December 13, 2012

Lintang



Matahari masih setia dengan teriknya, memancarkan sinar yang menusuk kulit. Panas. Namun sang kakek tetap dengan kotak kayu yang berukuran sedang miliknya, duduk di bawah terik matahari yang ganas. Keringat bercucuran, membasahi kaos lusuh berwarna abu-abu yang ia pakai. Sang kakek melihat kesana-kemari, namun tidak ada satu pun orang yang menghampirinya. Matanya tetap mencari, berharap ada salah satu dari orang-orang yang berada di alun-alun kota menghampirinya, kemudian memberikan kesempatan baginya untuk berkerja, dan membawa pulang hasil jerih payahnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 14.57, ia bergegas menutup kotak kayu yang ada di sampingnya, kemudian ia beranjak perlahan menuju masjid yang ada di dekat alun-alun kota. Langkahnya sudah tidak lagi kuat, tubuhnya sudah tidak lagi mampu berjalan tegap dan tegas, ia sedikit bungkuk. Rambutnya yang ditutupi oleh topi bercorak batik Banyumasan sudah memutih. Garis-garis kehidupan terukir indah di wajahnya. Dia sudah ringkih.
Suara adzan berkumandang merdu, sebagian warga yang sedang berada di alun-alun tetap sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Namun tidak dengan sang kakek yang sudah berusia senja itu, dia berhenti dan menyiapkan diri untuk menghadap Tuhan, Sang Pencipta jagad raya.
Aku menatapnya lama, kemudian berjalan beriringan dengannya menuju masjid. Kuambil kotak kayu yang berisi peralatan sol sepatu, dan kubawa menuju masjid. Langkahku melambat, selambat detak waktu yang sedang kurasakan.
Aku mengambil air wudhu, setelah meletakkan kotak kayu milik sang kakek di teras masjid. Laki-laki yang belum kukenal namanya itu menatap dengan pandangan kosong, kemudian berdiri mengambil air wudhu untuk shalat ashar. Selepas shalat, sayup-sayup kudengar suara sang kakek sedang merangkai kata menjadi doa-doa indah. Untaian doa untuk kesehatan keluarganya, pujian syukur atas segala karunia yang telah ia dapatkan selama hidupnya, dan sebuah mimpi yang ia panjatkan pada Allah swt.
“Kuatkan hati hamba, Ya Rabby, amin.”
Begitulah akhir dari doa yang ia panjatkan. Aku sudah selesai melaksanakan serangkaian shalat, namun sang kakek masih menyendiri di pojok masjid, membuka sebuah mushaf yang sudah tua, kemudian membacanya. Ia sedang bercengkrama dengan kalam-Nya. Dan aku hanya terdiam, menunggu sang kakek selesai beribadah.
“Saya Rahman, Pak,” ucapku sambil mengulurkan tangan.
“Pak Dadang,” jawabnya sambil tersenyum. Tangannya kasar karena kerasnya hidup yang harus ia lalui. Dan mata itu, mata itu tetap berbinar, wajah yang sudah tidak lagi kencang itu tetap bercahaya. Aku melihat kebahagiaan di raut wajahnya. Bukankah dia hanyalah seorang tukang sol sepatu? Mengapa ada senyum kebahagiaan yang begitu menyejukkan terukir di wajahnya? Ahhhh aku lupa. Bukankah kebahagiaan tidak datang karena kekayaan yang melimpah? Bukan pula karena jabatan tinggi. Karena pada hakikatnya semua orang bisa bahagia. Karena bahagia itu datang dari dalam diri.
“Pak Dadang sudah berapa lama jadi tukang sepatu?” Pertanyaan itu mengalir begitu saja dari mulutku. Aku berharap pertanyaan ini tidak menyinggung perasaannya.
“22 tahun,” jawabnya sambil membuka kembali peralatan sol sepatu yang ada di dalam kotak kayu miliknya.
Aku berpikir keras, bagaimana ia bisa memenuhi kehidupan keluarganya hanya dengan menjadi tukang sol sepatu? Sedari tadi aku melihatnya, belum satu orang pun yang datang menghampirinya untuk menggunakan jasanya. Dan Pak Dadang sudah menjadi tukang sol sepatu sejak 22 tahun yang lalu. Sungguh perjuangan yang luar biasa.
“Hari ini sudah ada yang menggunakan jasa sol sepatu, Bapak?” aku masih ingin banyak tahu tentangnya.
“Alhamdulillah, masih belum,” jawabnya sambil tersenyum. Dan lagi-lagi senyum itu menunjukkan sebuah kebahagiaan. Tidak sedikit pun kegundahan terlihat di wajahnya, tidak terlihat kekhawatiran darinya. Ia tetap tenang dan tersenyum.
Kami hanyut dalam perbincangan panjang. Tentang hidup yang kadang tidak selamanya sesuai dengan apa yang kita harapkan, tentang rasa yang tidak selamanya ada bahagia, tentang air mata yang kadang harus tumpah karena kerasnya hidup, dan tentang sebuah senyum tulus yang selalu hadir di wajah rentanya.
~~
            Aku berjalan mengikuti langkahnya, menuju pemukiman yang begitu kumuh. Sampah yang berbau busuk begitu menyengat. Aliran air yang sudah berubah warna menjadi sedikit keruh, tumpukan barang-barang bekas yang menjadi pemandangan selama menuju rumahnya, hingga kami pun sampai ke sebuah gubuk yang mungkin jauh dari kata layak untuk dijadikan tempat tinggal. Sebuah gubuk yang hanya berdindingkan papan-papan bekas, tanpa jendela dan hanya berlantaikan tanah.
Mataku tertuju pada anak kecil yang sedang terbaring di atas dipan kayu berukuran kecil, berselimutkan kain yang sudah robek. Dia terus meringis kesakitan, sambil memegang perutnya. Tubuhnya kurus, mukanya pucat. Aku langsung mengerti, dialah Lintang, anak Pak Dadang yang menderita gagal ginjal.
“Pak, Lintang belum makan.” Ucap Lintang sambil menangis.
“Sabar, ya, Nak. Hari ini Lintang tahan dulu. Bapak masih belum dapat uang untuk membeli beras. Lintang makan ubi yg sudah direbus ibu, ya.” Pak Dadang mengelus kening putranya, kemudian memeluk tubuh Lintang yang lemah tak berdaya.
“Ini Lintang, anak saya yang sedang menderita gagal ginjal, yang tadi saya ceritakan.”
Saya hanya mengangguk dan mencoba untuk tersenyum beberapa saat. Air mataku langsung menetes tanpa permisi, aku menangis melihat apa yang ada di hadapanku. Aku menangis karena untuk kesekian kalinya kata “gagal ginjal” kembali harus kudengar. Aku menangis menyaksikan kehidupan orang-orang pinggiran yang jauh dari gemerlap kehidupan kota.
“Pak, saya permisi sebentar.”
Tidak perlu menunggu jawaban Pak Dadang, aku langsung berlari, berlari dengan air mata yang terus merembesi benteng pertahananku. Menangis karena sebuah rasa yang aku sendiri tidak mengerti, menangis karena haru melihat Pak Dadang yang berjuang sedemikian rupa untuk menghidupi anak dan istrinya.
Aku kembali, dengan beberapa bungkus nasi dan lauk pauk yang kubeli untuk keluarga Pak Dadang. Ada senyum saat melihat Lintang dengan lahap menyantap makanan yang kubawa. Ada bahagia yang memenuhi rongga dada saat melihat Pak Dadang menyuapi istrinya yang juga sedang sakit. Ah Tuhan, semoga mereka baik-baik saja, semoga mereka bisa tabah dengan jalan hidup yang telah Engkau takdirkan.
Tiba-tiba, bayangan papi kembali hadir dalam benakku, papi meninggal karena penyakit yang sama dengan Lintang. Pi, aku merindukanmu. Bayangan beberapa tahun yang lalu, saat papi juga berjuang melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya dan berakhir dengan kematian. Dan aku masih percaya, semua itu adalah kehendak Sang Pencipta.
“Ada doa yang kutitipkan untukmu, Pi.”
~~
Satu tahun berlalu, kami duduk bersama di alun-alun kota, menyaksikan keramaian di pagi hari. Aku menatap Lintang yang sedang memacu sepedanya, dia sudah lebih baik dari Lintang yang kukenal satu tahun yang lalu. Tubuhnya sudah lebih berisi, dia sudah bisa bermain dengan anak-anak seumuran dengannya, dengan mengayuh sepeda yang sengaja kubelikan untuknya.
Sejak pertemuan satu tahun yang lalu, Pak Dadang dan Bu Dadang ku ajak kerja di rumah, sedangkan Lintang, dia menemani hari-hariku. Aku bahagia karena sudah menjadikannya bagian dari hidupku. Kini Pak Dadang sudah tiada. Ia sudah kembali kepada Tuhan. Hanya ada aku, Bu Dadang, dan Lintang. Kotak kayu yang dulu pernah menjadi bagian dari hidup Pak Dadang, kini masih tersimpan rapi di meja kamarku. Pak Dadang sudah mengajarkanku banyak hal. Dan aku mensyukuri semua itu.
“Pa, Lintang kesana sebentar, ya.”
Aku hanya bisa tersenyum sambil menganggukkan kepala. Panggilan itu kini melekat padaku, meski aku belum menikah.
“Jangan jauh-jauh, ya, Nak.”
Lintang kini sudah kuangkat menjadi anak. Aku bahagia meski Lintang harus terus berjuang dengan berbagai macam proses pengobatan. Tuhan, hanya ini yang bisa kulakukan. Izinkan aku bahagia dengan segala keputusan yang kubuat.
Lintang, teruslah tumbuh, Nak.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan