March 29, 2013

Mencintai


Mungkin aku hanya ditakdirkan untuk “mencintai”, bukan “dicintai” apalagi mencintai dan dicintai. Aku hanyalah seseorang yang terlalu sering mencintai, tanpa pernah merasakan indahnya dicintai. Atau apakah aku terlalu takut dengan sesuatu yang baru? Seperti ketika ada seseorang yang memberi perhatian lebih dalam hidupku.
Kadang aku lelah, jika terus harus mencintai, tanpa pernah dicintai oleh seseorang yang kucintai. Aku adalah pangeran cinta yang hanya memiliki sebelah sayap cinta yang tidak bisa membawaku terbang menuju cinta. Aku hanya sendiri, bergelimang cinta yang tidak pernah berhasil berlabuh ke hati seseorang yang bisa mencintaiku layaknya cinta yang kumiliki.
“Itu karena kamu terlalu pemilih, Mas,” ucap salah seorang sepupuku.
Aku? Pemilih? Aku bahkan tidak memiliki pilihan. Adakah wanita di hadapanku yang siap untuk kupilih? Tidak ada. Kalian salah jika mengatakan bahwa aku adalah seorang laki-laki yang terlalu pemilih dalam mencari pasangan hidup. Aku bahkan tidak memiliki pilihan itu.
“Kamu pernah ngungkapin perasaanmu ke wanita itu nggak, Mas?” Tanya salah satu temanku.
Mengungkapkan? Selalu. Aku selalu mengungkapkan rasaku kepada wanita yang kucintai. Tapi, aku hanya berhasil mengungkapkan rasaku, bukan berhasil merasakan betapa indahnya dicintai.

Aku hanyalah laki-laki yang terkena kutukan dewa cinta
Sendiri, merasakan indahnya mencintai
Tanpa pernah merasakan indahnya dicintai
Inilah aku, laki-laki yang penuh cinta Tapi sendiri
Adakah wanita di luar sana yang ingin memilikiku?

Mereka bilang, aku hanyalah laki-laki yang terlalu menikmati hidup, hingga lupa untuk membangun keluarga yang diridhai Tuhan. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa aku mencoba untuk itu. Apa aku harus berteriak di hadapan semua orang bahwa aku sedang berusaha untuk mencari seseorang yang memang telah Tuhan takdirkan untukku? Haruskah?
Sepertinya aku memang terkena kutukan. Hanya ditakdirkan mencintai, bukan dicintai.
“Pernah nggak seseorang menyatakan cintanya padamu?” Tanya sahabat dekatku.
Harus kuakui, ada beberapa wanita yang pernah menyatakan cinta kepadaku. Tapi, tiap kali mereka menyatakan cinta kepadaku, aku tidak memiliki rasa yang harus kuberikan kepada mereka. Hatiku tidak mencintai dan memilih untuk tidak menerima dan merasakan dicintai.
“Mungkin karena itu, Mas, sekarang mas merasakan hal yang sama, seperti yang pernah mas lakukan kepada mereka yang menyatakan cinta kepada, Mas.”
Mungkin, jawabku sambil mengembuskan nafas panjang, mencoba untuk menerima jalan hidup.
“Tidak ada yang namanya kutukan cinta, hanya saja Tuhan belum mempertemukanmu dengan belahan jiwamu. Kamu harus percaya, bahwa Tuhan sedang menyiapkan seseorang yang akan menjadi pendamping hidupmu. Perbaiki diri, siapkan diri untuk menjadi suami yang baik, ayah yang baik dari anak-anakmu kelak. Percayalah, bahwa Tuhan tidak buta. Panjatkan doa kepada-Nya dalam tiap sujudmu, pinta pada-Nya istri yang shalehah, yang akan membuatmu lebih mencintai-Nya.” Seorang ustadz memberiku pencerahan saat kukatakan bahwa aku terkena kutukan cinta.
Aku tenang, mencoba untuk bernafas teratur. Setelah mendengarkan panjang lebar penjelasan dari ustadz itu, aku merasakan ketenangan. Tuhan, aku percaya dengan janji-Mu.

NB;Abaikan tulisan ini haha #kabur

2 comments:

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan