January 29, 2013

#LoveAction #Purwokerto: Panti Asuhan Ikhsanuddin


Hallo kakak-kakak Fasil..
Melanjutkan Informasi sebelumnya tentang #NextAction kita yang di beri title #LoveActions di kota-kota di indonesia.
#LoveActions adalah Aksi berbagi kasih sayang kepada Anak-anak panti asuhan. Berbagi cerita, berbagi keceriaan juga canda tawa, berbagi pelukan, berbagi semangat, berbagi rejeki, dan berbagi semua yang positif.
Melihat orang lain tersenyum karena kita, tentu memiliki kebahagiaan tersendiri. Saling berbagi kepada mereka yang membutuhkan uluran tangan kita, tentu memiliki kesan tersendiri dalam hidup kita. Bisa berbagi bahagia bersama mereka yang tidak seberuntung kita, merupakan pekerjaan yang sangat mulia.
Untuk itu, kali ini @BFLActPrwokerto akan mengadakan kegiatan #LoveAction, yaitu membantu saudara-saudara kita yang berada di panti asuhan. Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 17 Februari 2013 serentak di 9 kota di seluruh Indonesia :D
Kali ini, yang menjadi tujuan tempat #LoveAction kita adalah Panti Asuhan Ikhsanuddin yang berada di belakang RS Ortophedi Berkoh Purwokerto, letaknya disebelah sekolah An-Nida.
Melihat kondisi panti yang sangat memprihatinkan, mengetuk hati kami untuk mengumpulkan bantuan bagi mereka. Sedikit dari kita, tentu sangat berarti bagi mereka.
Panti Asuhan Ikhsanuddin merupakan sebuah panti yang menampung anak yatim, piatu, dan dhu’afa. Disana terdapat 21 anak dan hanya memiliki lima buah kamar berukuran sederhana dengan tempat tidur yang sangat sederhana.
Kamar mereka bahkan jauh dari kata layak huni, kasur yang sudah mulai berlubang, tempat tidur yang sudah reot, dan meja belajar yang sempit. Di kamar itulah mereka tinggal.
Dengan kondisi panti yang sudah sangat memprihatinkan dan jauh dari kesan layak huni.  Mereka memerlukan uluran tangan para dermawan yang ingin berbagi.
Bantuan yang dibutuhkan oleh Panti Ikhsanuddin, antara lain:
  • Sembako
  • Meja Belajar
  • Kasur
  • 1 Sepeda untuk sekolah
  • Buku Bacaan
  • Baju layak pakai
  • Dan dana untuk operasional panti

Bagi kakak fasil yang ingin ikut membantu Panti Asuhan Ikhsanuddin, dapat menghubungi kakak @ariansilencer (Arian Sahidi 085289464322)
Dan Bantuan berupa dana dapat di transfer melalui rekening:

Bank Mandiri

9000040532815 a.n Arian Sahidi

(setelah transfer harap konfirmasi ke 085289464322)

Terima kasih kakak Fasil, sekecil apapun bantuan yang kalian berikan untuk adik-adik kita di Panti Asuhan Ikhsanuddin sangat berarti untuk mereka.
Semoga Allah membalas semua kebaikan Kakak Fasil. Aaamiinn.. :)
 Salam,
@BFLActPrwokerto #LoveAction

January 27, 2013

Launching Catatan Hati Sang Guru

           
 25 Januari 2013
            Hari ini adalah hari bersejarah dalam hidup saya, karena hari ini adalah kali pertama saya mengadakan launching buku. Sebelumnya, saya memang sudah pernah menerbitkan buku, tapi tidak pernah dibuat acara launching. Dan hari ini, dengan penuh deg-degan nggak jelas sejak beberapa hari sebelum launching, saya duduk manis di depan panggung, menunggu saatnya moderator memanggil nama saya untuk maju ke panggung dan memulai talk show.
            Launching buku saya yang berjudul “Catatan Hati Sang Guru”, diawali dengan sambutan kepala sekolah SMP Al Irsyad Purwokerto, kemudian pembacaan puisi yang berjudul “Bait-bait rasa” yang merupakan sebuah puisi yang saya tulis khusus buat murid-murid yang selama ini sudah hadir di dalam hidup saya. Puisi itu masuk dalam buku CHSG. Puisi itu sengaja saya buat, sebagai ungkapan bahwa saya bahagia bersama mereka.
            Saya sempat meneteskan air mata, saat anak-anak membacakan puisi itu di atas panggung. Sungguh sangat menyentuh. Mereka membacanya dengan penuh penghayatan, saya sungguh merasa tersanjung dan semakin cinta pada mereka. Terimakasih Tuhan.
            Sedari pagi, saya sudah bingung alias galau. Dimulai dari memilih kemeja mana yang akan saya pakai saat launching (halah, kayak punya kemeja banyak aja haha), kemudian penyakit nervous yang sudah mendarah daging itu tetep aja ada. Sebelum launching, saya bolak-balik ke kamar mandi, bertapa sebentar, kemudian baru balik lagi ke tempat yang sudah disediakan panitia. Kamar mandi memang tempat mujarab menghilangkan nervous, dari dulu saya sering menjadikan kamar mandi tempat untuk menghilangkan nervous (aneh, kan?).
            Setelah rangkai pembukaan selesai, saya diminta naik ke atas panggung. Saya berjalan sambil tersenyum menatap murid-murid saya yang duduk manis di depan panggung, guru-guru yang juga duduk rapi di barisan depan. Ah Tuhan, beri saya kepercayaan diri yang lebih, meski hanya untuk hari ini saja (doa dalam hati pas baru duduk di kursi yang ada di panggung) itu saking nggak pede-nya. Tepuk tangan riuh renyah memenuhi segala penjuru, saya tersenyum menatap mereka, kemudian duduk manis di atas panggung.

            Nah, talk show pun dimulai, saya diminta menceritakan proses menulis buku Catatan Hati Sang Guru, ditanya banyak hal; kapan mulai menulis? Buku apa saja yang sudah diterbitkan, pengalaman-pengalaman selama menulis, penulis favorit, Dan lain-lain. Intinya saya ditanya seabrek pertanyaan dan membuat saya jadi lebih santai. Seiring berjalannya waktu, saya sudah tidak lagi nervous berbicara di hadapan semua yang hadir. Saya sudah mulai menguasai panggung.
            Hari ini, tidak hanya launching buku CHSG, tetapi sekaligus bedah buku CHSG. Kali ini, saya merasa sangat terhormat, karena Mbak Siwi Mars Wijayanti sudah mau hadir untuk menjadi pembedah buku CHSG. Sejak beliau masih di Glasgow, saya sudah minta beliau untuk menjadi pembicara di launching buku saya dan Alhamdulillah, beliau menyambut baik permintaan saya. Saya mendengarkan dengan baik komentar beliau tentang buku CHSG, masukan-masukan dari beliau, semuanya membuat saya lebih semangat dalam menulis.
            Selain Mbak Siwi, Ustadzah May juga memberi komentar tentang buku CHSG, Alhamdulillah, komentar-komentar mereka membuat saya terus meyakinkan diri untuk terus berkarya. Setelah dibedah oleh Mbak Siwi, di penghujung acara, ada empat buah buku yang diberikan kepada peserta yang bisa menjawab pertanyaan dari moderator. Selain buku CHSG, buku Mbak Siwi yang berjudul “Koloni Milanisti” juga menjadi salah satu hadiah di penghujung acara launching.
            Setelah selesai launching CHSG, tibalah saatnya foto-foto bareng pembaca buku CHSG. Setelah itu, tangan saya mulai sibuk menandatangani buku CHSG. Pegel juga ternyata nandatangani buku, udah berasa kayak artis aja lol. Nandatangani buku sebanyak itu aja udah pegel, gimana kalo jadi penulis best seller (amin, Ya Allah), pasti pegelnya lebih. hehe

            Buku CHSG habis terjual, kasihan juga sih banyak yang nggak kebagian. Insya Allah awal Februari akan dicetak ulang lagi. Dari awal acara; launching, foto bareng, sampai book signing, Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar.
            Terimakasih, kepada semua pihak yang sudah membantu terlaksananya launching CHSG, semoga Tuhan membalas kebaikan yang telah kalian lakukan. Semoga saya terus bisa berkarya, memberikan bacaan-bacaan yang bisa memberi manfaat kepada pembaca. Terimakasih khususunya kepada SMP Al Irsyad yang sudah menjadi sponsor launching buku Catatan Hati Sang Guru. Semoga kedepannya rekan-rekan guru juga mulai menuliskan pengalaman-pengalaman mereka selama menjadi guru. Saya percaya, setiap pendidik mempunyai kisahnya sendiri dan akan menjadi indah, jika kisah itu mau dibagi dalam bentuk tulisan.
            Selamat membaca buku CHSG, semoga bermanfaat. Amin.

