February 07, 2013

Pa, Aku Merindukanmu



“Fathers are the ones that pick you up and give you the courage to do stuff you never could.( The Game Plan)”

Hujan terus membasahi semesta, jatuh bersama keping-keping rindu yang memenuhi rongga dada Aisyah. Ia duduk di dekat jendela, menatap ke luar sana, melihat gemerlap malam yang semakin larut. Suara jangkrik menemani malamnya yang sunyi. Angin yang berembus, masuk ke dalam kamarnya. Dingin. Cukup lama Aisyah menatap langit, kemudian bersenandung, dan sesekali menghitung bintang yang ada di atas sana. Ada rembulan yang sedang menerangi sang malam.
            Aisyah beranjak dari jendela kamarnya, kemudian mengambil catatan harian yang ada di atas mejanya. Aisyah membacai kembali catatan hariannya lima tahun yang lalu, saat ia masih di sekolah menengah atas. Ada banyak kisah yang tertulis di dalam catatan hariannya. Ada banyak suka, duka, yang mewarnai perjalanan hidupnya. Aisyah berhenti membalik lembar demi lembar catatan hariannya saat ia melihat sebuh foto dengan seukir senyum khas tertempel di buku hariannya. Foto itu ia tempelkan di bagian atas, kemudian dibuat sebuah lingkaran memanjang. Ada sebuah tulisan, “Pa, Maafkan Aisyah,”
            Kedua mata Aisyah basah, saat melihat selembar foto itu, foto kenangan saat sang papa masih berada di sisinya. Ah papa, Aisyah merindukanmu, ucapnya dalam hati. Kadang ia tak habis pikir, betapa banyak teman-temannya di kampus yang membenci bapak maupun ibu mereka. Selalu ada alasan untuk membenci keduanya.
            Mendingan nggak punya orangtua, semuanya sibuk. Nggak pernah di rumah.” Oca, salah satu teman di kelas Aisyah berkomentar.
            Payah, apa-apa nggak boleh, aku kan sudah gede, masa dilarang mulu. Nggak asyik.” Rangga juga ikut berkomentar tentang orangtuanya.
            Wanda tidak mau ketinggalan ikut nimbrung.
            Mamaku itu nggak gaul, masa keluar malam aja nggak boleh. Padahal aku kan mau pergi bareng teman-teman, bukan mau ngerampok.”
            Dan Aisyah, ia hanya terdiam, mendengarkan ocehan teman-teman di kelasnya tentang dua orang yang seharusnya dihormati, karena keduanya sudah berjuang membesarkan kita hingga sekarang. Ayah/Ibu adalah pahlawan dalam hidup. Ayah dengan tetesan keringatnya, berjuang mencari nafkah untuk kita, agar kita bisa mendapatkan pendidikan yang baik. Ibu, dengan kasihnya yang lembut, sentuhan jemarinya yang menghangatkan, yang telah mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan. Lantas, mengapa mereka begitu membenci keduanya?
            “Mereka belum merasakan betapa sakitnya kehilangan ayah/ibu.” Gumam Aisyah dalam hati.
            Ingatan tentang sang ayah kembali hadir dalam benak Aisyah. Tuhan, mengapa begitu cepat Engkau mengambil papa? Aisyah pernah menanyakan itu pada Sang Pencipta di sujud panjangnya di pertengahan malam. Ia sering mengadukan kerinduannya pada sang papa. Hingga akhirnya ia merelakan kepergian laki-laki yang telah menjadi pahlawan hidupnya itu.
            Aisyah memang pernah bersikap sama, seperti yang dilakukan teman-temannya. Tidak hormat pada ayah/ibu. Tapi itu dulu. Kini, cinta itu sudah memenuhi hatinya, meski setelah merasakan betapa sakit kehilangan orang yang selama ini selalu ada untuknya.

5 Tahun Yang Lalu
“Aisyah, ayo cepat, Nak. Nanti kita kesiangan.” Pak Ahmad mengajak putri semata wayangnya untuk bersepeda keliling kota. Hari ini adalah hari minggu, Pak Ahmad selalu mengajak putrinya untuk menikmati pagi bersamanya. Keduanya bersepeda ke alun-alun Kota Purwokerto, kemudian menuju RS Margono. Sampai di Margono, keduanya biasa berhenti di dekat taman yang ada di depan Margono. Mereka biasa menikmati bubur ayam atau opor ayam sebagai menu sarapan pagi. Tidak mudah memang, mengajak Aisyah untuk pergi bersamanya.
            Jujur, Aisyah tidak terlalu suka pergi bersepeda dengan sang papa. Kadang ia mencari segudang alasan, agar bisa lolos dari kebiasaan papanya berkeliling kota di akhir pekan.
            “Pa, Aisyah kurang enak badan,” ucap Aisyah pada suatu kesempatan.
            “Pa, minggu depan aja, ya, kali ini Aisyah mau ngerjain tugas.” Ucapnya di waktu yang lain. Entah sudah berapa banyak alasan-alasan yang dibuatnya, agar bisa berdiam diri di rumah, dari pada pergi bersama sang papa.
            Tidak hanya itu, kadang Aisyah marah pada papanya, karena terlalu sering diatur. Ia merasa papa terlalu mengatur hidupnya.
            “Pa, Aisyah bukan anak TK lagi, semuanya harus diatur. Aisyah sudah bisa memutuskan mana yang baik, dan mana yang buruk bagi diri sendiri. Sudah seharusnya papa memberi Aisyah kepercayaan, bahwa Aisyah bisa. Tidak terus menerus dihantui dengan sekian banyak aturan yang papa buat, yang kadang membuat Aisyah tidak nyaman.”
            Jika sudah demikian, Pak Ahmad hanya bisa mematung, menatap lekat-lekat wajah putrinya. Hanya dia yang menjadi teman hidupnya. Istrinya sudah lebih dulu kembali kepada Tuhan. Mungkin Pak Ahmad terlalu takut kehilangan orang yang dicintainya untuk yang kedua kalinya. Tapi, apa salah jika aku mengharapkan bisa berbagi bahagia, cerita, canda, tawa, dengan anakku sendiri? Tanya Pak Ahmad pada malam yang gelap.
            Aisyah tidak pernah tahu tentang penyakit yang selama ini disembunyikan sang papa darinya. Pak Ahmad selalu berusaha terlihat tegar, menjalani kerasnya hidup. Ia selalu berusaha memberikan senyum terbaiknya di hadapan malaikat kecilnya, Aisyah. Tapi, hingga rasa sakit itu semakin menggerogoti tubuhnya yang semakin ringkih, Aisyah masih tak mau peduli. Aisyah masih belum memiliki cinta yang utuh untuk sang papa. Aisyah lebih memilih sibuk dengan kegiatannya di luar rumah, pergi bersama dengan teman-temannya. Hingga akhirnya, duka itu datang menghampiri.
            “Aisyah, papamu di rumah sakit.” Anton, teman satu sekolah yang kebetulan tetangga rumahnya memberitahunya melalui pesan singkat. Dahi Aisyah berkerut dan masih tidak percaya.
            Jangan becanda, Ton.” Balasnya, kemudian melanjutkan perbincangannya dengan teman-teman.
            “Aku serius. Tadi papamu pingsan di depan rumah, kebetulan aku baru pulang dari sekolah.” Ini tidak main-main, pikir Aisyah. Ia bergegas, pergi meninggalkan teman-temannya tanpa permisi. Ada setetes embun di ujung matanya, basah bersama rintik hujan yang menemani langkahnya yang terburu-buru. Ada sumpah serapah pengguna jalan, karena Aisyah menyeberang tanpa melihat ke kiri dan ke kanan. Ia nyaris tertabrak.
            Pak Ahmad terbaring lemah tak berdaya, menatap langit-langit kamar ruangannya yang berwarna putih bersih. Ada banyak infus yang terpasang di sekujur tubuhnya. Ia semakin tak berdaya. Aisyah datang, kemudian langsung menatap wajah sang papa yang berusaha untuk tersenyum menyambut kedatangannya.
            “Pa, mengapa papa tidak pernah bilang? Maafkan Aisyah.” Pak Ahmad hanya mengangguk, kemudian membiarkan putrinya mengelus keningnya yang sudah dipenuhi garis-garis kehidupan.
            Enam bulan Pak Ahmad bertahan, dan waktu itu pun tiba. Kedua mata itu menutup, selamanya. Dengan linangan air mata, Aisyah melepas kepergian sang papa. Aisyah memeluk pusaran tanah berwarna merah yang menjadi pembaringan terakhir papanya.
            “Pa, jangan tinggalkan Aisyah.” Pekiknya nyaring.
            Laki-laki itu pergi, meninggalkan permata hatinya sendiri. Satu doa yang selalu ia panjatkan pada Tuhan, sebelum ia kembali pada-Nya.
            -Tuhan, jaga Aisyah, tabahkan hatinya menjalani jalan hidup. Bimbing dia ke jalan-Mu.-
            Sahabatku,
            Jangan tunggu nanti, untuk berbakti pada kedua orangtuamu, sebelum semuanya terlambat. Jadilah anak yang selalu berbakti. Tebarlah butir-butir bakti selagi keduanya masih ada di sampingmu. Selagi mentari itu masih mampu bersinar di sekelilingmu.
            Tataplah wajah ayah/ibu saat keduanya sedang lelap tidur. Wajah itu kini mulai dipenuhi garis-garis kehidupan. Tubuh keduanya kini semakin ringkih. Bagaimana jika keduanya tidur untuk selamanya dan kita belum sempat untuk berbakti? Jangan tunda, mulailah berbakti pada keduanya.
            Ayah/ibu selalu berdoa agar kita menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat, walaupun kita jarang bahkan jarang sekali mendoakan keduanya.”

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan