April 19, 2012

Ketika Jalanan Mulai Berliku

Ketika Jalanan Mulai Berliku (3)

Jalan ini masih panjang
Kita baru beranjak menempuh liku-liku hidup
Tawa, tangis, adalah bagian dari jalan yang harus kita lalui

Evan duduk di depan layar komputernya, dia sedang menuliskan beberapa baris kalimat, dia mencoba merangkai kata-kata menjadi sebuah puisi indah untuk bidadarinya. Lima bulan tidak bertemu, rasa rindu tentu menghinggapi hatinya. Akhir-akhir ini dia disibukkan oleh kegiatan kampus. Ujian semester hanya beberapa hari lagi. Namun, menjelang ujian semester tiba, dia tidak bisa fokus dengan ujian. Bayang-bayang kekasih hatinya selalu muncul dalam ingatannya. Ingin rasanya ia kembali ke Purwokerto dan menemui bidadarinya. Apa kabar bidadariku? Semoga engkau baik-baik saja. Tidak ada komunikasi antara mereka berdua. 

Winda hanyalah pembantu rumah tangga, dia tidak bisa mewujudkan keinginannya untuk mempunyai sebuah handphone agar bisa mendengar suara Evan dari ujung sana. Akhirnya, Evan harus menahan diri untuk tidak mendengar suara manis nan halus dari sang pujaan. Hanya sebuah photo Winda yang mengenakan seragam SMP sebagai pelepas rindu. Lucu, photo itu dia pajang di meja belajarnya. Sahabat-sahabatnya sering tertawa melihat photo itu.

“Emang si Winda nggak punya photo yang lain ya? Lucu aja ngeliat photo kayak gini lo pajang di meja belajar, sementara dia sudah lebih dewasa dari ini” ucap sahabat-sahabatnya.

Tiap kali pertanyaan itu diajukan oleh sahabat-sahabatnya, Evan hanya tersenyum seraya menatap photo Winda dengan seragam  sekolahnya. Tidak ada jawaban yang dia berikan. Percuma menjelaskan panjang lebar kepada mereka, pikirnya. Seandainya mereka tahu betapa besar kekuatan cinta itu, mereka akan mengerti mengapa photo itu dia jadikan tempat menumpahkan segala rindu pada pujaan hatinya. Itulah cinta, dan mereka akan mengerti itu saat mereka sedang dilanda cinta.

Suara adzan menggema, Evan masih belum sempat untuk tidur melepas penat. Teman-teman satu kontrakan dengannya sudah mulai bangun dari lelap tidur. Evan tinggal di dalam satu rumah berukuran minimalis bersama dengan tiga sahabatnya yang berasal dari luar pulau Jawa. Azam, sahabatnya yang berasal dari Lombok sudah bangun lebih awal dan duduk di atas sajadah panjangnya. Dia satu-satunya sahabat yang paling kuat ibadahnya. Aldo sudah duduk di kursi yang ada di ruang tamu, dia masih mengenakan sarung yang dia pakai untuk tidur, kemudian beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Sedangkan Hesta sudah mengenakan baju koko, sarung, peci hitam, kemudian dia langsung  menuju mushalla yang ada di dekat kontrakan mereka.

Evan, dan ketiga sahabatnya sudah berada di dalam masjid menunggu iqamat dikumandangkan. Semenjak di Jogja, Evan banyak belajar tentang agama. Awalnya, dia sama sekali tidak bisa shalat. Namun, Faraj dengan sabar mengajarkan dia bagaimana cara shalat, dan membantunya menghapal bacaan shalat. Sekarang, meski belum lima waktu, Evan sudah mulai rajin melaksanakan shalat. Tak jarang pula Faraj harus mengingatkannya bila waktu shalat sudah tiba dan dia belum juga melaksanakan shalat. 

Suasana di pagi hari seperti ini, mengingatkannya kepada Winda, Bang Ucup dan gerobak sayurnya. Dia merindukan kehangatan di pagi hari bersama mentari yang menyaksikan kebersamaannya dengan bidadarinya. Faraj, Aldo dan Hesta meninggalkan Evan sendirian di rumah. Mereka bertiga menikmati sejuknya udara di pagi hari sambil berlari mengelilingi lapangan yang ada di sekitar tempat tinggal mereka.  Anak-anak kecil sedang berlari mengejar bola dan berusaha memasukkannya ke gawang lawan. Mereka terlihat begitu asik menggiring bola dengan kaki-kaki mungil mereka. Tawa mereka, suara teriakan mereka, semangat mereka, menambah semaraknya suasana pagi hari di sekitar lapangan. Beberapa pedagang kaki lima menjajakan dagangan mereka kepada orang-orang yang menikmati udara pagi di lapangan. 

Evan masih sibuk dengan komputernya, masih merayu hatinya agar bisa menuangkan indahnya kata menjadi barisan-barisan kalimat yang akan membuat pujaan hatinya berbunga. Dia memang masih belum bisa membuatkan sebuah puisi yang indah untuk si dia. Sudah berulang kali dia mencoba, namun hanya tersimpan di draft dan tidak pernah berhasil dia sempurnakan menjadi puisi. Perlukah aku merangkai kata ini sebagai bukti cintaku padanya? Tanyanya dalam hati. Bukankah sejak dulu aku tidak pernah memberikan dia hadiah yang berupa sebuah puisi? Ah..aku baru ingat, aku tidak pernah memberikan hadiah apa-apa kepadanya. Cintaku kepadanya tumbuh meski tanpa ada momen saling tukar hadiah, surat, apalagi memberi bunga. Aku memang bukan laki-laki romantis.

“Van, sibuk amat kelihatannya. Lagi bikin apa?” suara Faraj mengejutkannya yang sedang melamun.
“Ehm, palingan dia sedang belajar bikin puisi lagi” jawab Aldo sambil melempar handuk ke wajah Evan.
“Puisi? Emang Evan bisa bikin puisi?” celoteh Hesta seenaknya, kemudian diikuti gelak tawa yang lain.
“Huh, kalian bukannya bantuin sahabat yang lagi pusing” 

Faraj mengambil kursi, kemudian duduk di dekat Evan, dia membaca bait-bait yang ada di monitor,

“Bidadariku, aku tidak mampu merangkai kata menjadi bait-bait kalimat indah yang akan membuatmu takjub dengan kepandaianku merangkainya. Aku memang tidak seromantis itu. Aku tidak mampu memberimu sejuta puisi nan indah untuk dibaca dan diperdengarkan kepada orang lain, aku tidak bisa. Tapi, aku ingin engkau tahu bahwa aku pernah mencoba untuk bisa.”

“Bidadariku, aku menanti saat pertemuan itu tiba. Engkau akan duduk di sampingku, mengenakan baju pengantin, tersenyum dan memancarkan aura kebahagiaan. Aku menanti waktu itu tiba. Bersabarlah, aku akan kembali menjemputmu, dan membawamu untuk menemaniku di atas pelaminan. Aku janji.”

Setelah selesai membaca, Faraj menoleh ke arah Evan yang sengaja berdiam diri dan membiarkan sahabatnya itu membaca curahan hatinya. 

“Ini puisi atau surat?”
Pertanyaan itu diiringi gelak tawa Aldo dan Hesta. Keduanya memang paling suka menertawakan ulah sahabat mereka yang satu ini.
“Tadinya saya mau membuat puisi, tapi nggak bisa. Jadinya malah surat”
“Surat ini mau kamu kirimkan ke Winda? Anak SMP yang ada di photo itu?
Aw…ww.. sebuah diktat dari Evan mendarat sukses di wajah Faraj.
“Lagian, kamu nggak ada romantis-romantisnya, seharusnya surat ini kamu tulis tangan, dihiasi dengan ukiran-ukiran di pinggir kertasnya, kemudian baru kamu tulis isi suratnya. Bukan malah ngetik di word, diprint, kemudian dikirimkan ke si dia. Kamu  mau nulis surat cinta atau ngelamar kerjaan?” Faraj nyerocos sesuka hatinya, sementara Evan dan dua sahabatnya hanya mendengarkan ceramah di pagi hari ini. Ceramah dari sosok pria yang bernama Faraj yang mengajarkan bagaimana menjadi pria yang romantis, padahal dia sendiri tidak punya pacar dan tidak pernah menulis surat cinta.

Obrolan diantara empat sahabat itu terus berlanjut, sesekali mereka tertawa secara bersamaan, saling melempar diktat, dan tentunya bantal tidak pernah absen dari keriuhan suasana kontrakan mereka. Jika mereka sudah mulai rusuh, bantal menjadi pilihan yang paling pas untuk dijadikan senjata. Mereka sudah seperti keluarga kecil yang ikut menciptakan kehidupan yang damai di atas bumi. Suasana kontrakan itu penuh dengan kehangatan, kepedulian satu sama lain, yang membuat mereka semakin dekat.

Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, mereka segera menuju kampus dan masuk ke fakultas masing-masing. Kegiatan rutin mereka memang hanya kuliah. Setelah selesai kuliah biasanya mereka nongkrong di warung nasi di dekat kampus.

“Rif, mana Evan?” tanya Faraj.
“Nggak tahu, tadi selesai mata kuliah dia langsung pergi”
“Nggak biasanya dia pergi nggak ngajakin kita bertiga” ujar Aldo.
Beberapa saat kemudian, sebuah pesan singkat masuk ke handphone Faraj,
“Mas, pulang ke kontrakan sekarang. Mas Evan kecelakaan.”

Pesan itu dari nomor yang tidak dikenal, mereka bertiga langsung meninggalkan warung nasi Buk Rumi menuju kontrakan. Selama di dalam angkutan umum, mereka semua panik. Apa yang terjadi dengan Evan?
Setibanya di kontrakan, ada beberapa mahasiswa yang duduk di ruang tamu. 

“Evannya mana?” Tanya Hesta.
“Di kamar” jawab salah satu dari mereka.

Evan sedang tidur, lututnya dibalut perban, tangannya dipenuhi oleh goresan seperti bekas jatuh dari kendaraan. Seorang mahasiswa menghampiri tiga sahabat itu, kemudian dia menjelaskan bahwa dia dan tiga orang kawannya yang mengantarkan Evan ke rumah sakit, kemudian membawanya pulang ke rumah. Evan menjadi korban tabrak lari. Sekarang, sudah banyak yang menjadi korban tabrak lari. Pelaku yang menabrak korban tidak mempunyai hati dan tidak punya rasa bersalah bahwa mereka sudah membuat orang lain menderita. Miris melihat Evan yang menahan sakit.

Faraj mencoba untuk menghubungi keluarga Evan, dia mengambil hp evan kemudian mencari nomor orangtuanya. Setelah menemukan nomor orangtua Evan, dia langsung menghubungi nomor tersebut. Suara seorang ibu mengucap salam di ujung telpon, Faraj tidak banyak berbasa-basi, dia langsung menjelaskan kejadian yang sudah menimpa Evan. Ada isak tangis yang terdengar di ujung sana. Faraj mencoba untuk menenangkan Ibu Evan, 

“Tante, Evan hanya butuh istirahat untuk beberapa hari saja, setelah itu dia akan kembali pulih. Saya tidak bermaksud membuat ibu khawatir dengan keadaan Evan. Saya hanya ingin memberitahu tante, saya tahu hubungan bathin antara ibu dan anak sangatlah kuat. Mohon doanya agar Evan bisa segera pulih. Kami akan merawatnya dengan baik, tante tidak perlu khawatir.” 

Evan membuka kedua matanya, melihat ke sekelilingnya ada banyak sahabat yang datang menjenguknya. Aldo, Hesta, Faraj, dan beberapa mahasiswa yang satu fakultas dengannya sedang tertidur lelap di lantai hanya beralaskan sebuah karpet. Ia terharu melihat pemandangan ini, ia merasa begitu dipedulikan oleh sahabat-sahabatnya. Bahagia memenuhi relung hatinya, bahagia karena mempunyai sahabat-sahabat yang peduli dengan keadaannya, saling mengerti, dan saling berbagi satu sama lain. Dalam keadaan seperti ini, dia baru menyadari begitu banyak orang-orang yang peduli dengannya.

Seandainya Winda tahu keadaannya, apakah dia akan khawatir? Bayang-bayang Winda kembali hadir. Rasanya Winda pasti akan sangat mengkhawatirkannya jika dia tahu keadaannya saat ini. Evan pernah menyuruh Bang Ucup memberitahu bahwa dia sedang sakit, padahal Evan bersembunyi di balik pagar rumahnya dan melihat tingkah Winda dari celah tembok. Winda langsung gelisah dan ingin menjenguknya saat Bang Ucup mengatakan bahwa dia sedang dirawat. Padahal dia belum pernah bertamu ke rumah Evan. Hubungan mereka memang aneh, sudah lama menjalin kasih tapi Winda belum pernah diajak bertemu dengan orangtua Evan. Padahal mereka tinggal bersebelahan.

“Mbak, sudah tahu belum kalo Mas Evan sedang dirawat di rumah sakit?” ucap Bang Ucup di hadapan Winda yang sedang memegang seikat sayur bayam.

Seikat bayam yang ada di tangannya langsung terjatuh, degup jantungnya semakin cepat saat tahu pujaan hatinya sedang dirawat di rumah sakit. Mukanya mulai menampakkan kegelisahan. Sementara Evan tertawa melihat kejadian itu dari balik tembok. 

“Abang bercanda aja Mbak, Mas Evan yang nyuruh” ucap Bang Ucup sambil menunjuk ke arah Evan yang sedang bersembunyi.

Winda tersipu malu, malu saat pujaan hatinya melihat tingkahnya tadi. Dia langsung membayar sayur yang dia beli, kemudian meninggalkan Bang Ucup dan Evan yang masih tertawa dengan kejadian tadi.
Bidadariku, aku merindukanmu.
Apakah engkau juga merindukanku?

-Bersambung-

Bahagia Itu Sederhana

Bahagia Itu Sederhana (2)

Bukan permata yang kupinta darimu
Bukan juga mobil mewah seperti milik tetangga
Namun, senyum bahagia itu yang selalu kunanti darimu.

Seperti biasa, pagi ini Bang Ucup mendorong gerobak sayurnya keliling komplek Bancar Kembar, membawa beraneka ragam sayur mayur bagi warga komplek. Kangkung segar, bayam, sawi, semuanya masih terlihat segar dan sedap dipandang mata. Sebagian dari sayuran yang dia jual adalah hasil tanamannya sendiri. Dia menanam sendiri berbagai macam sayur itu di belakang rumahnya. Ibu-ibu menghampirinya dan membeli kebutuhan hari ini. Hampir semua warga komplek mengenalnya. Suaranya sudah dihapal dengan baik oleh warga komplek. Sehari saja dia tidak datang dengan gerobak sayurnya, maka seluruh komplek pasti tahu akan hal itu. Pagi hari akan terasa berbeda tanpa suara khasnya yang serak-serak basah. Anak-anak kecil sangat senang menyapa Bang Ucup, sebagian kadang menunggunya hanya sekedar ingin mendengarkan cerita-cerita lucu yang sering dia bawakan pada anak-anak perumahan. Pemandangan di pagi hari yang indah.

“Bang Ucup, saya pesan seperti biasa ya. Maaf, saya tidak bisa keluar rumah dulu. Nanti Bang Ucup letak di tempat biasa ya. Nyonya sedang di rumah” ucap Winda dari balik tembok besi yang mengelilingi rumah majikannya.

Kehadiran sang majikan sepertinya memberi dia kerja lebih. Tidak seperti biasanya, dia hanya mengurus keperluan tiga anak sang majikan. Dan sekarang dia harus sibuk mengerjakan berbagai macam tugas dari sang majikan yang terkenal susah untuk tersenyum itu. Gary, anak yang paling tua masih kelas tiga SMP. Anto, anak yang kedua masih duduk di bangku sekolah dasar. Sedangkan Gemi, masih balita. Bayangkan betapa sibuk Winda menyiapkan segela keperluan ketiga anak itu, sementara sang majikan sibuk dengan segudang kerjaan di luar rumah. Majikannya adalah orangtua tunggal bagi anak-anaknya. Kasihan mereka, terus menerus harus ditinggal pergi oleh ibu mereka. Mereka lebih mengenal Winda dari pada ibu kandung mereka sendiri. Itu semua karena sebagian besar waktu mereka habis bersama Winda.

“Mbak, anak-anak sudah siap pergi ke sekolah belum?” teriakan sang majikan dari lantai atas mengagetkan Winda yang sedang sibuk menyiapkan bekal yang akan dibawa oleh anak-anak ke sekolah.
“Sebentar lagi nyonya.”

Anak-anak sudah duduk di meja makan, menunggu sang bunda ikut bersama mereka menikmati santapan pagi yang dibuat oleh Winda dan Mbok Inah. Mbok Inah sudah bekerja sejak lama. Sedangkan Winda baru bekerja kurang lebih dua tahun lamanya.

Anak-anak sudah berangkat ke sekolah, majikannya sudah pergi ke kantor. Mbok Inah membersihkan sisa-sisa makanan yang ada di meja makan. Winda membersihkan halaman dari daun-daun mangga yang mulai mengering dan jatuh ke halaman. Setelah mengerjakan tugas rumah, Winda menyandarkan bahunya ke kursi kayu yang ada di halaman belakang rumah, menikmati secangkir teh hangat bersama dengan sepiring nasi goreng telor yang dia buat sendiri. Penat sudah menjadi bagian dari hidupnya di pagi hari. Bulir-bulir kecil jatuh perlahan dari wajahnya.

Winda kadang iri melihat wanita seumuran dirinya bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Sementara dirinya harus puas dengan hanya menyelesaikan SMP. Kendala biaya membuatnya tidak bisa melanjutkan mimpinya. Sudah lumrah, anak-anak di kampungnya hanya bisa menyelesaikan sekolah menengah pertama, setelah itu mereka berangkat ke kota-kota besar untuk mencari kehidupan yang lebih layak. Menjadi pembantu rumah tangga, karyawan pabrik, dan berharap hidup akan membaik. Lihatlah Winda, dia memang tidak meninggalkan Purwokerto yang merupakan tempat kelahirannya. Akan tetapi dia meninggalkan rumahnya untuk bekerja menjadi pembantu. Tidak ada gunanya menyalahkan nasib, dia tetap menjalani kehidupannya dengan hati tulus.

Kedua orangtuanya hanya bekerja sebagai petani, penghasilan mereka tidak cukup untuk memberikan pendidikan yang lebih baik untuk putri mereka. Winda tidak pernah menyalahkan keadaan yang membuatnya menjadi seperti ini. Menjadi babu di rumah orang kaya. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa dia akan menjadi seorang pembantu. Padahal dulu, dia pernah bercita-cita ingin menjadi seorang pramugari dan bisa keliling dunia gratis.

“Winda, kamu mau jadi apa nanti kalo sudah besar?” Tanya Bu Atun yang merupakan guru matematika di sekolahnya.

“Mau jadi seperti ini buk” jawab Winda sambil memegang sebuah buku yang ada gambar pramugarinya.

Wajahnya berseri-seri tiap kali melihat gambar pramugari yang terlihat menawan dengan seragamnya. Kadang gambar itu menjadi mimpi yang menghiasi tidurnya. Karena cita-citanya ingin menjadi pramugari, dia rajin belajar Bahasa Inggris. Kata bapaknya, pramugari itu harus bisa belajar bahasa inggris. Jadilah dia anak yang rajin dan penuh semangat belajar Bahasa Inggris yang terkadang membuatnya pusing.

Hari mulai beranjak siang, Winda masuk ke dalam kamarnya yang berada dibagian belakang rumah. Dia membuka selembar kertas yang terlipat rapi di dalam kotak kayu berwarna hitam kecoklatan yang ada di bawah kasurnya. Kotak kayu itu menyimpan banyak kenangan tentangnya, dan tentang laki-laki yang dia sebut sebagai cinta sejatinya. Dia masih menyimpan selembar kertas yang dulu pernah diberikan Evan kepadanya. Dia membaca tulisan yang ada di kertas itu berulang kali. Sudah hampir empat bulan lamanya dia tidak bertemu dengan Evan. Tidak ada kabar berita darinya. Namun, Winda mempunyai keyakinan yang kuat bahwa cinta sejatinya masih memegang janji yang mereka ucapkan di depan gerobak sayur Bang Ucup.

Winda duduk menghadap ke luar jendela, dari kejuahan dia bisa melihat Bang Ucup dengan gerobak tua miliknya perlahan meninggalkan komplek perumahan. Sudah banyak jasa Bang Ucup, dia sudah melakukan pekerjaan yang membuat sebagian besar ibu rumah tangga di komplek sini tidak perlu sibuk membeli bahan masakan ke pasar. Semakin jauh, Bang Ucup sudah tidak terlihat lagi. Setiap kali melihat Bang Ucup, Winda selalu teringat akan Mas Evannya. Laki-laki yang sekarang sudah mengisi relung hatinya itu selalu muncul, seolah memandangnya dengan tatapan rindu. Ah Tuhan, inikah rindu? Inikah getar-getar rindu yang sengaja Engkau berikan pada hatiku yang sedang gundah akan kekuatan cinta? Cinta yang sudah menepiskan ragu yang menyelimuti hati. Keraguan cinta mampu kutepis dengan rindu yang menyesakkan dadaku. Tuhan, apa kabar dia disana? Pernahkah dia memikirkanku? Menyebut namaku sebelum ia hanyut dalam tidur lelapnya? Semoga.

Evan pernah menanyakan tentang kebahagian kepadanya.

“Winda, apa yang paling membuatmu bahagia saat dekat dengan mas?”

Winda terdiam sejenak, kemudian melihat kedua mata hitam Evan yang meneduhkan hatinya. Senyuman Evan masuk ke dalam sanubarinya dan menebarkan bumbu kebahagiaan yang tidak bisa dia lukiskan dengan indahnya kata-kata.

“Aku bahagia melihatmu tersenyum, mas” jawabnya pelan.
“Sesederhana itu?”
“Iya, dengan kesederhanaan cinta yang kita bangun, aku merasa lebih yakin dengan cintamu. Mas tidak pernah menjanjikan gelang emas, anting-anting permata, cincin yang bertuliskan nama kita berdua, atau sekuntum bunga mawar merah yang berarti tanda cinta. Hanya senyum bahagia itu yang menguatkan, menyentuhku, dan membawaku terbang bersama sayap-sayap cinta yang engkau rajut bersama waktu. Sesederhana itu kebahagianku bersamamu mas.”

Hati evan semakin berbunga mendengar penuturan bidadarinya. Dia memang tidak pernah menjanjikan kemewahan kepadanya, namun satu hal yang ingin ia katakan kepada bidadarinya, dia mencintainya dengan tulus.

“Winda, aku mencintaimu setulus hati. Apakah engkau pernah meragukan cintaku padamu?

Winda menatap lekat-lekat senyum itu, kemudian menggelengkan kepalanya sebagai jawaban tidak ada keraguan cintanya pada sang pujaan. Sementara Bang Ucup tertawa dibalik sapu tangan yang dia gunakan untuk menutup mulut dan hidungnya. Sepertinya Bang Ucup tidak ingin mengganggu dua hati yang sedang berbunga. Namun, dalam hatinya dia mendoakan mereka berdua bisa menjadi pasangan yang saling melengkapi satu sama lain dan bahagia membina cinta hingga sampai ke surga-Nya. Bang ucup dan gerobak sayur berserta isinya adalah saksi cinta mereka berdua.
-Bersambung-