October 01, 2012

Catatan Hati di Awal Oktober


Dulu, saya memang sudah bercita-cita ingin mengabdikan diri di dunia pendidikan. Mendidik putra-putri bangsa ini menjadi putra-putri yang memiliki akhlak yang mulia. Rasanya akan sangat bangga melihat mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang unggul. Bagiku, bisa berinteraksi dengan berbagai macam karakter anak adalah satu anugerah yang sangat luar bisaa. Dari mereka, saya banyak belajar tentang berbagai macam hal; Tentang ketulusan, tentang kepedulian, dan banyak hal lain.

Pagi hari, senyum mereka adalah hal yang paling saya tunggu. Ucapan salam yang mereka sampaikan saat menjabat tangan ini adalah penambah energi positif bagi diri untuk bisa menjadi guru yang baik bagi mereka. Murid saya bermacam-macam; ada yang pendiam, aktif, dan sebagainya. Mereka menjadikan hidup saya lebih berwarna. Perhatian mereka, kepedulian mereka akan saya, dan ketulusan mereka merupakan anugerah yang luar bisaa.

Senin, 1 Oktober 2012
Hari ini, kami kedatangan beberapa Guru baru, guna mendidik mereka menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Selama ini saya mengajar full time, sehari saya mengajar kurang lebih 8 jam. Sedari pukul 06.30 sampai 14.30 itu saya hanya bisa istirahat kurang lebih 50 menit. Selebihnya ya ngajar. Dan Alhamdulillah hari ini ada tenaga tambahan untuk mengurangi jam mengajar saya.

Setidaknya kalau saya tidak full waktu ngajarnya, saya bisa sedikit lebih banyak waktu di kelas. Maklum, saya ini ceritanya jadi wali kelas (nggak ada yang nanyaaaaa… J). Lah kalau wali kelas nggak pernah di kelas bahaya, kan? Sampai hari ini saya sering kebingungan kapan ada waktu bagi saya untuk melihat anak-anak saat proses pembelajaran guru lain berlangsung. Dengan demikian, mungkin saya akan lebih mengenal mereka. Dengan sering berada di kelas, mungkin saya akan lebih tahu akan mereka.

Berhubungan dengan adanya Guru baru, jam mengajar saya di kelas 7 akan dilimpahkan ke Sang Guru baru. Jadi saya hanya akan mengajar kelas 8 dan 9 saja. Jujur, saya rada-rada sedih tidak lagi mengajar di kelas 7 (tissue, mana tissue? #nangis). Nah tadi saat saya mengajar di kelas 7, saya bilang ke anak-anak bahwa saya besok sudah tidak lagi mengajar mereka. Saya hanya akan mengajar kelas 8 dan 9. Suara anak-anak jadi riuh,

“Ustadz, ngajar di kelas 7 aja. Jangan Ustadz yang baru ngajarnya.” Mereka semua menginginkan saya tetap mengajar di kelas mereka. #terharu #lebay

Jujur, saat melihat mereka mengatakan bahwa mereka menginginkan saya tetap mengajar di kelas 7 membuat mata saya lembab. Ada bola-bola Kristal yang memaksa untuk jatuh, menitik ke baju kemaja berwarna ungu yang saya pakai (ini kenapa jadi ngebahas warna kemeja? J) . Namun, saya tidak mau terlihat cengeng di depan mereka. Saya tetap berusaha untuk tersenyum meski haru terus menyeruak di dalam dada.

Sebenarnya ngajar atau pun tidak, saya tetap akan bertemu mereka di sekolah, bertegur sapa, bercerita banyak hal, bercanda, dan lain sebagainya. Tapi, tentu akan berbeda dari bisaanya. Namun, setidaknya saya tetap bisa berinteraksi dengan mereka di luar jam pembelajaran (arghh sambil ngetik ini saya pengen nangisss #mendadak cengeng, ambil tissue sekotak.).

Saat pembelajaran selesai, mereka menjabat tangan saya satu persatu (jabat tangannya lebih lama dari bisaanya) mereka berebutan menjabat tangan saya, seakan-akan kami akan berpisah dan tidak akan bertemu lagi. Bahkan, ada satu murid yang tetap duduk di samping saya, kemudian menjabat tangan saya lebih lama dari yang lainnya.

“Ustadz, maafin Imam kalo banyak salah ama ustadz.” Ucapnya sambil tersenyum.

Saya hanya bisa membalas senyumnya dengan tulus. Ah Imam, dia murid yang baru 1 bulan ini saya kenal, namun dia begitu dekat dengan saya. Dia bahkan pernah menangis hanya karena candaan saya “ustadz ngambek 3 hari 3 malam”. Sambil terisak, dia bersender di samping saya. Dia memang begitu lembut, dan baik hati. Dia  mengajarkanku arti ketulusan.


Masih banyak cerita-cerita antara saya dan murid-murid. Kebersamaan kami merupakan garis kehidupan yang sudah digariskan oleh Tuhan; Ada Akmal Sobri, Tiap kali melihatnya, saya teringat akan diri saya yang dulu persis seperti dia. Dia sama pendiamnya dengan saya waktu seumuran dengan dia. Ada Faraj Ziyad yang sudah saya anggap sebagai adik sendiri, dia begitu taat dan baik (meski kadang saya terkesan terlalu mengatur dia menjadi sosok “jelmaan” diri saya). Ada Muhammad Musa yang selalu semangat menghafal juz 29. Ada M. Farhan Ihsanuddin yang sudah hampir menyelesaikan hafalan juz 29-nya. Ada Fauzan yang jago taekwondo. Ada Izaq Aqsa yang pandai melukis. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Setiap dari mereka memiliki keunikan sendiri, mereka memiliki kelebihan masing-masing yang siap mewarnai dunia. Selamat berjuang murid-muridku. Saya akan berusaha menjadi Guru yang baik bagi kalian.

Sunday Morning di Alun-Alun Kota

Akmal
Minggu, 30 September di Alun-Alun Kota Purwokerto.
Seperti biasa, hari ini saya memacu sepeda dengan penuh semangat. Jalanan masih lengang, hanya beberapa kendaraan roda dua yang sesekali melintas. Namun saya sudah terlanjur janji dengan murid saya untuk bertemu pukul 5.30 tidak jauh dari alun-alun. Hari ini memang lebih pagi dari biasanya. Biasanya saya dan murid mulai bersepeda pada pukul 6 pagi. Namun pagi ini lebih awal karena kami tidak ingin seperti minggu lalu. Minggu lalu kami tidak berhasil menikmati gudeg asli yang ada di Pasar Wage Purwokerto.

Pukul 5.20 saya sudah berada di tempat janji bertemu. Faraj dan Akmal masih belum datang. Tidak perlu menunggu terlalu lama, Faraj pun menampakkan batang hidungnya. Namun si Akmal masih belum hadir. Saya dan Faraj memutuskan untuk menunggu Akmal terlebih dahulu. Dan tepat pukul 5.50, Akmal masih belum ada tanda-tanda akan hadir. Saya dan Faraj memutuskan untuk pergi tanpa Akmal. Yupz…berbeda dari biasanya, hari ini hanya saya dan Faraj yang bersepedaan bareng tanpa ada Akmal.
Faraj
Sudah pukul 6 lebih, kami segera bergegas menuju tempat gudeg asli yang ada di Pasar Wage. Konon gudeg yang satu ini super enak dan sudah terkenal. Saya tahu tentang gudeg ini dari Faraj. Ini kali kedua kami berniat untuk menikmati gudeg ini. Dan lagi-lagi kami kalah gasik alias terlambat. Saat kami sampai, gudeg yang terkenal enak itu sudah habisss…. #elus dada. Ini kegagalan untuk yang kedua kalinya. Saya gagal menaklukkan gudeg (bahasa apa iniii??? :p)

Sambil nyengir, saya dan Faraj memacu sepeda dan kembali ke alun-alun Kota Purwokerto. Alun-alun sudah dipenuhi oleh masyarakat yang menikmati minggu pagi bersama keluarga. Ada juga anak-anak yang sibuk dengan sepatu roda mereka, atau ada juga yang sibuk bermain dengan bola plastik yang sengaja mereka bawa dari rumah dan mereka mainkan bersama dengan sahabat-sahabat mereka.

Sepertinya untuk masalah makanan “Faraj” memang ahlinya. Faraj bilang ada jualan serabi di jalan Bank. Kami pun langsung meluncur dengan semangat 45 #lebay. Alhamdulillah, tidak bisa menikmati gudeg tak apa, asal masih bisa menikmati serabi keju di jalan Bank. Serabinya enak kok #beneran :p
ini namanya serabi #kalem
“Ini kenapa nggak ada kuahnya?” komentar saya saat serabi sudah siap saji.
“Yang ada kuahnya itu serabi Solo, Ustadz.” Jawab Faraj sok tahu.
Saya hanya nyengir.
Selang beberapa lama, saat saya dan si Faraj sedang menikmati serabi. Tiba-tiba mobil berwarna putih berhenti di dekat tempat kami makan serabi.
“Itu kayanya Ummi, deh.” Ucap saya sambil menunjuk ke arah mobil.
Dan Faraj pun langsung mengikuti jari telunjuk saya,
“Iya, Ustadz, itu Ummi.”
Faraj langsung menghampiri umminya. Saya hanya berdiri dan menangkupkan kedua tangan di dada.
“Sudah sepedaan kemana aja, Ustadz?” Tanya Ummi Faraj.
“Baru sampai Pasar Wage.” Jawab saya sambil menyesap air putih  dalam gelas yang sedang saya pegang.

Faraj kembali duduk di sebelah saya, membiarkan umminya berdiri sambil menunggu pesanan serabinya, kemudian menyembunyikan segelas kopi yang tadi dia pesan haha, dia takut ketahuan umminya. Padahal sejak awal saya sudah bilang ndak usah minum kopi. Namun dia tetap pengen minum. Katanya sudah luamaaaa banget nggak minum kopi.

“Persis kayak bapak-bapak kalo Mas minum kopi.” Komentar saya saat Faraj memesan kopi.
Sepertinya memang sudah rizki saya pagi ini, ternyata serabi yang kami makan sudah dibayar oleh Ummi Faraj.
“Ustadz, serabinya udah dibayar ama Ummi.” Ucap Faraj sambil kembali menyesap kopi yang masih hangat.
“Kopinya juga?”
“Kayaknya belum.” Jawab Faraj.
Walhasil, saat kami mau membayar kopinya, ternyata kopi juga sudah dibayar ama umminya.

Segelas kopi itu pun tuntas dimulut Faraj, sambil sesekali ia merasai lidahnya yang kepanasan. Dan masalah umminya, saya juga ndak tahu apakah dia tahu bahwa sebenarnya yang memesan kopi itu Faraj. Yang jelas, Faraj sudah janji bahwa ini adalah kopi terakhir (udah kayak judul lagu aja deh lol).

Setelah selesai menikmati serabi, saya dan Faraj kembali melanjutkan perjalanan. Saya memakai sepedanya dan dia memakai sepeda saya (sepeda hasil minjem lebih tepatnya.). Saat sedang bersepeda, pandangan saya tertuju pada kelompok anak-anak SMP yang berpakaian super aneh itu, dengan make up yang super ancurrrr di wajah mereka. Sepertinya mereka LDK.
Orang-orang aneh :p
Saya memegang perut yang sakit karena tawa. Saya tertawa saat tahu bahwa beberapa orang yang memakai daster dan jilbab itu adalah laki-laki. Hadeuhhhh hancurrrr. Saya baru menyadari itu beberapa saat setelah lensa kamera saya mengabadikan mereka yang sedang berjalan berombongan. Si Faraj sudah lebih dulu menyadari hal itu. Aneh. J

Itulah cerita hari ini. Sepedaan tetap berjalan meski Akmal ndak ikut. Minggu depan saya bertekad akan berangkat lebih pagi lagi, demi menikmati gudeg asli yang sudah terlanjur membuat saya penasaran. #logout.