March 12, 2012

Yang Terlupakan

Aku duduk di bagian ujung masjid, bersender ke dinding masjid sambil membaca sebuah buku. Melepas lelah setelah seharian berkutat dengan tugas-tugas yang membuatku lupa untuk meluangkan waktu membaca buku-buku yang kubeli. Buku-buku itu tersusun rapi di lemari kamarku. Hanya tersusun dan belum sempat untuk kubaca. Tidak apa, nanti kalau sudah ada waktu luang baru akan kubaca satu persatu. Aku membaca lembar demi lembar buku yang berjudul “Notes From Qatar” karya Muhammad Assad. Sebuah buku yang sangat inspiratif, menarik dan bersahaja. Sebuah buku yang memotivasi tanpa maksud untuk menggurui.

Aku sedang membaca bagian “My Spiritual Journey”, tiba-tiba seseorang menghampiriku, dia duduk di depanku sambil memegang selembar kertas dan sebuah bolpoint berwarna hitam. Penampilannya lusuh, sepertinya dia baru selesai bekerja. Ada debu yang menempel di keningnya, serta butiran-butiran keringat membasahi mukanya.

Aku masih terus membaca, dan membiarkan dia duduk di depanku. Hening, aku melihat ke arahnya, dia tidak berucap apa-apa, dia hanya memainkan bolpoint hitam itu dengan jari-jari tangannya. Sesekali dia melipat kertas putih yang ada di tangannya.

Dia semakin mendekat, sekarang duduk di sampingku sambil memperlihatkan selembar kertas yang tadi dia pegang, tidak ada goresan tinta di kertas itu, hanya selembar kertas kosong.

“Mas, maaf mengganggu” ucapnya
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” jawabku

Aku menutup buku, kemudian melihat ke arahnya, dan mendengarkan dengan baik apa yang mau dia ucapkan. Dia menarik nafas dalam-dalam, kemudian memulai ceritanya.

“Saya seorang kuli bangunan, sekarang saya sedang kebingungan” laki-laki paruh baya itu memulai ceritanya.

“Saya sedang kebingungan dengan status keyakinan saya saat ini, apakah saya masih seorang muslim atau tidak? Saya ragu dengan ibadah yang selama ini saya lakukan, apakah ibadah saya diterima atau tidak?” dia berhenti berucap, kemudian mengambil nafas panjang.

“Apa yang membuat Bapak ragu?” tanyaku menelusuri

“Saya mendapat sebuah bisikan ghaib, entah dari siapa. Saya tidak tahu pasti bisikan itu berasal dari siapa? Yang aku tahu bisikan itu terus terdengar di telingaku dan menghantuiku.”

“Bisikan seperti apa yang Bapak maksud?”

“Beberapa waktu lalu, sebuah bisikan kerap terdengar di telingaku. Sebuah bisikan yang mengatakan bahwa jika semua umat muslim di Indonesia ini tetap berpegang teguh dengan ajaran Islam, maka dipastikan mereka akan mati, dan jasad mereka akan dipotong-potong menjadi bagian-bagian kecil, kemudian potongan-potongan itu akan dijadikan makanan anjing-anjing dan hewan buas.”

Aku mengucapkan istighfar  mendengar ceritanya.

“Lantas apa yang sudah Bapak lakukan? Sehingga Bapak sendiri tidak yakin dengan keislaman yang bapak pegang” aku kembali bertanya.

“Semenjak mendengar bisikan itu, saya tidak pernah melaksanakan shalat, saya tidak pernah berpuasa, akan tetapi saya tidak pernah menyatakan keluar dari Islam. Saya hanya tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban saya sebagai seorang muslim. Saya mulai meragukan Tuhan. Apakah saya murtad? Haruskan saya kembali mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda bahwa saya kembali memeluk Agama Islam?”

Aku mencoba untuk menjawab pertanyaannya,

“Banyak macam Seseorang bisa dikatakan murtad, bisa saja seseorang dikatakan murtad karena mencela Allah, melakukan sujud kepada patung, meyakini Allah memiliki sekutu, atau meragukan sesuatu yang sudah jelas keharamannya, seperti meragukan haramnya syirik, khamr, dan zina.”

Jangan sampai kita mati dalam keadaan murtad, karena ada ancaman yang Allah berikan. Sebagaimana firman-Nya,

Barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya kemudian mati dalam keadaan kafir maka mereka itulah orang-orang yang terhapus amalannya di dunia dan akhirat. Dan mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal berada di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah : 217)

Bapak itu menganggukkan kepala, entah apakah dia mengerti apa yang baru saja kujelaskan atau tidak. Dia terus menganggukkan kepala, layaknya seorang murid yang mengiyakan pendapat gurunya tanpa berkomentar. Dia menuliskan beberapa kalimat di kertas kosong yang dibawanya, kemudian pergi begitu saja.

*
Selepas shalat ashar, laki-laki paruh baya tadi kembali menghampiriku yang sedang memasang sepatu, dan segera akan pergi meninggalkan masjid.

“Mas, maaf menggangu” ucapnya persis seperti pertemuan pertama tadi.

“Ada apa, Pak” aku menunda kepulangan dan duduk di tangga depan masjid, menunggu Bapak itu berbicara.

Bapak itu kembali menanyakan hal yang sama dengan pertanyaan tadi, dia kembali bertanya tentang keraguannya, dia kembali bercerita tentang bisikan-bisikan aneh yang sering dia dengar. Persis seperti ceritanya di pertemuan pertama tadi.

“Bukannya tadi Bapak sudah menanyakan hal ini?” tanyaku

“Saya baru sampai sini, Mas, ini kali pertama saya bertemu dengan Mas” jawabnya sambil kembali mengeluarkan selembar kertas kosong dan sebuah bolpoint hitam dari tas kecil yang ada di pinggangnya.

Dahiku berkerut, bukannya tadi dia ikut shalat ashar berjama’ah? Pikirku. Aku kembali menjawab pertanyaannya, setelah selesai mendengarkan jawabanku, dia pergi begitu saja, dia berjalan menyusuri jalanan tanpa mengenakan alas kaki, kedua kaki keriput itu menyapu kerikil-kerikil kecil yang tersembar di sepanjang jalan.

Aku menatapnya, Bapak itu sudah jauh dari pandanganku.

*
“Kamu tahu nggak siapa dia?” seorang teman menepuk pundakku.
“Nggak tahu” jawabku sambil terus melangkah.
“Laki-laki itu sudah sering datang kemari dan menanyakan hal yang sama. Sudah beberapa orang yang diberi pertanyaan yang sama, diceritakan cerita yang sama. Tadi dia cerita tentang bisikan aneh, kan?”
“Iya”

Ahh….Siapa Bapak itu?
Mengapa dia terus menanyakan hal yang sama?
Mengapa dia terus menceritakan cerita yang sama?

Entahlah, tidak ada yang tahu tentangnya. Aku meneruskan langkah menuju rumah. Selama di perjalanan pulang, bayang-bayang Bapak itu kembali hadir, kasihan dia. Aku hanya berharap dia selalu dalam lindungan-Nya.

Pesona Sang Adam

Gelapnya malam menyelimuti Jakarta. Lalu lalang kendaraan sudah mulai berkurang, hanya ada beberapa kendaraan yang masih melaju dengan kencang, memanfaatkan jalanan yang lengang agar bisa sampai tujuan dengan cepat dan segera beristirahat. Jarum jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 23:45. Aku masih berdiri di pinggir jalan, menunggu angkutan umum yang akan membawaku ke Bundaran Hotel Indonesia, siapa tahu masih ada angkutan yang beroperasi meski malam hanya tinggal separuh. Sudah hampir lima belas menit aku berdiri di sini, sambil menghisap sebatang rokok, namun tidak ada lagi angkutan yang beroperasi, ahh…sepertinya taxi adalah pilihan terakhir menuju ke sana.

Aku menghentikan sebuah taxi, kusenderkan kepalaku, mataku mulai terpejam perlahan. Aku mengantuk.

“Nanti kalo sudah sampai Bundaran Hotel Indonesia, tolong bangunkan saya ya, Pak” Ucapku sebelum hanyut dalam mimpi.
*
Aku sudah duduk di Bundaran Hotel Indonesia, menatap bangunan-bangunan tinggi menjulang. Dinginnya angin malam mulai terasa, aku hanya mengenakan kemeja panjang kotak-kotak tanpa jacket. Sebenarnya aku sudah tidak tahan dengan kantuk yang datang menghampiri. Akan tetapi, Andry sahabatku mengirimkan pesan singkat untuk menemuinya di sini. Ada hal penting yang ingin dia ceritakan. Tapi di mana dia? Sudah hampir sepuluh menit aku menunggu, dia belum juga datang.

Beberapa saat kemudian, seseorang menyeberang jalan menuju ke arah tempatku duduk, dia mengenakan jacket berwarna hitam, sepertinya dia Andry.

“Sorry, motorku tiba-tiba bocor, jadi aku jalan kaki dari McDonalds ke sini” ucapnya sambil menyeka keringat yang mengalir di mukanya. Kemudian dia duduk di sampingku.

 

Aku memberikannya sebotol air mineral, sepertinya dia cukup lelah berjalan kaki menuju bundaran.


*

Suasana di bundaran sudah semakin sepi, hanya ada beberapa pasang anak muda, sepertinya mereka sedang bahagia merayakan cinta. Ada  yang sedang mengabadikan moment kebersamaan mereka berdua dengan latar belakang Bundaran Hotel Indonesia. Ada juga yang hanya duduk berduaan sambil menatap langit yang penuh dengan kerlap-kerlip bintang.

 

Kami berdua saling diam untuk beberapa waktu, hingga akhirnya Andry mulai menceritakan alasannya memintaku untuk datang menemuinya.

 

“Bara, aku sudah tidak tahan hidup dalam keadaan seperti ini” Andry berucap pelan, sambil menundukkan pandangannya.

“Aku sudah tidak tahan hidup dalam kebohongan, 26 tahun aku hidup dalam keadaan seperti ini, berpura-pura menjadi seorang laki-laki seutuhnya. Bukannya aku tidak mencoba menjadi seperti kalian, yang suka akan kemolekan tubuh wanita, suka akan kecantikan mereka. Akan tetapi, sepertinya semua yang kulakukan sia-sia. Buktinya sampai hari ini aku masih tidak tertarik dengan segala macam keindahan kaum Hawa.” Lanjutnya dengan suara serak.

Setelah selesai mencurahkan segala keluh kesahnya, kulihat ada air mata yang mengalir di pipinya. Aku hanya menjadi pendengar, tidak berani berkomentar apa-apa tentangnya. Dia memang sahabatku sedari dulu, kami pernah satu kelas di sekolah menengah atas, dan kami pun kuliah di Perguruan Tinggi yang sama. Aku memang sudah tahu tentangnya yang tidak menyukai kaum Hawa, kaum Adam lebih menawan di matanya dibandingkan kaum Hawa. Itu saja, selebihnya dia layaknya seperti laki-laki lain.

“Orang tuamu sudah tahu?” tanyaku dengan penuh hati-hati.

“Belum” jawabnya sambil menghapus air matanya dengan jacket yang ia gunakan.

Apa yang aku alami saat ini, bukanlah sesuatu yang patut untuk mereka ketahui. Ini adalah aib bagiku dan aku tidak ingin menyakiti mereka dengan menceritakan semua ini. Aku tidak ingin Ibu tambah sakit-sakitan saat tahu anak semata wayangnya adalah pecinta kaum Adam. Aku tidak mau melihat Bapak marah setelah tahu bahwa putra kesayangannya, yang selama ini dia dambakan, yang selama ini selalu dia puji, tidak tertarik dengan kecantikan wanita.

Aku memang tertarik dengan laki-laki, akan tetapi, aku selalu mencoba untuk tidak menuruti ketertarikan itu. Sampai hari ini aku tidak pernah menjalin kasih dengan lelaki mana pun. Itu semua aku lakukan karena aku tidak ingin terus menerus hidup dalam keadaan seperti ini. Aku ingin membangun keluarga, membina rumah tangga bersama seseorang yang bisa kupanggil Istri, seseorang yang akan menjadi Ibu dari anak-anakku. Tapi mengapa setelah sekian lama aku mencoba, tidak ada perubahan yang berarti? Aku terus berharap bahwa suatu hari nanti, ketika aku terbangun dari tidur lelap, aku berbeda dengan Andry yang sebelumnya. Aku terbangun dan menjadi Andry yang mulai jatuh cinta dengan Hawa. Mereka para ahli dengan mudahnya mengatakan bahwa seseorang yang memiliki kelainan sepertiku ini bisa kembali menjadi laki-laki normal.

“Tapi mana buktinya?”

Mereka juga bilang;

“Bila seorang laki-laki normal bisa berubah menjadi pecinta sesama jenis, maka laki-laki pecinta sesama jenis pun bisa berubah menjadi laki-laki normal.”

Mudah memang mereka mengatakan hal itu, karena mereka tidak dalam posisiku. Seandainya mereka di posisiku, aku tidak yakin mereka bisa mengatakan semua itu.

“Lupakan semua yang mereka ucapkan, Andry” jawabku

Menurutku, sekarang yang terpenting adalah adanya niat dari dalam hatimu untuk terus meyakinkan dirimu bahwa engkau tidak berbeda. Engkau adalah seorang pria dan pria hanya diperuntukkan untuk wanita, bukan sesama pria. Bukankah dulu engkau pernah bilang bahwa selama harapan itu tetap ada, akan ada masanya di mana dirimu akan terbangun dengan naluri laki-laki. Sebagaimana Adam yang mencintai Hawa. Adam bisa kembali bertemu dengan Hawa karena ia hidup dengan harapan. Dan aku yakin, masih ada harapan bagimu untuk berubah. Tidak ada usaha yang sia-sia, pasti akan ada hasilnya. Mungkin bukan saat ini, tapi nanti. Teruslah mencoba.

*

Suasana hening, aku hanyut dalam pikiranku sendiri. Andry berjalan mengelilingi Bundaran Hotel Indonesia. Entah sudah berapa kali dia berjalan mengitari bundaran. Aku membiarkannya untuk berpikir dan berharap akan timbul harapan baru yang akan membuatnya kuat untuk terus bertahan dalam kondisi seperti ini. Dalam kondisi seperti ini, dia memang butuh seseorang yang bisa dia jadikan tempat untuk berbagi dan aku hanya bisa menjadi seorang pendengar yang baik, tidak lebih.