February 28, 2013

Budayakan Membaca


26 Februari 2013
Dua hari sebelumnya, saya diminta untuk menjadi pembicara di kegiatan “Wisata Buku” SD Al Irsyad 02 Purwokerto. Setelah saya membaca undangannya, tema kegiatannya sangat menarik, sama seperti hal yang sekarang sedang saya lakukan. Yaitu mengajak anak-anak untuk gemar membaca. Satu tahun terakhir, saya memang lagi semangat untuk mengajak anak gemar membaca, agar membaca menjadi budaya.

“Budayakan Membaca Untuk Mewujudkan Generasi Berakhlak Mulia”

Inilah yang menjadi tema kegiatan wisata buku yang saya hadiri. Yang menjadi peserta dalam kegiatan ini adalah murid kelas V sejumlah 149. Jujur, sebelumnya saya belum pernah mengisi kegiatan untuk anak-anak SD. Sempat nervous juga saat pertama datang. Tapi setelah melihat wajah-wajah mereka yang lucu dan  ngegemesin itu, akhirnya saya jadi percaya diri.
            Saya diminta untuk mengajak anak-anak gemar membaca dan juga menulis. Sepanjang kegiatan, saya merasakan bahagia yang sangat luar biasa, melihat antusias anak-anak bertanya banyak hal. Satu jam waktu yang diberikan terasa kurang. Saya memang tidak bisa berlama-lama, karena saya harus kembali ke SMP untuk mengajar. Tapi, setidaknya saya sudah meninggalkan jejak-jejak motivasi kepada anak-anak, agar rajin membaca.
            Membaca adalah kegiatan ringan, namun sulit untuk dilaksanakan. Orang lebih suka pergi berbelanja ke Mall, makan di restoran, ngerumpi sana-sini, dibandingkan dengan membaca. Padahal, dengan membaca kita bisa mengetahui banyak hal. Bahkan di dalam Islam, ayat pertama yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad Saw adalah sebuah perintah untuk membaca. Wahyu pertama yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad Saw adalah surat Al-‘Alaq: 1-5:
           
            “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)
           
            Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa Allah memerintahkan kita untuk membaca; membaca alam raya selaku ciptaan-Nya, mengambil pelajaran dari apa yang ada di sekeliling kita, dan tentu termasuk membaca buku-buku yang berisi tentang berbagai macam ilmu pengetahuan. Bahkan Allah sendiri menyatakan di dalam Alquran, bahwa Ia akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.
           
            “….niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah: 11)

            Saya sering memberikan tantangan kepada anak-anak,
            “Siapa yang membaca lebih dari 500 halaman/bulan, maka ustaz akan kasih hadiah.”
            Ini adalah salah satu cara saya mengajak anak untuk rajin membaca. Saya juga mengajak anak-anak untuk membuat perpustakaan mini di kelas, agar mereka terbiasa bersentuhan dengan buku.
            Bicara soal buku, saya teringat kata-kata bijak cendekiawan Ali Syariati:
            “Buku adalah seperti makanan, tetapi makanan untuk jiwa dan pikiran. Buku adalah obat untuk luka, penyakit, dan kelemahan-kelemahan perasaan dan pikiran manusia. Jika buku mengandung racun, jika buku dipalsukan, akan timbul bahaya kerusakan yang sangat besar.” Demikian singkat dan lugasnya kata-kata itu mengemukakan tentang peran penting sebuah buku.
            Tokoh lintas bangsa dan lintas waktu Cicero mengatakan  “A Room without books is like a body without a soul.” Ruangan tanpa buku/jika seseorang tidak membaca bagai badan  tanpa jiwa. Hal ini semakin menegaskan betapa pentingnya membaca. Dengan membaca, kita bisa mengerti akan banyak hal. Tidak ada orang hebat yang tidak membaca. Lihatlah pendiri bangsa ini, Bung Karno, Bung Hatta, keduanya adalah orang-orang yang dekat dengan buku.
            Banyak orang-orang hebat yang tidak menempuh pendidikan tinggi, tapi bisa menjadi tokoh hebat karena rajin membaca. Sebut saja Buya Hamka, meski tidak mengenyam pendidikan formal terlalu tinggi, tapi ia bisa menjadi seorang tokoh yang hebat. Bahkan mendapat gelar Doktor kehormatan dari universitas top dunia. Semua bermula karena ia adalah sosok yang gemar membaca. Ada banyak contoh lain, betapa membaca merupakan kunci informasi.
            Ada banyak tulisan di media massa, tentang betapa rendah minat baca orang Indonesia. Sampai ada anekdot yang membandingkan minat baca Orang Indonesia dengan Orang Jepang.
            “Kalau Orang Jepang tidur sambil membaca, sedangkan Orang Indonesia membaca sambil tidur.”
            Itu artinya begini, sesantai apa pun orang Jepang, membaca tetap menjadi satu kebutuhan. Sebaliknya, bagi kita, sesantai apapun kegiatan yang dilakukan, membaca belum menjadi suatu kebutuhan.
            Orang tua memiliki peran penting dalam menumbuhkan minat baca anak. Orang tua bisa mengajak anak-anak untuk berwisata buku ke toko-toko buku, dan membiarkan mereka memilih buku-buku kesukaan mereka, dengan tetap mengontrol buku-buku yang mereka pilih. Orang tua juga bisa menyediakan buku-buku bacaan di rumah, agar anak bisa membaca dengan santai. Atau bahkan orang tua bisa membuat jadwal khusus bagi seluruh anggota keluarga untuk membaca bersama-sama, mendiskusikan hasil bacaan dan lain-lain. Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mendorong anak agar gemar membaca.
            Sesekali, cobalah pergi ke perpustakaan daerah, perpustakaan umum, atau perpustakaan-perpustakaan yang ada di sekitar kalian. Coba perhatikan, ada berapa banyak orang yang mengunjungi perpustakaan tersebut. Saya sering pergi ke perpustakaan daerah dan menemukan betapa sedikit orang-orang yang membaca buku disana. Bandingkan dengan tempat-tempat perbelanjaan, penuh sesak orang-orang yang berbelanja. Wisata buku masih belum banyak dikenalkan orang tua pada anak.
            Kalian pasti pernah melihat kuis yang berhadiah 1 miliar, yang dipandu oleh Tantowi Yahya. Selama bertahun-tahun, Tantowi Yahya memandu acara kuis tersebut, hanya ada dua orang yang mampu membawa pulang uang sebesar 500 juta; Guru Pesantren dan Loper Koran.
            Kalian pasti bertanya-tanya, bagaimana bisa seorang loper koran bisa memenangkan sebuah kuis yang menuntut pesertanya memiliki pengetahuan yang luas? Jawabannya ternyata sederhana, seorang loper koran yang bernama Agus Mulyadi ini adalah orang yang  “gemar membaca.” Kegemarannya membaca membuat dia berhasil memenangkan uang senilai 500 juta.
            Jadi, apa lagi yang kalian tunggu? Mari ajak anak-anak kita gemar membaca. Beri penjelasan sederhana kepada mereka betapa pentingnya membaca. Jika generasi muda sudah menjadikan membaca sebagai budaya, maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang hebat, yang penuh dengan orang-orang yang memiliki pengetahun yang luas.
           

Love Actions


 24 Februari 2013
Melihat orang lain tersenyum karena kita, tentu melukiskan bahagia di dalam hati. Melihat mereka tertawa, ikut merasakan kebahagiaan bersama kita, tentu meninggalkan benih-benih bahagia yang memenuhi rongga dada. Ada bahagia saat melihat orang lain tersenyum karena kita. Saling berbagi kepada mereka yang membutuhkan uluran tangan kita, tentu memiliki kesan tersendiri dalam hidup kita. Bisa berbagi bahagia bersama mereka yang tidak seberuntung kita, merupakan pekerjaan yang sangat mulia.
            Hari ini, saya mengajak anak-anak untuk ikut kunjungan ke Pesantren An-Nur, yang merupakan pesantren yatim, piatu dan dhuafa. Saya mewakili @bflactprwokerto melakukan kegiatan “love actions”. Love Actions adalah Aksi berbagi kasih sayang kepada Anak-anak panti asuhan. Berbagi cerita, berbagi keceriaan juga canda tawa, berbagi pelukan, berbagi semangat, berbagi rejeki, dan berbagi semua yang positif.
            Saya sengaja mengajak anak-anak untuk mengikuti kegiatan ini agar mereka mengerti akan kehidupan anak-anak yang berada di pesantren ini. Saya ingin mengajarkan kepada anak-anak betapa indahnya berbagi. Saya ingin menanamkan nilai-nilai sosial pada anak-anak, sehingga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang peduli dengan orang-orang yang ada di sekeliling mereka.
            Ada 11 anak yang ikut dalam kunjungan sosial ini; Azzam Helmi Muflih, Farrel, Patrem Sakti Mangliawan, Abdullah Fatih, Akmal, Barkah, Abror, Fuad, Ryan, Adam, dan Rizki Adi.


            Kami berkumpul di sekolah pukul 08.30 pagi. Setelah semuanya berkumpul, kami berangkat menuju lokasi dengan menyewa sebuah angkutan umum. Kami berangkat dengan selukis senyum, berharap apa yang akan kami lakukan hari ini bisa berjalan lancar.
            Anak-anak membawa pakaian bagus pakai, buku-buku bacaan, dan uang tunai untuk anak-anak yang di pesantren. Sedangkan saya, sudah terlebih dahulu membeli beberapa keperluan pesantren dengan donasi yang masuk ke rekening saya. Saya mengajak teman-teman yang menjadi follower saya di twitter untuk ikut berpartisipasi dalam kegaian love actions ini. Kegiatan ini sebenarnya mau dilakukan serentak di 11 kota di seluruh Indonesia pada tanggal 17 Februari lalu. Akan tetapi, berhubung pada tanggal 17 adalah pemilihan Bupati Banyumas, makanya kegiatan ini diundur.
            Saat sampai di pesantren, kami disambut langsung oleh Ust. Achmad Fasihin, selaku pimpinan pesantren. Sambil menunggu beberapa teman yang lain datang, kami berbincang sejenak. Saya melihat anak-anak panti sedang membersihkan aula, karena baru selesai acara maulib Nabi Muhammad Saw.
            Setelah semua kakak-kakak dari @bflactprwokerto datang semua, acara pun dimulai. Anak-anak di Ponpes An-Nur sudah duduk rapi di dalam Aula. Murid-murid saya juga ikut bergabung bersama mereka. Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh santri Ponpes An-Nur, dilanjutkan dengan sambutan dari saya, selaku perwakilan dari @bflactprwokerto, kemudian sambutan dari Ust. Achmad Fasihin selaku Pimpinan Ponpes.
            Acara dilanjutkan dengan ramah tamah. Kak Cita penuh semangat memandu acara ramah tamah. Kak Cita ini pintar dongeng, loh. Kami terpingkal-pingkal mendengar dongeng dari Kak Cita yang merupakan seorang penyiar salah satu radio di Purwokerto. Setelah selesai mendengarkan dongeng, selanjutnya adalah games dan lagi-lagi riuh renyah tawa anak-anak memenuhi aula. Ah, bahagia melihat mereka tertawa lepas. Bahagia melihat mereka menikmati rangkaian acara hari ini. Setelah selesai games, selanjutnya adalah penyerahan bantuan secara simbolis.
            Semoga apa yang kami berikan hari ini bisa memberi manfaat bagi pesantren. Kami sudah menabur benih-benih cinta di pesantren ini. Berharap akan ada pertemuan selanjutnya, dengan suasana yang berbeda, namun dengan semangat yang tetap sama. Semangat untuk berbagi kebahagiaan bersama mereka.
            Saya sangat senang melihat murid-murid antusias mengikuti rangkaian acara kunjungan sosial ini.
            “Gimana? Kalian seneng, kan diajak kesini?”
            “Seneng, Ustaz. Jadi tahu lebih banyak tentang kehidupan anak-anak disini. Kunjungan selanjutnya jangan lupa diajak lagi, ya, Ustaz,” jawab mereka mantap. Saya tersenyum mendengar jawaban itu.
            “Insya Allah. Semoga semangat berbagi ini tetap ada.”
            Saya dan anak-anak juga sempat melihat keadaan kamar tidur anak-anak yang ada di pesantren. Kasihan melihat kondisi kamar mereka yang sangat memprihatinkan. Saya menatap lekat-lekat wajah anak-anak yang dipanti. Wajah anak-anak yang masih sangat polos, namun mereka tetap melukis senyum di wajah. Di antara mereka, ada yang masih belum sekolah, bahkan mungkin mereka belum mengerti arti kehilangan orang tua mereka. Beberapa dari mereka masih sangat kecil. Sebagian yang lain ada yang sudah sekolah di SMP/MTs dan SMA.

          
            Lepas shalat dzuhur berjemaah, kami berpamitan. Kami meninggalkan jejak-jejak kasih, berharap apa yang kami lakukan ini bisa membuat mereka mengerti bahwa kami peduli dengan mereka.
            “Ustaz, kita berkunjung kesini lagi, ya, nanti.” Ucap Akmal.
            “Insya Allah,” jawab saya sambil tersenyum.
            Berikut komentar anak-anak setelah selesai kunjungan ke pesantren An-Nur:
            “Kunjungan ke Pesantren An-Nur sangat menyenangkan, karena bisa menghibur anak-anak pesantren.” (Abdullah Fatih)
            “Seru dan menyenangkan, banyak pelajaran yang bisa didapat.” (Azzam)
            “Dengan apa yang saya lihat, saya semakin bersyukur dengan apa yang saya dapat sekarang; kasih sayang, fasilitas, dan lain-lain.” (Adam)
            “Saya merasa senang, karena saya dapat mengambil pelajaran bahwa apa yang Allah berikan harus disyukuri. Ada banyak orang yang saat ini tidak bersyukur akan anugerah yang Allah berikan.” (Fachriansyah)

Keesokan harinya, banyak anak-anak yang ingin tahu tentang kunjungan saya dan beberapa anak ke Pesantren An-Nur, ada yang sedikit ngambek karena tidak diajak, ada yang sama sekali tidak tahu tentang rencana kunjungan dan sangat menyesal tidak ikut, atau bahkan ada yang ingin ikut dikunjungan selanjutnya.
            “Kapan ada kunjungan sosial lagi, Ustaz? Saya mau ikut.” Ucap beberapa murid.
            Saya tersenyum melihat semangat mereka, semangat untuk berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan bantuan. Saya bangga pada mereka, meski masih SMP, tapi jiwa sosial mereka sudah mulai tumbuh.
            Saya kadang jenuh mendengar mereka yang hanya bisa berkomentar banyak hal tentang keadaan bangsa ini. Tentang kemiskinan yang meraja lela, tentang anak-anak yang berada di jalanan, dan lain-lain. Saya jenuh mendengar semua itu. Jenuh karena nyatanya banyak yang hanya pandai berkomentar, tapi tidak melakukan apa-apa untuk merubah semua itu.
            Saya sering bilang ke anak-anak, “tidak perlu banyak komentar tentang  kemiskinan yang ada di bangsa ini, lakukan saja apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka. Sekecil apa pun yang kita berikan kepada mereka akan sangat berarti.
            Berhenti mengecam kegelapan. Nyalakan lilin. Ini negeri besar dan akan lebih besar. Sekedar mengeluh dan mengecam kegelapan tidak akan mengubah apapun. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu.” (Indonesia Mengajar)
             Iya, tidak perlu sumpah serapah engkau ucapkan tentang negeri ini. Mari lakukan sesuatu untuk mereka. Ada banyak anak-anak yang membutuhkan uluran tangan kita. Mari beri mereka semangat, agar mereka tetap bisa bermimpi besar. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mereka.
            Akhir pekan, kadang saya berkeliling ke desa, bertemu dengan anak-anak yang ada di sana, berbagi cerita, mendongeng, dan berbagi buku-buku bacaan. Saya bahagia melakukan itu semua. Untuk saat ini, belum banyak yang bisa saya lakukan untuk mereka, putra-putri bangsa ini. Tapi setidaknya saya sudah memulai untuk peduli dengan mereka. Dan saya berharap, saya bisa melakukan sesuatu yang lebih besar untuk mereka.
            Satu mimpi yang sekarang sedang saya perjuangkan. Saya ingin memunyai “rumah baca” untuk anak-anak yang ada di pedesaan. Saya suka melihat anak-anak hanyut dalam bacaan mereka. Saya ingin sekali memiliki rumah baca untuk mereka. Semoga apa yang saya impikan bisa terwujud. Mari lakukan sesuatu, mari berbagi.


February 16, 2013

Berbagi Bahagia


Jum’at, 15 Februari 2013     
            Sore ini hujan, tapi saya dan dua orang teman penuh semangat ingin berkunjung ke Pesantren An-Nur yang ada di daerah Rempoah, Baturaden. Kami sedang mencari tempat untuk kegiatan sosial. Meski hujan, kami tetap semangat menembus rintik-rintik hujan hehehe.
            Sesampainya di Pesantren, anak-anak sedang bermain di depan asrama. Mereka berlarian kesana-kemari, kemudian berhenti saat melihat kami datang. Mereka menatap lekat-lekat wajah kami. Haru langsung merembesi hati. Saya itu mudah banget terharu alias nangis (cengeng eh).
            Mereka adalah anak-anak kecil yang sudah yatim, piatu dan juga dhu’afa. Ah Tuhan, melihat senyum mereka, mendengar renyah tawa mereka, kemudian melihat tingkah lucu mereka, adalah bagian rasa bahagia yang sekarang sedang saya rasakan. Saya bahagia.
            Setelah berbincang sejenak dengan pihak pesantren, saya langsung menemui mereka, menyapa mereka, kemudian berkenalan. Mereka malu-malu memperkenalkan nama mereka masing-masing. Kami mulai bercerita banyak hal, tertawa dan berlarian kesana-kemari. Mereka menarik tanganku, mengajak bermain bersama mereka. Saya mengikuti langkah kecil mereka, ikut hanyut dalam dunia mereka. Bahagia sekaligus kasihan, hanya itu yang ada di dalam hati saya.

            Setelah berbincang sejenak, kami masuk ke dalam kamar mereka, tempat mereka tidur, melepas lelah setelah seharian beraktifitas. Lagi-lagi, saya amat kasihan dengan mereka. Kamar mereka jauh dari kata layak huni. Mereka hanya tidur beralaskan kasur yang sudah lusuh, bahkan ada yang hanya tidur beralaskan karpet. Sungguh sangat memprihatinkan.

            Meski demikian, mereka tetap tersenyum, tertawa, dan tampak bahagia. Ah… mereka adalah anak-anak yang mengajarkan saya arti bersyukur atas karunia Tuhan. Diumur mereka yang masih sangat kecil, mereka sudah harus kehilangan ayah, atau pun ibu. Atau bahkan ada yang masih belum mengerti tentang kehilangan. Karena mereka masih sangat kecil. Beberapa di antara mereka sudah menempuh pendidikan di sekolah dasar, beberapa lagi masih belum sekolah, dan ada juga yang sudah menyelesaikan pendidikan SMP sederajat dan berhenti, mereka membantu mengelola pesantren. Lagi-lagi karena tidak adanya biayalah yang menjadi penyebab mereka putus sekolah.

            Sebelum pulang, kami shalat maghrib berjama’ah terlebih dahulu, kemudian baru kembali ke rumah. Minggu depan, pada tanggal 24 Februari, insya Allah, kami akan kembali berkunjung ke pesantren, mengadakan kegiatan sosial, berbagi kebahagiaan dengan mereka, berbagi cerita dan berbagi segala kebaikan. Semoga niat tulus ini tetap ada. Amin.
            Aku menjabat tangan mungil mereka sebelum pergi, salah satu anak bilang gini;
            “Kakak, kapan datang lagi ke pesantren?”
            Dan saya hanya tersenyum, kemudian bilang;
            “Minggu depan, Insya Allah.”
            Kami pun berpisah, meninggalkan jejak-jejak kasih di sana.
            Ada yang berniat gabung? Silahkan hubungi saya di twitter @ariansilencer. Mari Berbagi kebahagiaan bersama mereka.


February 14, 2013

Allah Maha Segalanya




Tuhan, kadang aku lupa dengan anugerah-Mu
Namun Engkau tetap memberiku anugerah
 Kadang aku lari dari jalan-Mu
Namun Engkau selalu menuntunku kembali pada-Mu
Kadang aku membenci-Mu
Namun kasih-Mu selalu hadir menyentuh hatiku


Pagi ini udara sejuk menusuk tulangku. Kuhirup pelan dan mulai kurasakan kesejukan udara pagi yang menenangkan jiwaku. Kutatap langit di atas sana, mentari sedang menyinari pagiku dengan hangat. Kulihat ke sekelilingku, orang-orang sudah mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aku bersandar di kursi kayu yang ada di depan rumahku, memerhatikan kucing yang sedari tadi diam menyendiri di pojok sana. Sepi.
            Pagi ini, seharusnya aku pergi ke sekolah, bertemu dengan guru-guruku tercinta, bertemu dengan sahabat-sahabatku, bercanda, tertawa, berbagi cerita akhir pekan kemarin, atau hanya sekedar duduk di depan kelas, sambil menunggu bel masuk berdering. Tapi, pagi ini aku tidak bisa pergi ke sekolah, Allah sedang mengingatkan akan nikmat yang selama ini telah Ia berikan padaku.
            Mampukah kalian menghitung nikmat Tuhan? Dimana Tuhan tidak pernah meminta balasan atas nikmat yang selama ini telah Ia berikan. Kita semua tidak akan mampu menghitung nikmat dari-Nya.
            Aku duduk di depan kaca yang ada di meja belajarku, menatap lekat-lekat kedua mataku yang memerah, gatal, dan terasa perih. Aku menangis, dan baru menyadari betapa aku sangat tidak nyaman dengan kondisi yang sekarang sedang kualami. Mungkin ini cara Tuhan mengingatkanku, betapa Tuhan Mahabaik. Bayangkan, bagaimana jika Tuhan tidak memberikan kedua mata untuk melihat? Hanya dunia dalam gelap yang akan ada. Meski demikian, aku bersyukur kepada Tuhan, karena telah memberikanku kedua mata yang sempurna, sehingga aku bisa melihat dengan baik keindahan ciptaan-Nya.
            Ibu mengajakku pergi ke dokter, ibu sangat khawatir dengan kondisi mataku yang semakin memerah dan perih. Sudah tiga hari aku hanya bisa berdiam diri di rumah, menghabiskan waktu dengan berdiam diri di kamar. Tidak banyak yang bisa kulakukan. Kedua mataku terasa pegal dan terlihat lelah. Aku harus berobat. Aku tidak tahan jika harus berlama-lama dengan kondisi mata seperti ini.
            Setelah periksa ke dokter, dokter memberikan resep untuk penyembuhan kedua mataku. Aku berdoa, semoga mataku bisa kembali pulih, dan aku bisa kembali menjalani aktifitas sebagai seorang pelajar. Aku merindukan teman-temanku. Aku merindukan senyum hangat guru-guruku di sekolah. Aku merindukan mereka semua.
            Hari keempat, aku pergi ke sekolah, meski kondisi mataku masih belum sembuh. Aku tidak ingin terlalu banyak ketinggalan pelajaran. Sebentar lagi laporan termin bulan Januari. Masih banyak tugas yang belum kuselesaikan. Kegiatan belajarku di sekolah sangat terganggu dan kurang efektif. Baru sebentar saja membaca, mataku sudah mengeluarkan bulir-bulir bening. Belum lagi rasa perih yang menyiksaku, ditambah pegal yang memengaruhi konsentrasi belajarku. Aku jadi cepat mengantuk, dan tidak sanggup untuk mengikuti proses belajar hingga selesai.
            Masih dengan kondisi mataku yang belum pulih, aku pergi ke sekolah dengan memakai kaca mata. Aku malu, tapi, ibu bilang;
            “Nggak usah malu, Nak. Kaca mata itu untuk kebaikan matamu, agar terhindar dari debu. Biar matamu cepat sembuh.”
            Aku meng-iyakan apa kata ibu. Meski malu dengan kaca mata yang kupakai, aku tetap pergi ke sekolah. Awal-awal memang malu berat, semua mata serasa tertuju padaku. Aku tak ubahnya seperti orang aneh yang baru mereka lihat. Mereka menatapku penuh tanda tanya dan terkesan mengejekku. Aku cuek dan lama-lama bisa percaya diri, meski dengan kaca mata di wajahku.
            Ejekan-ejakan teman tentang kedua mataku yang merah, tentang kacamata yang kupakai, tak menyurutkan langkahku untuk pergi ke sekolah. Aku tetap pergi dan belajar. Aku memperbanyak istighfar atas apa yang kudengar.
            “Mereka tidak merasakan betapa aku tersiksa dengan kondisi ini,” gumamku dalam hati. Tapi, biarlah mereka menggonggong, kafilah tetap harus berlalu, kan? Biarkan mereka berkata apa tentangku, aku tetap harus belajar dengan baik.
            Aku menangis, karena mataku tak kunjung sembuh. Aku mulai merasa risih dengan teman-teman yang setiap hari mengejekku.
            “Tuhan, beri aku kesabaran atas apa yang Engkau ujikan padaku.” Aku mengucapkan untaian doa-doa dalam sujudku. Aku percaya, ini adalah cara Tuhan mengajarkanku arti bersyukur. Mungkin selama ini aku kurang mensyukuri nikmat yang Ia berikan.
            “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An Nahl: 78)
¤

Hari ini pelajaran fiqh di jam terakhir, aku duduk memerhatikan penjelasan dari ustadz yang mengajar. Tetapi, aku tidak bisa tenang dengan tatapan dari beberapa teman di kelasku. Tatapan itu, cara pandang itu, terkesan mengejekku. Astaghfirullah, aku tidak boleh berburuk sangka.
            Tanpa disadari teman-temanku, ustadz ternyata sedari tadi memerhatikan tingkah mereka yang menatapku aneh. Kadang mereka juga menggangguku dan membuat suasana kelas menjadi tidak kondusif. Berisik. Ustadz mengingatkan mereka, untuk tidak lagi mengejekku, tapi mereka tetap mengejekku. Aku hanya bisa diam, melihat tingkah mereka yang tak kunjung sadar.
            Ustadz menasehati mereka agar tidak melakukan itu lagi, teman-temanku tertunduk malu, menatap lantai keramik berwarna putih. Mereka mulai mengerti bahwa apa yang telah mereka lakukan adalah salah. Tidak seharusnya mereka mengejekku dan menertawakan kaca mata yang kupakai. Semua menjadi hening. Hanya ada kata-kata bijak berupa nasehat dari guruku. Kata-kata yang mengajarkan akan arti “peduli” dengan kondisi teman. Tidak seharusnya mereka bersikap seperti itu padaku. Bagaimana pun juga, aku adalah teman mereka, yang sehari-hari belajar bersama mereka di kelas yang sama.
            Keesokan harinya, temanku sudah menyadari akan kesalahan yang telah mereka lakukan. Mereka meminta maaf kepadaku dan juga kepada ustadz. Kalian tahu kawan? Allah itu maha pengampun. Jika Allah saja mau memaafkan kesalahan hamba-Nya, bagaimana mungkin aku tidak memaafkan mereka? Aku tersenyum, menyambut uluran tangan mereka.
            “Naufal, aku minta maaf, ya,” ucap mereka satu persatu.
            “Iya, aku juga minta maaf jika ada salah.” Jawabku sambil mengukir senyum tulus di wajahku. Kami tersenyum penuh hangat. Kami kembali berbagi cerita, tertawa, dan menjalin persahabatan yang baik.
            ¤

Doa-doa yang kuucapkan lepas shalat malamku, agar Allah memberikanku kesembuhan, kini terkabul. Kedua mataku sudah kembali pulih. Aku juga sudah melepas kaca mata yang akhir-akhir ini menggangguku. Aku tidak biasa memakai kaca mata. Teman-temanku juga sudah tidak ada lagi yang mengejekku. Aku pergi ke sekolah dengan senyum, menjabat satu persatu tangan guru-guruku di sekolah. Ada Ustadz Arian berdiri di depan kelas, menyambut kami dengan senyum hangatnya. Terimakasih Tuhan, atas apa yang telah Engkau berikan padaku.
            Sahabatku, seperti yang selalu diajarkan oleh guru-guru kita:
            Seberat apapun ujian dalam hidup, Tuhan harus selalu ada di dalam hati. Karena Tuhan memiliki rencana-Nya yang indah untuk hamba-Nya.”
            Jangan lupa;
            Peduli dengan kondisi teman adalah bukti bahwa kita adalah sahabat yang baik. Jika teman kita ada yang sakit, jenguk dia, beri dia motivasi agar semangat menjalani hidup, meski sakit terus menggerogoti tubuhnya. Beri perhatian dan kirimkan doa tulus demi kesembuhannya.  Insya Allah, Tuhan akan membalas segala kebaikan yang telah kita lakukan.”
            Sahabatku, aku bahagia bisa mengenal kalian.