March 21, 2013

Ayah/Ibu, Temaniku Tumbuh


Ayah/Ibu…..
Aku tahu betapa besar tanggung jawabmu
Aku tahu apa yang engkau lakukan adalah untukku
Aku tahu sebenarnya engkau tidak pernah benar-benar membenciku
Aku tahu bahwa sebenarnya engkau tidak pernah benar-benar menjauhiku
Tapi…mungkin kadang engkau lupa bahwa;
Aku ingin hadirmu dikala aku sedang butuh seseorang untuk bercerita
Aku ingin adamu saat aku sedang dirundung masalah
Aku ingin engkau selalu ada untukku
Maaf, jika aku belum bisa menjadi anak yang baik
Aku sedang berusaha untuk itu
Bantu aku tumbuh menjadi anak yang engkau dambakan
Temaniku aku, Ayah/Ibu.


Sabtu, 16 Maret 2013
Seperti biasa, anak-anak menjabat tangan saya, tersenyum, kemudian mengucapkan salam. Saya menjawab salam mereka sambil tersenyum. Saya menanyakan kabar mereka, apakah mereka sudah shalat duha atau belum. Jika ada yang belum melaksanakan shalat duha, maka saya akan memersilahkan mereka untuk segera shalat. Bagi yang sudah melaksanakan shalat duha, saya berikan pujian sebagai wujud penghargaan bahwa saya peduli dengan mereka.
            Menjelang bel masuk berdering, Ustadz Andika tiba-tiba menghampiri saya.
            “Ustadz, nanti kita razia tas anak-anak, ya. Biar Ustadz Masnun yang mengondisikan anak-anak di luar kelas.”
            Saya mengiyakan ajakannya, kemudian meminta Ustadz Masnun untuk mengondisikan anak-anak di luar kelas, diisi dengan nasehat-nasehat sebagai penyemangat pagi bagi anak-anak.
            Setelah bel masuk berbunyi, masing-masing wali kelas VIII putra masuk ke kelas masing-masing, memeriksa satu persatu tas anak-anak. Saya memeriksa dengan detil setiap tas yang ada di kelas, saya menemukan ada anak yang membawa handphone dan tablet tanpa seizin saya. Sedangkan di kelas lain, ada yang membawa laptop tanpa izin dari pihak sekolah, dan ada juga yang membawa handphone. Anak-anak memang tidak diperbolehkan membawa perangkat elektronik ke sekolah tanpa seizin pihak sekolah.
            Setelah disita, saya dan beberapa guru memeriksa satu persatu isi laptop, tablet dan juga handphone. Hasilnya, sangat mencengangkan. Ada banyak files yang seharusnya tidak disimpan oleh anak-anak. Inilah tantangan zaman sekarang. Dengan perkembangan tekhnologi, ada banyak sekali dampak positif dan negatifnya. Selaku orangtua, seharusnya bisa mengontrol fasilitas yang diberikan kepada anak. Memenuhi segala permintaan anak, misalkan gadget, perlu adanya pengawasan terhadap itu semua. Anak tidak bisa dibebaskan begitu saja. Tidak cukup hanya sekedar memberikan begitu saja, akan tetapi perlu adanya kontrol, sehingga anak-anak tidak lepas terjerumus ke hal-hal yang tidak baik.
            Pernah suatu ketika, saat saya berkunjung ke rumah salah satu murid, wali murid sempat berkomentar begini, “anak kelas 1 SD sudah diberi blackberry, itu bagi saya aneh.” Saya juga berpikiran sama. Untuk anak-anak seumuran itu, apa memang sudah butuh dengan smartphone? Menurut pribadi saya, mereka belum membutuhkan itu semua.
            Kembali ke permasalahan awal, tentang barang-barang yang disita. Saya memanggil satu persatu dari mereka, menanyakan alasan mereka membawa HP, laptop, atau tablet. Setelah selesai menanyai mereka semua. Ada satu anak yang saya panggil, karena saya lihat dia duduk di depan kelas sendirian. Sedangkan teman-teman yang lain sudah pulang. Dari sinilah cerita bermula.
            Sebut saja namanya si Fulan. Ia duduk di samping saya, kemudian menangis terisak. Saya melihat bulir-bulir di ujung matanya. Dia menangis tersedu-sedu dan tidak sanggup untuk bercerita tentang apa sebenarnya yang terjadi. Saya tetap membiarkannya menangis, hingga ia bisa menceritakan tentang apa yang sebenarnya yang ia rasakan.
            Sepuluh menit berlalu, si Fulan sudah mulai agak tenang, tapi masih dengan air mata di kedua matanya. Ia mulai bercerita, kemudian saya pun berusaha menjadi pendengar yang baik, sesekali berkomentar, memberikan nasehat, kemudian saya hanya diam, mendengarkan kalimat-kalimat yang terucap dari bibirnya. Saya melihat ada sebuah ketulusan dari pancaran matanya. Ia betul-betul ingin mencurahkan apa yang selama ini ada di dalam hati. Saya yakin, ia sudah menyimpan kegelisahan ini sejak lama, dan hari ini ia sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan dengan kegundahan hatinya. Ia butuh seseorang yang bisa menjadi tempatnya berbagi.
            “Ustadz, aku hanya minta Papa dan Mama lebih sering di rumah, melihatku tumbuh, menanyakan bagaimana perkembanganku di sekolah, menanyai kabarku setiap pulang sekolah, berdiskusi sederhana tentang materi-materi yang tidak kumengerti, atau jika memang memungkinkan bisa menjemputku sepulang sekolah. Aku hanya minta Papa dan Mama lebih perhatian padaku. Aku tidak merasakan kasih sayang yang utuh dari keduanya. Aku merasa iri, melihat teman-teman yang diantar jemput oleh orangtuanya. Aku iri, dengan teman-teman yang orangtuanya selalu berusaha untuk hadir ke sekolah saat pembagian progress report atau raport kenaikan dibagikan. Aku ingin sekali papa dan mama bisa seperti itu. Sejak SD kelas enam, Papa dan Mama lebih sering di luar rumah ketimbang berada di rumah.”
Ia berhenti sejenak, kemudian menyeka air mata di ujung matanya. Saya memberikannya segelas air putih, mencoba menenangkannya.
“Setiap hari, Mama sudah pergi sejak pukul empat pagi dan pulang malam, saya tidak merasakan adanya Mama di rumah. Papa juga sudah sibuk di kantor sejak pagi sampai pukul lima sore. Aku bertemu Papa dan Mama hanya malam hari, setelah semuanya sama-sama sibuk dengan kesibukan masing-masing. Jika sudah demikian, tidak ada lagi kebersamaan. Semua di kamar masing-masing. Aku merasa seperti diabaikan oleh keduanya. Padahal aku hanya butuh kasih sayang yang lebih dari keduanya. Itu saja, Ustadz.” Ia mengakhiri ceritanya sambil kembali menangis. Saya tersentuh dengan ceritanya. Sebenarnya bukan kali ini saja saya mendapati anak-anak yang bercerita tentang kondisi orangtua di rumah. Ada banyak anak yang bercerita.
Kami sama-sama diam, saya mencoba untuk memahami apa yang ia ceritakan. Sebenarnya saya sudah sedikit tahu tentang ini, dari pesan singkat yang sering ia kirimkan kepada orangtuanya melalu handphone kelas. Saya sering mendapati dia mengirim pesan kepada orangtuanya untuk dijemput, tapi sering sekali tidak bisa dijemput karena kesibukan. Ia harus naik angkot untuk pulang. Dan saya juga bisa melihat, setiap kali ada permasalahan di sekolah, orangtuanya tidak pernah datang, melainkan hanya sang kakak yang selalu datang. Begitu juga ketika pembagian hasil perkembangan anak, selalu sang kakak yang mengambil.
“Mas sudah pernah bilang ke Mama dan Papa tentang hal ini?”
Ia hanya menggeleng sambil menunduk. Dia masih menangis.
“Aku nggak minta macam-macam, Ustadz. Aku hanya ingin Papa dan Mama lebih perhatian. Itu saja.”
Cerita ini hanyalah satu dari sekian banyak cerita dari anak-anak tentang kondisi mereka di rumah. Ada yang pernah bercerita tentang ketidakharmonisan kedua orangtuanya, ada yang bercerita tentang orangtuanya yang bertugas di luar kota dan hanya bisa bertemu dengannya sekali dalam sebulan, ada yang bercerita pola orangtua dalam mendidik mereka dan lain-lain.
Sama seperti yang anak-anak ceritakan, ada banyak kasus yang dibuat oleh anak-anak, sebagai pelampiasan karena tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtua mereka. Ada banyak tingkah laku anak yang menyimpang, sebagai pelarian karena ketidakpuasan dengan kondisi yang ada di rumah dan lain-lain.
Sebagai orangtua, seharusnya kita bisa menemani mereka tumbuh, menemani mereka berjuang untuk belajar dari tidak tahu menjadi tahu. Menemani mereka berjuang untuk bisa menghadapi tantangan zaman yang semakin hebat. Seharusnya orangtua bisa melakukan itu, terlepas dari kesibukan yang ada.
Sehubungan dengan situasi sekarang yang semakin sulit bagi orang tua untuk mengawasi anak-anak maka dalam hal ini interaksi orang tua dan anaklah yang memegang peranan sangat penting sekali, dan hal ini perlu dibina sejak anak-anak masih kecil. Interaksi di bawah usia 6 tahun dapat dikatakan sebagai fondasi, sebagai dasar hubungan orang tua dengan anak.
Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana dengan anak yang sudah lumayan besar sementara suami-istri bekerja, apa yang dilakukan untuk memaksimalkan interaksi orang tua dengan anak? Ada yang beranggapan bahwa paling penting adalah kualitas bukan kuantitas, jadi mutu bagaimana kita berinteraksi dengan anak jauh lebih penting daripada kuantitas atau jumlah waktu yang dihabiskan dengan anak. Namun pada prakteknya hal ini susah sekali dilakukan, karena kualitas hanya bisa muncul dalam keberadaan kuantitas. Kita hanya bisa menjalin hubungan yang baik dengan anak kalau kita memang menghabiskan waktu dengan anak, kalau tidak kita habiskan waktu itu dengan anak, yang bermutu itu tidak muncul. Selanjutnya yang kita anggap berkualitas belum tentu berkualitas bagi anak, belum tentu itu adalah hal yang dihargai dan dibutuhkan oleh anak kita.[1]
Sesibuk apapun orangtua, perhatian terhadap anak tetaplah hal yang paling penting untuk diberikan. Jangan sampai kesibukan menjadi alasan kita tidak memberi perhatian kepada mereka. Ajak mereka untuk berdiskusi sederhana tentang perkembangan mereka, temani mereka belajar pengetahuan-pengetahuan baru, tanyakan bagaimana kondisi mereka di sekolah dan lain-lain.
Bertanya tentang kondisi mereka di sekolah, mungkin itu sederhana, tapi itu adalah sebagai wujud kepedulian kepada mereka, sehingga mereka merasa bahwa orangtua mereka masih peduli, meski dengan segudang kesibukan.
Mereka hanyalah anak-anak yang sedang mencari jati diri, jangan sampai mereka mendapatkan itu semua dari orang lain, karena mereka merasa bahwa orangtua tidak mampu memberi mereka perhatian. Mari beri perhatian kepada mereka.




[1] www.telaga.org

2 comments:

  1. bismillah


    saran saya, ajak si murid membuat surat cinta untuk mama dan papanya. tulis apa saya yang dirasakan dan diinginkan dia selama ini. setelah selesai selipkan ditas atau ditempat yang dapat dipastikan mama dan papanya membaca surat cinta tersebut. lakukan itu sampai ada perubahan. (boleh juga surat cintanya itu hasil gambarnya si anak).

    selanjutnya tugas ust ketika homevisit ke rumah murid tersebut adalah mengkomunikasikan perkembangan anak tersebut (baik dari aspek psikologis, akademik ataupun sosialisasi), ceritakan pula kebaikan2 anak tersebut dan tanyakan bagaimana perkembangan dirumah. tanyakan pada ortunya apa program keluarga yang sering dilakukan, atau ada tidak family meeting dilakukan minimal 2 pekan sekali.

    karena anak umur 0-15 tahun adalah pondasi awal untuk membentuk self concept. ketika konsep dirinya belum matang maka dia tidak akan survive dalam hidupnya.


    selamat mencoba

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih sarannya. saya akan coba. :)

      Delete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan