July 14, 2012

[Siapakah Dia?] - 9



Aku ingin mengenalnya
Menggenggam erat kedua tangannya
Mencium keningnya dan memeluk erat tubuhnya


Pernahkah kalian merasakan hidup tanpa tahu siapa yang sudah melahirkan kalian ke dunia ini? Tidak pernah bertemu dengannya, tidak pernah menggenggam erat kedua tangannya, tidak pernah mendengarkan panggilan “anakku” dari dia yang sudah melahirkan kalian, Pernahkah? Aku berharap kalian tidak merasakan apa yang sedang kurasakan saat ini. Aku sedang mencoba untuk berdamai dengan hatiku, berdamai dengan waktu, dan berdamai dengan Tuhan.

Sejak aku tahu bahwa aku bukanlah anak kandung dari mereka yang sudah membesarkanku, mendidikku, dan memberikanku kasih sayang yang begitu besar, aku merasakan ada keinginan yang begitu besar untuk bertemu dengan dia yang akan kupanggil “Ibu”, mencium keningnya, memeluk erat tubuhnya, dan mencurahkan segala rasa yang telah lama kusimpan di dalam dada. Betapa aku merindukan semua itu, aku ingin segera bertemu dengannya. Tapi, dimana aku bisa bertemu dengannya? Tidak ada seorang pun yang mengenal orangtua kandungku. Haruskah aku membenci Tuhan? Karena Dia telah menyembunyikan dia yang telah melahirkanku ke dunia ini. Haruskah?

Untuk seseorang di luar sana yang sudah melahirkanku ke dunia ini, dan membiarkanku hidup tanpa mengenalnya.

Ibu, meski aku tidak pernah mengenalmu, namun aku ingin bertemu denganmu walau hanya sekali dalam hidupku. Izinkan aku memanggilmu “Ibu” di hadapanmu, kemudian menggenggam erat tanganmu, dan memelukmu. Aku tidak membencimu yang telah menelantarkanku di depan gerbang panti asuhan, aku tidak membencimu. Aku percaya, ibu pasti mempunyai alasan yang jelas mengapa ibu tega membiarkanku menangis di tengah malam yang gelap, sendirian di dalam box bayi itu. Aku juga yakin bahwa ibu sangat menyayangiku. Ibu sengaja memilih panti asuhan karena ibu ingin aku berada di tempat yang akan merawatku dengan baik. Ibu, dimana pun engkau berada, aku mencintaimu dan merindukanmu.
Acap kali aku menangis karena tidak pernah bisa membayangkan wajah ibu dalam diriku. Aku tidak pernah bisa menghadirkan wajah ibu dalam ingatanku. Aku tidak bisa, karena memang aku tidak pernah melihat ibu. Aku sama sekali tidak mempunyai seberkas ingatan tentangmu. Ibu, pernahkah ibu menanyakan keadaanku? Pernahkah ibu mendoakan agar aku baik-baik saja meski jauh darimu? Aku berharap ibu merindukanku, merasakan hal yang sama seperti yang kurasa.
Ibu, malam ini hujan cukup deras, cukup membasahi hatiku yang sedang rindu akan dirimu. Ibu,  aku menangisimu. Aku memanjatkan doa-doa untukmu, agar Tuhan memberikan kita kesempatan untuk bertemu. Aku tidak memaksa ibu untuk mengakuiku sebagai anak ibu, aku hanya ingin tahu wajah ibu. Dengan melihatmu, akan mudah bagiku menceritakan wajahmu pada hatiku saat ia merindukanmu.
Ibu, sudah kering rasanya air mataku menangisimu. Aku hanya ingin bertemu denganmu walau hanya satu kali saja dalam hidupku.

Winda menyatakan keinginannya untuk bisa mengetahui siapa sebenarnya ibu kandungnya kepada suaminya. Evan mengerti keinginan istrinya cukup kuat, dia harus bersedia menyediakan waktu untuk menemani istrinya mencari tahu siapa sebenarnya ibu yang telah melahirkannya.

“Nanti kita coba ke panti asuhan, siapa tahu Bu Elda bisa memberikan penjelasan tentang ini,” bujuk Evan.

Winda bersandar di dada suaminya, mengeluarkan segala keluh kesah yang sedang melanda hatinya. Kerinduan pada seseorang yang dia sebut sebagai “ibu”. Ahh Ibu.. siapakah engkau? Dimana aku bisa menemuimu? Semua pertanyaan itu hanya bisa dia ucapkan, dan belum ada yang bisa memberikan jawaban yang menenangkan hatinya.

Bunga-bunga cinta antara Evan dan Winda semakin mekar mewangi, menebarkan wangi-wangi surga yang menyejukkan kalbu. Hari demi hari mereka lalui dengan penuh cinta, kala suka maupun duka mereka tetap berpegang teguh pada janji suci yang pernah mereka ucapkan pada saat akad nikah. Janji suci itu adalah ikatan yang menguatkan mereka, menumbuhkan keyakinan untuk membangun cinta menjadi bangunan yang kokoh, tinggi, dan meraih ridho Tuhan.

Di balik kesederhanaannya, Evan adalah sosok yang sangat pengertian, dan lembut tutur katanya. Dia adalah suami yang baik.
“Sayang, kamu tahu nggak kenapa dulu mas nggak pernah mengajakmu jalan, nonton, atau duduk berduaan di tempat yang romantis seperti muda-mudi lain yang sedang dilanda cinta?”
Winda menyentuh pipi suaminya, tersenyum mendengar pertanyaan itu.
“Karena mas malu,” jawabnya singkat
“Malu? Itu jawaban yang sangat kurang sempurna, hehe. Mas hanya ingin berdua denganmu, jalan bersama dalam rangka merayakan cinta kita pada saat engkau sudah sah menjadi istri. Karena bagiku, masa pacaran yang paling indah adalah pada saat kita sudah menjalin ikatan suci pernikahan. Bagiku, melihat senyummu adalah sebuah anugerah. Bertemu denganmu di depan gerobak sayur itu sudah cukup mengobati rinduku padamu.”

“Ehm.. mas lagi ngegombal,” Winda mencubit pipi suaminya.
Kehangatan tampak jelas dari dua insan yang sedang bahagia merayakan cinta. Memang tidak selamanya jalanan itu lurus, ada kalanya kita harus berbelok arah, menemukan pelajaran-pelajaran berharga dari setiap proses kehidupan. Evan berusaha mendekap istrinya saat angin badai menerpa keutuhan cinta mereka. Evan berusaha menjadi pendengar yang baik saat Winda butuh seseorang yang bisa diajak untuk mendengarkan curahan hatinya.

Satu kebahagiaan menambah kuatnya bangunan cinta mereka, saat Evan pertama kali mengetahui bahwa istrinya sedang mengandung. Kebahagiaan itu tidak bisa dia ucapkan, tidak mampu dia gambarkan dalam kata-kata. Puji syukur ia panjatkan pada Tuhan atas anugerah ini. Doa-doa dia panjatkan agar istri tercinta bisa kuat dan selalu diberi kesehatan oleh  Tuhan. Kadang dia membayangkan Winda sedang menggendong buah hatinya, mendengar tangis bayinya, dan mencium bayi mungil itu. Sungguh, seandainya semuanya bisa lebih cepat terjadi, maka ingin rasanya hari ini dia bisa melihat anak yang masih berada dalam kandungan istrinya.

“Mas, jika anak kita nanti laki-laki, aku ingin dia diberi nama ‘Farhan’ yang berarti bergembira, senang, dan girang. Aku ingin nama itu menjadi doa agar anak kita bisa merasakan kebahagiaan dalam keadaan apa pun. Karena sesungguhnya kebahagiaan itu lahir dari dalam diri.” Ucap Winda.

Evan membiarkan istrinya menyatakan segala keinginannya.

“Kalo anak kita adalah perempuan, maka mas akan memberikan dia nama ‘Farah’ yang berarti kesenangan dan kebahagiaan,” jawab Evan.

Keduanya berharap semua itu bisa menjadi kenyataan yang akan menambah kebahagiaan mereka. Setelah berbicara tentang banyak hal, keduanya melepaskan segala kepenatan, merebahkan tubuh ke atas kasur dan tidur lelap. Esok hari, petualangan akan dimulai kembali, mereka berdua akan mengunjungi panti asuhan, dan menanyakan tentang siapa sebenarnya orang tua kandung Winda. Mereka berharap, besok mereka bisa menemukan seberkas cahaya yang akan menuntun mereka menuju seseorang yang sudah lama ingin mereka temui.

¤

Pukul tujuh pagi, Bang Ucup masih setia dengan gerobak sayurnya, mendorongnya dengan penuh harapan bahwa hari ini sayur mayur yang dia bawa akan banyak terjual. Dia tidak mempunyai kesibukan yang lain, hanya gerobak itu yang menjadi mata pencahariannya, sebagai perantara rizki dari Tuhan. Dia membersihkan peluh yang membasahi wajahnya dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya.

“Selamat pagi Bang Ucup,” Winda menyapa Bang Ucup yang sedang melayani pembeli.
“Pagi, sekarang suasana sudah beda. Sudah tidak ada lagi yang memadu kasih di dekat gerobak Bang Ucup.” Ujar Bang Ucup sambil tertawa kecil.
“Makanya, Bang Ucup harus segera menikah. Biar bisa merasakan indahnya bahtera rumah tangga yang dibangun atas nama cinta,” jawab Evan sambil melirik istrinya.
“Tukang sayur seperti abang ini nggak menarik hati wanita,” jawab Bang Ucup sambil menghisap rokok dan mengepulkan asapnya ke udara.

Bang Ucup masih sendiri. Kesendiriannya bukan karena dia tidak ingin berumah tangga, tapi karena jodoh belum dia temukan. Tuhan masih membiarkannya menjalani hidup ini sendirian, ditemani oleh gerobak sayurnya. Pernah dia membina cinta dengan seorang wanita, namun cintanya kandas di tengah jalan. Cinta kadang menyisakan sakit yang dalam dan butuh waktu yang lama untuk kembali pulih. Mungkin itu yang sedang dirasakan oleh Bang Ucup, dia masih mengubur dalam-dalam segala kenangan yang telah menyisakan luka di hatinya. Belum ada keberanian dirinya untuk membuka lembaran baru, membuka hatinya untuk seseorang yang akan menemaninya menjalani hidup. Sekarang, kesendirian adalah pilihannya dan berharap Tuhan akan segera mempertemukan dia dengan belahan jiwanya.

“Mau kemana Mas Evan?” Tanya Bang Ucup
“Mau ke Panti Asuhan al-Barokah, Bang. Ada hal yang mau diurus disana,” jawab Evan, kemudian pergi bersama istrinya mengendarai sepeda motornya.

Jalanan Purwokerto masih lengang, hari ini hari libur. Kabut masih belum beranjak meninggalkan pagi, masih betah berlama-lama menyaksikan hiruk pikuk manusia di pagi hari. Meski sudah pukul tujuh pagi, tapi kabut masih tetap setia menemani. Winda merangkul pinggang suaminya, membiarkan hembusan angin menyapanya. Perjalanan yang mereka tempuh kurang lebih dua jam lamanya, panti asuhan yang menjadi tujuan mereka berada di Wonosobo, disana dia ditemukan, kemudian dibesarkan oleh Bu Zaitun dan Pak Ahmad. Sebelumnya, Winda belum pernah ke sana. Saat dia tahu bahwa dia hanyalah anak angkat, dia sedang disibukkan dengan persiapan pernikahannya dengan Evan. Masalah itu terlupakan sejenak dengan kebahagiaannya menjadi seorang istri. Dan kini, dia semakin merasakan kerinduan yang mendalam terhadap seseorang yang belum pernah bertemu dengannya sebelumnya.

Sesampainya di Panti Asuhan al-Barokah, mereka disambut oleh Bu Elda yang sudah renta, dia sudah menjaga anak-anak yang ada di panti asuhan hampir 30 tahun lamanya. Sudah banyak anak asuhnya yang berumah tangga, dan mempunyai keturunan. Jasanya cukup besar, kasih sayangnya tidak pernah habis untuk dicurahkan pada anak-anak yang berada di panti asuhan. Winda mencium tangan Bu Elda, kemudian dia dan Evan suaminya duduk di ruang tamu. Winda bermaksud memperkenalkan dirinya terlebih dahulu, akan tetapi Bu Elda sudah terlebih dahulu tahu tentangnya.

“Bu Zaitun sudah banyak bercerita tentangmu, saya tahu maksud dan tujuanmu datang kemari.” Ucap Bu Elda, kemudian dia berdiri, berjalan ke kamarnya dan mengambil sesuatu. Dia kembali ke ruang tamu dan membawa sebuah kotak kecil berwarna pink di tangan kanannya.

“Hanya ini yang bisa ibu bantu,” ucapnya sambil memberikan kotak itu pada Winda.
Evan meyakinkan istrinya untuk kuat menerima apa pun yang terjadi setelah melihat isi kotak itu. Winda sudah menangis, padahal dia belum membuka kotak itu. Dia sama sekali belum mengetahui apa isinya, namun dia sudah tidak tahan membendung air matanya. Air matanya tumpah ruah membasahi pipinya. Evan menghapus air mata itu dengan kedua tangannya, dan membiarkan Winda membuka kotak itu. Winda melihat selembar kertas yang sudah usang, dan sebuah foto seorang ibu yang sedang menggendong bayi. Foto itu bukanlah foto yang berwarna, melainkan hanyalah foto hitam putih. Winda membaca tulisan yang ada di kertas itu.

Putriku..
Ibu sengaja menulis surat ini dan berharap engkau akan membacanya saat sudah dewasa kelak. Ibu sengaja tidak mengizinkanmu membaca surat ini sebelum engkau tumbuh dewasa dan bisa menerima semua ini dengan lapang dada.
Putriku..
Ibu berharap siapa pun yang menemukanmu akan merawatmu dengan baik. Itu adalah harapan ibu. Ibu juga berharap engkau akan dijadikan anak oleh keluarga yang telah lama mendambakan kehadiran buah hati, sehingga mereka menyayangimu dengan sepenuh hati. Itu adalah doa-doa yang selalu ibu panjatkan. Ibu sengaja memilih panti asuhan ini, karena ibu tahu mereka tidak akan menyia-nyiakanmu, mereka akan merawatmu, dan mendidikmu hingga tumbuh menjadi anak yang berbakti.
Putriku..
Maafkan ibu yang sudah membiarkanmu hidup sendirian tanpa pernah mengenal ibu. Tidak ada yang menjadi alasan yang pantas untuk ibu tuliskan sebagai alasan mengapa ibu membuangmu dari kehidupan ibu. Tidak ada sama sekali alasan yang patut untuk ibu tuliskan agar engkau mengerti.
Putriku..
Ibu masih berumur 16 tahun saat mengandungmu, keluarga ibu tidak ada yang menginginkan kehadiranmu. Mereka sudah beberapa kali memaksa ibu untuk menggugurkanmu. Tapi, ibu sengaja pergi dari rumah dan membesarkanmu yang masih berada di dalam kandungan ibu. Ibu berkerja, agar ibu bisa bertahan hidup dan melihatmu hadir ke dunia ini. Melihat senyum pertamamu saat lahir adalah kebahagiaan terbesar ibu. Suara tangismu, semua adalah kebahagiaan yang Tuhan anugerahkan pada ibu. Engkau adalah alasan satu-satunya mengapa ibu rela pergi dari rumah, dan memilih untuk melahirkanmu.
Putriku...
Terlalu banyak cerita yang tidak bisa ibu ceritakan padamu. Setelah ibu melahirkanmu, ibu mulai merasa bahwa ibu adalah orang yang paling beruntung di dunia ini, namun ibu merasa tidak mampu mendidikmu dengan baik. Ibu juga tidak sanggup lagi menahan kerasnya hidup, kerasnya ejekan orang-orang, kerasnya perlakuan keluarga terhadap ibu. Ibu tidak sanggup lagi, nak. Ibu memilih untuk membawamu jauh dari kehidupan ibu, agar engkau bisa merasakan kasih sayang seutuhnya.
Putriku..
Saat engkau membaca surat ini, jangan engkau cari lagi, jangan engkau tanyakan lagi siapa ibu kandungmu, karena sekarang engkau sudah menemukan jawaban itu.
Namun, jangan harapkan adanya pertemuan di antara kita, karena ibu sudah pergi jauh saat engkau membaca surat ini. Ibu memilih untuk mengakhiri hidup ini dan meninggalkan semua beban hidup ini. Ibu tidak sanggup lagi jika harus bertahan. Mungkin engkau akan mengatakan bahwa ibu bukanlah ibu yang hebat, menyerah dengan keadaan, dan itu memang benar. Ibu tidak sekuat itu, nak. Maafkan ibu. Semoga engkau bisa hidup bahagia.

Ibumu, Dewi Anggraini

Winda melipat kembali surat yang baru saja dibacanya, kemudian memasukkannya kembali ke dalam kotak berwarna pink itu. Dia memeluk suaminya, dan menangis. Evan berusaha menenangkan istrinya.

            “Bu Zaitun sengaja memaksa ibu menyimpan kotak itu, dan membiarkanmu membacanya saat ia sudah tiada.” Bu Elda mencoba menjelaskan.

            Setelah sekian lama menanti, kini Winda mempunyai gambaran tentang wajah ibu kandungnya, foto yang ada di kotak itu adalah foto dirinya saat masih bayi. Ibunya menggendongnya dengan penuh kasih sayang. Senyum Bu Dewi Anggraini memperlihatkan kebahagiaan, dan harapan agar anaknya bisa merasakan manisnya hidup. Kini, tidak ada lagi harapan untuk bertemu dengan ibu kandungnya, menggenggam erat kedua tangannya, memeluknya, dan mengucapkan rindu yang sudah lama Winda tahan. Ibu kandungnya sudah pergi meninggalkannya. Hanya Tuhan yang mengetahui semuanya.

Evan dan Winda melangkahkan kaki secara perlahan meninggalkan panti asuhan yang menjadi saksi pertemuan terakhir Winda dengan ibu kandungnya. Kala itu, Winda masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi, sehingga dia tidak bisa menghentikan langkah ibunya yang meninggalkannya sendirian di depan gerbang panti asuhan. Ibu, dimana pun engkau berada, aku tetap merindukanmu. Hati kecilku mengatakan bahwa ibu masih ada, dan selalu memperhatikanku meski hanya dari kejauhan.

Winda menangis di atas sajadah panjangnya, bersujud memohon petunjuk dari Tuhan yang Maha Kuasa.

Tuhan, jika memang bunda sudah tiada, beri dia tempat yang layak di sisi-Mu. Ampuni semua dosanya, dan berikan aku kesempatan bertemu dengannya di surga-Mu. Tuhan, kali ini aku kembali mengadukan segala keluh kesahku pada-Mu, memohon agar aku bisa menjalani hari dengan penuh keridhoan-Mu dan bisa menghadapi semua ujian hidup ini dengan penuh kesabaran. Bukankah Engkau mencintai orang-orang yang sabar? Aku ingin masuk menjadi salah satu dari hamba-hamba-Mu yang Engkau cintai.

[Rindu] - 8


Salahkah jika aku masih merindukanmu?
Mengharapkan cintamu datang untukku
Meski aku tahu engkau sudah ada yang memiliki


Kereta api yang akan membawa Faraj, Imamah, Aldo dan Hesta perlahan meninggalkan Stasiun Purwokerto menuju Jogja. Gemuruh suara mesin kereta memecah keheningan sore menjelang malam. Evan dan Winda tidak bisa mengantarkan mereka ke stasiun, mereka sedang dalam suasana duka. Faraj dan sahabat-sahabatnya tidak banyak bicara, semua sibuk dengan diri masing-masing. Faraj dan Imamah asyik berbincang tentang nama yang akan mereka berikan pada buah hati yang masih berada di dalam kandungan istrinya. Aldo sibuk dengan ponselnya, membiarkan jemarinya menari indah di atas keypad handphone-nya. Sedangkan Hesta melamun sendirian sambil melihat pemandangan yang dilalui kereta api, hamparan sawah yang hijau menyejukkan pandangan dan meneduhkan hati. Hesta sedang mencoba untuk menepis rindunya kepada seseorang yang sudah lama tidak ia temui. Kali ini, rindu itu kembali hadir dalam dirinya, mencoba mengingat kembali perjalanan panjangnya dengan seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya, kemudian pergi meninggalkannya.

Ingatan Hesta kembali ke dua tahun yang lalu, di hari kelulusannya di UGM. Waktu itu, dia mengenakan toga, duduk di barisan mahasiswa yang akan diwisuda. Dari sekian banyak wisudawan dan wisudawati, pandangannya tertuju pada seorang wanita muslimah yang duduk di bagian ujuang gedung tempat wisuda dilaksanakan. Muslimah itu mengingatkannya pada cintanya dulu. Wajah itu sepertinya sudah tidak asing lagi baginya. Senyum itu kembali memaksanya untuk mengingat semua cerita cinta masa kanak-kanak yang telah lama bersemayam dalam hatinya. Mungkinkah itu Aulia? Tanya Hesta dalam hati.

¤

Namanya Aulia, dia adalah teman sekelas Hesta waktu masih duduk di sekolah dasar. Aulia pindah ke Jakarta setelah menyelesaikan sekolah dasar di Lampung. Dia harus pindah karena ayahnya pindah tugas ke Jakarta. Hesta dan Aulia sahabat akrab, mereka sering bermain bersama, belajar bersama di rumah Hesta, dan sering mancing ikan di sungai yang memisahkan desa Hesta dan Aulia. Kenangan indah itu masih tersimpan dalam ingatan Hesta. Pada saat perpisahan, mereka berdua berjanji akan kembali bertemu di pinggir sungai yang biasa menjadi tempat mereka mancing. Mereka berjanji akan bertemu setelah mereka sama-sama menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas.

“Ahh.. janji itu menyebabkan luka di dalam hatiku. Aku sudah menepati janji yang kita buat bersama, mengapa engkau tidak menepati janji itu?” Gumam Hesta dalam hati.

Setelah menyelesaikan sekolah menengah atas, sebelum melanjutkan pendidikan di Universitas Gajah Mada, Hesta menunggu kedatangan Aulia di pinggir sungai sambil mengenang kembali kebersamaan mereka sewaktu masih kanak-kanak. Hampir satu bulan lamanya Hesta menunggu kedatangan Aulia, setiap sore dia menunggu kedatangan Aulia,  namun yang dinanti tidak kunjung datang.

Setelah lelah menanti, Hesta memutuskan untuk segera pergi ke Jogja dan menuntut ilmu di Jogja yang terkenal dengan kota budaya itu. Ada perasaan kesal dengan Aulia, mengapa dia melupakan janji? Bukankah dia sudah berjanji akan kembali bertemu dengannya di pinggir sungai? Lantas mengapa Aulia tidak datang dan menemuinya? Segores luka membekas di hatinya. Sia-sia penantian yang sudah dia lakukan, sia-sia harapan yang sudah dia jaga dengan baik. Janji tinggal janji, Aulia tidak pernah datang menemuinya.

¤

Setelah proses wisuda selesai, Hesta berusaha untuk memastikan bahwa muslimah itu adalah Aulia. Dia berjalan ke arah muslimah itu, melihat wajahnya, dan dia semakin yakin bahwa muslimah itu adalah Aulia. Ada tahi lalat di dagunya, senyumnya persis seperti senyum Aulia yang pernah terekam dalam benaknya. Hesta tidak ingin menunggu terlalu lama lagi, dia segera menyapa muslimah itu dengan ucapan salam. Muslimah itu membalikkan badannya dan menjawab salamnya.

“Wa’alaikumussalam, Mas Hesta?” muslimah itu menyebut nama Hesta. Dia langsung mengenali wajah Hesta.
Hesta semakin yakin bahwa dia adalah Aulia.
“Aulia?”
Muslimah itu menganggukkan kepala, dia memang Aulia. Feeling  Hesta ternyata benar, hatinya mengatakan bahwa muslimah yang dari tadi dia perhatikan adalah Aulia.
“Kamu apa kabar?”
“Alhamdulillah saya baik-baik saja, mas. Mas sendiri gimana? Sudah punya istri belum? Ehm.. pasti sudah kan?”

Pertanyaan itu, mengapa dia harus menanyakan hal itu padanya? Tidak tahu kah dia bahwa Hesta menyimpan rasa padanya?
“Saya masih setia dengan kesendirian,” jawab Hesta sambil tersenyum malu.
“Empat tahun saya di UGM, tapi nggak pernah lihat kamu di sini? Bahkan ternyata kita satu Fakultas.” Ucap Hesta.
“Mahasiswa UGM kan banyak, mas. Jadi wajar kita nggak pernah bertemu.”

Mereka berdua tidak banyak bicara, mereka tidak sempat mengenang kembali masa kanak-kanak yang pernah mereka lalui bersama. Setelah saling sapa dan berbincang sebentar, mereka berdua berpisah kembali. Winda sudah ditunggu oleh keluarga besar yang menghadiri wisuda kelulusannya. Hesta meminta email dan nomor handphone Aulia agar bisa saling berkomunikasi.

“Ini alamat email saya, mas,” Aulia memberikan selembar kertas pada Hesta, kemudian pergi meninggalkan Hesta yang masih berat untuk berpisah, dia masih ingin berlama-lama dengan Aulia. Dia ingin tahu alasan Aulia tidak menepati janjinya, pasti Aulia mempunyai alasan yang kuat sehingga dia tidak menepati janjinya. Dia juga ingin memberitahunya bahwa sejak lama dia ingin bertemu kembali dengannya, bercerita banyak hal tentang kehidupan mereka masing-masing.

Dari jauh, Hesta melihat seorang laki-laki menggendong anak kecil, menghampiri Aulia dan mencium keningnya. Hati Hesta seperti dihujami timah panas, terbakar, meleleh dan menyisakan rasa sakit yang luar biasa. Ingin rasanya dia berteriak agar Aulia tahu bahwa sebenarnya dia menyimpan cinta yang tak bertuan. Mungkinkah itu adalah suami dan anaknya? Tanyanya dalam hati. Tidak ada jawaban yang ia dapat. Dia hanya menduga-duga dan berharap dugaannya keliru.

Dalam perjalanan pulang, berbagai pertanyaan tentang Aulia menghantuinya. Siapa laki-laki tadi? Siapa anak kecil tadi? Jika memang Aulia sudah mempunyai suami dan anak, lantas mengapa Tuhan harus mempertemukannya denganku kembali? Ujar Hesta dalam hati.

Sesampainya di kontrakan, Hesta langsung mengirimkan email ke alamat yang diberikan oleh Aulia.

Salam.
Aulia, maaf bila aku mengganggu. Tapi, aku tidak bisa menahan ini lebih lama lagi. Aku sudah menyimpan perasaan ini sejak lama, sejak terakhir pertemuan kita kala itu. Engkau masih ingat kan janji kita ? Kita akan bertemu di pinggir sungai itu, engkau masih ingat kan? Aku berharap engkau masih ingat akan janji itu.
Aku ingin memberitahu bahwa aku menunggu kedatanganmu, aku menanti engkau datang dan menyapaku bersama dengan hembusan angin, kemudian duduk di sampingku, bercerita tentang kehidupan, melukis mimpi. Tapi, setelah sekian lama aku menunggumu, engkau tidak kunjung datang menemuiku. Dan hari ini, aku bertemu denganmu dan melihatmu bersama dengan seorang pria dan anak kecil, apakah engkau sudah menikah? Apakah laki-laki itu suamimu? Dan anak kecil itu adalah anakmu?
Entahlah, aku tidak bisa tenang sebelum mengetahui semua ini. Karena jujur ingin kukatakan bahwa aku menyimpan cinta ini untukmu. Maaf jika aku terlalu jujur. Aku tidak bisa terus membohongi hatiku bahwa aku mencintaimu.
Aulia, jika engkau sudah membaca pesanku ini, sempatkanlah membalasnya, agar aku bisa jadi lebih tenang menjalani hari, dan bisa menentukan langkah yang akan aku ambil jika memang cintaku ini hanya bertepuk sebelah tangan. Dan aku berharap aku bisa membuka hati ini untuk yang lain jika memang engkau bukanlah jodoh yang Tuhan janjikan untukku.
Salam, Hesta Rizky Pratama

Pesan itu sudah terkirim ke alamat email Aulia, Hesta berharap dia akan segera membaca dan membalasnya. Satu jam sudah dia menunggu, namun tetap tidak ada email yang masuk. Dua jam, tiga jam, hingga malam menjelang tetap tidak ada email balasan dari Aulia. Hesta tertidur di kursi belajarnya, membiarkan komputernya tetap menyala.

¤

Di tempat yang berbeda, Aulia baru membuka email Hesta, membacanya perlahan. Anak dan suaminya sudah terlelap tidur. Dia baru sempat membuka email setelah seharian sibuk dengan kehadiran keluarga besarnya dari Jakarta. Hari ini mereka sengaja datang ke rumahnya untuk mengucapkan selamat atas kelulusannya. Aulia membaca email itu, tersenyum, kemudian langsung membalasnya.

Salam,
Mas Hesta, maaf baru bisa membalas emailmu. Mungkin mas sudah menunggu email balasan ini sejak tadi sore, tapi aku baru bisa membalasnya sekarang. Sekali lagi maaf.
Aku juga minta maaf sudah lupa dengan janji itu, aku benar-benar lupa dengan janji yang sudah kuucapkan kala itu. Aku minta maaf. Maaf jika aku tidak bisa membalas perasaanmu padaku, karena kini aku sudah menjadi seorang istri dan ibu dari Fahimah anakku. Aku sudah menikah sejak dua tahun yang lalu. Jika ada waktu, Mas Hesta bisa berkunjung ke rumah dan bertemu dengan keluarga kecilku.
Sekarang sudah larut malam, hanya ini yang bisa aku tuliskan. Maaf bila sudah membuatmu terluka.
“Aulia Rahmah”

Setelah membalas email dari Hesta, Aulia mengusap kening putrinya dan tidur di samping suaminya. Matanya menerawang ke kenangan beberapa tahun lalu, saat dia masih kanak-kanak, dan mengucapkan janjinya akan menemui Hesta. Ada perasaan bersalah yang muncul dari dalam hatinya, tidak seharusnya dia mengingkari janji itu, janji adalah hutang dan hutang harus dibayar, kan? Lantas apa yang bisa kulakukan untuk mengobati luka yang sudah kubuat? Luka yang sudah membekas di hati Mas Hesta.

¤

Evan terbangun dari tidurnya saat adzan subuh berkumandang, bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat subuh. Selepas subuh, dia membuka email yang masuk, ada kebahagian saat mengetahui bahwa email itu dari seseorang yang dia cintai. Email itu dari Aulia. Dia membacanya, kemudian terdiam, dan mencoba untuk mengerti bahwa Aulia sudah menjadi milik orang lain. Ada sakit yang membekas dalam hatinya, ada luka yang belum bisa terobati oleh waktu.

Itu adalah terakhir kali dia berkomunikasi dengan Aulia. Sejak saat itu, dia mencoba untuk menghapus semua kenangan tentangnya, namun sekarang rindu itu kembali hadir menemani perjalanannya menuju Jogja.

“Haruskah aku menemuinya kembali? Agh... aku tidak sanggup jika harus melihat Aulia bersama dengan suami dan anaknya.”

 “Hesta.. Hesta.. Hesta..” Aldo berteriak dan membuyarkan lamunannya.

Hesta melihat sahabat-sahabatnya, mereka memandanginya seolah-olah ada yang aneh dengan wajahnya. Hesta mencoba untuk tersenyum dan menyembunyikan kerinduannya pada Aulia. Sampai hari ini, dia masih belum bisa melupakan Aulia. Rindu masih sering menghampirinya.

“Kamu kenapa lagi?” tanya Faraj.

Hesta hanya menggelengkan kepala, kemudian mengambil buku dari tasnya. Dia menekuri bukunya, menepis semua bayangan tentang Aulia. Dia pura-pura membaca.

Aldo menyenggol tangan Faraj. “Kenapa dia?”
“Kesambet,” jawab Faraj kemudian melanjutkan tidurnya.
“Bukunya kebalik tu, pak,” sindir Aldo.
Hesta hanya tersenyum.

Aldo jadi seperti orang bingung melihat teman-temannya. Faraj sudah lelap tidur di samping istrinya. Aldo beranjak meninggalkan mereka, mencari tempat duduk dekat jendela, agar bisa melihat segala keindahan alam di luar sana.

Setelah kurang lebih empat jam menempuh perjalanan, kini mereka sudah sampai di Stasiun Lempuyangan Jogjakarta. Faraj dan Imamah lebih dahulu meninggalkan stasiun dan menuju rumah. Sedangkan Aldo dan Hesta masih ingin menikmati suasana malam di stasiun, mereka memesan kopi dan menikmati gorengan. Mereka bertiga memang sudah tidak lagi tinggal dalam satu kontrakan, mereka sudah mempunyai kesibukan masing-masing. Tapi mereka masih sering bertemu di kampus.

“Selesai S2 nanti, lo jadi melamar Widya?” Hesta memulai obrolan malam.
“Lah, pertanyaanmu jangan yang terlalu serius. Nikmati aja tuh gorengan. Nanti juga bakalan tahu,” jawab Aldo sambil tersenyum.

Aldo merasa ada yang aneh dengan sahabatnya, dari tadi dia tidak banyak bicara. Tidak biasanya dia seperti ini. Aldo memang belum mengetahui tentang Aulia, Hesta memang tidak pernah menceritakan tentang itu kepada sahabat-sahabatnya. Malam semakin larut, dua sahabat itu berpisah, kembali ke tempat tingal masing-masing dan meninggalkan Stasiun Lempuyangan bersama dengan hembusan angin malam.

[Berpulangnya Sang Dewi] - 7


Ketika Tuhan sudah menghendaki sesuatu
Maka tidak ada yang bisa menghalangi-Nya
Kita semua akan kembali pada-Nya


Suasana di Stasiun Kereta Api Purwokerto semakin sesak, para penumpang memenuhi Stasiun, menunggu kereta api yang akan membawa mereka ke tujuan masing-masing. Banyak pedagang yang menjual berbagai macam makanan sebagai bekal para penumpang selama di dalam kereta. Ada juga yang menjual berbagai macam makanan khas Purwokerto. Siapa yang tidak tahu dengan “mendoan”? Mendoan adalah salah satu makanan khas Purwokerto. Belum lengkap rasanya kunjungan ke kota ini tanpa menikmati sajian mendoan yang disantap saat masih hangat. Mendoan adalah sejenis tempe yang lebar dan tipis, digoreng dengan balutan tepung beras/glepung dan tepung terigu. Enak dimakan dengan dicocol ke sambal atau saus, atau bisa juga dengan cabe rawit yang pedesnya mak nyuss! Di mana mendoan bisa didapatkan? Di hampir seluruh penjuru Purwokerto bisa anda dapatkan mendoan ini. Cari saja penjual gorengan, niscaya anda takkan kesulitan menemukan mendoan.

Faraj, Imamah, Aldo, dan Hesta sudah menikmati rasa mendoan. Winda menyediakan mendoan  khusus buat sahabat-sahabat Evan. Winda memang istri idaman, dia pintar masak. Sahabat-sahabat Evan masih ingin berlama-lama di Kota Satria ini, mereka belum sempat berkunjung ke Lokawisata Baturaden yang terkenal itu, padahal jaraknya hanya 14 km dari Kota Purwokerto. Masih banyak makanan yang belum mereka nikmati selama di Purwokerto. Mereka belum menikmati Soto Sokaraja yang sering diceritakan Evan waktu masih kuliah di Jogja. Tapi, kerjaan menunggu dan memaksa mereka kembali ke Jogja.

“Kalo kalian datang ke Purwokerto, kalian harus mencoba sedapnya Soto Sokaraja,” ucap Evan dengan penuh semangat kala itu. Soto asal Purwokerto ini memakai ketupat serta berbumbu kacang dengan taburan kerupuk di mangkoknya. Sepertinya mereka harus kembali berkunjung ke Purwokerto dan menikmati sajian khas kota ini.

Evan ditemani istri tercintanya mengantarkan sahabat-sahabatnya ke Stasiun. Mereka duduk di kursi panjang yang disediakan pihak Stasiun, bercengkerama sebelum kereta datang dan memisahkan mereka. Hesta tidak banyak bicara, dia hanya diam sambil menekuri buku yang sengaja dia bawa dari Jogja. Selain kocak, dia memang kutu buku. Beberapa hari yang lalu, selama di dalam kereta dari Jogja ke Purwokerto, dia hanyut dalam lembar demi lembar buku yang ada di tangannya. Dia membiarkan sahabat-sahabatnya sibuk dengan urusan masing-masing.

Selama kuliah di Jogja, hampir setiap akhir pekan Hesta menyambangi toko buku dan menghabiskan hari dengan membaca. Kadang dia hanya membaca di toko buku favoritnya tanpa membeli buku yang sudah dia baca. Jika sedang ada rizki yang berlebih, baru dia akan membeli buku. Membaca adalah bagian dari dirinya yang tidak bisa dipisahkan. Dia bisa lupa bahwa sekarang ada sahabat-sahabatnya yang duduk di dekatnya, sedangkan dia hanya diam menekuri buku filsafat yang berukuran cukup tebal.

“Coba lihat makhluk satu ini, seharusnya kalian memastikan dia tidak membawa buku saat berkunjung ke sini. Jadinya seperti ini, dia bisa lupa segalanya dan hanya sibuk dengan buku yang ada di tangannya.” Ucap Evan sambil menepuk pundak Hesta.

Hesta tersenyum simpul, kemudian kembali membalik lembar demi lembar bukunya.
“Aw..www.. sakit..,” teriak Hesta.
Aldo memukul pundak Hesta sedikit keras dengan tas punggung miliknya.
“Kita di sini mau lari sejenak dari rutinitas kampus yang kadang memusingkan, dan ikut merasakan kebahagiaan Evan yang baru saja menikah, lo malah sibuk sendiri.” Ucap Aldo sambil memonyongkan bibirnya tiga senti kemudian mengambil buku filsafat yang dipegang Hesta dan memasukkannya ke dalam tasnya.

Evan dan yang lain tertawa melihat kelakuan dua sahabatnya. Gelak tawa mereka memenuhi ruang tunggu penumpang. Mereka memang tidak bisa diam jika sedang bersama. Berat rasanya berpisah, tapi sekarang mereka sudah mempunyai kehidupan masing-masing. Faraj sudah hidup bersama dengan Imamah istrinya dan sedang menunggu kelahiran buah hati mereka. Imamah sedang hamil tiga bulan. Evan baru saja menikah dengan Winda, wanita yang sudah lama mengisi relung hatinya. Sedangkan Aldo dan Hesta masih sibuk menyelesaikan program magister di UGM. Hesta dan Faraj sama-sama mengambil Program Pascasarjana Ilmu Filsafat, sedangkan Aldo mengambil Program Pascasarjana Ilmu Budaya.

“Giliranku kapan?” Celetuk Hesta.
“Kapan apanya?” Jawab Aldo
“Nikah..”
“Cari dulu calonnya, baru mikirin kapan.” Ujar Faraj.

Hesta diam, sahabatnya tidak pernah tahu bahwa dia sendiri karena masih belum bisa melupakan seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya. Seseorang yang dicintainya. Mereka tidak perlu tahu tentang ini, ucapnya dalam hati.

¤

Imamah dan Winda membiarkan empat sahabat karib itu bernostalgia mengenang kembali kebersamaan mereka lima tahun yang lalu, saat mereka pertama kali menjadi mahasiswa di UGM. Winda bertanya banyak tentang kehamilan Imamah, dia juga berharap akan segera diberi momongan. Dia tidak ingin menunggu terlalu lama waktu bahagia itu datang.

“Gimana kehamilanmu, Mbak?”
“Alhamdulillah, kandungan saya baik-baik saja.” Jawab imamah sambil mengizinkan Winda menyentuh perutnya yang sudah sedikit membesar. Meski sebenarnya belum terlihat jelas bahwa dia sedang mengandung. Maklum, perutnya ditutupi oleh jubah yang dia kenakan. Jubahnya berukuran gombrong sehingga tidak tampak bahwa dia sedang hamil.

Wajah Imamah berseri-seri menceritakan pengalamannya saat pertama kali mengetahui bahwa dia hamil. Saat itu, Imamah merasakan mual-mual, kemudian dia periksa ke dokter. Setelah diperiksa, dokter tersenyum dan memberitahunya bahwa dia sedang hamil. Sedangkan saat itu Faraj sedang di kampus, Imamah sengaja tidak memberitahu suaminya melalui telpon, dia menunggu suaminya pulang ke rumah, kemudian memberitahunya bahwa dia sedang hamil.

“Mas, aku….” Imamah menghentikan ucapannya dan membiarkan Faraj penasaran dengan apa yang akan diberitahunya.
“Kamu Kenapa?
“Aku.. aku..” Imamah sengaja berlama-lama agar suaminya penasaran.
“Iya, kamu kenapa?” Faraj semakin penasaran.
“Aku hamil, mas.”
“Alhamdulillah..,” Faraj mengucapkan syukur pada Tuhan, kemudian langsung memeluknya. Sejak saat itu, dia tidak pernah membiarkan istrinya kerja terlalu berat. Faraj suami yang sangat baik, dia mau membantunya mencuci pakaian, masak, bersih-bersih rumah dan lain-lain. Imamah bahagia menjadikannya sebagai pendamping hidupnya.

Winda menjadi pendengar yang baik, mendengarkan setiap cerita dari Imamah tentang kebahagiaannya membina rumah tangga dengan Faraj. Dalam hati, Winda berdoa semoga dia bisa merasakan kebahagiaan yang sama saat kehamilan nanti. Entah mengapa, tiba-tiba dia ingin cepat-cepat merasakan kebahagiaan seorang wanita saat mengetahui bahwa dia sedang hamil.

Namun, beberapa menit kemudian wajah Winda berubah menjadi murung. Ada air mata yang perlahan membasahi kelopak matanya.

“Winda, kamu nggak apa-apa kan?” Imamah mengeluarkan sapu tangan dari balik jubahnya, kemudian memberikannya pada Winda.

“Mbak, aku ingin memberitahumu satu hal, sampai hari ini aku belum pernah melihat ibu kandungku. Aku tidak pernah bisa menggambarkan bagaimana wajah wanita yang sudah mengandungku selama sembilan bulan, kemudian melahirkanku dan membiarkanku menangis di depan panti asuhan, kemudian pergi.” Ucap winda sambil terisak.

“Siapa yang tidak ingin melihat ibu kandungnya di dunia ini?”

Begitu pun dengan Winda, dia ingin sekali bertemu dengan ibu kandungnya meski hanya sejenak.
Imamah memeluk Winda, dia tidak ingin menanyakan hal itu lebih jauh.

“Tapi, kamu patut bersyukur, hidupmu dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangimu. Orang tua yang sangat perhatian denganmu, dan sekarang ada Evan yang sangat mencintaimu. Aku sering mendengar cerita Faraj tentang kisah cinta kalian berdua. Menurutku Evan laki-laki yang baik, dia sangat sederhana dalam penampilan, dan dia adalah laki-laki yang berbudi. Aku yakin kamu bisa hidup bahagia dengannya.” Imamah mencoba untuk menenangkan Winda.

“Tapi.. mbak”
“Sudah, jangan sesali semua yang sudah terjadi, sekarang kamu harus kuat menerima semua ini. Percayalah, Tuhan mempunyai rencana yang indah untuk setiap hamba.”
Winda menghapus air matanya, kembali tersenyum. “Terimakasih, mbak.”
Keduanya tersenyum, dan berpelukan.
“Tuhan mencintaimu dengan cara yang kadang tidak Engkau mengerti,” bisik Imamah pada Winda.

¤

Evan masih asyik bercanda bersama sahabat-sahabatnya, sebelum akhirnya sebuah pesan singkat masuk ke handphone-nya, dia langsung membuka dan membaca pesan yang masuk. Wajah Evan berubah menjadi tegang, dia kelihatan begitu panik.

“Ada apa Evan?” Aldo mendekati Evan.
“Aku harus segera pulang, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.” Jawabnya.
“Ada apa sebenarnya?” Faraj mencoba untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Bu Zaitun masuk Rumah Sakit, aku harus memberitahu Winda tentang ini.” Jawabnya.

Evan langsung meninggalkan ketiga sahabatnya, kemudian mendekati istrinya yang duduk tidak jauh dari mereka. Winda masih berbincang banyak hal dengan Imamah, begitulah wanita, jika sudah cocok satu sama lain, maka obrolan seputar wanita tidak pernah habis. Evan memegang tangan istrinya, kemudian memberitahukan keadaan ibunya yang baru saja dibawa ke rumah sakit. Evan mendekap istrinya, dia tidak ingin membiarkan istrinya lemah menghadapi apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Sahabat-sahabat Evan membatalkan jadwal kepulangan mereka, kemudian ikut bersama Evan menjenguk Bu Zaitun yang sedang dirawat di Rumah Sakit Wijaya Kusuma (DKT). Sesampainya di Rumah Sakit DKT, Winda langsung menanyakan tempat ibunya dirawat ke bagian informasi. Winda langsung menuju ruang UGD dan meminta izin untuk melihat keadaan ibunya.

Evan menemui dokter yang memeriksa keadaan mertuanya, menanyakan bagaimana keadaan Bu Zaitun. Dokter menjelaskan bahwa sakit yang diderita Bu Zaitun sudah cukup parah dan perlu perawatan lebih lanjut. Dia harus dibawa ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitasnya agar bisa dilakukan pengobatan secara maksimal.

“Ya Tuhan, cobaan apa lagi yang ingin Engkau berikan pada Winda? Belum lama Engkau berikan dia tekanan saat mengetahui bahwa dia bukanlah anak kandung Bu Zaitun dan Pak Ahmad, sekarang Engkau sudah memberikan dia cobaan seberat ini. Tuhan, beri istriku kesabaran agar bisa menerima semua cobaan yang Engkau berikan dengan bijaksana.”

Doa-doa itu Evan ucapkan dalam hatinya, dia berusaha terlihat tenang di depan istrinya, memegang erat tangan istrinya agar dia tidak rapuh melihat kenyataan hidup yang harus dia alami. Faraj, Imamah, Aldo dan Hesta ikut mendoakan kesembuhan Bu Zaitun.

¤

Pak Ahmad duduk menyendiri di ruang tunggu, dia tidak sanggup melihat keadaan istrinya. Faraj menghampiri Pak Ahmad dan berusaha menenangkannya.

“Ini semua adalah cobaan dari Tuhan, kita selaku hamba-Nya hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik. Semoga Bu Zaitun diberikan yang terbaik oleh Tuhan.” Faraj mengucapkan kalimat itu sambil melihat kedua bola mata hitam Pak Ahmad yang sudah basah dengan air mata. Dalam keadaan seperti ini, dia tidak mempunyai siapa-siapa untuk menumpahkan segala kesedihan yang  dirasakannya. Dia hanya hidup berdua dengan istrinya, sedangkan Winda tinggal bersama dengan Evan.

Winda masih menangis di samping ibunya, berusaha menumbuhkan butir-butir kesabaran yang mulai hilang dari dirinya. Rasanya dia tidak sanggup melihat ibunya menahan penyakit ini sendirian. Seandainya bisa, ingin dia bertukar tempat dengan ibunya. Biarlah dia yang menderita semua ini, asalkan ibunya tetap sehat dan bisa tersenyum kembali. Winda belum siap menerima resiko terburuk jika harus kehilangan orang yang dia cintai, yang selama ini telah mendidiknya, dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Dia berjanji tidak akan membiarkan ibunya tinggal berdua saja bersama bapaknya. Dia berjanji akan merawat ibunya dengan baik. Terlambatkah semua ini Tuhan? Ada rasa bersalah dalam diri Winda, selama ini dia sudah membiarkan ibunya tinggal berdua saja bersama ayahnya. Tuhan, beri ibu kekuatan menahan semua ini agar dia bisa kembali pulih.

¤

Suara adzan Maghrib berkumandang, memanggil umat muslim untuk segera melaksanakan shalat Maghrib dan meninggalkan sejenak aktifitas mereka. Seruan adzan mendayu-dayu menyentuh hati umat muslim agar tidak lupa melaksanakan kewajiban mereka sebagai umat muslim, yaitu shalat. Faraj menjadi imam shalat maghrib di musholla rumah sakit, sedangkan yang lain menjadi makmum. Setelah selesai shalat, mereka berdoa bersama-sama demi kesembuhan Bu Zaitun. Winda menangis haru, mengucapkan untaian doa untuk ibundanya. Mengharapkan kesempatan dari yang Maha Kuasa agar ibunya bisa kembali pulih dan bisa menjalani hidup bersama dengannya.

Selepas maghrib, Evan mengurus semua persyaratan agar bisa membawa Bu Zaitun ke Rumah Sakit Banyumas. Lebih cepat lebih baik, itu yang disarankan oleh dokter. Setelah semua siap, mereka berangkat menuju RS Banyumas. Faraj, Evan, dan Aldo menemani Pak Ahmad di dalam mobil ambulan yang membawa Bu Zaitun. Sedangkan Hesta ikut bersama Winda dan Imamah dalam sebuah taxi. Selama di perjalanan menuju Rumah Sakit, Bu Zaitun beberapa kali batuk yang disertai dengan darah. Pak Ahmad kembali menangis, tidak tega melihat istrinya menderita.

Dalam keadaan sakit, Bu Zaitun memegang tangan suaminya, mencoba untuk mengucapkan sesuatu. Pak Ahmad mendekatkan wajahnya ke istrinya, agar dia bisa mendengar apa yang ingin diucapkan oleh istrinya.
“Pak, jaga Winda baik-baik. Mungkin ibu sudah tidak lama lagi, ibu sudah tidak sanggup lagi menahan semua ini. Ibu ingin pergi jauh..,” suara Bu Zaitun terputus-putus, tapi Pak Ahmad bisa mengerti apa yang diucapkan istrinya.
“Ibu jangan bicara seperti itu, ibu harus kuat.”

Evan, dan dua sahabatnya ikut menguatkan Pak Ahmad. Setelah mengucapkan pesan itu, Bu Zaitun kembali ke sisi Tuhannya. Faraj sempat menuntun Bu Zaitun mengucapkan kalimat “Laailaahaillallah” sebagai ucapan terakhir yang diucapkan olehnya. Dengan terbata-bata, Bu Zaitun mengikuti Faraj mengucapkan kalimat tauhid. Setelah mengucapkan kalimat “Laailaahaillallah”, dia memejamkan kedua matanya untuk selamanya. Suara tangis memecah keheningan malam, Pak Ahmad mengguncang tubuh istrinya yang sudah tidak bernyawa, berharap ini semua tidaklah nyata, berharap istrinya bisa kembali melihatnya, dan hidup bersamanya.

Setelah sampai di RS Banyumas, Bu Zaitun diperiksa oleh dokter yang bertugas jaga malam. Dokter memastikan bahwa nyawanya sudah tidak tertolong lagi. Winda langsung memeluk erat tubuh ibunya yang sudah pucat, mencium pipinya, memegang erat-erat kedua tangan ibunya yang sudah tidak bisa membalas genggaman eratnya. Kembali sudah Sang Dewi, yang selama ini telah melukiskan begitu banyak kebaikan kepada orang-orang yang ada di dekatnya. Evan memeluk istrinya, mendekapnya dalam badai kehidupan. Inilah hidup, semua yang hidup pasti akan kembali ke sisi Tuhan. Dia akan mengambil kehidupan ini jika masanya sudah tiba. Tidak ada satu pun yang bisa mencegah datangnya maut.

¤

Bu Zaitun sudah kembali ke sisi Tuhannya, banyak sanak saudara yang hadir pada saat pemakamannya. Winda masih sesenggukan karena ditinggal oleh ibundanya. Evan berada di sampingnya, menguatkannya dalam menghadapi cobaan ini. Kedua orangtua Evan juga berusaha menenangkan Pak Ahmad yang masih belum percaya dengan kenyataan ini.

Kini, Pak Ahmad hanya sendiri menjalani hidup, tidak ada lagi Bu Zaitun yang biasanya memasakkannya makanan, membangunkannya untuk shalat malam, dan menguatkannya saat dia sedang lemah. Mereka hidup bersama hampir tiga puluh tahun lamanya, menjalani lika-liku kehidupan, melawan badai kehidupan dengan gagah berani, hingga mereka bisa bertahan menjaga keutuhan cinta mereka. Pak Ahmad sudah membuktikan ketulusan cintanya, menepati janjinya tiga puluh tahun yang lalu untuk terus bersama dengan istrinya hingga ajal memisahkan keduanya. Cinta mereka abadi, dan cerita kebersamaan mereka akan menjadi cerita indah bagi anak cucunya nanti.

Winda masih ingat dengan baik pesan ibunya beberapa hari sebelum dia menikah dengan Evan.

“Dalam membina rumah tangga, akan ada badai yang menerpa, hadapi semua rintangan itu dengan penuh kesabaran. Percayalah, akan ada hikmah di balik semua lika-liku hidup ini. Jangan lupakan bangun malam dan minta petunjuk dari-Nya, agar kalian menjadi keluarga yang diridhoi-Nya.”

Winda sedang mencoba untuk berdamai dengan hatinya, mencoba untuk menerima semua ketentuan Tuhan. Semua ini adalah kehendak-Nya, tidak seharusnya Winda membenci Tuhan yang telah menentukan kapan seseorang akan kembali ke sisi-Nya.