January 04, 2012

Taare Zameen Par


Every child is Special
Sebenarnya saya sudah lama menonton film ini, kurang lebih 6 atau 7 bulan yang lalu, akan tetapi kemarin pada saat workshop guru-guru ditayangkan film ini, dan saya yang dulu nonton film ini penuh dengan air mata, hari itu juga saya kembali meneteskan air mata, meski saya coba untuk tahan, ingin rasanya teriak tapi malu dengan guru-guru yang lain he he.

Film ini menceritakan seorang anak yang bernama Ichsan yang menderita dyslexia (sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis). Keadaan ini diperparah oleh perlakuan lingkungan yang selalu menyudutkannya, sering dikatakan ‘bodoh', ‘malas' dan kata-kata yang tidak layak diucapkan lainnya. Saya tidak akan berbicara panjang lebar mengenai film ini, silahkan tonton filmnya dengan cara membeli DVD aslinya ya (kalo mau copy file filmnya sama saya juga boleh) #senyum.

Film ini benar-benar sudah membuat saya menangis, saya tidak tahu dengan kalian apakah kalian akan menangis atau tidak, yang jelas banyak pelajaran berharga yang bisa diambil bagi para guru, orang tua, maupun calon orang tua, bagaimana seharusnya kita memperlakukan anak-anak kita dengan baik dan bisa menerima keadaan anak kita. Tidak selamanya anak bisa mengikuti kemauan kita, jangan selalu membanding-bandingkan anak kita yang mungkin kurang mampu secara akademik dengan anak-anak lain yang mempunyai nilai akademik yang tinggi. Para guru pun harus mempunyai cara yang baik dalam mengajar.

Bagian yang membuat saya menangis tersedu-sedu adalah pada saat Ichsaan dimasukkan ke boarding school, saya bisa merasakan betul bagaimana rasanya jauh dari orang tua untuk pertama kalinya diumur yang masih sangat membutuhkan belaian seorang Ibu, di film ini Ichsaan mengalami depresi saat berada jauh dari Ibunya, apalagi saat Ibunya memberi kabar bahwa ia tidak bisa mengunjungi Ichsaan ke sekolah karena harus menyaksikan kakaknya yang sedang lomba. Padahal saat itu Ichsaan sedang betul-betul membutuhkan kehadiran sang Ibu.

Every child is special, itu yang dapat saya ambil sebagai pelajaran, semua anak itu mempunyai keunikan tersendiri, layaknya Ichsaan yang dicap sebagai anak bodoh, malas, padahal dia mempunyai daya imajinasi yang sangat tinggi dalam melukis, dia mampu melukis dengan baik. Masalah dia kesulitan dalam membaca, menulis, dan melakukan perintah yang berurutan (seperti, Ichsaan, buka buku Bahasa Inggris, halaman 5, baris ke 2), bisa diatasi dengan memberikan dia waktu khusus untuk diajari bagaimana menulis dan membaca. Seperti yang dilakukan oleh Amir Khan dalam film ini, dia mengajarkan cara menulis dan membaca dengan penuh kesabaran hingga akhirnya Ichsaan bisa membaca dan menulis. Dibutuhkan kesabaran tinggi memang, tapi tidak ada usaha yang tidak membuahkan hasil, perlahan tapi pasti akan ada hasil dari apa yang kita lakukan bukan?.

Baiklah, silahkan tonton filmnya, jangan lupa siapkan tissue.