February 09, 2012

Senja

Senja, aku masih duduk di tempat yang sama, tempat di mana kita pertama kali bertemu. Masih kuingat masa-masa itu, engkau menaiki sepeda ontel tua milikmu, menggunakan jilbab putih bermotif bunga matahari. Engkau terjatuh di depan gerbang perpustakaan saat menghindar dari seekor kucing yang tiba-tiba menyeberang jalan, kemudian aku datang dan membantumu berdiri, dan engkau mengucapkan kata-kata yang masih kuingat hingga saat ini.

‘Syukron, Jazaakumullah’

Aku memintamu untuk mengulangi kalimat itu, karena untuk pertama kalinya ada orang yang mengucapkan kalimat itu kepadaku, dan setelah tiga kali mengulangi, barulah engkau menjelaskan bahwa kalimat itu adalah ucapan terimakasih dan semoga Allah membalasnya. Aku tersenyum mendengar kalimat itu, singkat dan penuh makna.

Setelah kejadian itu, kita sering bertemu meski tidak pernah berjanji untuk bertemu, kita bertemu di tempat di mana sekarang aku sedang duduk, di depan perpustakaan umum daerah. Sebelum bertemu denganmu, aku memang sudah sering mengisi waktu luang dengan membaca buku di sini, aku juga masih ingat saat engkau mengatakan bahwa

‘Perpustakaan adalah persembunyian terindah untukmu’

Kemudian setelah mengucapkan kalimat itu, engkau kembali membaca buku tentang psikologi perkembangan, sedangkan aku membaca buku tentang sejarah. Tidak banyak literatur yang dapat aku temukan di Perpustakaan daerah ini, akan tetapi entah mengapa, acap kali aku datang ke Perpustakaan hanya untuk melihatmu tenggelam bersama tumpukan buku-buku. Memandangi wajahmu yang dibalut dengan kain yang kalian sebut ‘Hijab’, kadang aku juga sering memperhatikanmu diam-diam dan saat mata kita beradu pandang, aku akan segera mengalihkan pandanganku ke arah lain.

Sudah tiga bulan rasanya aku tidak pernah melihatmu datang ke perpustakaan ini, tidak pernah lagi kulihat sepeda ontel tua milikmu yang engkau beri nama ‘Rahmat’. Katamu, sepeda itu sengaja diberi nama ‘Rahmat’, karena dia merupakan sebuah anugerah dari-Nya. Dengan sepeda itu, engkau bisa berkeliling kota, dan tak peduli akan panas teriknya matahari yang menyengat. Pakai sepeda itu bikin kita sehat katamu.

Terakhir kali kita bertemu saat kita berpapasan di sebuah ‘Gereja’, engkau dengan sepeda ontel kesayanganmu, kita tidak sengaja berpapasan dan aku menyapamu.

hy Senja, mau kemana?”

Engkau tersenyum dan berhenti kemudian menjawab tanyaku.

‘Jafni, saya mau ke pasar beli beras’, kamu sendiri ngapain di depan gerbang ‘Gereja’?

Ah aku lupa dan tidak pernah memberi tahumu bahwa aku berkeyakinan Kristen Protestan, kita memang tidak pernah membicarakan hal itu.

‘Ini hari Minggu, jadi saya harus ke ‘Gereja’.

Engkau memandangku cukup lama, kemudian engkau pergi meninggalkan aku yang berdiri tegak di depan gerbang, engkau pergi tanpa menoleh ke arahku, engkau pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sejak itu, kita tidak pernah bertemu lagi, aku mencoba untuk bertanya ke pegawai perpustakaan, akan tetapi mereka juga tidak pernah melihatmu berkunjung ke Perpustakaan lagi.

Dan senja ini, saat pegawai perpustakaan mulai membersihkan perpustakaan, saat mereka sudah siap untuk menutup perpustakaan, aku masih berdiri di depan gerbang ini, berharap engkau akan datang dan menyapaku.

Senja, mengapa engkau pergi begitu saja
Engkau pergi membawa hatiku
Aku masih menantimu di setiap senja
dan berharap bertemu denganmu di suatu senja

Cinta Damar

Bangunan itu terlihat begitu megah, dengan dekorasi yang indah menawan, berbagai macam lukisan menghiasi dinding-dinding yang ada di ruang utama, berbagai macam tulisan kaligrafi juga menambah kesejukan mata memandangnya, lampu hias yang warna-warni menerangi seluruh penjuru ruangan, di pintu masuk ruang utama, ada tulisan yang berwarna hijau daun dan keemasan.

“Ucaplah salam sebelum masuk”
‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’

Tepat di gagang pintu, ada tulisan kaligrafi berukuran kecil berwarna biru langit,

Bismillahirrahmanirrohim’

Siapapun akan merasa tenang jika memasuki ruang utama itu, ruangan itu cukup luas, ruang utama tersebut merupakan bagian dari bangunan asrama mahasiswa, di ruangan ini lah biasanya mahasiswa melakukan kegiatan bersama, diskusi ilmiah, bedah  buku, rapat dan sebagainya.

Namun, sudah beberapa malam ini, ruangan utama itu berubah fungsi, bukan kegiatan diskusi ilmiah yang dilakukan, bukan juga bedah buku. Akan tetapi ruangan utama sudah disulap sedemikian rupa menjadi tempat menonton pertandingan bola. Setiap malam, suara mahasiswa-mahasiswa penggila bola akan terdengar hingga ke kamar-kamar yang ada di lantai atas. Tidak semua penghuni asrama menyukai bola, salah satunya adalah Damar, dia mahasiswa semester lima jurusan Pendidikan Agama Islam, ini merupakan tahun ketiganya tinggal di asrama, dan dia sudah terbiasa dengan kebisingan teman-temannya ketika menyaksikan pertandingan sepak bola. Dia mencoba untuk memaklumi semua keriuhan suara-suara itu, meski kadang-kadang ia tidak bisa berdamai dengan kebisingan, namun dia tidak pernah mengutarakan semua itu kepada teman-temannya, dan lama-kelamaan dia mulai terbiasa dengan semua itu.

Jarum jam menunjukkan pukul 02.45 dini hari, Damar baru bangun dari tidur, ia tertidur dengan memegang sebuah kitab yang berjudul ‘Syarh Ibnu ‘Aqil’, yang merupakan syarh dari kitab ‘al Fiyah’ karangan Imam Ibn Malik. Ia tertidur saat sedang mempelajari tata bahasa Arab, ia berkeinginan kuat untuk bisa berbahasa Arab dengan baik dan benar, hampir setiap hari dia mencoba untuk berbicara bahasa Arab dengan teman satu kamarnya yang bernama Jihad. Damar dan Jihad sangat akrab, mereka berdua sama-sama dari Jambi, merantau ke Jakarta demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik dibandingkan dengan pendidikan yang ada di kampung halamannya. Kebersamaan keduanya sudah terjadi sejak enam tahun yang lalu, sejak masih sekolah menengah pertama mereka sudah saling mengenal, kemudian masuk ke sekolah menengah atas yang sama, dan sekarang mereka juga masuk ke Universitas yang sama.

Suara riuh dari ruang utama membuat sebagian mahasiswa-mahasiswa yang tinggal di asrama merasa terganggu, susah untuk tidur lelap, apalagi ketika terdengar suara ‘Goal’, sudah bisa dipastikan akan membangunkan sebagian besar penghuni asrama. Berbeda dengan Damar, saat teman-temannya asik berteriak mendukung idola masing-masing, saat teman-temannya meneriakkan “Barcelona”, ‘Real Madrid’, ia mengucapkan takbir ‘Allahu Akbar’. Ia sedang melakukan shalat malam, hanyut dalam sunyinya malam, hanyut dalam bacaan-bacaan shalat yang keluar dari kedua bibirnya.

"Dan pada sebagian malam hari bersalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ketempat yang terpuji" (Al Isra' ayat 79)

 Air matanya menetes ketika sampai pada ayat,
“Fabiayyiaalaairabbikumaa Tukazzibaan”
(Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau ingkari? )

Damar membaca surat ar-Rahman dalam shalatnya, dan setiap kali sampai kepada ayat tersebut, ia menangis, ia tahu akan arti dari ayat tersebut, dan ia sadar diri akan nikmat yang telah Allah berikan kepadanya, entah dengan apa dia bisa membalas semua nikmat yang telah Ia berikan kepadanya selama hidupnya. Rasanya tidak akan pernah bisa membalas segala kasih sayang yang telah Ia berikan kepadanya. Tersentak dadanya tiap kali membaca ayat itu, dadanya bergemuruh, air matanya menetes membasahi kedua pipinya.

“Seandainya kalian menghitung nikmat Allah, tentu kalian tidak akan mampu” (an-Nahl:18)

Damar masih melaksanakan shalat, meski kebisingan supporter bola yang ada di ruang utama terdengar jelas dari kamarnya, dia tetap berdiri tegak memuji Tuhannya, ia tetap bersujud mengangungkan kuasa-Nya, ia sedang merayu hatinya untuk tetap cinta kepada Tuhannya, ia juga sedang merayu Tuhannya untuk bisa menerima cintanya.

Damar, pemuda yang sering dikatakan tidak gaul, cupu, anak kampung oleh teman-temannya, sedang jatuh cinta kepada yang Maha Cinta, hatinya sedang tidak bisa memikirkan hal lain, hanya ada cinta untuk-Nya yang memenuhi hatinya,  cinta dari yang membolak-balikkan hati manusia. Cintanya kian hari kian mekar, cintanya selalu ia siram dengan kalimat-kalimat tasbih dan senandung aya-ayatNya.

Wahai yang Maha Cinta
Aku ingin Engkau menerima ungkapan cintaku kepada-Mu
Akulah hamba-Mu yang sedang jatuh cinta
Jangan biarkan cinta ini sirna dari hatiku
Izinkan aku memupuk cinta ini dengan mentaati perintah-Mu
dan menjauhi segala larangan-Mu.