February 12, 2012

Mimpi

Malam ini hujan. Malam ini mendung. Dan aku meringis, terpojok dalam sudut kamar berdebu yang penuh dengan tumpukan kardus usang. Dinding kamar sudah tidak lagi berwarna. Coklat, putih atau apa pun itu, sangat tidak jelas. Seperti diriku? Huh, aku hanya bisa mendengus kesal membayangkan perumpamaan yang aneh. Dan anehnya itu nyata.

Hei, kamu ingin berlari? Berjalan? Merangkak?
Hya! Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.
Seperti sekarang? Duduk terdiam tanpa kata dan keputusan?
Aku akan menentukan langkahku sendiri.
Kapan? Saat semua pintu sudah tidak ada yang terbuka? Saat jalan-jalan telah menjadi buntu?
Saat aku telah memutuskannya.

Sebuah keputusan tidak akan ada jika aku tidak memulai untuk memutuskan, dan setiap keputusan tentunya akan ada pertanggung jawaban atau pun resikonya. Baik atau pun buruk, aku harus siap menerima semua itu. Itulah gunanya hidup bukan?, berani menantang badai. Aku adalah perahu yang terbuat dari kayu terbaik, dengan layar gagah menantang badai. aku harus berani untuk memulai berlayar.

Aku tidak boleh terus-terusan berada di dermaga ini, menyesali kejadian masa lalu yang membuatku terpuruk, apalah artinya sebuah perahu yang kokoh, jika tidak berlayar. Aku harus berani menjadi lebih baik, berlayar ke sebuah pantai yang akan kusebut dengan pantai harapan.

Aku mengepalkan kedua tangan dan berdiri. Kedua kakiku kokoh menopang. Aku sudah siap. Aku sudah memutuskan. Aku akan menantang badai. Menerobos jutaan ombak. Aku akan mengambil apa pun resikonya.

Kau tidak takut terjatuh lagi? Terpuruk dalam kubangan kesalahan masa lalu?

Kepalan tanganku mengendur. Setiap sisi batinku saling berdebat. Memberontak. Aku tidak akan menyerah. Tidak seharusnya seperti itu, bukan? Lalu apa lagi? Bahkan malam yang pekat tidak mau menjawab tanyaku yang terus berteriak lantang.

“Bismillah” Insyaallah Aku bisa. Banyak jalan menuju Rhoma bukan?

Kegagalan kali ini akan aku jadikan cambuk agar bisa menjadi lebih baik ke depannya. Aku tidak boleh terpuruk karena gagal menuju mimpi yang sudah kusiapkan sedari dulu. Aku ingin pergi menyeberangi samudera, menggapai cita, aku ingin duduk manis di kampus itu, pergi ke Negeri Kangguru, dan menjadi mahasiswa di University of Melbourne. Aku boleh saja gagal pergi ke sana, karena aku yakin Tuhan sudah mempunyai rencana yang indah. Ini bukan kali pertama aku gagal, dan aku yakin ini bukanlah akhir dari perjalanan mimpiku.

Mimpi boleh lah mimpi tapi bukan hanya negeri Kangguru itu yang ada di dunia ini. Kegagalan  demi kegagalan ini membuatku mengubah cara pandang. Banyak negeri yang bisa didatangi. Banyak cara masih bisa aku tempuh. Batinku boleh saja terus memberontak dan saling mengelak. Tapi aku punya masa depan yang harus aku perjuangankan, lebih dari harus selalu terpuruk dan berdebat dengan batinku sendiri.

‘Dengarkan kata batinmu’.

Aku mendengarnya dengan hati yang terbuka. Dan aku tahu Tuhan telah menyiapkan jalan yang indah untuk aku lalui. Kali ini tidak boleh gagal. Aku melirik tumpukan berkas di atas meja. Ya, aku bisa dan harus bisa.

*
Matahari siang ini terik, aku melangkah pelan tapi pasti memasuki sebuah kampus. Aku kembali mencoba keberuntungan lain, setelah beberapa kali gagal tembus ke luar negeri, kali ini aku mencoba untuk mengikuti tes beasiswa unggulan S2 Biologi. Semua persyaratan sudah kupenuhi. Hari ini jadwalnya adalah interview.

Sebuah pintu yang kaku mendadak menakutkan dan cukup membuat keringat terus mengalir deras. Ini bukan yang pertama, tapi entah mengapa rasanya seperti pertama kali aku mengikuti tes dan kali ini ada beban yang lebih berat. Aku menggumamkan doa dalam hati.

Kamu pasti bisa.
Ya. Tidak boleh gagal.
Tentu.

Bismillah. Aku membuka pintu ruangan ketika namaku dipanggil. Aku mengambil sebanyak-banyaknya udara. Menarik sudut bibir dengan yakin. Semua dimulai dari sini. Kurang lebih 15 menit aku berada di ruangan itu, penentuan akhir apakah aku layak mendapatkan beasiswa ini atau tidak. Hasil interview akan diumumkan dua minggu lagi. Aku sudah berusaha semampuku, selebihnya aku pasrahkan kepada-Nya.

*
Aku terus berdo'a memohon kepada-Nya, kali ini izinkan aku mendapatkan mimpi ini, namun jika memang ini bukanlah rencana yang Engkau takdirkan untukku, maka aku pun percaya ada jalan lain yang sudah Engkau siapkan untukku. Dua minggu rasanya begitu singkat. Hari ini akan ada pengumuman siapa yang berhak mendapatkan beasiswa tersebut. Daftar penerima beasiswa akan di post di website Kampus.

Kabur dan membuatku harus membaca berulang kali.
“Namaku dimana?” gumamku gugup.

Dan, ya, Tuhan menjawab pintaku, nama yang akan mengukir perjalanan hidupku terpampang jelas. Ini bukan hanya sekedar mimpi, kan?
Satu kali, dua kali dan berulang kali aku me-refresh halaman website itu. Berharap terburuk jika itu hanya tipuan, halunisasiku saja. Tapi, itu nyata.

“Kau berhasil”

Aku ingin berteriak. Aku ingin menangis. Ini benar-benar luar biasa. Mimpi itu tidak lagi hanya sekedar mimpi. Mimpi menjadi kenyataan yang harus aku jalani.
Kau tidak boleh goyah.
Tentu saja.
Aku tersenyum senang dan tidak bisa berhenti mengucapkan rasa syukur. Rasa syukur yang akan aku wujudkan dalam tindakan nyata. Keberhasilan.

#20HariNulisDuet
Kolaborasi Arian Sahidi dan @violetkecil

Kala Senja

Diusiaku yang menjelang senja ini, tidak banyak yang bisa kulakukan, kadang hari-hariku hanya diisi dengan bermain bersama dengan cucu kesayanganku, meski  tidak kuat lagi membiarkan mereka bergelayutan manja di pundakku, meski kadang mereka jarang berkunjung ke rumahku ini, kadang mereka hanya berkunjung satu kali dalam satu minggu, namun aku masih bisa merasakan kebahagiaan hariku bersama dengan sebuah semangat yang kubangun dalam diri.

Sudah beberapa kali anak-anakku memaksa untuk tinggal bersama mereka, tidak tega katanya melihatku yang sudah uzur ini menempati rumah sendirian, hanya ditemani seorang pembantu. “Kita bisa menjual rumah ini Abi, dan Abi bisa tinggal bersama kami, atau kalo memang nggak mau dijual, kita bisa sewakan, jadi kapan-kapan Abi bisa kembali berkunjung ke sini”,  begitulah yang sering diucapkan oleh anak-anakku. Akan tetapi, berat rasanya untuk meninggalkan dan menjual rumah ini, terlalu banyak kenangan yang telah aku ukir di rumah ini, dan aku tidak sanggup menghapus kenangan itu bersama dengan kepergianku.
*
Akhir pekan kali ini, cucuku yang paling tua janji akan datang, katanya kangen dengan masakanku dan ingin bercerita banyak hal. Aku duduk di depan rumah menanti kedatangannya, aku juga merindukan canda tawanya. Beberapa saat kemudian, Laila, cucuku yang paling tua sudah berada di hadapanku, ia tersenyum melihatku yang sudah menanti kedatangannya, kemudian menjabat kedua tanganku.

“Assalamu’alaikum Kek, sudah lama nunggu ya?, tadi Laila harus nganterin Umi dulu, baru ke sini. Maaf ya Kek, udah buat kakek menunggu lama.
“Nggak apa-apa, ayo masuk, Kakek udah siapin ayam selasih kesukaanmu”

Setelah makan, Laila banyak bercerita tentang kuliahnya yang sebentar lagi selesai, hanya menunggu sidang katanya. Setelah selesai kuliah, ada seseorang yang berniat melamarnya, satu kebahagiaan lagi mendengar cucuku akan segera berumah tangga dan membangun kisah cintanya menuju surga.

‘Jika memang kamu sudah mantap dan siap untuk berumah tangga, Kakek akan sangat mendukung keputusanmu. Semua keputusan ada pada kamu Laila”  
“Laki-laki itu bisa ngaji nggak?, aku ingin memastikan bahwa cucuku mendapatkan seorang pendamping yang bisa membimbingnya, tidak hanya duniawi, akan tetapi lebih dari itu.
“Dia dari keluarga yang ta’at agama Kek, dia juga sering bantu ngajarin ngaji anak-anak yang di masjid dekat Kampus”

“Syukurlah”, ucapku, semoga dia bisa menjadi seorang Imam yang baik, karena ketika seseorang sudah mencintaimu karena Allah, maka Insyaallah engkau akan bahagia dunia dan akhirat, begitu juga sebaliknya, cintailah dia karena-Nya.

Laila mengangguk, kemudian mengajakku keliling komplek, duduk di bawah pohon-pohon yang ada di pinggir danau buatan yang ada di dekat komplek. Tertawa bersamanya adalah sebuah kebahagiaan yang tidak ternilai.
*
Aku cukup bahagia dengan apa yang bisa kurasakan di usiaku yang sudah hampir enam puluh tahun ini, mempunyai anak-anak yang peduli dengan keadaanku, cucu yang begitu sayang kepadaku, akan tetapi ada satu hal yang sampai hari ini masih terus aku perjuangkan, atau bisa dikatakan satu hal yang baru kusadari setelah garis-garis halus menghiasi wajahku, setelah rambutku perlahan berubah menjadi putih. Aku masih belum bisa membaca Al Qur’an.

Aku lupa untuk mempelajari Kalam-Nya saat aku masih muda, aku lupa untuk bercengkerama dengan-Nya disaat mataku masih bisa melihat dengan jelas, aku lupa untuk mempelajari ayat-ayatnya saat aku masih bisa memahaminya dengan baik. Penyesalan memang tidak pernah diawal, semua penyesalan selalu terjadi diakhir. Seperti sekarang ini, aku menyesal telah lalai terhadap Kalam-Nya, namun tidak ada gunanya terus hanyut dalam penyesalan, aku memilih untuk meraih apa yang aku lupakan dulu.
*
Malam begitu gelap, saat orang masih terlelap dalam tidur, saat jalanan lengang, aku berpacu dengan dinginnya malam, menembus kegelapan malam dengan sepeda motor kesayanganku. Setiap pagi menjelang, pukul 03. 30, sudah merupakan rutinitas, dengan mengendarai motor butut ini, aku pergi menuju sebuah masjid yang cukup jauh dari jangkauan, perlu waktu kurang lebih dua puluh menit baru bisa sampai ke masjid tersebut.

Hanya satu yang aku harapkan, aku bisa membaca Al Qur’an. Mencari guru Al Qur’an tidaklah semudah mencari guru les private untuk cucuku, dan hanya masjid itu yang selalu mengadakan tahsin Al Qur’an setiap ba’da subuh dan masih bisa kugapai dengan kondisi kesehatan yang kadang tidak menentu. Seorang “Hafidz” alumni Al Azhar Kairo dengan telaten membina kami yang sudah lanjut usia. Sebagian besar dari peserta tahsin adalah yang sudah lanjut usia, hanya beberapa pemuda yang ikut.

“Tidak ada kata terlambat untuk mempelajari kalam-Nya, meski sudah diusia senja, namun bapak-bapak berkeinginan kuat untuk belajar. Itu lebih baik dari pada tidak sama sekali”. Kalimat itu yang sering memberi kami semangat untuk terus belajar.
*
Berdasarkan pengalamanku ini, aku sering berpesan kepada cucu-cucuku, agar mereka tidak lupa untuk mempelajari Kalam-Nya. Agar mereka tidak menyesal di hari tua nanti. Juga kepada siapapun yang membaca kisahku ini. Semoga Allah memberikan kita kesempatan untuk mempelajari Kalam-Nya.