February 01, 2013

Mungkin Ini Cinta



           
            Bengkulu, 2006
            Riuh rendah suara memenuhi penjuru ruangan MAN Model Bengkulu. Sebuah sekolah yang kualitasnya menjadi contoh untuk sekolah negeri berbasis Islam di Bengkulu. Hari ini aku duduk di barisan depan, mewakili pesantren sebagai ketua OSIS untuk studi banding dengan OSIS MAN Model. Telingaku menangkap dengan baik satu per satu pemaparan kegiatan OSIS dari perwakilan OSIS MAN Model. Sambil sesekali mataku menatap ke luar jendela, langit tengah dirundung mendung. Awan hitam terlihat jelas menggantung di atas sana.
            “Perkenalkan, nama saya Fitria Meilinda,” terdengar suara seorang perempuan yang sedang memperkenalkan dirinya di depan mimbar, tapi aku tidak menoleh. Mataku takjub menatapi langit yang mulai meneteskan butir-butir air hujan ke bumi. Angin sepoi-sepoi masuk melalui jendela kayu berwarna kuning keemasan, berembus menyejukkan. Seperti suara perempuan itu, entah mengapa menyejukkan hatiku.
            “Mbak, no telponnya berapa?” tanya salah satu dari peserta studi banding, yang ternyata salah satu santri. Aku kembali melihat ke luar jendela. Hatiku berdenyar tiba-tiba, tapi entah mengapa tak sanggup membuatku menoleh untuk melihat parasnya. Aku kembali menggoreskan penaku ke buku harian yang selalu kubawa jika sedang berpergian. Namun jari jemariku serasa dituntun otomatis untuk menuliskan angka demi angka yang disebutkan oleh suara perempuan itu. Kubuat lingkaran besar, kemudian kutulis sebuah nama di pinggirnya “Fitria Meilinda”. Nama yang akan ada di masa depanku, begitu firasat berkelebat di bawa angin selepas hujan. Saat kututup buku harianku, perempuan yang namanya kutulis di buku ini sudah tak nampak lagi. Tapi suaranya entah mengapa masih membekas, dan rangkaian angka-angka ajaib yang ia sebutkan seakan sandi menuju masa depanku. Jodoh, yakin hatiku.
^
Aku sudah kembali ke pesantren, kembali sibuk dengan kegiatan yang ada di pesantren. Ditambah lagi dengan kesibukanku sebagai ketua OSIS, membuat kesibukan bertambah. Mesin tik berwarna hitam menjadi temanku, belum ada komputer untuk OSIS, hanya ada mesin tik tua yang menjadi teman setiaku dalam menjalankan tugas sebagai ketua OSIS.
            Hari terus berganti menjadi minggu, kemudian berganti bulan. Bulan pun berganti. Aku membacai catatan harianku, mengenang kembali apa yang sudah kulakukan selama ini. Menulis catatan harian, membuatku selalu ingat dengan apa yang selama ini telah kulalui, suka, duka selama di pesantren, semua menjadi kisah indah tersendiri.
            Jemariku berhenti membalik lembar catatanku, mataku tertuju pada nomor yang ada di dalamnya, ada sebuah nama yang tertulis di bagian pinggir nomor yang ada di dalam lingkaran itu. “Fitria Meilinda”, itulah nama yang tertulis di buku harianku. Suara itu seakan terdengar kembali di telingaku, terasa begitu akrab di hatiku. Ah, ini deretan nomor telepon perempuan pemilik suara indah itu. Kemudian otak nakalku kembali berulah, mencipta takdir di antara kami.
            “Fik, aku pinjam handphone-mu, dong, “ Ucapku pada Taufik yang sedang mencuci pakaian di sumur.
            “Ambil di dalam lemari,” tanpa menanyakan lebih lanjut, aku langsung meninggalkan Taufik dengan dahinya yang berkerut melihat tampangku seperti orang yang baru dapat arisan. Sumringah.
            Taufik adalah adik kelasku di pesantren, meski sebenarnya tidak diperbolehkan membawa handphone ke pesantren, tapi tetap saja ada santri yang berani membawa, meski harus super hati-hati. Karena jika ketahuan ustadz/ustadzah, alamat akan dibanting. Dan jika sudah demikian, handphone hanya akan menjadi barang rongsokan.
            Aku menghubungi nomor yang ada di diary-ku, beberapa detik kemudian, seseorang menjawab panggilanku.
            “Assalamu’alaikum,”
            Aku hanya diam mematung, membiarkan suara di ujung sana kembali mengulang ucapan salamnya. Ah, suara itu sungguh terasa dekat di hatiku. Sepersekian detik kemudian, aku menutup telpon, kembali mematung, tersenyum sendirian, tanpa tahu harus bicara apa dengannya. Aku bahkan tidak tahu seperti apa wajahnya.
            “Adam mulai gila,” komentar Hari, sahabatku, sambil membawa handuk menuju kamar mandi.
            Aku hanya tersenyum kepada Hari. Dan ada detak berpacu dalam hatiku. Senyumku entah mengapa makin melebar, berbunga-bunga tanpa sebab.
            “Tuh, kan, Adam sudah mulai nggak waras, senyum-senyum sendiri nggak jelas.” Hari terkekeh, meninggalkanku yang masih mematung sambil tersenyum tak jelas di dekat jendela.
^
Untuk sekian lama, aku melupakan tentang Fitria, aku sedang fokus dengan ujian nasional. Aku tidak ingin gagal dalam mengikuti ujian ini. Aku sudah berjanji pada diriku, bahwa aku harus lulus dan melanjutkan kuliah, meski aku tahu, kondisi keluargaku tidak memungkinkanku untuk bisa kuliah.
            “Adam mau kuliah ke Jakarta, Bu.” Ucapku pada ibu beberapa bulan lalu. Ibu hanya tersenyum mendengar ucapanku. Dengan penuh semangat, aku meyakinkan ibu, bahwa aku bisa kuliah. Aku percaya, Tuhan memiliki rencana yang indah untukku.
            Aku dan Hari duduk di pinggir sawah, memerhatikan ikan-ikan yang sedang berebut makanan.
            “Setelah dari pesantren, kamu mau lanjut kemana?” Hari menanyaiku, sambil sesekali matanya menoleh ke arahku.
            “Aku mau kuliah ke Jakarta.” Jawabku mantap.
            “Kamu enak, aku yakin kamu yang akan dipilih pesantren untuk mendapatkan beasiswa ke Jakarta itu.” Lanjut Hari dengan pandangan mata yang ia lempar ke hamparan sawah.
            “Amin,” jawabku pelan. Aku memang selalu berdoa pada Allah swt, semoga aku menjadi salah satu dari dua orang yang akan mendapatkan beasiswa itu. Pihak pesantren akan memilih dua orang lulusan terbaik, untuk dikuliahkan di Jakarta.
            “Bagaimana kabar Fitria?” tiba-tiba Hari menyebut nama itu.
            “Hah? dari mana kamu tahu tentang Fitria?” aku sempat kaget dengan pertanyaan itu.
            “Dulu kamu pernah cerita tentang nomor yang ada di buku harianmu.” Jawabnya sambil menahan senyum.
            “Nggak, aku nggak pernah cerita.” Kilahku.
            Hari kemudian tergelak.
            “Aku baca di buku harianmu ehehe.” Secepat kilat, Hari berlari dengan langkah seribu, sambil tertawa penuh kemenangan. Aku hanya mendengus kesal, saat tahu ada yang membacai catatan harianku. Itulah Hari, sahabatku yang kadang-kadang usil. Awas saja nanti, aku akan membalasnya.
^
Aku berhasil lulus dengan nilai yang baik, aku juga mendapatkan beasiswa S1 di Jakarta. Puji syukur kehadirat Tuhan, atas karunia yang telah Ia berikan padaku. Ibu meneteskan air mata, saat melihatku berdiri di atas panggung, menerima ijazah kelulusanku dari pesantren. Ibu juga menangis bahagia, saat namaku juga disebut sebagai penerima beasiswa kuliah ke Jakarta.
            Malam belum beranjak pergi, udara dingin menusuk kulitku. Aku duduk di depan masjid, sambil membacai kembali catatan harianku selama enam tahun di pesantren. Ada banyak kisah lucu, suka, duka, yang selama ini mewarnai hariku. Aku bahagia. Dan tiba-tiba, ingatanku akan nomor yang ada di diary-ku kembali hadir.
            “Fik, aku pinjam handphone lagi, ya.” Taufik mengangguk, sambil memberikan telpon genggam miliknya padaku. Kali ini, aku harus bicara dengan Fitria.
            Setelah menunggu, panggilanku akhirnya dijawab. Aku yakin, suara itu adalah suara yang kudengar beberapa bulan yang lalu, dan suara yang juga kudengar pada saat studi banding di MAN Model Bengkulu. Pemilik suara itu pasti Fitria.
            Meski gugup, aku akhirnya memberanikan diri untuk memperkenalkan diri. Fitria terdengar ramah, menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang terkesan seperti wawancara. Entahlah, mungkin karena aku jarang berinteraksi dengan perempuan, jadi aku gugup dan tidak tahu harus bicara apa.
            Tuhan, sepertinya aku jatuh cinta dengan pemilik suara itu. Inikah yang dinamakan cinta? Cinta yang membuat degup jantung berdetak kencang, cinta yang bisa membuat orang menjadi gila, cinta yang kata mereka bisa membuatmu mabuk kepayang? Aku baru kenal dengan yang namanya cinta. Tapi aku tidak seperti itu Tuhan. Ini hanya sekedar rasa yang tiba-tiba singgah di hatiku tanpa permisi.
            “Nggak boleh pacaran.” Begitu pesan Ustadz, saat kuceritakan tentang apa yang selama ini kurasakan. Aku tidak ingin terus menerus dihantui oleh rasa yang aku sendiri tidak mengerti.
            Hari itu akhirnya tiba, aku meninggalkan rasaku di Bengkulu, dan pergi menuju Jakarta.
            “Semoga kita memang jodoh,” ucapmu beberapa hari yang lalu, dan aku hanya mematung di depan gagang telpon umum yang kupakai untuk mengucapkan perpisahan denganmu.
            Kita akhirnya berpisah, meski memang tidak pernah bertatap muka. Mungkin ini yang namanya cinta. Entahlah, aku tidak pernah mengerti dengan rasa ini.
^
            Jakarta, 2009
            “Aku lagi di Jakarta.” Fitria mengirim pesan singkat padaku.
            Aku sedang bersiap-siap untuk pergi ke Kudus, untuk mengisi masa liburan. Aku tidak mungkin meluangkan waktu untuk bertemu, karena sore ini aku sudah harus berangkat ke Kudus. Aku sudah menyiapkan semuanya.
            “Jam berapa ke Kudusnya? Aku pengen ketemu.” Fitria ingin bertemu denganku untuk yang pertama kalinya.
            Ah, sungguh kejam rasanya jika aku menolak untuk bertemu. Akhirnya, aku persilahkan dia datang ke Terminal Lebak Bulus, dia bisa bertemu denganku sebelum keberangkatanku ke Kudus. Layaknya di film-film romance yang sering kulihat, mungkin ini menjadi momen itu. Aku tertawa dalam hati.
            Aku mengenakan kaos oblong berwarna putih, membawa sebuah koper berukuran besar, kemudian duduk di halte yang ada di Terminal. Fitria sudah sampai di Terminal, aku menunggu kedatangannya bersama dengan teman-teman yang ingin melepas kepergianku. Arghh aku deg-deg’an. Ini pertemuan pertama.
            “Adam?” seorang wanita muslimah menyebut namaku. Dia tersenyum, kemudian menangkupkan tangannya ke dada.
            “Aku Fitria.” Ucapnya pelan, tersenyum, membuat barisan giginya terlihat. Senyumnya sunggu indah.
            “Adam.” Jawabku sambil menahan gugup. Aku menundukkan pandanganku, tak mampu beradu pandang dengannya. Aku malu pada Tuhan.
            Tidak banyak yang kami bicarakan, hanya sekedar bertanya kabar, kemudian berpisah. Itu adalah pertemuan pertama dan terakhirku dengan Fitria.
            “Semoga kita jodoh.” Ucapnya sebelum bus beranjak pergi meninggalkan Terminal. Sama seperti yang diucapkannya tiga tahun yang lalu, saat aku ingin pergi ke Jakarta.
            Seperti biasa, aku hanya mematung, kemudian melambaikan tangan ke teman-teman yang ikut menghantarkan kepergianku ke Kota Kudus. Mungkin ini yang namanya cinta. Aku masih tidak mengerti. Tuhan, jika ini cinta, jangan Engkau jadikan ini sebagai penyebab berkurangnya cintaku pada-Mu. Bus terus melaju, meninggalkan Jakarta bersama rasaku.
            Tuhan, jika aku jatuh cinta
            Pertemukan aku dengan wanita yang bisa membuatku lebih dekat pada-Mu
            Tuhan, jika aku jatuh cinta
            Jadikan cintaku sebagai jalan untuk lebih mencintai-Mu
            Tuhan, jika aku jatuh cinta
            Izinkan aku mencintainya karena-Mu

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan