May 30, 2012

Kuis Dadakan (puisi)



                   “Ini akhir bulan kan?”
Sebuah pertanyaan yang tidak perlu kalian jawab J
Ini memang akhir bulan, dan akhir bulan identik dengan menipisnya uang yang ada di dalam dompet. Atau bahkan sudah kosong (sebuah pengakuan). Malam ini, entah apa yang terjadi, saya tiba-tiba ingin membuat sebuah tantangan pada follower saya yang ada di twitter (follower saya sedikit, ndak banyak J
Saya meminta mereka membuat sebuah puisi, kemudian mention ke saya. Mereka bisa mention sesuai kebutuhan, sesuai dengan panjang tidaknya puisi yang mereka buat. Saya tidak menjanjikan hadiah yang berupa gadget mahal, atau jalan-jalan ke luar negeri. Saya hanya menjanjikan hadiah berupa pulsa (lumayan kan dapat pulsa di akhir bulan? ). Meski nominalnya tidak seberapa, namun pulsa itu akan bermanfaat kan? Untuk nelpon suami/istri (bagi yang sudah mempunyai suami/istri). Untuk sms calon suami/istri (bagi yang sedang pendekatan). Atau untuk hal-hal yang lain hehe.
Berikut adalah puisi-puisi yang masuk (sepertinya hanya sedikit yang ikut tantangan ini). Mungkin karena hadiahnya tidak menarik? Atau ….mungkin karena….(isilah titik-titik dengan jawaban yang paling benar) J

Silahkan simak puisi-puisi berikut.
@taza_akhtar

Kutitip sajakku di kelopak matamu
Bersama air mata rindu
Di bawah gerimis sore
Terkuyup ditelan sepi
Langit kelabu gariskan sepi yang berlalu
Derat bambu lukiskan nyeri yang membiru

Masih dari orang yang sama, @taza_akhtar

Kita berkelakar di hadapan kamboja
Semilir angin memancing tawa
Di seberang jalan sepasang mata menajam
Kurengkuh tubuhmu dalam diam
Makin lama tubuhmu makin kuat
Tertancap di pekuburan
Mata itu seolah tertawa
Menganggapku gila

Berikut adalah puisi dari @child_smurf,

Mungkin saat ini kepingan hatiku belum juga utuh
Kelak jika semuanya kembali utuh
Aku ingin kamu yang memilikinya
Kemana harus aku titipkan rindu yang menggunung?
Jika kau saja tak mau mengecapnya
Ada rasa getir ketika aku menyebut nama kekasihmu

Selanjutnya adalah puisi karya @azka_fajrie

Rindu yang pernah mengharu biru di relung kalbu
Kini bagai embun di pucuk-pucuk perdu
Rapuh, lumpuh, tapi tetap angkuh tak tersentuh
Luka dan perih ini tiba-tiba mendera
Ketika rasa yang sekian lama meraja dan bertahta
Menguap terbawa angin-angin tak bersayap
Dawai-dawai asmara yang kau getarkan penuh cipta dan kau rasa
Kini semua kata lenyap tak bersisa


Karya @yunita_rahma

Menghitung satu-satu yang kutulis dan kau tulis
Sejenak tersenyum
Aku cukupkan di situ
Karena aku tahu engkau tak lagi satu

Karya @ariwidiyanto

Kau tak pernah mengeluh
Walau kau tahu pekerjaanmu mengundang peluh
Kau tak pernah berontak
Walau tiap hari kau diinjak-injak
Kau Arian? Sedang apakah kau di TL ?
Oh Arian..Bagi pulsa GePeEl
Kau bagaikan awan hitam yang ada di langit malam
Kau yang bernama Arian
Boleh kan daku ucapkan selamat malam?

Karya @danissyamra

Aku tak melihat bintang di langit
Apakah ini pertanda?
Sebab getir ini membuncah di dada
Aku, kamu dan sepasang rindu yang menanti waktu tuk bertemu
Ada harap yang menunggu takdir sang waktu

Dan dari beberapa puisi yang masuk, saya memutuskan bahwa pemenangnya adalah
“@azka_fajrie”
Aih…akhirnya selesai juga kuis malam ini, nantikan kuis selanjutnya J
Akan ada sebuah novel yang saya berikan pada salah satu follower saya di kuis selanjutnya J

Budayakan Membaca dan Menulis



Kalo di sekolah, di kelas yang saya ampu, setiap bulannya akan ada 1 buah buku yang saya berikan ke satu anak yang bisa menjawab kuis dari saya. Kuisnya bisa berbentuk hafalan surat pendek dalam Al-Qur’an, melanjutkan ayat yang saya baca (juz 30), dan lain-lain. Biasanya, saya meminta mereka membaca salah satu surat yang ada di dalam juz 30 (an-Naba - an-Nas).
Saya suka melihat murid-murid yang suka membaca. Membaca tidak mesti harus di perpustakaan sekolah, saya membuat gerakan gemar membaca di kelas, saya dan murid-murid membuat perpustakaan mini di kelas. Setiap anak membawa 1 buah buku setiap bulannya, buku-buku itulah yang akan dibaca oleh murid. Jadi, mereka tidak harus keluar dari kelas untuk membaca buku. Setelah satu bulan, buku-buku itu akan diganti dengan buku-buku yang baru. Dengan demikian, murid bisa membaca buku yang berbeda. Di kelas yang saya ampu ada 37 siswa. Jadi, setiap bulannya akan ada 37 buku baru yang siap untuk dibaca. Saya juga menambah koleksi bacaan di kelas dengan buku-buku yang saya miliki.
Anak-anak sempat bilang,
“Kami baru kali ini mempunyai seorang guru yang gemar membaca dan menulis cerita.”
Dahiku berkerut mendengar ucapan murid,
“Yakin?”
“Iya, ada guru yang suka membaca, tapi tidak suka menulis cerita”
Saya bisa melihat itu, di sekolah sepertinya memang saya yang paling suka menulis cerita pendek, atau bahkan menulis novel. Dan saya ingin anak-anak juga suka menulis, mereka bisa menulis apa saja, bisa berbentuk cerita pendek, artikel, atau bahkan novel. Saya memberikan contoh kepada murid agar rajin menulis dengan menjadi kontributor di majalah “Adzkia Indonesia”. Setiap bulan, ada satu cerpen saya yang dimuat di majalah itu. Meski masih majalah lokal, tapi setidaknya saya sudah mencoba untuk menularkan semangat menulis pada anak-anak.
Saya masih ingat saat saya meletakkan buku kumpulan cerita “Air Mata Cinta Hanisah” di perpustakaan atas permintaan pihak perpustakaan. Anak-anak begitu semangat membaca buku itu, bahkan buku yang saya pesan melalui “Nulisbuku.com” langsung habis hari itu juga. Iya, mereka membeli semua buku itu. Bahkan proofread-nya juga dibeli. Saya tidak pernah memaksa mereka untuk membeli buku itu. Sebagian besar mereka tahu tentang buku “Air Mata Cinta Hanisah” melalui twitter.
Beberapa guru sempat kaget melihat ada karya saya di perpustakaan. Karena memang banyak yang tidak tahu bahwa saya suka menulis J.
Awalnya, saya menulis diam-diam. Saya tidak pernah membiarkan murid membaca tulisan-tulisan saya. Saya juga tidak pernah memberitahu rekan sesama guru tentang kegemaran saya dalam dunia tulis menulis. Saya takut tulisan-tulisan itu tidak sesuai dengan mereka. Tapi, keraguan itu hilang saat tahu bahwa banyak di antara mereka yang menyukai cerpen-cerpen saya yang dimuat di majalah sekolah, dan juga blog.
Jum’at yang lalu, saya memberikan voucher belanja buku 100.000, ke salah satu murid yang berhasil menjawab kuis dari saya. Saya mengajaknya membeli buku ke “Gramedia”, dan saya bisa melihat betapa bahagianya dia saat saya ajak membeli buku. Saya ingin mengajarkan pada mereka bahwa mereka harus suka membaca.
Sekarang, saya hanya ingin melihat murid-murid saya suka membaca. Dengan membaca, mereka bisa mengetahui banyak hal. Dari pada mereka menghabiskan waktu di depam komputer dengan bermain games hingga lupa waktu. Kecanduan ‘game’ sedang meracuni anak-anak. Saya tidak melarang mereka bermain game, silahkan bermain asal tidak berlebihan.
So, mari membaca, dan mari terus berkarya. J

Titipan Mimpi


Kutatap foto yang ada di dinding kamarku, foto aku sedang mengenakan toga saat wisuda. Ada ibu yang berdiri di sampingku, menemaniku saat wisuda. Hanya ibu yang bisa datang di hari bahagia itu, ayah tidak bisa datang karena kendala biaya. Tapi, aku bahagia karena ada ibu di sampingku. Masih kuingat air mata ibu yang menitik ke jilbab yang ia kenakan, air mata bahagia melihat anaknya mencapai mimpi yang dulu pernah ayah dan ibu rajut bersama.
Ibu dan ayah memang tidak sekolah tinggi, bahkan sekolah dasar pun tidak lulus. Tapi, meski demikian ibu dan ayah punya mimpi. Iya, mimpi. Mimpi-mimpi yang mereka titipkan pada kami anak-anaknya. Selepas shalat isya berjama’ah, ayah dan ibu pernah mengumpulkan kami di ruang tamu, dan berbicara tentang mimpi-mimpi yang dulu pernah mereka lukis saat keduanya masih anak-anak. Mimpi-mimpi itu masih ada, dan mereka menitipkan semua mimpi itu pada kami anak-anaknya.
“Anak-anakku, ayah dan ibu mempunyai mimpi. Ayah dan ibu ingin menitipkan mimpi-mimpi ini pada kalian, dan buatlah jejak mimpi-mimpi bagi kalian. Setiap dari kalian harus mempunyai mimpi, dan petakanlah langkah kalian untuk menggapai mimpi-mimpi itu. Ayah dan ibu percaya kalian akan menjadi anak-anak yang berbakti, doa kami selalu menyertai kalian.”
“Dulu, ibu pernah ingin menjadi guru matematika. Tapi, ibu terpaksa berhenti sekolah karena kedua orangtua ibu kembali pada Tuhan saat ibu masih duduk di bangku sekolah dasar.” ucap ibu sambil menatap kami satu persatu.
Ibu memang pintar matematika. Meski tidak tamat sekolah dasar, tapi ibu bisa mengajari kami matematika. Ibu bisa mengerjakan soal-soal matematika SMP, bahkan SMA. Ibu memang tidak menyelesaikan SD, tapi ibu tetap belajar meski bukan di bangku sekolah.
Kami mendengarkan apa yang diucapkan oleh ibu. Ada getaran dari dalam hatiku, ada kekaguman akan ibu. Ibu memang hebat.
“Ayah juga pernah bercita-cita ingin menjadi guru. Tapi, jalan hidup yang harus ayah lalui belum mencapai titik itu, dan ayah ingin menitipkan mimpi ayah pada salah satu di antara kalian. Siapa pun kelak yang menjadi guru, itulah mimpi yang dulu pernah ayah inginkan. Namun, ayah tidak memaksa kalian menjadi seperti yang ayah mau, menjadi apa pun kalian nanti, ayah akan tetap bangga, dan ayah selalu mendoakan kalian menjadi anak-anak yang sholeh. Kalian boleh menjadi polisi, tapi polisi yang sholeh dan sholehah. Kalian boleh menjadi dokter, tapi dokter yang sholeh dan sholehah.” Ujar ayah sambil menghapus bola-bola kristal yang membasahi kelopak matanya.
Aku pun ikut hanyut dalam suasana haru, kakakku yang duduk di sampingku memelukku, membisikkan keinginannya untuk menjaga mimpi ayah dan ibu, dan mewujudkannya. Malam itu, saat ayah dan ibu menitipkan mimpi-mimpi mereka pada kami, aku merasakan semangat baru, ingin terus belajar, ingin menjadi lebih baik. Aku percaya, Tuhan selalu mempunyai rencana yang indah untuk hamba-Nya. Setelah selesai menitipkan mimpi-mimpi pada kami, ayah dan ibu memeluk kami. Kami berpelukan dan menangis.
Meski kami bukan berasal dari keluarga yang kaya,  semangat ayah dan ibu untuk menyekolahkan kami ke jenjang yang tinggi menjadi penyemangat tersendiri bagiku, bagi kakak dan bagi adik-adikku.
            Hari ini ayah dan ibu mengajak kami menikmati keindahan pantai, rumah kami memang berada di pesisir pantai. Kami sekeluarga sering menghabiskan kebersamaan di pantai, menikmati hembusan angin, memandang keindahan laut yang merupakan ciptaan Tuhan.
Aku duduk di samping ayah, ibu sedang bermain dengan ombak bersama dengan kakak dan adik-adikku. Ayah memelukku, kemudian beliau berkata,
“Nak, coba lihat ke tengah laut, sejauh matamu memandang, ada ombak-ombak yang membumbung tinggi, yang siap menghancurkan pertahanan kapal-kapal yang sedang menyeberang. Di tengah sana akan ada badai yang siap memporak-porandakan layar kapal. Akan ada ombak yang tinggi yang siap membawa kapal yang kalian kendalikan berbelok arah dari tujuan. Begitulah perjalanan yang akan kalian lalui, kalian akan menyeberangi lautan, menuju pantai harapan. Di pantai harapan itulah mimpi-mimpi kalian. Ayah percaya kalian adalah perahu yang terbuat dari kayu terbaik, dengan layar yang gagah berani menghadang badai. Ayah percaya kalian akan tetap berlayar menuju pantai harapan itu, menghadapi semua rintangan yang ada, hingga kalian bisa sampai ke pantai harapan, dan mencapai mimpi-mimpi yang sudah kalian ukir.”
Aku mendengarkan semua penjelasan ayah sambil melihat ibu yang  sedang tertawa bermain dengan kakak dan kedua adikku. Aku merasa bahwa keluargaku adalah keluarga yang paling bahagia di dunia ini. Dengan kesederhanaan ayah dan ibu, mereka mendidik kami dengan baik. Membekali kami dengan pengetahuan agama sebagai pondasi utama pendidikan kami. Ayah dan ibu memberikan kami limpahan kasih yang membuat kami tumbuh menjadi anak-anak yang patuh pada Tuhan dan berbakti.
“Dimana pun kalian berada, ada Tuhan yang akan selalu menyertai kalian” ucap ibu pada kami yang merupakan permata hatinya.
“Tuhan itu ada dimana, Bu ?” Tanya adikku yang paling kecil. Dia memang masih belum mengerti. Dia masih kecil.
“Tuhan itu ada di sini” jawab ibu sambil menunjuk dada adikku.
Adikku meraba dadanya, terlihat seolah-olah sedang memikirkan jawaban ibu.
“Nanti anak ibu akan mengerti, anak ibu harus rajin shalat dan mengaji, anak yang sholeh akan disayang oleh Tuhan. Anak ibu mau disayang Tuhan kan?” Tanya ibu pada Mayra adikku.
Mayra mengangguk, kemudian melanjutkan menyantap sajian makan siang buatan ibu.
Foto-foto yang ada di kamarku selalu mengingatkanku akan kasih ayah dan ibu, kasih yang pernah mereka berikan tidak akan pernah hilang dimakan usia. Semua itu akan selalu kuingat, dan akan kujaga mereka seperti mereka menjagaku. Akan kusayangi mereka seperti mereka menyayangiku.
Begitulah, meski sekarang ayah dan ibu sudah lanjut usia, namun mimpi-mimpi yang dulu pernah mereka titipkan terus membawa kami menuju pantai harapan. Karena hidup dengan harapan lebih baik dari pada hidup tanpa harapan. Namun mimpi tetap akan menjadi mimpi jika kita tidak berusaha untuk menggapai mimpi-mimpi itu. Harus ada usaha untuk mencapai mimpi-mimpi itu. Jejak-jejak mimpi itulah yang nantinya akan menjadi cerita-cerita indah, nikmati perjalanan menuju mimpi-mimpi, dan ingatlah akan adanya Tuhan. Kita hanya bisa melakukan yang terbaik, selebihnya biarkan Tuhan memperlihatkan rencana-Nya yang indah untuk hamba-Nya.
“Ayah, Ibu….Aku sudah mencapai mimpi yang dulu pernah Ayah dan Ibu titipkan. Namun langkahku tidak berhenti sampai di sini, aku akan terus melangkah menggapai mimpi-mimpi, terus berusaha menjadi lebih baik. Banyak mimpi yang sudah kutulis dalam catatan mimpiku, dan aku ingin menggapai itu.”