January 12, 2013

Muhasabah Diri

Hari berganti,
Namun aku masih seperti yang dulu
Tetap dengan nafsu yang menguasai diri
Hingga kadang aku lupa akan kuasa-Nya

Bulan berganti,
Namun aku masih seperti yang dulu
Setia dengan jejak-jejak kelalaian
Hingga kadang aku terbiasa melupakan-Nya

Tahun berganti,
Namun aku masih seperti yang dulu..
Tunggu, Aku tidak ingin terus menjadi seperti yang dulu
Aku ingin menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya
Aku ingin tersenyum, menengadahkan tangan di hadapan-Nya

Tuhan,
Adakah tempat untukku kembali ke jalan yang Engkau Ridhoi?
Kembali merajut cintaku pada-Mu dalam setiap malam-malamku
Kembali bersujud di hadapan-Mu dan menyebut asma-Mu dalam embusan nafasku

Tuhan,
Aku ingin kembali meraih cinta-Mu yang suci

January 07, 2013

(Bukan) Resolusi


Seharusnya tulisan ini saya tulis di detik-detik tahun 2013 saya lalui, tapi saya terlalu terlena dengan meriahnya malam pergantian tahun baru. Saking terlenanya, saya malah tidur dan nggak peduli dengan pergantian tahun yang kata mereka super meriah itu. Saya memang tidak pernah mau peduli dengan kemeriahan pergantian tahun, karena bagi saya, muhasabah diri adalah hal yang paling penting untuk dilakukan.
Ada banyak hal yang dulu saya tulis, dan ingin saya capai di tahun 2012, namun dari sekian banyak yang ingin saya wujudkan, beberapa tercapai, namun tak sedikit yang masih harus tertunda. Di tahun 2012, saya mulai berani menerbitkan buku pertama saya yang berjudul “Air Mata Cinta Hanisah”, kemudian dilanjutkan dengan novel romance religi “Tuhan, Aku Kembali” dan di penghujung tahun 2012, saya kembali menelurkan karya tunggal saya yang berjudul “Catatan Hati Sang Guru” yang insya Allah akan launching tanggal 25 Januari 2013 di SMP Al Irsyad Purwokerto.

Selain menulis buku tunggal, saya juga sempat ikut beberapa proyek menulis, dan saya menikmati tiap detik proses merangkai kata-kata menjadi kalimat-kalimat yang bermakna dan bisa memberikan harapan yang baik kepada pembaca.
Tahun 2012, saya mulai merasai jiwa, bahwa saya ingin menjadi seorang penulis. Saya mulai aktif di beberapa forum kepenulisan, ikut lomba-lomba menulis cerpen, artikel pendidikan, dan lain-lain. Saya mulai menanamkan pada jiwa “Bahwa menulis adalah passion saya” saya ingin terus menghasilkan karya-karya selanjutnya.
Iya, tahun 2012, memang banyak mimpi yang berhasil saya capai, meski tidak sedikit yang masih harus tertunda dan memberikan saya pelajaran bahwa “saya harus lebih giat lagi untuk menggapai semua mimpi yang ingin saya raih.”
Di tahun 2012 juga, saya mulai merasakan kedekatan dengan anak-anak didik saya di sekolah. Saya mulai merajut mimpi bersama mereka, menjalani hari bersama mereka, menciptakan kebahagian-kebahagiaan yang memenuhi ruang yang ada di hati. Saya bahagia bersama mereka.
Di tahun yang sama, saya kembali menjelajah beberapa tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, menghirup udara kebebasan, melangkah dengan pasti meski kadang harus kehilangan arah. Namun saya menikmati tiap jengkal langkah kaki yang saya ayunkan.
Di setiap mimpi yang ingin saya raih, saya hanya perlu melakukan yang terbaik, selebihnya biarkan Yang Mahakuasa menentukan. Saya percaya, di setiap kesungguhan pasti ada keberhasilan.
“Lantas, apa resolusimu di tahun 2013?”
Ehm, biar hanya saya saja yang tahu. Yang jelas, saya ingin terus berusaha untuk bisa menjadi lebih baik. Terus berusaha untuk dekat dengan Allah swt dalam situasi apa pun.
Di awal tahun 2013, saya mulai menulis novel duet bersama @riniebee yang tergabung dalam komunitas “antologi orange”. Saya berharap, terus bisa menghasilkan karya-karya yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Terlepas dari apa pun resolusimu, lakukanlah semuanya semaksimal mungkin. Percayalah, ada hasil di setiap kesungguhan.

January 01, 2013

Menjelajah Dieng



31 Desember 2012
Selamat pagi semua, hari ini konon katanya adalah tanggal 1 Januari 2013 (semalam saya sudah molor dan katanya lagi tadi malam meriah banget perayaan tahun barunya, erghhh ngabisin duit aja, deh hehe). Baiklah, di tahun 2012 yang lalu, banyak yang sudah saya lakukan, terutama banyak cerita-cerita yang sudah terangkai indah dalam hari-hari saya, banyak kenangan indah antara saya dan murid-murid dan lain sebagainya. Saya bersyukur atas segala karunia yang sudah Allah berikan pada saya.
Berbicara tentang tahun lalu, saya tidak ingin membahasnya terlalu panjang (coz pagi ini saya masih ngantuk #tarikaselimut lol) baiklah, jadi ceritanya kemarin saya itu jalan-jalan ke dataran tertinggi di Jateng, yupzzz betul sekali, saya pergi menikmati keindahan Dieng yang dingin itu.

Saya pergi ke Dieng bersama dengan keluarganya M. Nur Faizi, yang merupakan salah satu murid saya. Perjalanan dari rumah start pukul 9 pagi. Perjalanan menuju Dieng dari Banjarnegara kurang lebih 2,5 jam. Kami melewati jalan yang berbukit, berkelok-kelok dan sukses membuat saya pusing dan mual kayak orang hamil (halahh kayak gue pernah hamil aja).
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang itu, akhirnya kami sampai juga di Dieng dan sekitarnya. Sebelum menuju ke Dieng utama, kami mampir dulu ke Sumur Jalatunda. Di sumur Jalatunda, banyak orang yang melempar kerikil ke arah sumur, yang konon lagi katanya kalo berhasil melempar batu melewati sumur, semua yang kita inginkan akan terwujud (berghhhh ini mitos nggak banget deh hehe)
 Di dekat sumur Jalatunda
Setelah narsis ria di kawasan Jalatunda, kami melanjutkan perjalanan ke Kawah yang tidak terlalu jauh dari sumur Jalatunda. Beberapa meter sebelum sampai kawah, saya sudah muntah-muntah. Akan tetapi saya nekad untuk foto di dekat kawah meski dengan tahan nafas haha. Asli, itu kawah bahunya kebangetan.
 Nah setelah dari kawah ini, kami akhirnya melanjutkan perjalanan ke kawasan candi-candi yang ada di Dieng. Hujan mengiringi kebersamaan kami, mengiringi perjalanan kami. Setelah sampai dikawasan candi, kami menikmati gorengan yang dinginnya kayak habis di masukin dalam kulkas haha, nggak ada enak-enaknya tuh gorengan kalo dingin. Eh meski gorengannya dingin gitu, saya masih tetap bisa menghabiskan enam potong gorengan, kok. Lol

Setelah hujan reda, akhirnya saya bisa bertemu dengan Sang Arjuna alias candi haha, sepanjang perjalanan menuju Dieng, yang kami omongin adalah tentang Candi Arjuna terus dan tentang pertapa sejati yang ada di dataran tinggi Dieng. Sebelum bertemu sang Arjuna, kami terlebih dahulu masuk ke dalam Museum Dieng Kailasa. Kami menemukan candi-candi khas Dieng, peralatan-peralatan tani, poster tentang anak-anak berambut gimbal, nonton sejarah Dieng dan lain sebagainya.

Rutinitas kalo pas jalan-jalan ya seperti biasa, makan,  foto-foto di kawasan Dieng, celingak-celinguk kesana kemari, pokoknya hampir tiap menit pengennya di foto dan motret haha, jadi banci foto. Lah, jarang-jarang loh saya bisa berkunjung ke Dieng. Kalo nggak bareng wali murid, saya mungkin nggak bakalan ke Dieng. Soalnya medannya yang super itu, kemudian akses menuju sana yang juga jauh dari Purwokerto.
 Kawah Sikidang
Setelah puas menikmati keindahan Dieng, kami mengakhiri perjalanan kali ini dengan mencari tempat Mbah Fanani yang merupakan pertapa sejati di dataran tinggi Dieng. Konon katanya Mbah Fanani ini sudah bertapa lebih dari 20 tahun lamanya, gilaaa, itu lama banget. Saya sangat penasaran dengan sosok yang bernama Mbah Fanani ini
 Di Depan tempat bertapa Mbah Fanani
Setelah mencari-cari, akhirnya kami bisa menemukan tempat pertapaan Mbah yang super mistis ini. Ini nih penampakan saya saat di depan tempat bertapanya si Mbah. Kirain berupa gua gitu, ternyata Cuma terpal yang disangga dengan dua buah drum yang menjadi tempatnya berlindung dari panas dan teriknya matahari.
Saking penasarannya lagi, kami akhirnya membuka kain yang menutupi terpal tempat Mbah Fanani bertapa dan baunya itu superrrr banget. Tapi saya tetap nekad motret si Mbah hehe. 
Berdasarkan info yang saya dapat, Mbah Fanani meyakini bahwa kawasan Wonosobo suatu saat nanti akan digenangi air, dan saat hal itu terjadi, barulah ia akan pulang ke rumahnya dengan sebuah perahu. Ahh saya nggak terlalu paham tentangnya. Saya nggak sempat juga nanya-nanya tentang si Mbah pada warga yang ada di sekitar.
Ahhh semakin nggak jelas ni cerita saya, yang penting intinya saya sangat menikmati perjalanan saya bersama dengan Fai, Bapaknya Fai, dan Ari yang merupakan kakaknya Fai. Terimakasih atas kebaikan kalian yang sudah bersedia mengajak saya menikmati segala keindahan Dieng.
Nantikan cerita jalan-jalan saya selanjutnya.