November 05, 2012

Malam Bina Iman dan Amal


Serius memperhatikan


Sabtu, 3 November 2012
Sore ini, sejak pukul 15.00 seluruh guru (laki-laki) berkumpul di masjid sekolah, kami akan mengikuti MABID (Malam Bina Iman dan Amal) yang merupakan salah satu program sekolah. Kami berkumpul di masjid, beri’tikaf di rumah Allah SWT, dan akan diisi dengan berbagai macam kegiatan yang bisa memberikan pencerahan pada diri, agar bisa menjadi lebih baik. Masing-masing dari guru akan melakukan muhasabah diri, tentang hidup yang selama ini telah dilalui.
16.00
Ustadz. Darsitun, selaku ketua pelaksana kegiatan MABID membuka acara dengan memberikan siraman rohani kepada seluruh rekan guru yang hadir. Kami mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh Ust. Darsitun. Setelah itu, masing-masing dari rekan guru senior dipersilahkan untuk share kisah perjalanan mereka sejak pertama kali mengabdikan diri di Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto, agar bisa diambil pelajaran bagi kami yang merupakan guru baru. Masing-masing dari mereka memiliki kisahnya tersendiri, ada suka, ada duka yang menemani perjalanan mereka mendidik putra-putri bangsa ini.
 Masih sok serius nih :p
Setelah serangkaian acara selesai, kami menyiapkan diri untuk Shalat Maghrib. Malam ini kami akan menghabiskan malam bersama di masjid sekolah. Setelah selesai melaksanakan shalat maghrib, kami dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dengan seorang guru pengampu untuk tadarus Al Qur’an. Saya mengampu beberapa rekan guru, menyimak mereka membaca Kalam Ilahi Rabbi. Semoga dengan kesederhanaan dan kebersamaan ini akan terjalin sebuah hubungan yang membuat kami semakin bersatu padu, membina anak didik agar bisa menjadi lebih baik.
 Tadarus Al Qur'an

Setelah selesai tadarus Al-Qur’an, kami melaksanakan shalat Isya berjama’ah, dilanjutkan dengan kultum dari salah satu rekan guru. Setelah kultum, kami makan malam bersama. Arhhhh kebersamaan ini sungguh bermakna. Saya merasakan ikatan kekeluargaan yang begitu erat yang ada antara satu sama lain. Kami adalah sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain, dengan berbagai macam ciri yang berbeda. Semua menjadi satu dan memiliki tujuan yang sama, yaitu mengabdikan diri menjadi pendidik yang baik agar meraih ridho Ilahi.
Mari Makan

 Setelah makan malam selesai, acara dilanjutkan dengan siraman rohani dari Ust. Nur Hamdan. Beliau menyampaikan materi yang berkaitan dengan tujuan kita hidup. Beliau menjelaskan bahwa tujuan kita hidup adalah beribadah kepada Allah SWT. Salah satu pengabdian diri pada Allah SWT adalah dengan menegakkan syiar Islam di permukaan bumi, agar setiap langkah kita tetap berada pada jalur yang diridhoi Allah SWT.
Saya terdiam, kemudian bertanya pada diri,
“Apa yang sudah saya lakukan pada Agama yang selama ini telah saya anut sejak lahir? Kontribusi apa yang telah saya berikan pada Islam?”
Selama ini, rasanya saya hanya menuliskan target-target pribadi, dan tidak pernah saya menuliskan target-target yang ingin saya capai untuk Agama Islam. Saya malu pada Allah SWT, yang selalu memberikan nikmat-Nya, meski saya kadang lupa pada kewajiban untuk menyebarkan Agama Islam.
Setelah materi dari Ust. Nur Hamdan, acara diakhiri dengan pembagian hadiah bagi peserta MABID yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang materi-materi yang sudah disampaikan. Setelah itu, kami dipersilahkan istirahat.

03.00
Kami sudah bangun dari lelap tidur, sudah siap dengan pakaian shalat masing-masing. Pagi ini, kami akan mendirikan shalat tahajud berjama’ah. Saya diamanahi untuk mengimami shalat tahajud. Ust. Darsitun bilang,
“Shalat malam kali ini harus lama, Imam harus membaca 1 Juz.”
Saya hanya tersenyum dan segera memulai shalat malam dengan membaca Takbiratul Ihram. Kami hanyut dalam kekhusyu’an masing-masing, berharap amal ibadah yang kami lakukan bisa diterima oleh Allah SWT.

 04.15
Kami mendirikan shalat subuh berjama’ah, dilanjutkan dengan kultum dari dua orang rekan guru. Kami kembali diberikan pencerahan dari materi-materi yang disampaikan oleh masing-masing pembicara.
05.00
Dan sekarang, tiba saatnya kami lari pagi bersama-sama, menggerakkan anggota badan agar bisa menghasilkan tetesan keringat dan membuat tubuh menjadi lebih sehat. Kami lari pagi bersama, menyapa pagi dengan kehangatan yang ada di antara kami. Saya sungguh bahagia menikmati serangkaian kebersamaan ini. Setelah selesai lari pagi, kami melanjutkan kebersamaan dengan bermain bola kaki di halaman sekolah. 
 Sedang menunggu bola jatuh haha

Permainan cukup sengit, hingga akhirnya saya masuk menjadi pengacau bagi masing-masing pihak haha. Saya tidak mengenal kawan dan lawan. Saya mengarahkan bola ke arah mana saja yang saya suka. Kadang kawan menjadi lawan, kadang lawan menjadi kawan.
“Ayo, bagi bolanya, kita kawan,” ucap saya sambil tertawa, kemudian diikuti dengan derai tawa yang lainnya.
“Saya sudah tidak percaya lagi,” ujar Ust. Masnun
“Menang kalah tidak penting, yang penting berkeringat,” jawab Ustadz. Darsitun.
Permainan berlangsung dengan sangat sempurna alias kacau, bola sudah melebihi batas halaman sekolah (sudah masuk ke bagian lantai) tapi tetap dikejar, tidak ada yang namanya out haha. Selagi masih bisa dijangkau, maka tetap masih dalam koridor haha. Yang lebih anehnya lagi, gawang dari masing-masing pihak sangat kecillll, lebar gawang tidak lebih dari satu meter lol. Meski gawangnya kecil, namun bola tetap bisa melesat dengan indah dan menembus pertahanan keeper.
 Tersenyum Bahagia karena kebersamaan

Setelah selesai bermain bola, kami sarapan bareng, kemudian baru kembali ke rumah masing-masing. Semoga kebersamaan ini tetap ada. Amin.
Saya rasa hal ini perlu dilakukan oleh masing-masing sekolah. Kegiatan MABID ini sungguh banyak sekali manfaatnya. Saya belajar untuk bisa lebih mengeratkan jalinan silaturahmi satu sama lain, saya belajar untuk lebih mengerti masing-masing rekan guru agar bisa lebih kompak dalam berjuang di dalam dunia pendidikan, saya belajar untuk lebih taat pada Allah SWT, dari nasehat-nasehat yang disampaikan oleh pemateri, dan saya juga belajar untuk terus bersyukur akan karunia yang Allah berikan. Semoga apa yang kami lakukan bisa menjadi amal ibadah yang bisa menjadi bekal kami menghadap Allah SWT. Amin

Pergilah, Nak



Jum’at, 19 Oktober 2012
Kematian memang misteri, tidak ada yang bisa memastikan kapan seseorang akan kembali ke sisi Allah SWT, Tuhan yang telah menciptakan semua yang ada. Kematian juga menghadirkan sungai yang dipenuhi oleh linangan air mata duka, duka karena kehilangan orang yang dicintai.

“Lantas, jika memang kematian sudah pasti terjadi, siapkah kita menghadapinya?”

Saya sendiri kerap terdiam jika ada yang mengajukan pertanyaan tentang itu. Saya masih merasa belum siap jika harus kembali ke sisi-Nya, sementara noda hitam memenuhi relung hati ini. Tapi, satu doa yang selalu saya panjatkan, semoga saya kembali ke sisi-Nya dalam keadaan husnul khotimah. Amin.

Kali ini, saya ingin menuliskan tentang salah satu murid saya, namanya “Nida Hasna Zain”. Saya memang tidak terlalu banyak tahu tentangnya. Saya juga tidak pernah mengajar di kelasnya. Saya juga tidak pernah berbicara langsung dengannya.

Nida menderita penyakit thalasemia sejak masih kecil. Jika melihat senyumnya, kalian tidak akan pernah mengira bahwa dia menderita satu penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya. Senyum yang terlukis indah di bibirnya menutupi segala rasa sakit yang ada pada dirinya. Itulah Nida, satu sosok yang tidak pernah berkeluh kesah tentang penyakitnya. Dia hanya berkeluh kesah pada orangtuanya dan Allah SWT, sebagai satu-satunya tempat untuk mencurahkan segala rasa yang ada di dada.

Saya tidak banyak tahu tentang thalasemia, saya mencoba untuk membaca beberapa keterangan mengenai penyakit ini, inilah yang saya dapatkan.

“Thalasemia memang merupakan salah satu penyakit menahun, yang diturunkan dalam keluarga, dan menyebabkan timbulnya anemia, mulai dari anemia ringan sampai berat. Anemia adalah kondisi di mana kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah dalam darah menurun. Hemoglobin berfungsi mengikat dan membawa oksigen ke seluruh tubuh.

Menurut dokter Zubairi Djoerban, spesialis penyakit dalam dan guru besar FKUI, pada penderita thalasemia terjadi perubahan atau mutasi gen, yaitu pembawa kode genetik untuk pembuatan hemoglobin. Akibatnya kualitas sel darah merah tidak baik dan tidak dapat bertahan hidup lama, tidak bisa bertahan sepanjang hidup sel darah merah normal. Manifestasi yang dirasakan pasien adalah cepat capai, terlebih bila naik tangga atau harus berjalan cepat, apalagi berlari.

Thalasemia memang diturunkan dari orangtua ke anaknya, baik laki-laki maupun perempuan. Bila gen penyebab thalasemia berasal dari kedua orangtua-nya (ayah dan ibu), maka seseorang dapat menderita thalasemia dengan manifestasi klinis sedang hingga berat.

Namun bila gen penyebab thalasemia hanya diturunkan dari salah satu orangtua, maka umumnya anak tersebut hanya menderita thalasemia dengan manifestasi klinis yang ringan, bahkan kadang tidak ada gejala klinis yang timbul. Orang dengan gen pembawa thalasemia namun tanpa gejala ini disebut pembawa sifat atau karier (carrier) thalasemia. Walaupun tanpa gejala, karier thalasemia tetap akan menurunkan gen pembawa sifat thalasemia ini pada keturunannya.”

Saya merinding membaca penjelasan di atas, terbayang di dalam benak saya bagaimana Nida berjuang untuk tetap bertahan hidup.

Nida tidak hanya dikenal sebagai anak yang tangguh, dia juga cerdas, dan sangat sabar. Dia bersabar dengan ujian demi ujian yang harus ia lewati di usianya yang masih muda. Dia bersabar dengan ujian yang Allah SWT berikan padanya, karena memang ujian demi ujian yang Allah berikan tentu mempunyai maksud tertentu. Allh SWT menginginkan hamba-Nya untuk lebih mendekatkan diri pada-Nya, dan Allah akan mengangkat derajat mereka yang bersabar dengan ujian yang Ia berikan.

Bagi Nida, sakit yang telah Allah berikan padanya tidak membuatnya lupa akan Tuhan. Karena dalam kondisi apa pun, Allah SWT harus tetap ada di dalam hati. Allah mempunyai rencana yang indah bagi setiap hamba-Nya. Maka dari itu, bagi Nida, senyum tetap harus ada, meski jalanan yang ia lalui terjal dan berliku.

Nida sempat tidak masuk sekolah dua bulan lamanya. Dia mengalami penurunan kesehatan yang cukup signifikan saat ia di kelas VIII. Saat itu, dia tidak bisa berjalan karena memiliki kadar zat besi yang berlebihan. Kadar zat besinya pernah mencapai 19000 dan membuatnya tak berdaya. Tapi bukan Nida namanya jika menyerah begitu saja, dia tetap tegar.

Sejak kelas IX, Nida tetap pergi ke sekolah, meski hanya dari pukul 08.00-12.00. Ia pernah memaksakan diri untuk mengikuti pelajaran sampai pukul 14.30, karena dia tidak ingin terlalu banyak ketinggalan pelajaran. Tapi, Nida hanya mampu bertahan beberapa hari saja, kemudian kesehatannya semakin menurun dan membuatnya tidak masuk sekolah selama dua minggu.

Nida adalah murid saya yang begitu tangguh. Saya sering melihat ia datang meski harus dibantu menuju ke kelas, saya kerap kali melihat wajahnya yang begitu tegar menjalani hidup yang penuh dengan berbagai macam cobaan. Ahh.. Nida, engkau begitu tegar, Nak.

Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Nida sempat berpesan kepada kedua orangtuanya, untuk menyampaikan permintaan maaf kepada teman-temannya di sekolah, dan juga rekan-rekan guru yang selama ini sudah mendidiknya dengan baik.

Nak, saya memang tidak sempat mengucapkan perpisahan, saya juga tidak sempat menjengukmu, saat engkau terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit. Akan tetapi, doa akan saya panjatkan pada Ilahi Rabbi, semoga engkau kembali pada-Nya dengan jiwa yang tenang.

Nida, rintik hujan membasahi semesta, saat pertama kali saya tahu bahwa engkau sudah pergi dan tidak akan kembali. Ada air mata yang menetes bersama tetesan air hujan yang jatuh membasahi bumi. Secepat itu kah engkau harus pergi, Nak?

Nida, pergilah, Nak. Jangan lagi engkau menoleh ke belakang, berjalanlah, melangkahlah dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan akan menempatkanmu di tempat yang layak di sisi-Nya.

“Aku tidak percaya,” teriakku pada malam yang dingin. Saya masih tidak percaya dengan kepergianmu, Nak. Namun, lagi-lagi hanya teriakan kosong yang bisa saya ucapkan.

Nida, begitu banyak orang-orang yang merasa kehilangan akan dirimu, Nak. Itu sebagai bukti bahwa engkau sudah menebar benih-benih kebaikan yang akan selalu tumbuh di hati mereka yang engkau tinggalkan.

Nak, langkahmu memang sudah berhenti sampai disini, tapi kenangan tentangmu akan abadi di hati kami.
Nida, jemari ini tetap merangkai kata untukmu, Nak. Kata-kata yang terangkai menjadi kalimat-kalimat yang bermakna, yang saya tulis untukmu. Meski saya tahu, engkau tidak akan pernah membaca apa yang saya tulis untukmu, Nak.

“Rintik hujan masih menitik perlahan, jatuh bersama tetesan air mata orang-orang yang mencintaimu, Nak. Pergilah, kami rela melepasmu. #Nida
“Pergilah, Nak. Jangan Engkau menoleh ke belakang, berbaringlah dengan damai di alam sana. Doa kami akan selalu menyertaimu. #Nida
"Aku tidak percaya," teriakku pada malam yang dingin, belum sempat kuucapkan kata perpisahan padamu, namun takdir memisahkan. #Nida
"Ini hanya mimpi," ucapku lirih pada angin yang berhembus. Nak, langkahmu memang berhenti sampai disini, namun kebaikanmu abadi. #Nida
“Kucoba untuk mengingat kembali raut wajahmu, wajah penuh semangat, berjuang menahan sakit yang diderita. Engkau sudah berusaha, Nak. #Nida
“Kucoba untuk merapal namamu di tengah malam yang gemerlap, "Nida", semua tentangmu akan selalu ada di langit hati kami. #Nida
“Pelangi hatiku, pergilah, Nak.....ada doa yang kami titipkan pada Allah tempatmu menuju. #Nida

Malam semakin larut, saya masih dengan duka yang menyelimuti hati. Baru kali ini saya merasakan kehilangan seorang murid, meski saya tidak terlalu banyak tahu tentangnya. Hati ini terasa tercabik-cabik, meronta, mencoba untuk menerima semua takdir yang sudah Allah gariskan. Tuhan, relakan hati ini menerima keputusan-Mu.