesia, bahasa nasional kita. Tapi kenyataannya, bahasa Indonesia sedikit demi sedikit mulai kendur eksistensinya. Percaya atau tidak, lama kelamaan bahasa Indonesia akan hilang. Mungkin akan ada yang bilang kalo saya terlalu berlebihan menanggapinya, tapi, tidak menutup kemungkinan juga, kan, bahasa Indonesia tidak lagi menjadi bahasa nomor satu di negeri kita ini? Coba renungkan lagi.
Saudaraku setanah air, bukan berarti saya melarang kalian menggunakan bahasa asing, silahkan, tapi jangan lupakan bahasa kita, yaitu bahasa Indonesia. Negara kita merupakan Negara yang kaya akan bahasa, hampir setiap daerah memiliki bahasa tersendiri, bahasa Bengkulu dengan bahasa serawai-nya, pulau Jawa dengan bahasa jawa-nya, Medan dengan bahasa Medan-nya, dan lain-lain. Bukankah kita kaya akan bahasa? Akan tetapi yang menjadi kekhawatiran saat ini adalah, tidak sedikit generasi penerus tidak mengerti bahasa daerahnya sendiri.
Saya ambil satu contoh “Bahasa Jawa”, saya mengajar di Purwokerto, dimana seharusnya generasi muda bisa berbahasa Jawa, karena mereka terlahir di Jawa, tinggal di jawa dan penerus kebudayaan daerah Purwokerto. Saya mulai khawatir bahwa sepuluh tahun yang akan datang, bahasa Jawa di Purwokerto akan menjadi bahasa asing, karena generasi muda banyak yang tidak mengerti akan bahasa Jawa.
Saya ambil satu bukti, di sekolah tempat saya mengajar, bahasa Jawa menjadi pelajaran yang menakutkan. Mengapa saya bilang menakutkan? Anak-anak lebih memilih mengerjakan soal-soal berbahasa Inggris dibandingkan dengan soal-soal ujian bahasa Jawa. Bahkan bahasa Jawa memiliki nilai yang sangat rendah dibandingkan dengan nilai bahasa Inggris.
Masih ada yang tidak percaya dengan apa yang saya tulis? Saya berikan satu bukti nyata lain, saya merupakan wali kelas, dari semua nilai yang masuk, nilai bahasa Jawa memiliki poin yang sangat rendah. Bisa dilihat dari nilai bahasa Jawa anak-anak, mulai dari yang paling pintar sekalipun, nilai bahasa Jawa-nya tidak ada yang memuaskan. Ini menunjukkan bahwa generasi penerus sudah mulai melupakan bahasa Jawa yang seharusnya menjadi bahasa yang dibanggakan. Jika terus seperti ini, tidak menutup kemungkinan, kan, bahasa Jawa akan hilang dari bumi pertiwi kita Indonesia?
Itu satu contoh dari segi bahasa Jawa. Tapi kembali lagi ke judul di atas,
"Bahasa Indonesiaku, apa kabarmu?"
Kalo seandainya bahasa Indonesia bisa berkomentar, mungkin dia juga akan berkomentar bahwa dia sudah tidak lagi menjadi utama di negerinya sendiri. Bahasa Indonesia sudah mulai digeser oleh bahasa asing. Kalo bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikan bahasa Indonesia? Renungkanlah.
Ehm, saya hanya bisa koar-koar di lapak ini, berharap akan ada yang membaca tulisan saya ini, kemudian bersama-sama melestarikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nomor wahid di negeri ini. Yuk berbicara bahasa Indonesia, yuk cintai bahasa Indonesia, yuk cintai tanah air kita ini meski apa pun yang terjadi. Dengan segala yang terjadi di negeri kita ini, kecintaan pada tanah air harus tetap ada. Aku Cinta Indonesia.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan