June 30, 2012

Jogja #Day4



Di siang hari keempat saya tidak pergi kemana-mana karena nungguin teman yang dari Jakarta. Dan ternyata mereka berdua telat sampai Jogjanya, seharusnya mereka sampai Jogja pagi, dan ternyata menjelang ashar mereka baru sampai Jogja. Itu telatnya super keterlaluan ya. hehe

Setelah ashar, saya menuju Malioboro, menuju museum “Vredeburg”. Karena masih sore, saya sempatkan keliling menuju “Keraton”, “Taman Sari”, “Alun-alun”, “Masjid Gede” dan kembali lagi ke lokasi “Festival Kesenian Yogyakarta”.

Setelah maghrib, saya ditemani Steven melihat penampilan berbagai macam kesenian Jogja. Saya dan Steven duduk manis di depan panggung utama dari awal acara sampai pukul 9 malam. Si Steven yang duduk di samping saya juga tampak menikmati semua kesenian yang tampil di panggung. Meski sebenarnya saya dan Steven juga sama-sama antara ada dan tiada karena nggak ngerti apa yang diomongin oleh mereka yang ada di panggung. Mereka pakai bahasa Jawa (halus mungkin, entahlah saya sama sekali nggak paham). Saya dan Steven hanya menikmati keragaman seni yang ada, kalo penonton tertawa, saya dan Steven ikut tertawa, kalo hening ya kami pun ikut hening haha J
 Dia mulai kumat di depan panggung #FKY

Selain menikmati semua kesenian yang ada, saya tentu tidak akan lupa untuk mengabadikan semua kesenian itu dari balik lensa kamera yang saya bawa. Bahkan beberapa penampilan sempat saya rekam, meski tangan saya capek megangin kamera sewaktu ngerekam penampilan-penampilan mereka di panggung.

Setelah puku 21.00, si Steven ngajak berbelanja sebelum yang jualan mulai tutup. Maklum, malam ini adalah malam terakhir Steven liburan di Indonesia, sebelumnya dia sudah ke Bali terlebih dahulu, baru kemudian ke Jogja. Dan esok hari dia sudah harus kembali ke Germany. Sebenarnya dia masih belum mau balik ke negara asalnya, dia masih ingin berlama-lama di Indonesia. Dia masih ingin pergi ke Danau Toba, dan kota-kota lain di Indonesia. Tapi pekerjaan membuat dia harus segera balik ke Germany.

Karena besok Steven sudah harus balik ke Germany, jadi dia mau menghabiskan uangnya yang masih berupa rupiah. Dalam hati saya bergumam,

“Mendingan kasih ke saya aja” haha.
Jadinya saya ikut aja kemana Steven melangkah #bahasa apa ini. Belanja berbagai macam pernak-pernik khas Jogja, barang-barang antik, kaos dan lain-lain. Ada yang istimewa dari kegiatan belanja malam itu, waktu saya dan Steven sedang memilih kaos lukis, kami sama sekali nggak tahu kalo ternyata designer-nya malah sibuk bikin sketsa wajah kami berdua. Setelah selesai milih kaos mana yang mau dibeli, designernya langsung ngasihin selembar kertas putih yang ada sketsa wajah saya dan Steven haha #keren
Si Steven kembali kumat, dia jingkrak-jingkrak nggak jelas saat ngelihat sketsa wajah itu. Mulai deh foto-foto bareng pun dimulai saat tahu ada sketsa wajah itu. Si designernya juga minta foto bareng saya dan Steven haha J
Setelah selesai narsis-narsisan, kami melanjutkan berbelanja ke tempat penjualan barang-barang antik. Yang namanya antik itu biasanya mahal kan? Dan kalo mahal biasanya saya ndak mau beli #hening.

Si Steven kembali kumat untuk kesekian kalinya saat melihat Koran tempo dulu, kalo nggak salah Koran tahun 1982. Dia sibuk memilih Koran-koran itu, kemudian membeli beberapa lembar meski dia sama sekali nggak bisa Bahasa Indonesia. Aneh. Dan tahukah anda harga Koran itu berapa???? Harganya macam-macam, semakin tua umur korannya, maka semakin mahal harganya. Koran yang dibeli Steven kalo nggak salah harganya 100.000, berghhh mahal jendralll, ada juga yang harga 20.000,

Saya kira uang Steven udah habis, ternyata masihhh.. jadinya kegiatan berbelanja pun terus berlanjut sampai uangnya benar-benar habis. Dia hanya menyisakan uang untuk bayar hotel, dan untuk ongkos taxi ke airport besok. Gilaaa ni orang. Mendingan kasihkan ke saya saja, kan cepet habisnya tuh duit. Lol
Kami juga sempat menjajal makanan yang ada di sekitar Malioboro, meski akhirnya saya sakit perut dan si Steven harus beli permen untuk menghilangkan bau mulut karena ternyata di makanan yang kami makan itu ada “pete” haha. Dia juga hampir muntah #kasihan. Padahal yang kami pesan itu; nasi telor, ikan tri, terong, dan kopi. Ternyata ikan tri itu ada campuran “pete” dan baru sadar waktu udah masuk ke mulut.
 expresi wajah habis makan pete lol

Setelah puas berbelanja, kemudian menikmati berbagai macam sajian kuliner yang ada di sepanjang Malioboro, kami balik ke penginapan Steven yang tidak jauh dari lokasi festival. Kami naik becak kurang lebih 10 menit. Sesampai di hotelnya saya sedikit bantu-bantu dia packing (lebih banyak bengong sih sayanya karena nahan sakit perut), dan setelah merasa semua sudah selesai, sudah ngobrol ngalor ngidul nggak jelas, cerita berbagai macam kejadian unik dalam hidup tuh orang dan lain sebagainya, saya memutuskan untuk kembali ke tempat saya nginap.

Selesai sudah kegiatan malam ini. Saya kembali ke masjid tempat saya nginep, kemudian langsung istirahat karena besoknya Steven minta ditemani ke airport.

Jogja #Day3

Di hari ketiga, saya berencana mau pergi ke Merapi. Tapi ternyata fisik saya terlalu lelah, jadinya saya sukses terkapar di kamar. Saya sama sekali tidak pergi kemana-mana selama hari ketiga. Saya hanya menghabiskan waktu di kamar, duduk depan laptop dan online sepanjang hari. Jadi tidak ada cerita di hari ketiga di Jogja.

Jogja #Day2



Hari kedua di Jogja saya pergi ke Candi Borobudur. Paginya saya sarapan gudeg, lidah saya ketagihan dengan yang namanya gudeg. Jadi selama di Jogja, saya selalu beli gudeg untuk sarapan. Gudeg di Jogja berbeda dengan gudeg yang saya beli di Purwokerto. Lebih enak.

Saya berangkat dari Hotel Muslim (Baca : Masjid) ke Magelang menuju Candi Borobudur pukul 11 siang. Paginya saya istirahat terlebih dahulu, kaki saya sempat sakit karena keliling Ratu Boko dan Prambanan di hari sebelumnya. Mungkin karena terlalu terpesona dengan keindahan Prambanan hehe

Dengan menumpang di angkutan umum, dengan jarak yang cukup jauh dari Jogja, saya menuju Borobudur. Perjalanan dari Jogja ke Borobudur kurang lebih 1 jam lamanya. Saya harus ganti angkutan di Jombor kemudian baru menuju ke Borobudur.


Setibanya di Borobudur, saya membeli tiket masuk seharga 30.000, kemudian langsung masuk dan menuju kereta yang akan membawa rombongan ke pintu masuk candi. Karena kalo jalan kaki lumayan bikin kaki saya tambah sakit. Jadi saya memilih naik kereta yang ada di dalam lingkungan candi. Saya nggak tahu kalo ternyata kereta itu harus bayar, nggak kayak waktu di Prambanan. Kalo di Prambanan, harga tiket yang saya beli sudah termasuk free transport, jadi saya tidak perlu membayar lagi. Pas kereta sudah mau berangkat dan petugasnya nanya tiket, saya senyum kemudian turun menuju loket dan membeli tiket yang seharga 5000, sudah termasuk tiket kereta + sebotol air mineral.

Sepertinya kali ini saya satu rombongan lagi dengan international visitors karena saya satu kelompok dengan wisatawan asing + satu orang tour guide, jadi waktu masuk ke Candi Borobudur, banyak yang ngira bahwa saya adalah wisatawan asing karena saya berbicara Bahasa Inggris. Dan ide aneh pun muncul, sejak masuk ke Candi sampai keluar lagi saya berbicara dengan Bahasa Inggris dengan rombongan (karena memang yang dipakai bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar Tour Guide-nya) dan dengan pengunjung lain pun saya berbicara Bahasa Inggris.

Nah ternyata kejadian aneh menimpa saya selama di Borobudur, entah mimpi apa mereka yang ngajak saya untuk foto bareng itu haha #hadeuhh

Bahkan yang lucunya ada beberapa anak kecil yang bilang,
“mr…mr… picture…together,,”
Saya melongo, hah?

Belum sempat ngejawab, mereka udah narik tangan saya untuk foto bareng. Hadeuhh…terpaksa. Si Steven (teman dari German yang baru kenal waktu di Borobudur) bilang, yeah you are lucky now J (karena saya sempat bilang “kok nggak ada yang minta foto bareng saya” ke dia haha). Dia juga sibuk ngelayani permintaan foto bareng J

Ternyata tidak berhenti sampai disitu, setelah dikerumuni oleh anak-anak, tiba-tiba remaja-remaja putra juga mau minta foto bareng saya haha (asli, saya sakit perut ketawa kalo ngingat kejadian di Borobudur). Dengan bahasa Inggris yang rada-rada aneh menurut saya, mereka minta foto bareng. Baiklah, karena mereka yang minta foto bareng, saya pun nyengir dan ikut keinginan mereka J ah mungkin mereka mengira saya dari Malaysia karena logat saya yang Melayu.

Borobudur kembali membuat saya terkagum-kagum. Keindahannya membuat saya betah berlama-lama di sekitar candi. Saya naik ke setupa yang paling atas, dan ditegur ama security yang jaga karena tidak diperbolehkan duduk-duduk, apalagi naik ke setupa yang ada di candi haha #maaf kan saya belum tahu J

Ah liburan kali ini sungguh berkesan. Steven yang baru saya kenal waktu di candi langsung ngajak ketemu lagi di “Festival Kesenian Yogyakarta” besoknya. Karena menurut saya dia itu super kocak + sedikit gila, makanya saya jawab “Ok”. Setelah puas keliling Borobudur, saya kembali ke Jogja, dan istirahat. Masih banyak tempat yang mau saya kunjungi esok harinya.
Dan di Borobudur itu sungguh berkesan. Candi Borobudur memang wow banget. Keren.

Jogja #Day1



Saya berangkat dari purwokerto pukul 4 sore, perjalanan dari Purwokerto-Jogja kurang lebih 5 jam karena jalanan yang sedikit padat karena suasana liburan. Seperti biasa, kalo di dalam bus, saya tidur sepanjang perjalanan dan terbangun saat sudah tiba di “Terminal Jogjakarta”.

Kali ini adalah kunjungan pertama saya ke Jogja, maklum berapa kali cuma lewat dan tidak pernah menyempatkan diri untuk mengenal lebih jauh suasana Kota Jogja. Makanya, sebelum liburan tiba saya sudah buat rencana serapih mungkin agar kali ini saya betul-betul bisa menikmati perjalanan saya selama menikmati semua keindahan Kota Jogja. Dan tentunya dengan biaya yang seminim mungkin tapi bisa menjelajah Jogja haha.

Saat sampai di Terminal Jogja, saya udah kayak orang linglung J
Linglung karena saya nggak ngerti sama sekali tentang Kota ini. Saya juga nggak kenal siapa-siapa di Kota ini. Awalnya saya mau booking penginapan selama di Jogja, tapi teman saya bilang mendingan tinggal di Hotel Muslim (Baca “Masjid”) selama di Jogja. Lumayan kan uang buat penginapan bisa buat jajan selama satu Minggu di Jogja? Yes…Alhamdulillah. J

Dari Terminal, saya naik ojek ke Bundaran UGM menuju Masjid Al Hasanah yang berada di depan FMIPA UGM. Di sana saya ketemu dengan salah seorang temannya teman saya #ribet, namanya Ahmad. Selama di Jogja saya akan tinggal bareng dia di masjid Al Hasanah. Kebetulan dia adalah salah satu takmir masjid.

Setelah melepas penat selama perjalanan, saya sempatkan makan malam terlebih dahulu kemudian baru tidur.

Keesokan harinya, pukul 9 saya sudah siap untuk mengunjungi tempat pertama yang ada di list tempat-tempat yang akan saya kunjungi selama di Jogja. Candi Ratu Boko dan Prambanan menjadi tempat pertama yang akan saya kunjungi. Dengan berbekal sebuah “Peta” saya pun memulai pertualangan #halahhh bahasa apa ini J

Saya menuju ke Prambanan dengan bantuan “Trans Jogja”. Alhamdulillah selama perjalanan menuju Candi saya bisa duduk manis, melihat keunikan kota Jogja dengan bangunan-bangunannya, berbagai macam universitas-universitas ternama juga menjadi pemandangan saya selama di Trans menuju Prambanan.

Finally, untuk pertama kalinya saya sampai ke “Candi Prambanan”, so excited J
Saya membeli tiket yang berupa paket “Prambanan dan Ratu Boko”. Di dalam candi sudah disediakan transport yang akan membawa saya dan rombongan (kebetulan saya gabung dengan International Visitors) dengan dipandu oleh seorang “Tour Guide”.

Tujuan pertama kami adalah ke “Istana Ratu Boko” yang terletak kurang lebih 3 KM dari Candi Prambanan. Meski panas, namun saya tetap bisa menikmati suasana di Ratu Boko. Kesan pertama saya saat melihat Ratu Boko,

 “Ini bagaimana mereka bisa membangun semua ini? Keren”

Meski saya bareng dengan rombongan, namun saya tidak bisa mengabadikan diri saya sendiri, karena saya tidak enak hati jika harus meminta salah satu dari “Bule-Bule” itu untuk motret karena saya merasa nggak bakalan cukup kalo cuma satu gambar #Kalem #NarsisAkut.
Nah karena saya merasa butuh dengan seseorang yang bisa saya perintah untuk motret saya dengan keindahan Ratu Boko, makanya saya sewa salah satu pegawai yang berkerja di Taman yang ada di Ratu Boko. Dengan membayar 15.000/Jam, cukup banyak foto-foto saya selama di Ratu Boko J

Setelah puas menikmati keindahan Ratu Boko, kami pun kembali ke “Candi Prambanan” dan mulai menikmati semua keunikan, dan keindahan candi. Saya sempat terpaku, terkagum-kagum melihatnya. Pertanyaan yang sama kembali terulang,

“Bagaimana orang-orang zaman dulu bisa membangun candi seperti ini? Ini itu super keren, dengan ukiran-ukiran yang semuanya mempunyai cerita sendiri.”
  
Nah di Prambanan ada sedikit gangguan, karena saya gabung dengan International Visitors, maka cukup banyak remaja putra/putri yang minta foto bareng teman-teman Bule. Saya melihatnya rada-rada risih, karena mereka bising dan mengganggu saya yang sok serius  mendengarkan penjelasan “Tour Guide” yang sedang menjelaskan sejarah Candi Prambanan. Terus, kok nggak ada yang minta foto bareng saya? haha #plak

Awalnya “Bule-bule” yang bareng saya merasa nyaman-nyaman saja dengan permintaan mereka yang minta ‘Foto Bareng” tapi akhirnya mereka juga merasa terganggu karena cukup banyak yang minta foto. Nah,, karena sudah terlalu banyak, salah satu “bule” yang dari Inggris melarikan diri haha, saya ngikik ketawa ngelihat dia bergegas meninggalkan rombongan. Resiko jadi bule di Indonesia J

Waktu di kereta keliling kawasan Prambanan, si Bule bilang kalo ini baru pertama kali dia mengalami hal seperti ini

“Diminta untuk foto bareng, seakan-akan seorang artis yang dipuja. Di negaranya sendiri dia nggak pernah ngalamin hal yang kayak gini”

Saya hanya bisa nyengir mendengarkan ucapan tuh orang. Ada perasaan malu juga sih ama mereka. Yang terpenting, saya betul-betul menikmati suasana Candi, baik di Ratu Boko, maupun di Prambanan. Jadi banyak tahu tentang sejarah Candi. Dan tentunya semakin mencintai Indonesia dengan segala keunikannya.

Setelah puas menikmati candi, saya pun melarikan diri ke “Malioboro”, mencicipi kuliner yang ada disana, menyempatkan diri untuk berbelanja, dan setelah puas keliling Malioboro, berbelanja, motret dsb, saya pun memutuskan untuk kembali ke Hotel Muslim (Baca: Masjid) dan istirahat. Cukup sudah rasanya jalan-jalan untuk hari pertama di Jogja. Masih ada 6 hari lagi saya di Jogja, dan banyak sekali tempat-tempat yang mau saya kunjungi.