February 16, 2013

Berbagi Bahagia


Jum’at, 15 Februari 2013     
            Sore ini hujan, tapi saya dan dua orang teman penuh semangat ingin berkunjung ke Pesantren An-Nur yang ada di daerah Rempoah, Baturaden. Kami sedang mencari tempat untuk kegiatan sosial. Meski hujan, kami tetap semangat menembus rintik-rintik hujan hehehe.
            Sesampainya di Pesantren, anak-anak sedang bermain di depan asrama. Mereka berlarian kesana-kemari, kemudian berhenti saat melihat kami datang. Mereka menatap lekat-lekat wajah kami. Haru langsung merembesi hati. Saya itu mudah banget terharu alias nangis (cengeng eh).
            Mereka adalah anak-anak kecil yang sudah yatim, piatu dan juga dhu’afa. Ah Tuhan, melihat senyum mereka, mendengar renyah tawa mereka, kemudian melihat tingkah lucu mereka, adalah bagian rasa bahagia yang sekarang sedang saya rasakan. Saya bahagia.
            Setelah berbincang sejenak dengan pihak pesantren, saya langsung menemui mereka, menyapa mereka, kemudian berkenalan. Mereka malu-malu memperkenalkan nama mereka masing-masing. Kami mulai bercerita banyak hal, tertawa dan berlarian kesana-kemari. Mereka menarik tanganku, mengajak bermain bersama mereka. Saya mengikuti langkah kecil mereka, ikut hanyut dalam dunia mereka. Bahagia sekaligus kasihan, hanya itu yang ada di dalam hati saya.

            Setelah berbincang sejenak, kami masuk ke dalam kamar mereka, tempat mereka tidur, melepas lelah setelah seharian beraktifitas. Lagi-lagi, saya amat kasihan dengan mereka. Kamar mereka jauh dari kata layak huni. Mereka hanya tidur beralaskan kasur yang sudah lusuh, bahkan ada yang hanya tidur beralaskan karpet. Sungguh sangat memprihatinkan.

            Meski demikian, mereka tetap tersenyum, tertawa, dan tampak bahagia. Ah… mereka adalah anak-anak yang mengajarkan saya arti bersyukur atas karunia Tuhan. Diumur mereka yang masih sangat kecil, mereka sudah harus kehilangan ayah, atau pun ibu. Atau bahkan ada yang masih belum mengerti tentang kehilangan. Karena mereka masih sangat kecil. Beberapa di antara mereka sudah menempuh pendidikan di sekolah dasar, beberapa lagi masih belum sekolah, dan ada juga yang sudah menyelesaikan pendidikan SMP sederajat dan berhenti, mereka membantu mengelola pesantren. Lagi-lagi karena tidak adanya biayalah yang menjadi penyebab mereka putus sekolah.

            Sebelum pulang, kami shalat maghrib berjama’ah terlebih dahulu, kemudian baru kembali ke rumah. Minggu depan, pada tanggal 24 Februari, insya Allah, kami akan kembali berkunjung ke pesantren, mengadakan kegiatan sosial, berbagi kebahagiaan dengan mereka, berbagi cerita dan berbagi segala kebaikan. Semoga niat tulus ini tetap ada. Amin.
            Aku menjabat tangan mungil mereka sebelum pergi, salah satu anak bilang gini;
            “Kakak, kapan datang lagi ke pesantren?”
            Dan saya hanya tersenyum, kemudian bilang;
            “Minggu depan, Insya Allah.”
            Kami pun berpisah, meninggalkan jejak-jejak kasih di sana.
            Ada yang berniat gabung? Silahkan hubungi saya di twitter @ariansilencer. Mari Berbagi kebahagiaan bersama mereka.


No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan