December 21, 2013

Bukan Sebuah Akhir


20 Desember 2013
Sejak pagi, hujan tetap menyatu dengan semesta, tak sedetik pun ia biarkan semesta hening tanpa rintiknya, ia tetap berjatuhan meski hanya rintik-rinik yang menyejukkan. Aku duduk di dalam kelas seorang diri, anak-anak sudah berlibur, tidak ada lagi kudengar suara tawa mereka di setiap pagiku, tidak lagi kulihat senyum bahagia di wajah mereka kala menjabat kedua tanganku, mereka semua sedang istirahat sejenak dari rutinitas yang mungkin saja menjenuhkan.

            Aku masih duduk seorang diri, ditemani semilir angin yang berhembus, dingin. Aku sedang menunggu kedatangan wali murid, hari ini adalah pembagian hasil perkembangan siswa selama semester satu. Tiap kali akan berhadapan dengan wali murid, kadang aku dihinggapi oleh gugup yang tidak kumengerti. Ini adalah amanah, tanggung jawab yang sejak awal harus siap kupikul, menyampaikan perkembangan siswa sejak awal semester yang lalu.

            Pukul setengah sembilan pagi, satu persatu wali murid datang, dengan semangat dan penuh suasana akrab, aku menyampaikan perkembangan masing-masing anak yang di kelasku. Bagiku, setiap anak adalah istimewa, yang harus dihargai, yang harus dimengerti. Aku tidak ingin melukai hati mereka. Aku mencintai mereka sejak pertama kali bertemu dengan mereka.

            Di samping mejaku, ada kado yang sesuai dengan jumlah anak yang ada di kelasku. Masing-masing dari mereka akan mendapatkan reward, tidak hanya yang juara saja, tapi semua akan mendapatkan penghargaan dariku. Tidak ada anak yang tidak istimewa bagiku, mereka istimewa dengan karunia yang sudah Tuhan tanam pada diri mereka masing-masing.
            “Semua anak dapat reward, Ustadz?” tanya seorang wali murid.
            “Iya, Buk. Bagi saya, setiap anak itu istimewa, Tuhan tidak pernah sia-sia dalam penciptaan-Nya.”
            “Anak saya pasti senang sekali, Ustadz. Terimasih sudah mendidik anak saya dengan baik, saya doakan semoga kebaikan selalu ada pada Ustadz.”
            “Amin.”

            Wali murid terus berdatangan, matahari masih malu-malu untuk bersinar, hujan masih saja dengan rinainya yang lembut. Setelah semuanya selesai, ingatanku kembali ke beberapa bulan yang lalu, saat pertama aku menjadi wali kelas mereka. Seorang wali murid datang menemuiku dengan mata yang berkaca-kaca. Kulihat air mata bahagia di ujung matanya yang merah. Sambil terbata-bata, ia berucap.
            “Terimakasih, Ustadz. Sekarang anak saya sudah semakin mandiri, dia sudah rajin shalat lima waktu, sudah rajin tadarus Al Quran. Saya sangat bahagia sekali, terimakasih sudah membimbing anak saya dengan baik.”
            “Sama-sama, Buk. Doakan semoga saya bisa mendidik dengan baik, dan bisa menjadi teladan yang baik bagi anak-anak.”
            “Amin.”
            Begitulah, setiap pertemuan dengan wali murid, selalu ada cerita baru yang kudengar, dan aku semakin bahagia, saat tahu mereka semakin lebih baik.
¤ 
            Hingga malam menjelang, hujan semakin menderas, beberapa anak sedang chatdenganku di jejaring sosial.
            “Terimakasih hadiahnya, ya, Ustad,” tulis Aldi dalam pesannya.
            “Iya, semoga bermanfaat, ya,” balasku.
            Tidak berapa lama kemudian, Anin juga mengirim pesan padaku.
            “Terimakasih, Ustadz.”
            “Untuk apa, Mas?”
            “Hadiahnya,” tulisnya beberapa detik kemudian.
            “Sama-sama, semoga bermanfaat.”
            Aku tersenyum, saat tahu apa yang kuberikan bisa membuat mereka bahagia, dan merasa dihargai.

            Laporan perkembangan Faris sudah berada di dalam tasku, aku sengaja memberikannya langsung ke rumahnya. Tadi pagi Ibunya tidak bisa mengambil ke sekolah, karna harus menemani Faris terapi di Rumah Sakit. Sejak kemarin aku tidak bisa menemui pahlawan kecilku, karna kesibukan yang tidak bisa kutinggalkan. Dan malam ini aku kembali menemuinya, melihat senyum bahagianya yang semakin merekah, ia semakin membaik dari hari ke hari, dan aku bahagia dengan semua itu.
            Faris sedang melihat-lihat nilai yang ada di raportnya, kemudian tersenyum padaku.

            “Ini hadiah buat Faris, karna sudah menjadi anak yang baik, semoga tetap menjadi anak yang baik, ya, anak yang berbakti kepada orang tua.”
            Dengan hati-hati, ia membuka bungkus kado pemberianku, kemudian tersenyum.
            “Ustadz, terimakasih, ya,” ucapnya sambil memerhatikan sebuah notebook bermotif batik yang ada di tangannya.

            Pahlawan kecilku tersenyum manis, tidak kulihat kesedihan di wajahnya, Tuhan memang Maha hebat dengan rencana-Nya, kini Faris sudah semakin kuat menjalani semua ini dengan baik, meski ini bukanlah sebuah akhir.

            “Ini untuk Ustadz,” tiba-tiba Faris memberiku sebuah kado berukuran sedang. Ia sengaja menyimpannya di belakang tubuhnya yang ringkih, dan aku tidak menyadari itu.
            “Ini beneran buat, Ustadz?” aku menggodanya.
            “Iya, tadi setelah terapi, mampir beli ini untuk Ustadz.” Tuturnya penuh semangat.
            “Boleh Ustadz buka?”

            Ia mengangguk, dan membiarkanku membuka bungkus kado yang ada di hadapanku. Sebuah kaos bergaris hitam putih, berukuran sedang dan pas dengan ukuranku menjadi sebuah persembahan dari Faris untukku. Aku tersenyum, kemudian memeluk erat tubuhnya.

            “Terimakasih, ya, Nak.”
            “Sama-sama, Ustadz. Aku juga terimakasih, karena Ustadz sudah menjagaku dengan baik. Aku selalu bahagia, tiap kali Ustadz datang menjengukku, meski kadang Ustadz capek dengan rutinitas. Maafkan Faris, ya, kalo selama ini sering buat Ustadz tambah lelah.”

            Ia membalas dekapanku erat, kulihat bulir-bulir bahagia di ujung sana, merembesi pertahananku yang bahagia dengan perkembangannya akhir-akhir ini. Ia semakin sehat dan bahagia.

            “Sama-sama, Nak, Ustadz bahagia bisa menjadi bagian dari perjuangan Faris. Faris adalah anak yang hebat, Allah sudah memberi Faris pelajaran hidup tentang indahnya sebuah kesabaran. Seperti yang selalu Ustadz bilang, Allah tidak pernah salah dalam rencana-Nya, Ia tahu mana yang terbaik untuk Faris. Faris sudah membuktikan pada semua orang, bahwa Faris bisa bertahan, meski perjalanan ini tidaklah mudah. Faris hebat. Faris sudah membuktikan pada Ibu, bahwa Faris bisa berjuang dan bangkit kembali.” Jawabku sambil mengelus rambutnya yang mulai panjang.

            Pahlawan kecilku mengangguk, memegang erat kedua tanganku, kemudian ia berbaring, mencoba untuk istirahat dari perjalanan hari yang kadang melelahkan. Kedua tanganku berada di dalam genggamannya, diletakkannya di samping pipi kirinya, ia memegang erat-erat, seolah tidak ingin membiarkanku pergi. Esok aku akan pergi ke Bali, dan aku akan merindukan pahlawan kecil yang sekarang sedang lelap dalam tidurnya. Ia terus lelap, dan semakin lelap.

Tidurlah, Nak
Hanyutlah dalam mimpimu
Ada syukur yang kupanjatkan pada Tuhan

            Ini bukanlah sebuah akhir, ada banyak lika-liku hidup yang mungkin akan ia hadapi, tapi aku selalu percaya dengan rencana-Nya, Ia Maha tahu, mana yang terbaik bagi hamba-Nya. Semoga pahlawan kecilku tetap sabar dalam menjalani hidup. Amin

Terimakasih, Tuhan, atas karunia yang telah Engkau berikan padaku
Terimakasihku atas pelajaran hidup yang Engkau ajarkan padaku
Aku bahagia bisa menjadi bagian dari perjuangan hebatnya
Terimakasih sudah memberiku hidup dengan penuh cinta
Salam cinta untukmu, Tuhan, dariku yang mencintai-Mu
¤ 

December 19, 2013

Dear Faris


16 Desember 2013
            “Malam ini Ustadz mencoba sesuatu yang belum pernah Ustadz coba sebelumnya,” aku memulai pertemuanku dengan sebuah cerita keisengan yang baru saja kulakukan selepas shalat isya tadi. Faris mendengarkan ceritaku sambil duduk dan memijat lembut kaki kanannya.

            “Emang Ustadz ngapain, tadi? Melamar anak gadis orang, ya?” tanyanya sambil tersenyum menggoda, kemudian tertawa kecil. Ia tahu tentang perjalanan kisah cintaku yang cukup rumit, dan ia suka menggodaku dengan berbagai macam pertanyaan tentang bahtera rumah tangga.
            “Itu mah nanti, belum sekarang. Yang ini beda, ini jauh lebih keren dari itu.”
            “Apaan emangnya?”
            “Mau tahu atau mau tahu banget?”
            Kami berdua pun terkekeh.
            “Jadi begini, tadi Ustadz ke kedai kopi, dengan penuh percaya diri Ustadz memesan segelas kecil kopi medan, dicampur dengan es, kemudian segelas besar air putih hangat. Faris, kan tahu, Ustadz paling tidak suka dengan yang namanya kopi. Nah, tadi itu minumnya rada aneh, setiap kali minum kopi, langsung dilanjutkan dengan minum air putih, bahkan hingga tetes terakhir pun, dilanjutkan dengan minum air putih. Yah, semacam menghilangkan rasa pahit dengan kemurnian air putih. Mungkin ini cara minum kopi edisi terbaru yang pernah ada.” Aku mengakhiri cerita, sambil gemes melihat Faris yang sok serius mendengarkan ceritaku, padahal dia sudah menahan tawa sejak tadi. Aku mencubit pipinya, dan tawanya pun lepas, seolah baru saja mendengar lelucon hebat.

            Sekarang giliran Faris yang bercerita. Aku pun berusaha menjadi pendengar yang baik. Air mukanya yang tadi ceria, tiba-tiba berubah menjadi sedikit lunglai. Ia menunduk, dan mencoba untuk memulai ceritanya. Aku tidak memintanya untuk bercerita, dia sendiri yang kemudian memulai ceritanya hari ini.

            “Pagi tadi aku muntah-muntah, Ustadz. Tapi sekarang udah, nggak. Aku masih sedikit sedih sekarang, soalnya tadi sore aku tiba-tiba kangen Bapak. Semua tentang Bapak tiba-tiba hadir kembali, makanya aku nangisnya lama.” Ia menutup ceritanya sambil menerawang, kemudian menyentuh lembut kaos putih oblong yang ia kenakan, karena itu adalah kaos yang biasa dipakai Bapaknya. Aku masih melihat kedua matanya yang sedikit memerah, mungkin itu karena tangisnya yang membuncah kala rindu semakin menyesakkan dada. Rindu memang kadang misteri, ia datang tiba-tiba, menyesakkan dada dan membuat yang rindu semakin gila karena rindu yang tak sanggup untuk berlabuh.

            “Nggak apa-apa, rindu itu pasti bakalan datang di waktu-waktu tertentu, lama-lama Faris juga terbiasa. Sekarang bagaimana caranya Faris bisa bertahan menahan itu semua, perbanyak dzikir pada Allah, ya, perbanyak doa, semoga Bapak bisa tenang di alam sana, meski sudah tidak bersama Faris lagi. Faris mau terus mendoakan Bapak, kan?”

            “Insya Allah, Ustadz.”

            Sambil menikmati sedapnya bebek goreng yang sengaja kupesan untuknya, kami bercerita tentang mimpi hidup kami masing-masing; aku berharap bisa segera menghajikan Bapak dan Ibu, sedangkan Faris berharap bisa segera kembali pulih, bisa berjalan seperti sedia kala. Hingga makan malam usai, kami masih melanjutkan cerita tentang harapan-harapan yang ingin kami capai, bukankah Tuhan Maha baik? Selagi kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh, Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik buat kita, bukan?

            “Begitu juga dengan usaha Faris untuk bisa jalan lagi, semuanya harus sungguh-sungguh. Ustadz senang melihat Faris sudah semangat belajar jalan lagi. Allah pasti bakalan memberikan yang terbaik, karena Faris juga sudah berusaha melakukan yang terbaik.” Aku memberinya semangat, sebelum menghantarkannya dalam dunia mimpinya.

Cahaya itu kembali menerangi gulita malam yang sempat menjadi duka perjuangan
Cahaya itu kembali hadir, menyemai semangat perjuangan yang sempat pergi menjauh
Cahaya itu kembali merengkuh rindu akan semangat perjuangan hebat yang pernah pergi
Ia kembali bersinar, dengan cahaya yang mulai menyinari pagi yang tersenyum pada dunia

Selamat pagi, mentariku
Sinarmu mulai menghangatkan hari-hariku
Senyummu mulai meneduhkan hatiku
Tawamu mulai mewarnai pagiku yang kadang mendung
Selamat pagi untukmu, Faris
Tetaplah bersinar, meski mendung kadang menyapa harimu
Tetaplah bersinar, meski hidup tak selamanya putih
Selamat pagi untukmu, anakku

Merinduimu


17 Desember 2013
Faris sedang menonton film 3 idiots yang ada di laptopku, aku sengaja membawa laptop dalam kunjunganku kali ini, karena kerap kali ia bosan dengan rutinitas kesehariannya. Cara ini cukup menghibur, ia menikmati sajian cerita yang ada di film. Kudengar tawanya berulang kali memecah kesunyian malam.

            “Filmnya keren, Ustadz.” Ucapnya sambil tersenyum.
            Ia membuka folder my pictures yang ada di laptopku, aku membiarkannya melihat koleksi gambar yang ada, sambil sesekali memijat pundaknya.
            “Ini foto Ustadz umur berapa?” tanyanya padaku, sambil menunjuk satu gambar yang begitu polos. Aku tersenyum.
            “Itu waktu Ustadz baru mulai kuliah, keren, kan?”
            “Rambutnya itu, loh, Ustadz. Super culun banget.”
            “Kayaknya Faris cocok jadi penata rambut profesional, deh. Yang dikomentarin rambut mulu, nggak lihat apa? Udah keren gitu, masih dibilang culun.”
            “Iya, deh, keren.”
            Kami berdua sama-sama tersenyum.
            Sebuah pesan masuk di handphone-ku, dan aku harus segera pulang. Ada pertemuan yang harus segera kuhadiri secara mendadak.
            “Faris….”
            “Iya, Ustadz, kenapa? Ustadz ada urusan, ya?”
            “Iya, jadi harus segera pulang, nggak apa-apa, kan?”
            Ia mengangguk, kemudian menutup laptop dan memasukkanya ke dalam tasku. Ia menjabat tanganku, menciumi punggungnya dalam jeda waktu yang cukup lama. Ia melakukan itu berulang kali.
            “Ustadz, terimakasih, ya, sudah menyayangiku sepenuh hati. Aku semakin semangat untuk sembuh.”
            “Iya, manusia hanya bisa berusaha semaksimal mungkin, kan? Selebihnya Allah yang menentukan. Makanya Faris nggak boleh nyerah lagi, harus tetap semangat latihan, tetap semangat ibadahnya, ya.”
            “Insya Allah, Ustadz.”

18 Desember 2013
Anak-anak sudah mulai libur, hanya kelas sembilan yang masih masuk sekolah, karena mengikuti try out ujian nasional. Aku mengawas di ruang tiga, sambil melanjutkan penulisan naskah buku terbaruku yang belum rampung. Aku tersenyum, saat melihat ada kirimancover buku dari penerbit. Dalam waktu dekat buku itu akan segera terbit. Akhir tahun ini kuakhiri dengan sebuah karya, semoga memberi manfaat kepada pembaca. Amin.

            Ustadz Rizky, bendahara sekolah sedang bergegas menuju ke Bank, untuk menukarkan uang infaq anak-anak selama empat hari kemarin. Aku tersenyum bahagia, ada banyak orang yang begitu peduli dengan kondisi pahlawan kecilku, ia pun tahu, ada banyak orang yang begitu menyayanginya. Tidak hanya anak-anak di sekolah, ada banyak orang yang juga ikut membantu pengumpulan dana untuk biaya pengobatan Faris. Semoga kebaikan selalu menyertai mereka semua. Terimakasih, Tuhan.

            Lepas dzuhur, setelah mengikuti rapat Guru, aku dan beberapa rekan Guru pergi berkunjung ke rumah pahlawan kecilku. Kurang lebih dua puluh orang Guru yang bisa ikut serta dalam kunjungan kali ini. Kulihat mendung membungkus siang, dan tidak lama kemudian hujan pun turun, membasahi semesta. Akhir-akhir ini cuaca memang susah untuk ditebak, seperti siang ini, tiba-tiba mendung, kemudian turun hujan. Aku berlindung di depan lobi sekolah, menunggu hujan sedikit mereda. Aku lupa membawa jas hujan. Beberapa Guru sudah siap dengan jas hujan masing-masing.

            Hujan sedikit mereda, Faris pasti sudah menunggu sejak tadi. Aku tidak ingin membuatnya menunggu terlalu lama. Segera kutempuh perjalanan, meski hujan membasahi tubuh. Tak mengapa, aku tidak ingin pahlawan kecilku kecewa, karna aku sudah janji akan menjenguknya bersama beberapa rekan Guru yang lain. Bukankah menunggu adalah sesuatu yang membosankan?

            Rumah Faris sudah disulap sedemikian rupa, aku jadi tak enak hati, telah merepotkan tuan rumah. Kulihat aneka makanan sudah tersedia di ruang tamu. Beberapa kursi juga sudah berjejer rapi di teras rumah. Ada Ibu dan Bulenya Faris yang menyambut kedatangan kami. Kami dipersilahkan masuk, langsung menemui Faris yang sedang duduk di pinggir ranjang.

            Kulihat segurat senyumnya yang mengembang, ia bahagia bisa menumpahkan kerinduannya akan mereka, para Guru yang selama ini ia puja.

            “Ustadz keringetan sampe basah gitu?” tanya Faris sambil menjabat tangan para Guru. Aku duduk sedikit jauh darinya, membiarkan yang lain berbaur di dekat pahlawan kecilku. Aku sudah hampir tiap hari bersamanya, aku ingin memberi kesempatan Faris untuk bercengkerama dengan yang lain. Aku yakin ia sudah menahan rindu sejak lama.

            “Tadi Ustadz kehujanan, biasalah, lagi kangen dengan masa kanak-kanak, mandi hujan gitu.” Selorohku sekenanya. Aku mencandainya, kemudian membagikan air minum yang sudah disiapkan. Aku menyandarkan diri di kursi yang ada di pojok kanan, diam-diam memerhatikan mimik wajah pahlawan kecilku yang sedang berbunga. Bahagia itu sederhana, sesederhana pertemuan kali ini, saat ia tahu ada banyak cinta yang mengelilinginya.

            Sayup-sayup kudengar perbincangannya dengan para Guru, ia bercerita tentang kesehariannya selama ini, dan kulihat jelas raut wajah para Guru yang penuh iba akan kondisi yang ia alami.

            “Ustadz, kok duduknya jauh, sini,” ia memintaku untuk mendekat.
            “Baju Ustadz basah, bahu keringat juga.” Aku berkilah. Aku hanya tidak ingin jika perhatiannya terpusat kepadaku, biarlah ia merasakan cinta dari mereka yang selama ini ia rindukan.

            Hujan masih tetap dengan keindahannya. Aku suka berlama-lama menatap hujan yang berjatuhan, mengenang masa kecilku yang indah; saat dengan riangnya aku berlari di belakang Bapak, menikmati rintiknya, menuju pondokan yang ada di pinggir sawah. Hujan kadang juga mengingatkanku akan Kakek, laki-laki berusia senja yang penuh sabar mengajariku betapa hidup harus penuh syukur.

            “Bahkan banjir karna hujan lebat ini harus disyukuri,” ucap Kakek di suatu senja, saat melihat berita tentang Jakarta yang lumpuh total karena banjir.
            “Kenapa harus disyukuri, Kek?”
            “Karena ini pembelajaran bagi manusia, agar tetap melestarikan lingkungan, agar semua bisa kembali ke fungsinya masing-masing. Manusia kadang serakah, menebang pohon seenaknya, membuang sampah sesuka hati, dan lupa akan dampaknya.”

            Begitulah ia, laki-laki senja yang setiap hari selalu kurindukan. Akhir-akhir ini ia sering sakit-sakitan. Aku masih ingat dengan pesannya sebelum aku kembali ke perantauan.

            “Jika Kakek meninggal, kamu nggak usah pulang, biarkan Kakek istirahat dengan damai. Yang penting terus bantu Kakek dengan doa. Kakek bahagia mempunyai cucu yang shaleh. Jangan pernah khawatir, rencana Tuhan tidak pernah salah. Jika memang sudah waktunya, Kakek akan selalu siap untuk kembali ke sisi-Nya.” Ia memelukku, kemudian melepas kepergianku dengan tangis. Bahkan hingga malam menjelang, ia masih dengan isak tangisnya. Ibu memberitahuku tentang itu. Ia begitu menyayangiku.

            Tiba-tiba aku dikagetkan dengan sebuah suara yang sudah kuhapal dengan baik.

            “Ustadz….Ustadz…”

            Dengan sedikit terbata aku menjawab

            “I…ya, Nak,” kemudian berusaha untuk menghilangkan rasa kaget dari diri. Aku berusaha menguasai diri, setelah hanyut akan kenangan tentang masa lalu yang sempat kurindukan.

            “Ustadz-ustadz udah mau pulang.” Faris memberitahuku.

            Sebelum pulang, Ustadz Mustamim, selaku pihak manajemen sekolah sudah memberikan uang sumbangan anak-anak ke Ibunya Faris. Mereka pun pamit pulang, hanya aku sendiri yang masih menemani Faris.

            “Ustadz juga langsung pulang, ya,”

            “Jangan dulu, Ustadz, masa langsung sepi,” ucap Faris sambil tersenyum. Aku tidak tahan melihat garis senyumnya dan tidak tahan jika menolak keinginannya. Aku duduk di sampingnya, mengusap pundaknya.

            “Dua hari lagi Ustadz harus ke Bali, semua sudah siap. Jadi Ustadz nggak bisa nemenin Faris.

            “Sampai kapan di Bali?”

            “Sampai tanggal 29, kemudian tinggal di Jogja sampai tanggal 30. Awal tahun baru kembali lagi kesini, dan baru bisa jenguk Faris lagi, nggak apa-apa, kan? Faris mau minta apa oleh-olehnya?”

            “Faris nggak minta apa-apa, Ustadz bisa kembali dan menemani Faris aja udah cukup. Faris udah bahagia dengan itu.”

            Aku mendekapnya, kemudian mengelus keningnya.

            “Kamu yang semangat, ya. Jumat mau terapi, kan? Harus tetap semangat.”
            “Insya Allah, Ustadz.”

            Aku pun undur diri, meninggalkan secercah harapan yang semakin terang. Aku melihat Faris sudah semakin kuat dengan perjuangannya. Semoga ia baik-baik saja, Tuhan.

October 28, 2013

Bersabar Dalam Penantian

 
Saya mengajar di sekolah yang sebagian besar guru-gurunya adalah mereka yang belum menikah. Kalian bisa bayangkan ada berapa banyak rekan kerja saya yang juga belum menikah. Ada salah satu program sekolah untuk meningkatkan pemahaman para guru dalam hal ketaatan kepada Allah Swt. Program itu adalah halaqah. Satu pekan sekali, kami dibagi dalam beberapa kelompok kecil; ada seorang musyrif (ketua kelompok), ada seorang mu’allim (pemateri) dan beberapa guru sebagai anggota.
            Beberapa semester sebelumnya, saya selalu digabungkan dengan kelompok guru-guru yang masih bujangan, dan itu sukses membuat kelompok saya itu sebagai kelompok paling sering galau karena sering dijadikan bahan candaan para mu’allim dan rekan lain yang sudah menikah. Kadang saya bercanda dengan teman-teman satu kelompok, “kayaknya kita memang sengaja dijadikan satu kelompok, biar galau berjamaah”. Candaan saya diikuti oleh derai tawa semua yang hadir.
            Ada salah satu mu’allim yang cukup terkenal dengan guyonannya yang selalu mengarah ke arah pernikahan. Saya tidak tahu apakah ini adalah titipan dari pihak lembaga agar kami segera menikah, atau memang inisiatif beliau agar kami segera mengakhiri masa lajang ini. Yang jelas, materi apapun yang beliau sampaikan, semua pasti lari ke pernikahan. Entah bagaimana ceritanya beliau bisa menyangkutpautkan berbagai macam materi ke tentang pernikahan.
            Contohnya, saat kami sedang membahas tentang shalat, beliau selalu bilang, “kalo sudah menikah itu bangun malam jadi nikmat. Bangun malam jadi lebih semangat, karena bisa shalat malam berjamaah bersama dengan istri. Merangkai doa-doa yang diaminkan oleh istri dan para malaikat. Bukankah indah bisa beribadah bersama dengan seseorang yang kita cinta?”
            Jika sudah begitu, kami hanya bisa tersenyum dan kadang diikuti oleh tawa dari yang lain. Beliau selalu menyampaikan materi yang kadang membuat saya bertanya, “apa tidak ada materi lain selain membahas pernikahan?” saya bisa pastikan dari seratus persen yang beliau sampaikan, hanya 40 atau 50% tentang materi utama, selebihnya lebih banyak membahas tentang pernikahan. Seru? Terkadang ia, terutama bagi mereka yang memang sudah ingin menikah, tapi belum bertemu jodoh.
            Awalnya saya menganggap semua itu omong kosong, karena saya merasa tidak banyak mendapatkan pengetahuan baru dari materi-materi yang disampaikan, hingga akhirnya di beberapa pertemuan terakhir halaqah kami, ada beberapa guru yang akhirnya memutuskan untuk segera menikah.
            Saya iseng bertanya akan motivasi terbesar mereka menikah. Dan ternyata, salah satu motivasi mereka menikah adalah dari Sang Guru yang selalu membahas tentang pernikahan saat proses halaqah sedang berlangsung. Bagaimana dengan saya? Apakah pada akhirnya saya termotivasi juga untuk segera menikah? Iya, meski pada awalnya saya merasakan jenuh yang luar biasa dengan materi yang itu-itu saja.
            Pada suatu kesempatan, mu’allim tidak bisa hadir untuk memberi materi di kelompok halaqah kami. Jadilah kami sekelompok pria lajang yang curhat satu sama lain. Oh iya, kalian jangan tanya siapa yang paling semangat curhat dari sekian guru yang ada, karena jawabannya pasti saya. Bakat iseng saya memang super, tapi kalau ditanya balik bisanya cuma senyum-senyum nggak jelas, kemudian menjawab singkat, “Insya Allah segera”.
            Kami berbargi cerita satu sama lain tentang alasan masing-masing, mengapa masih memilih untuk sendiri. Ada beberapa teman yang ternyata sudah sejak lama ingin menikah, umur mereka sudah hampir tiga puluh tahunan, bahkan ada yang sudah lebih dari tiga puluh tahun.
            “Sebenarnya saya sudah lama ingin menikah, tapi belum ada calonnya,” ujar salah seorang rekan guru.
            Suasana mendadak hening dengan pikiran masing-masing. Mungkin semua sedang berpikir bagaimana caranya teman yang satu ini bisa segera mendapatkan jodohnya. Eh, jangankan mencarikan dia pasangan hidup, kami saja masih belum punya (malah curhat).
 “Antum sendiri kenapa belum menikah, Ustad?” saya cuma bisa senyum-senyum sendiri saat pertanyaan itu ditanya balik.
Saya suka membantu teman-teman yang ingin segera menikah, saya berusaha untuk mencarikan mereka pasangan. Tapi sampai hari ini masih belum pernah ada yang berhasil saya jodohkan, karena memang semua itu adalah rahasia Allah Swt. Saya hanya sekedar berusaha. Saya pernah beberapa kali memperkenalkan teman saya dengan akhwat yang juga ingin segera menikah, tapi semuanya gagal dengan alasan masing-masing.
Bagaimana dengan saya? Mengapa saya tidak berusaha mencari jodoh untuk diri sendiri, malah sibuk mencarikan jodoh untuk orang lain? Tenang, tidak usah khawatir. Sekarang saya juga sedang berproses ke arah sana.
Ada satu hal yang selalu menjadi kekhawatiran teman-teman yang usianya sudah lebih berumur dari saya. Kekhawatiran mereka kadang membuat hidup menjadi tidak nyaman; resah, gelisah. Ditambah lagi dengan pandangan masyarakat kita yang kadang membuat mereka semakin gelisah akan jodoh yang tak kunjung datang.
Saya selalu berpesan kepada sahabat saya, agar mereka tidak menjadikan itu beban pikiran yang membuat keadaan menjadi tidak nyaman. Jalani semuanya sebaik mungkin, berusaha, kemudian diiringi doa kepada Dia yang Mahacinta. Percayalah, bahwa jodoh itu sudah Allah gariskan dalam perjalanan hidup kita.
Biasanya, masalah usia adalah bagian kekhawatiran terbesar dari para perempuan. Ada banyak perempuan yang khawatir dan gelisah karena usianya sudah lebih dari 30 tahun, atau bahkan sudah memasuki umur kepala empat dan masih belum menemukan pasangan hidupnya. Bahkan ada yang sampai putus asa karena merasa terlambat mendapatkan jodohnya.
Saudariku, tidak ada kata terlambat untuk menikah, berapapun usiamu. Ada banyak orang yang menikah di atas umur 30, bahkan di atas umur 40 tahun. Tidak perlu gelisah dan resah karena jodoh tak kunjung datang. Gelisah dan resah tidak akan merubah semuanya, bukan? Jadi untuk apa gelisah. Jalani kehidupan sebaik mungkin, seringlah mengadu kepada Allah Swt. dalam shalat malammu. Sampaikan keinginanmu untuk segera menikah. Bersabarlah, karena kesabaran akan mengajarkanmu tentang indahnya hidup. Gelisahmu tidak akan menyelesaikan permasalahan, saudariku.
            “Siapa yang membiasakan bersabar maka Allah memberikan kesabaran kepadanya. Dan tidaklah seseorang diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih luas melebihi kesabaran” (Muttafaq ‘alaih)
            Percayalah, Allah Swt. sedang mempersiapkan seseorang yang akan menjadi pendampingmu, teruslah memperbaiki diri, jangan hanyut dalam kegelisahan dan resahmu. Buang semua itu jauh-jauh dari benakmu, yakinkan dalam diri bahwa Allah Swt. Tidak akan pernah mengingkari janji-Nya, bahwa setiap orang akan mendapatkan pasangannya (jodohnya).

October 27, 2013

Diakah Jodohku?

Suatu ketika, ada seseorang yang menghampiri saya, mengajak saya berbincang di salah satu pojok masjid. Kebetulan saat itu saya baru selesai mengimami shalat maghrib di masjid. Beliau adalah salah satu guru saya, yang selama ini membimbing saya menghafal Al Quran. Beliau tersenyum, mengucap salam dan menjabat tangan saya hangat. Saya tersenyum, dan menjawab salamnya.
            Berbicara dengan seorang guru, kadang membuat saya dag dig dug nggak jelas. Saya merasa ada sesuatu yang akan beliau bicarakan. Tidak biasanya beliau mengajak saya berbicara secara pribadi. Biasanya kami hanya berbincang sebentar selepas shalat, itu pun hanya bertanya kabar. Selebihnya bisa dibilang jarang terjadi perbincangan secara khusus.
            Beliau memulai perbincangan.
            “Umur antum sudah berapa, Ustaz?” saya memang biasanya dipanggil ustaz baik oleh anak-anak di sekolah, maupun jamaah di masjid.
            “Saya sudah 22 tahun, Ustaz.”
            “Sudah ada rencana untuk menikah?”
            Saya terdiam. Saya sama sekali tidak pernah mengira bahwa pertemuan sore itu akan berbicara tentang pernikahan. Saya baru saja lulus kuliah, baru saja mengabdikan diri di dunia pendidikan, dan sekarang ditanya tentang “pernikahan”. Meski saya tahu, kesiapan seseorang dalam hal membina rumah tangga bukanlah tergantung berapa usianya, atau apa pekerjaannya. Tapi lebih kepada kesiapan mental, dan memahami bahwa pernikahan adalah bagian dari beribadah kepada Allah Swt.
            “Saya masih mau kuliah dulu, Ustaz.” Saya menjawab pertanyaan beliau sambil tersenyum.
            “Jadi begini, saya mempunyai seorang adik perempuan. Dia adalah seorang janda dengan dua orang anak. Sebelumnya dia menikah dengan seorang kiyai, tapi suaminya sekarang sudah meninggal. Dia alumni pesantren, dia juga sama dengan antum, hafal Al Quran. Kedua anaknya berulang kali menanyakan kapan ia akan menikah, keduanya ingin memiliki seorang ayah.” Beliau berhenti sejenak, mengambil nafas, kemudian melanjutkan ucapannya.
            “Sebenarnya ada seseorang yang mencoba untuk mendekatinya, tapi dia bukanlah orang yang shaleh. Dia hanya menjadikan harta sebagai pemicu untuk menikahi adik saya. Saya ingin adik saya mendapatkan seorang suami yang shaleh, karena ini adalah amanah. Amanah untuk menjaga seorang janda, dan anak-anak yang masih perlu kehadiran sosok ayah.” Beliau berhenti lagi, mengambil nafas.
            “Apakah antum mau menikah dengan adik saya?”
            Saya sedikit terkejut dengan pertanyaan ini. Degup jantung saya tidak menentu, karena tidak siap dengan pertanyaan ini.
            “Antum tidak harus menjawabnya sekarang, Ustaz. Silahkan pikirkan terlebih dahulu.”
            Saya mencoba untuk tetap terlihat tenang. Keringat dingin membasahi kening saya. Beberapa saat kemudian barulah saya bisa menjawab.
            “Saya belum ada rencana untuk menikah, Ustaz. Saya masih mau melanjutkan pendidikan saya. Saya tidak ingin nantinya mengabaikan anak dan istri hanya karena alasan kuliah. Jadi saya memilih untuk menyelesaikan studi terlebih dahulu, baru kemudian menikah.”    
            “Sebentar lagi adik saya datang ke rumah. Dia akan ke makam mendiang suaminya, mau ziarah kesana. Jika antum berkenan, silahkan datang ke rumah, berkenalan dengan adik saya. Siapa tahu nanti Allah beri kesiapan untuk menikah.” Beliau menjelaskan lebih lanjut.
            Entah apa yang ada di dalam benak saya, tiba-tiba ada sebuah keinginan untuk bertemu dengan adik beliau, ingin mengenalnya secara langsung, meski pada awalnya saya ragu. Tapi pada akhirnya saya mempunyai sebuah keberanian untuk bertemu dengan adik beliau.
            Selepas halat isya berjamaah, saya ikut dengan beliau pulang ke rumahnya. Saya disuruh menunggu sejenak di teras depan rumah, kemudian baru dipersilahkan masuk. Degup jantung saya semakin tidak menentu, keringat saya bercucuran, membasahi kemeja yang saya kenakan. Saya tidak sempat mengganti pakaian, masih dengan sarung dan kemeja lengan panjang berwarna biru.
            Saya duduk di kursi tamu, berhadapan dengan adik beliau. Saya diberi kesempatan oleh beliau untuk berbincang sebentar. Saya tidak tahu harus memulai dari mana, tapi akhirnya Allah memberikan keberanian pada saya untuk memulai perbincangan. Saya memperkenalkan diri terlebih dahulu, menceritakan latar belakang saya, dan berlanjut begitu saja. Semuanya mengalir dengan tenang. Tidak ada lagi detak jantung yang membuat saya gelisah.
            Saat kami sedang berbincang, saling mengenal satu sama lain, kedua anaknya datang menghampiri. Keduanya menjabat tangan saya, dan menyebutkan nama masing-masing. Saya tersenyum menatap wajah kedua malaikat itu. Dari pertemuanku dengannya, saya tahu bahwa dia adalah seorang perempuan yang mempunyai agama dan berakhlak baik. Dia adalah seorang perempuan yang hafal Al Quran dan mengabdikan dirinya untuk melahirkan generasi Qurani, generasi yang cinta akan Al Quran. Dia menerima beberapa santriwati di rumahnya, diajarkan baca Al Quran dengan baik dan benar, kemudian menghafal Al Quran. Sudah beberapa santriwati yang berhasil menghafal Al Quran dalam bimbingannya. Ada rasa kagum yang menyeruak di dalam hati, kemudian merangkai doa semoga dia adalah jodohku.
            Saya pamit ulang, kemudian langsung menelpon kedua orangtua di kampung halaman. Saya menceritakan apa yang baru saja saya alami kepada Ibu. Beliau adalah seorang Ibu yang selalu mau mendengarkan keluh kesah saya. Ada ketenangan tiap kali mendengar suaranya di ujung sana. Beliau tidak melarang, tidak pula menyuruh. Beliau mempersilahkan saya untuk menentukan pilihan. Karena bagi Ibu, saya bukanlah anak kecil lagi. Seharusnya saya sudah bisa memilih mana yang baik untuk kehidupan saya. Tapi bagaimana dengan bapak? Saya tahu bapak sedikit sensitif dengan permasalahan ini. Bapak tidak setuju jika saya memilih menikah dengan seorang janda. Meski bapak tidak marah sama sekali, hanya saja dengan bahasa yang lembut, saya mengerti sebenarnya bapak keberatan jika saya harus menikah dengan seorang janda beranak dua.
            “Itu pendapat bapak, selebihnya kamu yang menentukan, karena yang akan menjalani adalah kamu sendiri, bukan bapak.” Bapak mengakhiri telephone.
            Saya bersandar di atas ranjang, kemudian mencoba untuk kembali berpikir. Benarkah dia jodohku? Seseorang yang telah Allah janjikan untukku? Seseorang yang akan menjadi pendamping hidupku? Dia adalah seorang wanita shalehah. Wanita seperti apa lagi yang ingin kucari? Bukankah wanita shalehah adalah dambaan setiap laki-laki?
            Tidak mudah bagi saya untuk membuat keputusan. Dalam shalat malam, saya menengadahkan kedua tangan di hadapan-Nya, memohon petunjuknya, memohon ketenangan pada jiwa ini. Saya tidak ingin terus dihantui oleh keraguan.
Ya Allah, jika dia adalah wanita yang Engkau janjikan untukku, maka persatukanlah kami.
Jika ia adalah jodohku, maka beri aku keberanian untuk menjalani semua ini
Setelah beberapa kali shalat istikharah, saya tidak lagi menemukan nama itu di dalam hati. Saya tidak lagi seyakin sebelumnya dengan pilihan yang akan saya ambil. Akhirnya saya memilih untuk tidak melanjutkan ke jenjang selanjutnya, hanya sebatas perkenalan saja.
Mungkin dia memang bukan jodoh saya.
            Beberapa bulan kemudian, saya mendapat kabar bahwa dia menikah dengan seorang kiyai. Saya mengucap syukur, meski dia tidak jadi menikah dengan saya, tapi dia berada di tangan yang tepat. Dia menjadi pendamping hidup seseorang yang shaleh. Semoga dia bahagia menjalani kehidupan bersama laki-laki yang telah Allah pilihkan untuknya.
            Sahabatku, kita bisa mengambil pelajaran dari kisah saya ini, bahwa rencana Allah Swt. tidak bisa kita ketahui. Jangan pernah putus asa mencari pasangan hidupmu. Mantapkan hati untuk mencari pendamping hidup yang shaleh/shalehah. Percayalah, Allah Swt. sedang menyiapkan seseorang sebagai pendamping hidupmu. Tak perlu engkau risau karena jodoh tak kunjung hadir, teruslah berusaha. Kesabaran selalu memberikan buah yang manis, bukan? Sabar bukan berarti berdiam diri, kamu harus berusaha mencari pasangan hidupmu, carilah sesuai dengan yang telah Allah tentukan. Jangan galau, karena kegalauan tidak akan menyelesaikan masalah. Percayalah dengan janji Allah Swt. Ketika kita percaya kepada-Nya, disanalah letak ketenangan hidup. Karena kita hidup bernaung pada Dia yang segala Maha. Bukankah jodoh sudah diatur oleh-Nya? Jadi apalagi yang engkau ragukan?