February 14, 2013

Allah Maha Segalanya




Tuhan, kadang aku lupa dengan anugerah-Mu
Namun Engkau tetap memberiku anugerah
 Kadang aku lari dari jalan-Mu
Namun Engkau selalu menuntunku kembali pada-Mu
Kadang aku membenci-Mu
Namun kasih-Mu selalu hadir menyentuh hatiku


Pagi ini udara sejuk menusuk tulangku. Kuhirup pelan dan mulai kurasakan kesejukan udara pagi yang menenangkan jiwaku. Kutatap langit di atas sana, mentari sedang menyinari pagiku dengan hangat. Kulihat ke sekelilingku, orang-orang sudah mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Aku bersandar di kursi kayu yang ada di depan rumahku, memerhatikan kucing yang sedari tadi diam menyendiri di pojok sana. Sepi.
            Pagi ini, seharusnya aku pergi ke sekolah, bertemu dengan guru-guruku tercinta, bertemu dengan sahabat-sahabatku, bercanda, tertawa, berbagi cerita akhir pekan kemarin, atau hanya sekedar duduk di depan kelas, sambil menunggu bel masuk berdering. Tapi, pagi ini aku tidak bisa pergi ke sekolah, Allah sedang mengingatkan akan nikmat yang selama ini telah Ia berikan padaku.
            Mampukah kalian menghitung nikmat Tuhan? Dimana Tuhan tidak pernah meminta balasan atas nikmat yang selama ini telah Ia berikan. Kita semua tidak akan mampu menghitung nikmat dari-Nya.
            Aku duduk di depan kaca yang ada di meja belajarku, menatap lekat-lekat kedua mataku yang memerah, gatal, dan terasa perih. Aku menangis, dan baru menyadari betapa aku sangat tidak nyaman dengan kondisi yang sekarang sedang kualami. Mungkin ini cara Tuhan mengingatkanku, betapa Tuhan Mahabaik. Bayangkan, bagaimana jika Tuhan tidak memberikan kedua mata untuk melihat? Hanya dunia dalam gelap yang akan ada. Meski demikian, aku bersyukur kepada Tuhan, karena telah memberikanku kedua mata yang sempurna, sehingga aku bisa melihat dengan baik keindahan ciptaan-Nya.
            Ibu mengajakku pergi ke dokter, ibu sangat khawatir dengan kondisi mataku yang semakin memerah dan perih. Sudah tiga hari aku hanya bisa berdiam diri di rumah, menghabiskan waktu dengan berdiam diri di kamar. Tidak banyak yang bisa kulakukan. Kedua mataku terasa pegal dan terlihat lelah. Aku harus berobat. Aku tidak tahan jika harus berlama-lama dengan kondisi mata seperti ini.
            Setelah periksa ke dokter, dokter memberikan resep untuk penyembuhan kedua mataku. Aku berdoa, semoga mataku bisa kembali pulih, dan aku bisa kembali menjalani aktifitas sebagai seorang pelajar. Aku merindukan teman-temanku. Aku merindukan senyum hangat guru-guruku di sekolah. Aku merindukan mereka semua.
            Hari keempat, aku pergi ke sekolah, meski kondisi mataku masih belum sembuh. Aku tidak ingin terlalu banyak ketinggalan pelajaran. Sebentar lagi laporan termin bulan Januari. Masih banyak tugas yang belum kuselesaikan. Kegiatan belajarku di sekolah sangat terganggu dan kurang efektif. Baru sebentar saja membaca, mataku sudah mengeluarkan bulir-bulir bening. Belum lagi rasa perih yang menyiksaku, ditambah pegal yang memengaruhi konsentrasi belajarku. Aku jadi cepat mengantuk, dan tidak sanggup untuk mengikuti proses belajar hingga selesai.
            Masih dengan kondisi mataku yang belum pulih, aku pergi ke sekolah dengan memakai kaca mata. Aku malu, tapi, ibu bilang;
            “Nggak usah malu, Nak. Kaca mata itu untuk kebaikan matamu, agar terhindar dari debu. Biar matamu cepat sembuh.”
            Aku meng-iyakan apa kata ibu. Meski malu dengan kaca mata yang kupakai, aku tetap pergi ke sekolah. Awal-awal memang malu berat, semua mata serasa tertuju padaku. Aku tak ubahnya seperti orang aneh yang baru mereka lihat. Mereka menatapku penuh tanda tanya dan terkesan mengejekku. Aku cuek dan lama-lama bisa percaya diri, meski dengan kaca mata di wajahku.
            Ejekan-ejakan teman tentang kedua mataku yang merah, tentang kacamata yang kupakai, tak menyurutkan langkahku untuk pergi ke sekolah. Aku tetap pergi dan belajar. Aku memperbanyak istighfar atas apa yang kudengar.
            “Mereka tidak merasakan betapa aku tersiksa dengan kondisi ini,” gumamku dalam hati. Tapi, biarlah mereka menggonggong, kafilah tetap harus berlalu, kan? Biarkan mereka berkata apa tentangku, aku tetap harus belajar dengan baik.
            Aku menangis, karena mataku tak kunjung sembuh. Aku mulai merasa risih dengan teman-teman yang setiap hari mengejekku.
            “Tuhan, beri aku kesabaran atas apa yang Engkau ujikan padaku.” Aku mengucapkan untaian doa-doa dalam sujudku. Aku percaya, ini adalah cara Tuhan mengajarkanku arti bersyukur. Mungkin selama ini aku kurang mensyukuri nikmat yang Ia berikan.
            “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An Nahl: 78)
¤

Hari ini pelajaran fiqh di jam terakhir, aku duduk memerhatikan penjelasan dari ustadz yang mengajar. Tetapi, aku tidak bisa tenang dengan tatapan dari beberapa teman di kelasku. Tatapan itu, cara pandang itu, terkesan mengejekku. Astaghfirullah, aku tidak boleh berburuk sangka.
            Tanpa disadari teman-temanku, ustadz ternyata sedari tadi memerhatikan tingkah mereka yang menatapku aneh. Kadang mereka juga menggangguku dan membuat suasana kelas menjadi tidak kondusif. Berisik. Ustadz mengingatkan mereka, untuk tidak lagi mengejekku, tapi mereka tetap mengejekku. Aku hanya bisa diam, melihat tingkah mereka yang tak kunjung sadar.
            Ustadz menasehati mereka agar tidak melakukan itu lagi, teman-temanku tertunduk malu, menatap lantai keramik berwarna putih. Mereka mulai mengerti bahwa apa yang telah mereka lakukan adalah salah. Tidak seharusnya mereka mengejekku dan menertawakan kaca mata yang kupakai. Semua menjadi hening. Hanya ada kata-kata bijak berupa nasehat dari guruku. Kata-kata yang mengajarkan akan arti “peduli” dengan kondisi teman. Tidak seharusnya mereka bersikap seperti itu padaku. Bagaimana pun juga, aku adalah teman mereka, yang sehari-hari belajar bersama mereka di kelas yang sama.
            Keesokan harinya, temanku sudah menyadari akan kesalahan yang telah mereka lakukan. Mereka meminta maaf kepadaku dan juga kepada ustadz. Kalian tahu kawan? Allah itu maha pengampun. Jika Allah saja mau memaafkan kesalahan hamba-Nya, bagaimana mungkin aku tidak memaafkan mereka? Aku tersenyum, menyambut uluran tangan mereka.
            “Naufal, aku minta maaf, ya,” ucap mereka satu persatu.
            “Iya, aku juga minta maaf jika ada salah.” Jawabku sambil mengukir senyum tulus di wajahku. Kami tersenyum penuh hangat. Kami kembali berbagi cerita, tertawa, dan menjalin persahabatan yang baik.
            ¤

Doa-doa yang kuucapkan lepas shalat malamku, agar Allah memberikanku kesembuhan, kini terkabul. Kedua mataku sudah kembali pulih. Aku juga sudah melepas kaca mata yang akhir-akhir ini menggangguku. Aku tidak biasa memakai kaca mata. Teman-temanku juga sudah tidak ada lagi yang mengejekku. Aku pergi ke sekolah dengan senyum, menjabat satu persatu tangan guru-guruku di sekolah. Ada Ustadz Arian berdiri di depan kelas, menyambut kami dengan senyum hangatnya. Terimakasih Tuhan, atas apa yang telah Engkau berikan padaku.
            Sahabatku, seperti yang selalu diajarkan oleh guru-guru kita:
            Seberat apapun ujian dalam hidup, Tuhan harus selalu ada di dalam hati. Karena Tuhan memiliki rencana-Nya yang indah untuk hamba-Nya.”
            Jangan lupa;
            Peduli dengan kondisi teman adalah bukti bahwa kita adalah sahabat yang baik. Jika teman kita ada yang sakit, jenguk dia, beri dia motivasi agar semangat menjalani hidup, meski sakit terus menggerogoti tubuhnya. Beri perhatian dan kirimkan doa tulus demi kesembuhannya.  Insya Allah, Tuhan akan membalas segala kebaikan yang telah kita lakukan.”
            Sahabatku, aku bahagia bisa mengenal kalian.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan