March 29, 2013

Mencintai


Mungkin aku hanya ditakdirkan untuk “mencintai”, bukan “dicintai” apalagi mencintai dan dicintai. Aku hanyalah seseorang yang terlalu sering mencintai, tanpa pernah merasakan indahnya dicintai. Atau apakah aku terlalu takut dengan sesuatu yang baru? Seperti ketika ada seseorang yang memberi perhatian lebih dalam hidupku.
Kadang aku lelah, jika terus harus mencintai, tanpa pernah dicintai oleh seseorang yang kucintai. Aku adalah pangeran cinta yang hanya memiliki sebelah sayap cinta yang tidak bisa membawaku terbang menuju cinta. Aku hanya sendiri, bergelimang cinta yang tidak pernah berhasil berlabuh ke hati seseorang yang bisa mencintaiku layaknya cinta yang kumiliki.
“Itu karena kamu terlalu pemilih, Mas,” ucap salah seorang sepupuku.
Aku? Pemilih? Aku bahkan tidak memiliki pilihan. Adakah wanita di hadapanku yang siap untuk kupilih? Tidak ada. Kalian salah jika mengatakan bahwa aku adalah seorang laki-laki yang terlalu pemilih dalam mencari pasangan hidup. Aku bahkan tidak memiliki pilihan itu.
“Kamu pernah ngungkapin perasaanmu ke wanita itu nggak, Mas?” Tanya salah satu temanku.
Mengungkapkan? Selalu. Aku selalu mengungkapkan rasaku kepada wanita yang kucintai. Tapi, aku hanya berhasil mengungkapkan rasaku, bukan berhasil merasakan betapa indahnya dicintai.

Aku hanyalah laki-laki yang terkena kutukan dewa cinta
Sendiri, merasakan indahnya mencintai
Tanpa pernah merasakan indahnya dicintai
Inilah aku, laki-laki yang penuh cinta Tapi sendiri
Adakah wanita di luar sana yang ingin memilikiku?

Mereka bilang, aku hanyalah laki-laki yang terlalu menikmati hidup, hingga lupa untuk membangun keluarga yang diridhai Tuhan. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa aku mencoba untuk itu. Apa aku harus berteriak di hadapan semua orang bahwa aku sedang berusaha untuk mencari seseorang yang memang telah Tuhan takdirkan untukku? Haruskah?
Sepertinya aku memang terkena kutukan. Hanya ditakdirkan mencintai, bukan dicintai.
“Pernah nggak seseorang menyatakan cintanya padamu?” Tanya sahabat dekatku.
Harus kuakui, ada beberapa wanita yang pernah menyatakan cinta kepadaku. Tapi, tiap kali mereka menyatakan cinta kepadaku, aku tidak memiliki rasa yang harus kuberikan kepada mereka. Hatiku tidak mencintai dan memilih untuk tidak menerima dan merasakan dicintai.
“Mungkin karena itu, Mas, sekarang mas merasakan hal yang sama, seperti yang pernah mas lakukan kepada mereka yang menyatakan cinta kepada, Mas.”
Mungkin, jawabku sambil mengembuskan nafas panjang, mencoba untuk menerima jalan hidup.
“Tidak ada yang namanya kutukan cinta, hanya saja Tuhan belum mempertemukanmu dengan belahan jiwamu. Kamu harus percaya, bahwa Tuhan sedang menyiapkan seseorang yang akan menjadi pendamping hidupmu. Perbaiki diri, siapkan diri untuk menjadi suami yang baik, ayah yang baik dari anak-anakmu kelak. Percayalah, bahwa Tuhan tidak buta. Panjatkan doa kepada-Nya dalam tiap sujudmu, pinta pada-Nya istri yang shalehah, yang akan membuatmu lebih mencintai-Nya.” Seorang ustadz memberiku pencerahan saat kukatakan bahwa aku terkena kutukan cinta.
Aku tenang, mencoba untuk bernafas teratur. Setelah mendengarkan panjang lebar penjelasan dari ustadz itu, aku merasakan ketenangan. Tuhan, aku percaya dengan janji-Mu.

NB;Abaikan tulisan ini haha #kabur

March 27, 2013

Dear Dad


Ayah, aku sengaja menuliskan ini semua, rasa yang sejak lama menyesakkan dadaku. Kadang aku hanya bisa terdiam, saat aku merasakan sesak yang tak berujung. Ayah, akhir-akhir ini aku sering menangis seorang diri, bertemankan gelap malam. Ayah tidak pernah tahu itu semua. Ayah, aku sangat menyayangimu, sama seperti sayang yang telah ayah berikan padaku selama ini. Terimakasih, Ayah.

Ayah, maaf, jika aku sering membuat ayah marah; dengan sikapku yang kadang tidak hormat padamu, dengan bahasaku yang kadang jauh dari kata sopan, dengan tatapanku yang kadang penuh kebencian pada ayah. Tapi, aku ingin ayah tahu bahwa aku tidak pernah benar-benar membencimu. Aku tidak pernah benar-benar marah padamu. Aku tidak pernah benar-benar ingin pergi menjauh darimu.

Ayah, aku tahu betapa ayah merindukan sosok Ibu yang dulu selalu menemani hari-hari kita. Senyum ibu selalu hadir di dalam rumah kita ini. Aku mengerti akan perasaan yang ada di dalam hati ayah. Tapi, ada aku di sini, Yah. Aku butuh hadirmu dalam setiap hariku. Aku butuh kasihmu dalam tiap embusan nafasku. Aku butuh belaianmu menjelang tidurku. Aku butuh senyummu. Aku juga merasakan kehilangan yang sama denganmu, Ayah.

Ayah, aku bosan dengan pertengkaran yang terjadi antara kita berdua. Aku jenuh dengan sumpah serapah yang kadang ada di dalam pertengkaran kita. Aku menginginkan senyum tulusmu, aku butuh peluk hangatmu, aku butuh itu semua.

Ayah, mengapa harus ada pertengkaran di antara kita? Bukankah seharusnya ada kasih sayang yang menemani kebersamaan kita? Bukankah harusnya kita saling mengerti satu sama lain, saling mendukukung dan saling menghargai? Itu hanya pendapatku saja, Yah. Aku tidak tidak tahu pendapat ayah.

Aku ingin ayah tahu, bahwa aku hanya butuh kasih sayangmu, bukan rumah megah yang hanya berisikan kaki tangan ayah. Aku butuh ayah di rumah ini, bukan hanya gambar-gambar keangkuhan yang membuatku jengah.

Ayah, maaf jika aku terlalu jujur mengungkapkan isi hatiku. Tapi inilah yang sedang berkecamuk di dalam hatiku. Aku hanya butuh ayah lebih perhatian padaku. Aku hanya butuh ayah ada untukku. Aku hanya butuh itu. Maaf jika aku berlebihan.

Ayah, maaf, surat ini hanya bisa kuberikan pada ayah melalui e-mail. Karena aku tahu, jika kuletakkan di meja kerja ayah di rumah, surat ini tidak akan pernah dibaca. Aku bahkan tidak tahu kapan terakhir kali ayah berada di ruang kerja yang ada di rumah. Ayah hanya pulang barang sejenak kemudian pergi. Dan begitulah seterusnya. Aku hanya menatap punggung ayah dalam lisan yang beku.

Ayah, kini aku telah pergi dari kehidupan ayah. Aku ingin pergi mencari kasih sayang yang tidak kudapatkan dari ayah. Maaf, jika aku belum bisa menjadi anak yang baik. Aku pergi, Ayah.
Salam. Anakmu
Rangga Ramadhan

2 Hari Sebelumnya
Rangga masuk ke dalam ruang kerja ayahnya. Kosong. Sang ayah sedang pergi ke luar kota dan baru akan kembali tengah malam nanti. Rangga berusaha untuk menunggu kedatangan sang ayah, ingin memastikan bahwa besok sang ayah bisa datang ke sekolah untuk mengambil raport kenaikan kelas. Namun, hingga tengah malam, sang ayah tak kunjung datang. Rangga sudah terkantuk-kantuk di ruang tamu, mengganti channel televisi, mengisi perutnya agar tetap terisi. Namun, yang ditunggu tak kunjung datang.

Rangga membuka pintu depan rumahnya, melihat ke arah jalanan yang ada di komplek. Sepi. Tidak ada tanda-tanda kedatangan sang ayah. Hingga kantuknya sudah tidak lagi bisa ditahan, sang ayah tak nampak batang hidungnya. Rangga terlelap tidur di ruang tamu.

Mbok Inem menatap wajah Rangga yang sedang lelap tidur berselimutkan dinginnya malam. Wanita paruh baya itu membawa tubuh Rangga sambil tertatih, memindahkannya ke dalam kamar. Ia tida tega jika harus melihat Rangga tidur di ruang tamu hanya berselimutkan dingin.
Rangga, ia baru kelas 1 SMA. Postur tubuhnya yang kecil, membuat ia terlihat lebih muda dari teman-teman sebayanya. Mbok Inem sangat menyayangi Rangga. Ia menjadi sosok ibu bagi Rangga, semenjak ibunya meninggal beberapa tahun yang lalu.
***

Selepas shalat subuh bersama dengan Mbok Inem, Rangga berlari ke kamar ayahnya, mengejar bayang-bayang yang sudah dinantinya sejak tadi malam. Ia ingin memastikan bahwa sang ayah sudah membaca surat dari pihak sekolah, tentang pembagian raport kenaikan kelas. Tapi, bukan sosok ayah yang ia temui, melainkan hanya tumpukan bantal yang tersusun rapi.
“Mbok, ayah sudah pergi?”
Mbok Inem tidak tahu harus berkata apa kepada Rangga. Ayah Rangga sama sekali belum pulang ke rumah sejak tadi malam. Mbok Inem hanya bisa diam untuk ke sekian kalinya, tidak mampu berucap sepatah kata pun.
            Rangga berlari ke kamarnya, menagis tersedu-sedu. Hari ini, ia sudah sangat berharap sang ayah akan datang ke sekolahnya, melihat hasil perkembangannya selama satu semester ini. Rangga sudah belajar dengan tekun ingin membuat sang ayah bahagia. Rangga yakin, nilainya kali ini lebih baik dari sebelum-sebelumnya.
        Malam semakin larut, Rangga sudah duduk di ruang tamu, kembali menunggu kedatangan sang ayah. Setelah hampir tiga jam lebih menunggu, sang ayah akhirnya datang. Rangga berusaha untuk tersenyum menyambut kedatangan sang ayah, Rangga berusaha semaksimal mungkin untuk tidak marah pada ayahnya. Ia jenuh jika harus bertengkar terus dengan sang ayah.
            “Ayah, tadi pembagian raport kenaikan kelas. Mbok Inem yang datang ke sekolah.” ucap Rangga perlahan sambil memaksa untuk tersenyum.
            “Ooo..” Sang ayah hanya ber-o panjang dan berlalu pergi.
            Melihat itu, Rangga marah.
“Ayah, Rangga juara satu. Rangga ingin papa tahu bahwa Rangga sudah berusaha belajar dengan tekun, karena Rangga ingin ayah bangga dengan semua ini. Rangga tidak minta apa-apa dari ayah, Rangga hanya ingin ayah ada untuk Rangga. Menemani Rangga tumbuh. Tapi mana? Ayah selalu sibuk dengan kerjaan kantor. Kita bahkan jarang sekali bertemu, walau hanya sekedar bertegur sapa. Rangga jenuh dengan semua ini. Rangga juga merasakan kehilangan yang sama. Tadi hidup harus terus berjalan, Yah. Kita tidak bisa terus-terusan bersedih.” Teriaknya keras.
Tapi sang ayah sudah berlalu, hilang di balik pintu kamar berwarna kuning keemasan itu. Dan Rangga memilih untuk pergi dari rumah.
***

Dari balik pintu kamarnya Sang Ayah ternyata menangis, menyesali diri karena terlalu larut dalam kesedihan karena kehilangan istri tercinta. Kesibukan menjadi pelariannya, agar tidak terus dibayangi oleh bayang-bayang masa lalu tentang sang istri. Ia menyesali.
***

3 Tahun Kemudian
Ayah, maafkan Rangga, baru kali ini bisa berkirim kabar. Maafkan sikapku yang dulu pernah marah kepada ayah. Rangga akan segera kembali, Rangga kangen ayah.

Rangga mengirimkan pesan elektronik itu ke e-mail ayahnya. Berharap sang ayah akan membalas pesan darinya.
Setelah semua dirasa siap, Rangga menikmati perjalanannya kembali ke rumah. Dengan penuh kesabaran, ia berusaha menahan rindu yang sejak lama ia kubur dalam-dalam. Dan hari ini, rindu itu ingin berlabuh, ingin bertemu dengan laki-laki yang dulu pernah ia benci.
Ayah, apa kabarmu?
Pertanyaan itu sudah terucap beberapa kali selama perjalanannya menuju rumah. Butuh tiga hari tiga malam perjalanan darat untuk bisa bertemu dengan sang ayah. Dan saat bus berhenti di pinggir jalan raya, Rangga turun, bergegas menuju pangkal ojek di depan komplek perumahan yang telah lama ia tinggalkan.
“Cepat, ya, Pak.” Perintah Rangga pada tukang ojek.
Rumah itu, masih seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Tembok tinggi yang menjulang berwarna perak, tanaman bunga yang warna-warni, semua masih sama seperti dulu. Rangga menekan bel beberapa kali, namun tidak ada seorang pun yang membukakan pintu. Rangga memilih untuk menunggu di depan gerbang rumahnya.
“Nak Rangga?” seorang wanita paruh baya menghampirinya, dan Rangga langsung memeluk wanita itu. Dialah Mbok Inem, yang mengasuhnya sejak kecil. Mbok Inem membalas pelukan anak majikan yang sejak lama ia rindukan.
Rangga langsung membantu Mbok Inem membawa sayur mayur belanjaannya ke dalam rumah.
“Ayah apa kabar, Mbok?”
Mbok Inem tidak menjawab. Ia menarik tangan Rangga yang sudah semakin berisi. Rangga tidak sekurus dulu. Wanita itu ingin menunjukkan sesuatu kepada Rangga. Rangga mengikuti saja ajakan Mbok Inem yang selama ini sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.
Pintu kamar dibuka, seorang laki-laki duduk di atas kursi roda menghadap jendela, melawan hembusan angin yang masuk melalui jendela. Laki-laki itu kurus, wajahnya pucat, matanya tidak ada sinar kehidupan, tatapannya kosong.
“Satu tahun setelah kepergian Nak Rangga, Bapak mengalami stroke.” Begitulah penjelasan singkat dari Mbok Inem. Rangga tidak ingin mendengarkan penjelasan panjang lebar. Ia langsung bersimpuh di hadapan sang ayah dengan isak tangis yang semakin menorehkan luka. Rangga mencium tangan sang ayah, kemudian memeluknya. Rangga berbisik ke telinga ayahnya,
“Ayah, maafkan Rangga.”
Sang ayah hanya mematung. Ada bulir-bulir di ujung matanya. Ia menangis. Dan mereka berdua hanyut dalam tangis bersama keping-keping rindu yang perlahan menyatu.

Ayah, aku kembali bersama rindu
Aku kembali bersama dengan penyesalan masa lalu
Aku kembali untuk menemani hari-harimu
Ayah, aku tidak akan pergi lagi
Aku kembali untuk selamanya


March 21, 2013

Ayah/Ibu, Temaniku Tumbuh


Ayah/Ibu…..
Aku tahu betapa besar tanggung jawabmu
Aku tahu apa yang engkau lakukan adalah untukku
Aku tahu sebenarnya engkau tidak pernah benar-benar membenciku
Aku tahu bahwa sebenarnya engkau tidak pernah benar-benar menjauhiku
Tapi…mungkin kadang engkau lupa bahwa;
Aku ingin hadirmu dikala aku sedang butuh seseorang untuk bercerita
Aku ingin adamu saat aku sedang dirundung masalah
Aku ingin engkau selalu ada untukku
Maaf, jika aku belum bisa menjadi anak yang baik
Aku sedang berusaha untuk itu
Bantu aku tumbuh menjadi anak yang engkau dambakan
Temaniku aku, Ayah/Ibu.


Sabtu, 16 Maret 2013
Seperti biasa, anak-anak menjabat tangan saya, tersenyum, kemudian mengucapkan salam. Saya menjawab salam mereka sambil tersenyum. Saya menanyakan kabar mereka, apakah mereka sudah shalat duha atau belum. Jika ada yang belum melaksanakan shalat duha, maka saya akan memersilahkan mereka untuk segera shalat. Bagi yang sudah melaksanakan shalat duha, saya berikan pujian sebagai wujud penghargaan bahwa saya peduli dengan mereka.
            Menjelang bel masuk berdering, Ustadz Andika tiba-tiba menghampiri saya.
            “Ustadz, nanti kita razia tas anak-anak, ya. Biar Ustadz Masnun yang mengondisikan anak-anak di luar kelas.”
            Saya mengiyakan ajakannya, kemudian meminta Ustadz Masnun untuk mengondisikan anak-anak di luar kelas, diisi dengan nasehat-nasehat sebagai penyemangat pagi bagi anak-anak.
            Setelah bel masuk berbunyi, masing-masing wali kelas VIII putra masuk ke kelas masing-masing, memeriksa satu persatu tas anak-anak. Saya memeriksa dengan detil setiap tas yang ada di kelas, saya menemukan ada anak yang membawa handphone dan tablet tanpa seizin saya. Sedangkan di kelas lain, ada yang membawa laptop tanpa izin dari pihak sekolah, dan ada juga yang membawa handphone. Anak-anak memang tidak diperbolehkan membawa perangkat elektronik ke sekolah tanpa seizin pihak sekolah.
            Setelah disita, saya dan beberapa guru memeriksa satu persatu isi laptop, tablet dan juga handphone. Hasilnya, sangat mencengangkan. Ada banyak files yang seharusnya tidak disimpan oleh anak-anak. Inilah tantangan zaman sekarang. Dengan perkembangan tekhnologi, ada banyak sekali dampak positif dan negatifnya. Selaku orangtua, seharusnya bisa mengontrol fasilitas yang diberikan kepada anak. Memenuhi segala permintaan anak, misalkan gadget, perlu adanya pengawasan terhadap itu semua. Anak tidak bisa dibebaskan begitu saja. Tidak cukup hanya sekedar memberikan begitu saja, akan tetapi perlu adanya kontrol, sehingga anak-anak tidak lepas terjerumus ke hal-hal yang tidak baik.
            Pernah suatu ketika, saat saya berkunjung ke rumah salah satu murid, wali murid sempat berkomentar begini, “anak kelas 1 SD sudah diberi blackberry, itu bagi saya aneh.” Saya juga berpikiran sama. Untuk anak-anak seumuran itu, apa memang sudah butuh dengan smartphone? Menurut pribadi saya, mereka belum membutuhkan itu semua.
            Kembali ke permasalahan awal, tentang barang-barang yang disita. Saya memanggil satu persatu dari mereka, menanyakan alasan mereka membawa HP, laptop, atau tablet. Setelah selesai menanyai mereka semua. Ada satu anak yang saya panggil, karena saya lihat dia duduk di depan kelas sendirian. Sedangkan teman-teman yang lain sudah pulang. Dari sinilah cerita bermula.
            Sebut saja namanya si Fulan. Ia duduk di samping saya, kemudian menangis terisak. Saya melihat bulir-bulir di ujung matanya. Dia menangis tersedu-sedu dan tidak sanggup untuk bercerita tentang apa sebenarnya yang terjadi. Saya tetap membiarkannya menangis, hingga ia bisa menceritakan tentang apa yang sebenarnya yang ia rasakan.
            Sepuluh menit berlalu, si Fulan sudah mulai agak tenang, tapi masih dengan air mata di kedua matanya. Ia mulai bercerita, kemudian saya pun berusaha menjadi pendengar yang baik, sesekali berkomentar, memberikan nasehat, kemudian saya hanya diam, mendengarkan kalimat-kalimat yang terucap dari bibirnya. Saya melihat ada sebuah ketulusan dari pancaran matanya. Ia betul-betul ingin mencurahkan apa yang selama ini ada di dalam hati. Saya yakin, ia sudah menyimpan kegelisahan ini sejak lama, dan hari ini ia sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan dengan kegundahan hatinya. Ia butuh seseorang yang bisa menjadi tempatnya berbagi.
            “Ustadz, aku hanya minta Papa dan Mama lebih sering di rumah, melihatku tumbuh, menanyakan bagaimana perkembanganku di sekolah, menanyai kabarku setiap pulang sekolah, berdiskusi sederhana tentang materi-materi yang tidak kumengerti, atau jika memang memungkinkan bisa menjemputku sepulang sekolah. Aku hanya minta Papa dan Mama lebih perhatian padaku. Aku tidak merasakan kasih sayang yang utuh dari keduanya. Aku merasa iri, melihat teman-teman yang diantar jemput oleh orangtuanya. Aku iri, dengan teman-teman yang orangtuanya selalu berusaha untuk hadir ke sekolah saat pembagian progress report atau raport kenaikan dibagikan. Aku ingin sekali papa dan mama bisa seperti itu. Sejak SD kelas enam, Papa dan Mama lebih sering di luar rumah ketimbang berada di rumah.”
Ia berhenti sejenak, kemudian menyeka air mata di ujung matanya. Saya memberikannya segelas air putih, mencoba menenangkannya.
“Setiap hari, Mama sudah pergi sejak pukul empat pagi dan pulang malam, saya tidak merasakan adanya Mama di rumah. Papa juga sudah sibuk di kantor sejak pagi sampai pukul lima sore. Aku bertemu Papa dan Mama hanya malam hari, setelah semuanya sama-sama sibuk dengan kesibukan masing-masing. Jika sudah demikian, tidak ada lagi kebersamaan. Semua di kamar masing-masing. Aku merasa seperti diabaikan oleh keduanya. Padahal aku hanya butuh kasih sayang yang lebih dari keduanya. Itu saja, Ustadz.” Ia mengakhiri ceritanya sambil kembali menangis. Saya tersentuh dengan ceritanya. Sebenarnya bukan kali ini saja saya mendapati anak-anak yang bercerita tentang kondisi orangtua di rumah. Ada banyak anak yang bercerita.
Kami sama-sama diam, saya mencoba untuk memahami apa yang ia ceritakan. Sebenarnya saya sudah sedikit tahu tentang ini, dari pesan singkat yang sering ia kirimkan kepada orangtuanya melalu handphone kelas. Saya sering mendapati dia mengirim pesan kepada orangtuanya untuk dijemput, tapi sering sekali tidak bisa dijemput karena kesibukan. Ia harus naik angkot untuk pulang. Dan saya juga bisa melihat, setiap kali ada permasalahan di sekolah, orangtuanya tidak pernah datang, melainkan hanya sang kakak yang selalu datang. Begitu juga ketika pembagian hasil perkembangan anak, selalu sang kakak yang mengambil.
“Mas sudah pernah bilang ke Mama dan Papa tentang hal ini?”
Ia hanya menggeleng sambil menunduk. Dia masih menangis.
“Aku nggak minta macam-macam, Ustadz. Aku hanya ingin Papa dan Mama lebih perhatian. Itu saja.”
Cerita ini hanyalah satu dari sekian banyak cerita dari anak-anak tentang kondisi mereka di rumah. Ada yang pernah bercerita tentang ketidakharmonisan kedua orangtuanya, ada yang bercerita tentang orangtuanya yang bertugas di luar kota dan hanya bisa bertemu dengannya sekali dalam sebulan, ada yang bercerita pola orangtua dalam mendidik mereka dan lain-lain.
Sama seperti yang anak-anak ceritakan, ada banyak kasus yang dibuat oleh anak-anak, sebagai pelampiasan karena tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtua mereka. Ada banyak tingkah laku anak yang menyimpang, sebagai pelarian karena ketidakpuasan dengan kondisi yang ada di rumah dan lain-lain.
Sebagai orangtua, seharusnya kita bisa menemani mereka tumbuh, menemani mereka berjuang untuk belajar dari tidak tahu menjadi tahu. Menemani mereka berjuang untuk bisa menghadapi tantangan zaman yang semakin hebat. Seharusnya orangtua bisa melakukan itu, terlepas dari kesibukan yang ada.
Sehubungan dengan situasi sekarang yang semakin sulit bagi orang tua untuk mengawasi anak-anak maka dalam hal ini interaksi orang tua dan anaklah yang memegang peranan sangat penting sekali, dan hal ini perlu dibina sejak anak-anak masih kecil. Interaksi di bawah usia 6 tahun dapat dikatakan sebagai fondasi, sebagai dasar hubungan orang tua dengan anak.
Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana dengan anak yang sudah lumayan besar sementara suami-istri bekerja, apa yang dilakukan untuk memaksimalkan interaksi orang tua dengan anak? Ada yang beranggapan bahwa paling penting adalah kualitas bukan kuantitas, jadi mutu bagaimana kita berinteraksi dengan anak jauh lebih penting daripada kuantitas atau jumlah waktu yang dihabiskan dengan anak. Namun pada prakteknya hal ini susah sekali dilakukan, karena kualitas hanya bisa muncul dalam keberadaan kuantitas. Kita hanya bisa menjalin hubungan yang baik dengan anak kalau kita memang menghabiskan waktu dengan anak, kalau tidak kita habiskan waktu itu dengan anak, yang bermutu itu tidak muncul. Selanjutnya yang kita anggap berkualitas belum tentu berkualitas bagi anak, belum tentu itu adalah hal yang dihargai dan dibutuhkan oleh anak kita.[1]
Sesibuk apapun orangtua, perhatian terhadap anak tetaplah hal yang paling penting untuk diberikan. Jangan sampai kesibukan menjadi alasan kita tidak memberi perhatian kepada mereka. Ajak mereka untuk berdiskusi sederhana tentang perkembangan mereka, temani mereka belajar pengetahuan-pengetahuan baru, tanyakan bagaimana kondisi mereka di sekolah dan lain-lain.
Bertanya tentang kondisi mereka di sekolah, mungkin itu sederhana, tapi itu adalah sebagai wujud kepedulian kepada mereka, sehingga mereka merasa bahwa orangtua mereka masih peduli, meski dengan segudang kesibukan.
Mereka hanyalah anak-anak yang sedang mencari jati diri, jangan sampai mereka mendapatkan itu semua dari orang lain, karena mereka merasa bahwa orangtua tidak mampu memberi mereka perhatian. Mari beri perhatian kepada mereka.




[1] www.telaga.org

March 19, 2013

Sang Juara Yang Rendah Hati

Dok. SMP Al Irsyad Purwokerto


Santun, pendiam, murah senyum, sedikit pemalu dan cerdas, itulah ciri khas dari sosoknya. Perawakannya yang santun membuat dia dicintai oleh kawan-kawannya. Ia baik, tidak banyak tingkah dan apa adanya. Selukis senyum selalu ada di wajah mungilnya.
            Fauzan Andika Setiaji, itulah nama lengkapnya. Saya biasa memanggilnya Fauzan. Ia adalah putra kelahiran Banyumas, 21 Maret 1999. Ia lahir dari seorang ibu yang bernama Mujia Astuti. Ayahnya bernama Setiono. Ia anak kedua dari dua bersaudara.
            Fauzan adalah seorang satria sejati. Ia adalah satria yang rendah hati dengan banyak prestasi. Coba lihat wajahnya, tidak ada raut wajah kesombongan di wajahnya, melainkan hanya senyum tulus yang menghiasi wajah mungilnya. Fauzan adalah sang juara yang tidak sombong.
            Jika melihatnya pertama kali, kalian tidak akan tahu bahwa dia adalah seorang pemenang di berbagai macam ajang lomba taekwondo. Saya mengenalnya hampir dua tahun lamanya, dan di dalam dua tahun itu, ia sudah mencapai berbagai macam prestasi, baik tingkat Kabupaten, Propinsi bahkan Nasional. Ia adalah murid yang hebat dengan bakat yang hebat.
            Ada banyak orang yang pandai, memiliki prestasi yang tinggi, dan tetap rendah hati. Namun tidak sedikit juga orang yang memiliki segudang prestasi, namun lupa diri, penuh dengan kesombongan karena prestasi yang didapat. Tapi tidak dengan Fauzan, meski ia memiliki segudang prestasi, dia tetaplah Fauzan, seorang anak yang berbakti, mudah senyum, dan rendah hati.
            Fauzan itu seperti padi, kian berisi kian merunduk. Semakin banyak kejuaraan taekwondo yang ia menangkan, ia semakin rendah hati. Saya sering berbincang dengannya, bertanya banyak hal tentang pengalamannya selama mengikuti berbagai macam kejuaraan taekwondo. Ia bercerita dengan penuh semangat, dan tetap dengan ciri khasnya berupa selukis senyum di wajahnya.
            “Aku latihan setiap sore, Ustaz. Mulai pukul 15.30 sampai 18.00,” ucapnya di suatu kesempatan.
            Aku semakin mengerti kunci keberhasilannya. Kerja keras yang ia lakukan menjadi kunci keberhasilannya.
            “Selain latihan, tentu diiringi dengan doa, Ustaz.” Lanjutnya lagi.
            Saya setuju dengan apa yang ia ucapkan. Untuk mencapai sesuatu, memang diperlukan usaha untuk mencapai apa yang kita inginkan. Selain usaha, harus disertai dengan doa kepada Allah Swt, selaku Tuhan Yang Mahakuasa. Tidak ada sesuatu yang terjadi di alam raya ini tanpa seizin-Nya.
            “Cita-cita Mas Fauzan mau jadi apa?”
            “Mau jadi polisi, Ustaz,” jawabnya mantap.
            Kami melanjutkan perbincangan, sementara matahari semakin terik saja. Tapi lihatlah wajah sang juara ini, wajah yang teduh dan membuat saya betah berlama-lama duduk dengannya, berbagi cerita, tawa, dan bahagia.
            Pada suatu kesempatan, saat sedang di perpustakaan sekolah, saya mencoba untuk meminta pendapat dari beberapa guru yang pernah mengajar Fauzan Andika Setiaji, dan mereka semua sepakat mengatakan bahwa:
             “Fauzan adalah anak yang santun, dan rendah hati, meski ia memiliki banyak prestasi di bidangnya.”
            Pendapat mereka sama seperti apa yang saya rasakan. Fauzan anak yang sangat santun dan hormat pada gurunya. Tidak hanya di bidang taekwondo saja, namun segi akademiknya juga bagus.
            Berikut beberapa prestasi yang pernah diraihnya:
            2008
Ø  Juara 1 Banyumas Open dan Atlet Terbaik
Ø  Juara 1 Sleman Bupati Cup
Ø   Juara 1 Baurekso Champ Kendal dan Atlet Terbaik
Ø  Juara 1 POPDA SD Tingkat Propinsi
Ø  Juara 1 Bekasi Open
            2010
Ø  Juara 1 UKDW (Universitas Kristen Duta Wacana)
Ø  Juara 1 PMS Open
Ø  Juara 3 Sragen
Ø  Juara 3 POPDA SD Tingkat Propinsi
            2011
Ø  Juara 1 Tugu Muda
Ø  Juara 1 Gubernur Cup 3
            2012
Ø  Juara 1 Pekalongan
Ø  Juara 1 Rektor UMP dan Atlet Terbaik
Ø  Juara 1 Jogja
Ø  Juara 1 Student Champion Bekasi
Ø  Juara 1 POPDA Kabupaten
Ø  Juara 1 POPDA Karesidenan
Ø  Juara 1 POPDA Propinsi
Ø  Juara 1 POMSAE Tingkat Kabupaten

            2013
Ø  Juara 1 Taekwondo Sejawa Bali di Pemalang

Wah banyak sekali prestasinya, ya? Saya sampai pegel menuliskannya.
            Lihatlah Fauzan, dengan prestasi yang ia raih, tidak membuatnya lupa diri. Allah sangat mencintai hamba-Nya yang rendah hati, Ia sangat tidak menyukai hamba-Nya yang sombong.
            Perlu untuk diingat, bahwa niat ditambah dengan usaha akan mewujudkan sebuah hasil. Tapi yang terpenting bukanlah hasil, melainkan niat yang tulus dan kesungguhan dalam berusah lah yang terpenting.
            “Selalu yakin bahwa Tuhan selalu ada bersama orang-orang yang mau berusaha dan berdoa.”



March 13, 2013

Arti Idola



“Tidak ada teladan sebaik Rasulullah Saw. Barang siapa yang meneladani Rasulullah, maka dia akan menjadi teladan bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya.”

Apakah kalian mengidolakan seseorang? Penyanyi? Aktor? Pemain bola? Atau mungkin yang lain. Coba perhatikan anak-anak zaman sekarang, lihatlah bagaimana mereka mengartikan “idola”, lihatlah bagaimana mereka melakukan banyak hal demi sang idola. Percaya atau tidak, ada orang yang menangis histeris saat melihat idolanya berada di hadapannya. Ada yang rela berdesak-desakan demi bersalaman dengan sang idola. Ada yang rela datang ke pertujukan sang idola, meski jarak yang ditempuh cukup jauh. Itulah yang terjadi pada anak-anak zaman sekarang.
            Coba perhatikan di stasiun televisi, di acara musik, ada banyak anak-anak remaja yang menangis, berteriak histeris saat bertemu dengan idolanya. Ada juga yang bergaya layaknya sang idola, mulai dari gaya rambut, gaya berpakaian, dan lain sebagainya.
            Seingat saya, seumuran mereka, saya tidak pernah melakukan hal seperti itu. Kalau pun ada penyanyi yang saya sukai, atau aktor yang saya kagumi aktingnya, atau cendekiawan muslim yang saya kagumi keluasan ilmunya dan lain sebagainya, saya tidak pernah bertindak seperti itu. Bagi saya, bisa menikmati karya mereka sudah cukup. Saya tidak merasa wajib untuk datang pada setiap pertunjukan mereka, saya tidak merasa rugi tidak datang pada launching album mereka dan lain-lain. Saya tidak pernah memaksakan diri untuk melakukan itu semua. Dan sebenarnya saya tidak pernah mengidolakan siapapun.
            Kecintaan anak-anak remaja zaman sekarang dengan sang idola, kadang melebihi batas kewajaran. Bahkan mereka sampai hafal semua hal yang berkaitan dengan idola.
            Murid-murid saya di sekolah, kebanyakan memang fans berat sepak bola, entah itu Manchester United, Milan, dan lain sebagainya. Saya tidak terlalu paham tentang dunia bola. Saya sama sekali tidak melarang anak-anak untuk menyukai grouf yang mereka idamkan. Sama sekali tidak melarang. Namun saya sering melihat banyak hal yang berlebihan yang mereka lakukan. Sehingga keseharian hanya berbicara tentang bola, bola, bola dan bola. Pagi hari, saat bertemu di sekolah, topik pembicaraan adalah tentang pertandingan sepak bola, siang hari juga demikian, dan terus seperti itu.
            Saya memang tidak pernah merasakan gila bola, yang rela bangun malam demi melihat pertandingan tim kesukaan. Saya sama sekali tidak pernah merasakan itu, karena saya tidak menyukai bola. Dan jangan sampai saya menjadi orang yang rela melakukan kegilaan-kegilaan itu.
            Yang ingin saya tekankan disini adalah, jangan sampai kecintaan kita kepada sang idola mengalahkan kecintaan kita kepada Allah Swt selaku Tuhan semesta alam ini. Jangan sampai hanya gara-gara bola, kita rela bangun di tengah malam dan saat subuh menjelang kita terlelap tidur karena mengantuk. Jangan sampai kita bangun malam hanya sekedar untuk menyaksikan pertandingan tim yang diagungkan, sementara kita tidak pernah bangun malam, membasahi anggota badan kita dengan air wudhu, dan menghadap Allah Swt, bermunajat kepada-Nya. Jangan sampai kita hanya menjadi budak dari kecintaan kita pada sesuatu.
            Cinta kepada Allah harus menjadi nomor satu. Jika kita rela berjuang, rela berdesak-desakan demi bertemu dengan idola, demi menyaksikan pertandingan tim kesukaan, dan lain-lain, coba tanyakan pada diri, pernahkah kita merasakan kecintaan yang sama saat ingin menghadap Allah? Atau bahkan ada yang rela meninggalkan shalat demi menyaksikan pertandingan tim yang disukai? Naudzubillah.
            Coba tanyakan lagi, pernahkah kita menyengaja datang ke masjid, meski adzan belum berkumandang, berdzikir terlebih dahulu sambil menunggu masuknya waktu shalat? Pernahkah kita merasakan kekhawatiran yang sama saat kita tidak bisa melaksanakan shalat berjemaah di masjid, layaknya khawatir kehabisan tiket karena tidak bisa menyaksikan pertandingan bola? Pernahkah? Coba Tanya lagi. Mungkin cinta kepada makhluk melebihi kecintaan kita kepada Allah.
            Miris melihat banyak anak-anak remaja yang mengenakan jilbab, kemudian rela memeluk idolanya, bahkan ada yang sampai mencium sang idola. Lantas dimana letak ajaran yang terkandung dalam sehelai kain yang menutupi kepala itu? Benarkan idola mampu meruntuhkan keimanan? Lantas apa arti hijab yang kalian kenakan?
            Anak-anakku, ada banyak hal lebih penting yang bisa kalian lakukan selain menjadi gila karena idola, karena tim bola kesukaan kalian, karena aktor yang kalian puja dan lain-lain. Jika memang kalian menyukai semua itu, jangan sampai menjadikan kecintaan kepada makhluk mengalahkan kecintaan kita kepada Allah Swt yang telah memberikan kita anugerah dalam tiap embusan nafas kita. Jangan sampai kalian lupa, ada ayah dan ibu yang di dekat kalian, yang seharusnya kalian cintai sepenuh hati, bukan malah mengabaikan mereka karena kecintaan kalian pada sang idola.
            Di dalam Alquran, Allah sudah menjelaskan bahwa Rasulullah Saw adalah teladan yang seharusnya kita jadikan teladan dalam kehidupan kita. Rasulullah seharusnya menjadi orang yang kita cinta karena keluhuran budi pekertinya. Allah menjelaskan sendiri bahwa Rasulullah adalah makhluk ciptaan-Nya yang paling baik akhlaknya. Sudahkah kita mencintai Rasulullah? Atau bahkan kita sama sekali tidak menjadikan Rasulullah teladan dalam hidup kita sehari? Naudzubillah.

            “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi orang yang berharap kepada Allah, hari akhir dan bagi orang yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
           
            Cinta kepada makhluk tidaklah abadi, cinta kepada Allah lah yang abadi. Kecintaan kita kepada Allah akan membuatmu merasakan ketenangan di dalam hati. Hakikatnya cinta mampu membuat kita semakin dekat dengan-Nya, bukan malah menjauh dari-Nya.

Seharusnya


Ironis memang, ketika mengetahui generasi muslim lebih paham biograpi penyanyi favoritnya dari pada biografi nabinya.
 Ironis memang, ketika melihat generasi muslim lebih memilih terlambat shalat dari pada terlambat menonton pertandingan sepakbola.
 Ironis memang, ketika mengetahui bahwa berbicara tentang sang idola lebih menarik bagi generasi muslim ketimbang menghabiskan waktu membacai kalam Allah.
Ironis memang, ketika cinta kepada Tim sepakbola kesukaannya melebihi kecintaan kepada Allah Swt yang selalu bermurah hati memberi anugerah.
Ironis memang, ketika generasi muslim memilih untuk acuh dan menjauh saat adzan berkumandang, bukan malah berhenti dari aktifitas dan bersiap diri menghadap Allah Swt.
Ironis memang, ketika generasi muslim rela bangun malam demi melihat pertandingan sepakbola, namun enggan bangun malam demi bersujud di hadapan Allah Swt. 
Sungguh, seharusnya kecintaan kepada makhluk tidak melebihi kecintaan kepada Allah Swt, Tuhan yang telah menciptakan alam raya, yang telah memberi kita begitu banyak nikmat.



March 03, 2013

Rumah Baca Satria



Hallo Kakak-kakak semuanya….
Selamat berakhir pekan, ya.
Di pagi yang cerah ini, saya ingin berbagi bahagia, bukan berbagi uang gajian di awal bulan, ya hehe.

Baiklah, jadi ceritanya begini, saya itu sedang berusaha mendirikan “Rumah Baca Satria”. Rumah Baca Satria adalah rumah baca yang saya peruntukkan untuk anak-anak panti asuhan, anak-anak jalanan, dan juga untuk umum.

Mengenai namanya, mengapa saya memberi nama “Rumah Baca Satria”? Satria sendiri saya ambil dari nama Kota Purwokerto “Kota Satria”, jadilah nama rumah baca yang ingin saya dirikan menjadi “Rumah Baca Satria”.

Sebenarnya ide untuk mendirikan rumah baca ini sudah sejak lama, tapi karena kesibukan (baca: sok sibuk J), sempat terlupakan sejanak. Dan akhir-akhir ini, saya sudah memulai kembali kunjungan ke panti-panti, pesantren, atau hanya sekedar mendongeng di pinggir kali bersama anak-anak yang ada di desa-desa yang saya singgahi. Ada bahagia, tiap kali melihat anak-anak hanyut dalam bacaan mereka. Ada rasa kasihan juga melihat anak-anak panti, pesantren yatim, dan juga anak-anak jalanan yang kesusahan untuk mendapatkan akses informasi melalui buku.

Kalian tahu sendiri, kan, harga buku sekarang itu nggak murah. Apalagi untuk anak-anak yang ada di panti asuhan, pesantren yatim, dan juga anak-anak jalanan. Jangankan untuk membeli buku, untuk makan aja mereka kesusahan. Oleh karena itulah, saya ingin melakukan sesuatu untuk mereka, sesuai dengan kemampuan saya.

Saya tidak menginginkan sesuatu yang super ribet, sekarang saya hanya ingin mendirikan rumah baca untuk mereka, membiarkan mereka membacai buku-buku yang ada, mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru dan membuat mereka mengerti bahwa ada banyak ilmu yang bisa mereka dapatkan melalui buku.

Terus, rumah siapa yang mau dijadikan tempat untuk “Rumah Baca Satria” ? ehm, jangan khawatir, untuk sementara waktu, saya bersedia menjadikan rumah saya sebagai tempat untuk rumah baca ini. Ada dua kamar yang kosong, dan ruang tengah yang bisa dijadikan tempat membaca, dan juga rak-rak buku.

Sebagai langkah awal saya rasa tidak masalah menjadikan rumah saya sebagai tempat anak-anak untuk menambah pengetahuan. Justru saya senang jika rumah saya dipenuhi oleh anak-anak yang ingin membaca buku.

Saya sangat suka bertemu dengan anak-anak, ikut bermain bersama mereka, menceritakan isi buku yang mereka kehendaki, atau hanya sekedar duduk menatap wajah mereka satu persatu, yang sedang asyik dengan dunia mereka. Saya sangat bahagia bisa melakukan itu semua.

Nah, bagi kakak-kakak yang mau bantu saya mendirikan rumah baca ini, bisa dimulai dengan menyumbangkan buku-buku bacaan, bantu-bantu share tentang rumah baca satria, ajak teman-teman untuk ikut gabung, dan lain-lain. Saya selalu siap menerima sumbangan buku-buku dari kalian semua. Atau ada yang mau nyumbang rak-rak buku, atau berupa donasi, silahkan. Saya siap menampung. J
Seperti kata @pengajarmuda

"Berhenti mengecam kegelapan. Nyalakan lilin." Ini negeri besar dan akan lebih besar. Sekedar mengeluh dan mengecam kegelapan tidak akan mengubah apapun. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu.

Oleh karena itulah, mari lakukan sesuatu untuk putra-putri bangsa ini. Beri mereka kesempatan untuk mengakses berbagai macam informasi melalu buku, beri mereka kesempatan untuk ikut merasakan betapa buku menjadi salah satu jendela ilmu pengetahuan. Yuk bantu.

Siapapun yang ingin membantu saya mendirikan rumah baca ini, silahkan mention saya di @ariansilencer atau langsung hubungi saya via:
Email : arian.sahidi@yahoo.com Hp : 085289464322

Sedikit yang kita lakukan untuk mereka, tentu akan sangat berarti. Untuk yang di Purwokerto, saya bersedia mengambil buku-buku yang ingin kalian sumbangkan. Saya bersedia mengambilnya langsung. Terimakasih kakak, semoga Allah membalas segala kebaikan yang kalian lakukan. Selamat berakhir pekan bersama keluarga, sahabat, dan lain-lain. Salam, Arian Sahidi.