April 17, 2013

Dear My Secret Admirer




Pernah dapat email nggak jelas dari seseorang? Seseorang yang mengaku mengenalmu dengan baik meski dalam diam? Seseorang yang mengaku bahwa dia mencintaimu meski enggan menampakkan diri di hadapanmu? Seseorang yang entah siapa kemudian tiba-tiba mengirimu kata-kata romantis? Pernah?

Coba baca pesan yang dikirim dari seseorang yang mengaku mengenal saya di bawah ini :

Di keramaian aku pernah berteriak kepadamu dalam hati " Aku mencintaimu !", namun dirimu tak pernah mendengarkannya.

Aku selalu ada di belakangmu, tanpa pernah punya nyali untuk berdiri menghadapmu dan mengaku. Biarlah ini menjadi kelakar yang memalukan, asal kau tahu, asal kau tahu. 

Cukup bagiku, saat kau tahu.

Siapapun anda, tidak baik bersikap seperti ini. Apa salahnya mengaku dengan jujur siapa diri Anda sebenarnya? Bukankah dengan mengakui sejujurnya, rasa yang ada di dalam hatimu akan lebih tenang?

 

Selain pesan di atas, ada lagi pesan yang lain:

 

Di akhir musim hujan nanti semua akan selesai. Aku akan mengembalikan setiap potongan hati ke tempatnya semula. Mengembalikanmu ke dalam benak yang tidak pernah tahu. Mengembalikanmu pada Tuhan yang telah menebar cinta ini sejauh hati berkisah tentangmu.

 

Jika ada selembar keajaiban yang turun dari langit, aku harap keajaiban itu akan mempertemukan kita kembali di waktu yang entah kapan lagi. Aku jatuh cinta, hanya ketika tahu bahwa aku tidak pernah tahu alasan hati memilihmu.

 

Ada bunga yang mekar meranum di hati, meski hari tak pernah memihakku, namun waktu telah mengantarkan pelajaran indah untukku memahami cinta.

 

Teruntukmu, sang penghuni sepi. Semoga kau temukan bidadari syurgamu suatu saat nanti. Suatu hari ketika Tuhan telah memoleskan pemahaman cintaNya kepadamu.

 

Cinta adalah penerimaan yang tak terperi, meski tak selalu berbalas serupa, karena kita jarang sekali menang dalam urusan cinta, namun sakit hatinya pun tetap indah. Begitulah bagaimana Tuhan mengajarkan makna mencintai kepada hambaNya.

 

Dear my secret admirer

Terimakasih karena sudah memiliki rasa pada diriku. Meski aku tidak tahu siapa dirimu yang sesungguhnya, namun aku percaya bahwa suatu saat engkau akan menemukan seseorang yang bisa mengerti akan rasamu. Jagalah rasamu agar tetap utuh untuk mencintai Sang Pencipta. Percayalah, bahwa Allah Swt telah menciptakan seseorang yang akan menjadi pendamping hidupmu. Bukankah Tuhan menciptakan manusia ini berpasang-pasangan?

Tidak ada salah dengan cinta, karena ia adalah anugerah. Akan tetapi yang menjadikan cinta itu salah adalah ketika kita diperbudak oleh cinta. Seharusnya hadirnya cinta semakin mendekatkan diri kita kepada Allah Swt, bukan malah nekat melakukan hal seperti ini, menjadi pengagum rahasia dan membuat orang yang engkau kagumi menjadi terganggu dengan sikapmu.

Tidak bisakah engkau mengakui akan rasamu di hadapanku? Aku tidak akan membencimu jika memang engkau berdiri di hadapanku dan menyatakan rasamu padaku. Aku juga manusia yang dikarunia rasa cinta. Tapi cintaku masih belum ingin memilih siapa pun. Cintaku masih utuh untuk Ia yang Mahacinta, yang selama ini selalu menganugerahiku rasa cinta yang cukup. Aku belum siap untuk memilih.

Terimakasih karena sudah menjadi seseorang yang mengenalku meski hanya dalam diam.

Terimakasih akan rasamu meski hanya bertepuk sebelah tangan.

Terimakasih akan kasihmu meski hanya dalam bait-bait kata yang menyejukkan hati.

Terimakasih.

Salam. Arian Sahidi

April 10, 2013

Trauma Masa Lalu

Bagi mereka yang tidak tahu tentangku, mereka akan mengatakan bahwa keputusan yang telah lama kuyakini ini adalah keputusan terburuk yang pernah mereka dengar. Namun bagi mereka yang tahu persis tentang perjalanan hidupku meniti cinta, mereka akan mengerti mengapa akhirnya aku memilih untuk “tidak menikah”.
Sahabat-sahabatku selalu berusaha untuk mencari pasangan hidup yang bisa membimbing mereka menjadi lebih baik. Laki-laki baik, shaleh, lembut, penuh kasih sayang, romantis dan sabar menjadi sebagian dari sekian banyak kriteria calon suami yang mereka inginkan. Bagiku? Aku sudah menghapus sekian banyak kriteria yang dulu pernah kujadikan tolak ukur bagi laki-laki yang ingin menjadi pendamping hidupku.
Jangan engkau tanyakan lagi, laki-laki seperti apa sebenarnya yang kuinginkan. Karena aku sudah menutup rapat-rapat pintu hatiku. Aku sudah mati rasa dengan yang namannya laki-laki. Sudah sejak lama aku mengakhiri perjalanan cintaku dan aku tidak ingin membuka kembali luka yang telah lama mengering di dalam dadaku. Aku tidak ingin merasakan sakit untuk yang ke sekian kalinya karena makhluk yang bernama lelaki.
Ibu sering kali menasehatiku, tidak seharusnya aku bersikap seperti ini. Tidak semua laki-laki itu bajingan, tidak semua laki-laki itu suka menyakiti hati perempuan.
“Tuhan sedang mempersiapkan seseorang yang akan menjadi pendampingmu dunia dan akhirat, Laila,” ujar ibu sambil mengelus rambutku yang tergerai.
“Ibu, maafkan Laila. Laila sudah bulat dengan apa yang Laila yakini. Laila sudah bahagia dengan Laila yang sekarang. Laila bahagia meski hanya hidup berdua denganmu, Ibu.”
“Tapi Ibu tidak bisa selamanya selalu ada di sampingmu, Nak. Ada saat dimana Ibu akan dipanggil oleh Yang Mahakuasa untuk kembali ke sisi-Nya.”
“Ibu, jangan ucapkan itu lagi. Laila sudah terlalu sering kehilangan orang-orang yang Laila cintai. Tolong jangan ucapkan itu lagi, Bu.” Aku memeluk Ibu yang sudah sejak lama menginginkanku untuk menikah. Usiaku sudah hampir memasuki kepala empat dan aku masih sendiri, bahkan sudah berterus terang pada Ibu, bahwa aku tidak akan menikah sampai akhir hayatku.
“Laila, aku punya sahabat baik, kamu mau nggak aku kenalin dengan dia?” Farah, sahabatku sejak masih kuliah mencoba untuk mengenalkanku dengan teman prianya untuk yang kesekian kalinya. Sambil tersenyum, aku menolaknya. Farah tahu apa arti senyumku itu. Senyum penolakan.
Berbagai macam gelar telah kuterima karena keputusanku untuk tidak menikah. “Perawan tua” menjadi gelar utama yang sering terucap dari sekian banyak kolega di kantor. Tapi apa peduliku? Aku tidak hidup dari jerih payah mereka, aku tidak menumpang hidup di rumah mereka, aku tidak pernah mengusik kehidupan mereka. Jadi apa peduliku dengan cacian yang keluar dari mulut mereka? Mengapa juga mereka terlalu repot mengurusi kehidupanku? Mengapa tidak mereka urus saja kehidupan mereka yang katanya “bahagia” karena telah menikah. Selamat berbahagia.

13 Tahun Yang Lalu
“Kamu sudah siap, Nak? Hari pernikahanmu hanya tiga hari lagi. Semua sudah disiapkan. Kamu tinggal siapkan mental di hari bersejarah dalam hidupmu ini.” Ibu duduk di sampingku, sambil bercerita banyak tentang bagaimana Ibu bertemu dengan Ayah sewaktu mereka masih sama-sama muda. Mereka bertemu saat sama-sama aktif di kegiatan sosial di kampus. Rutinitas pertemuan yang tergolong sering, menumbuhkan cinta di antara keduanya. Kisah cinta sederhana namun mengesankan. Ibu sudah menjaga cinta itu sejak awal mereka bertemu hingga ajal memisahkan.
Pagiku kali ini terasa berbeda. Semua sanak saudara sudah sejak kemarin sibuk menyiapkan semua ini. Hari ini adalah hari pernikahanku. Gaun pengantin sudah sejak tadi kupandangi, kubelai halus kainnya, kuciumi baunya yang harum. Aku akan mengenakannya di akad nikah nanti siang. Hanya menghitung jam saja, keinginan yang sejak lama telah kunanti akhirnya datang. Aku akan menikah.
Pukul delapan pagi, ada telpon dari Mas Yuda. Ucapan salam dari ujung sana kudengar merdu. Seperti biasa, suaranya selalu bisa menenangkanku. Tapi, apa yang diucapkannya setelah salam itu menusuk hatiku, menghancurkan impian yang telah kubangun sejak lama, menghancurkan semua yag telah kupersiapkan. Surat undangan yang telah tersebar luas, sanak saudara yang sudah siap akan menghadiri akad nikahku, dan semuanya. Semua yang kulakukan terasa sia-sia hanya karena ucapan dari Mas Yuda.
“Laila, aku tidak bisa menikah denganmu. Maafkan aku.”
Tuhan tidak adil padaku. Ini bukan kali pertama aku merasakan sakit seperti ini. Berapa lama lagi harus kutahan semua ini? Bukankah dulu semua ini pernah kualami? Saat seseorang yang kuanggap baik, bersedia menikah denganku, tapi tiba-tiba menghilang setelah proses lamaran terjadi? Dan sekarang, Mas Yuda memutuskan untuk tidak menikah denganku menjelang akad nikah dilaksanakan. Tuhan sungguh tidak adil. Aku harus menanggung malu teramat sangat.
Malu mungkin masih bisa kutahan, tapi luka di hatiku sudah teramat dalam. Aku tidak ingin menambah daftar kisah sedih di dalam hatiku. Aku tidak ingin merasakan sakit yang sama. Dua kali kurasa cukup sebagai alasan bahwa aku tidak akan pernah menikah dengan siapa pun.
Di tempat yang lain…
“Aku tidak tahu bagaimana caranya membatalkan pernikahan ini,” Yuda berbagi cerita kepada Darma sahabat karibnya.
“Mengapa tidak dari awal, Yud? Sekarang semuanya sudah terlambat. Semua sudah terlanjur dipersiapkan. Keluargamu akan malu, lebih-lebih Laila. Kamu tahu Laila sangat mencintaimu.
“Tapi, Dar, kamu tahu aku tidak mungkin berterus terang tentang penyakit yang ada di dalam tubuhku ini. Penyakit yang kudapat dari gelapnya masa laluku.”
Hening. Yuda hanyut dalam pikirannya sendiri. Darma sama sekali tidak tahu harus berkata apa lagi untuk meyakinkan sahabatnya. Di satu sisi, dia tidak setuju jika Yuda harus membatalkan pernikahan yang sudah dipersiapkan ini. Namun di sisi lain, ia mengerti bahwa Yuda seharusnya dari awal mengatakan yang sesungguhnya bahwa ia mengidap penyakit AIDS. Yuda mencintai Laila lebih dari cintanya pada dirinya sendiri. Hingga membuat Yuda lupa bahwa akan ada yang tersakiti karena penyakit yang ada di tubuhnya.
“Lebih baik sekarang kubatalkan pernikahan ini, Dar. Aku akan menelpon Laila.”
Tanpa menunggu persetujuan dari Darma, Yuda langsung menghubungi Laila. Tidak ada basa-basi,
“Laila, aku tidak bisa menikah denganmu. Maafkan aku.”
Yuda langsung mengakhiri, tanpa memberi Laila kesempatan untuk mendengar penjelasannya. Darma tidak bisa berbuat banyak. Yuda memeluk sahabatnya sambil menangis atas apa yang baru saja ia lakukan.
“Maafkan aku, Laila.” Ucapnya lirih.
***
Yuda dan Laila sama-sama memilih untuk tidak menikah, menjalani kehidupan mereka masing-masing bersama orang-orang yang mereka cintai. Laila bahagia dengan kehadiran Ibunya yang selalu ada di sisinya, hingga akhirnya Sang Ibu harus kembali ke sisi Tuhan Yang Mahaesa. Sendiri, Laila tetap berusaha untuk bahagia. Jika memang nanti ia ditakdirkan untuk menikah meski usia semakin senja, ia akan menjalani takdir itu dengan baik. Namun jika ia memang ditakdirkan untuk sendiri hingga senja itu menjelang, ia pun mencoba untuk pasrah dengan keputusan Ilahi.
Yuda hanya mampu bertahan beberapa tahun setelah ia membatalkan pernikahannya. Perjalanan hidupnya tak lagi panjang. Penyakit AIDS yang ada di tubuhnya terus menggerogoti pertahanan tubuhnya dan membuatnya meninggal dunia. Itulah rahasia Ilahi.


April 08, 2013

Ayah, Doaku Menyertaimu



Aku menoleh untuk kesekian kalinya, melihat raut wajah Ayah, Ibu, dan keluarga besar yang menghantarkanku ke Bandara Fatmawati Bengkulu. Wajah-wajah mereka kutatap satu persatu, ada air mata yang basah di ujung mata mereka, ada lambaian tangan yang ditujukan untukku. Aku tetap melangkah, kemudian tersenyum kepada mereka semua. Aku pergi untuk kembali, bukan pergi untuk selamanya. Aku pergi dalam rangka menjalankan perintah Allah SWT., untuk menuntut ilmu.
“Jaga dirimu baik-baik, Nak. Jangan lupa shalat. Inggris adalah Negara yang jauh dari tanah air. Pegang teguh agamamu, Insya Allah semua akan baik-baik saja.” Begitulah pesan Ayah sebelum melepas kepergianku. Ayah tidak banyak bicara, hanya memelukku, kemudian meyakinkanku bahwa inilah jalan terbaik yang memang sudah Allah SWT., takdirkan. Aku akan belajar di sebuah Negara yang telah lama ingin kudatangi. Aku selalu menulis di daftar mimpiku, bahwa aku akan belajar ke luar negeri. Banyak yang mencibirku karena bermimpi terlalu tinggi, tapi Ayah selalu meyakinkanku bahwa tidak usah malu untuk bermimpi.
Aku sudah di dalam pesawat menuju Jakarta. Aku hanya seorang diri, tidak ada siapa-siapa yang menemani. Beasiswa Pemerintah Daerah yang kuperoleh hanya untukku seorang. Tidak ada biaya untuk keluarga yang ingin menghantarkanku pergi. Aku hanya sendiri. Tapi, sendiri tidak menyurutkan niatku untuk tetap pergi belajar. Bukankah aku sudah menyiapkan diri untuk semua ini? Aku sudah siap terpisah untuk sementara waktu dengan orang-orang yang kucintai. Aku sudah siap untuk menahan getar-getar rindu yang akan terasa menyesakkan dada saat harus menunggu sekian tahun untuk bisa kembali bersua dengan Ayah, Ibu dan mereka yang kucintai. Aku sudah siap untuk semua itu.
Setelah kurang lebih satu jam mengudara, aku sampai di Jakarta dan akan melanjutkan penerbangan berikutnya. Setelah beberapa saat menunggu, penumpang dipesilahkan masuk ke dalam pesawat menuju Singapura. Kami akan transit di Singapura. Dari Singapura, kami melanjutkan perjalanan menuju Amsterdam, transit beberapa jam di Amsterdam, kemudian melanjutkan perjalanan ke Newcastle.
Perjalanan dari Indonesia ke Newcastle adalah perjalanan bersejarah dalam hidupku. Ini adalah kali pertamanya aku merasakan betapa gugupnya diriku saat terbang untuk pertama kalinya. Terbang jauh dari kampung halaman menuju Negara yang akan menjadi tempatku belajar selama empat tahun ke depan.
“Inggris itu dimana, Nak?” begitulah pertanyaan Ibu saat tahu bahwa aku lulus tes beasiswa dari Pemerintah Daerah. Aku menunjukkan letak Negara Inggris di peta yang ada di kamarku. Kemudian menjelaskan kepada Ibu bahwa aku akan belajar di Newcastle yang merupakan sebuah kota di Tyne and Wear, Inggris.
Ibu hanya berdecak kagum saat tahu anaknya akan pergi belajar seperti yang selama ini sering didambakannya. Jangankan ke luar negeri, Ibu bahkan tidak pernah pergi dari Bengkulu. Ibu setia menetap di kampung halamanku yang ada di pelosok Propinsi Bengkulu. Desaku jauh dari keramaian. Sejuk dengan lambaian pohon kelapa yang mengelilingi rumahku.
Aku sudah sampai di Newcastle, dari Air Port aku menaiki sebuah taksi yang akan membawaku ke rumah yang akan menjadi tempat tinggalku selama di sini. Sebelum berangkat, aku sudah diberitahu oleh pihak Pemda tentang rute perjalanan, rumah yang akan menjadi tempat tinggalku, tempat khursus Bahasa Inggris sebagai persiapan sebelum mulai kuliah dan biaya hidup selama di Newcastle. Semua sudah disiapkan.
Taksi membawaku menuju alamat yang ada di selembar kertas di hadapanku. Sempat lama mencari-cari alamat yang ada, karena supir taksi salah menurunkanku. Dengan Bahasa Inggris seadanya, aku mencoba untuk bertanya kepada siapa saja yang lewat di hadapanku. Aku nyasar dan tak tahu dimana rumah yang akan menjadi tempat tinggalku. Aku lelah, menarik koper berukuran besar dan menyandang tas punggung yang beratnya lebih dari sepuluh kilogram. Tubuhku yang kecil ini kontras jika dibandingkan dengan barang bawaanku yang menggunung.
Ya Allah, beri aku kemudahan.
Setelah bertanya ke beberapa orang yang kutemui, akhirnya aku sampai ke rumah yang akan menjadi tempat tinggalku selama di Newcastle. Seorang Ibu keturunan Cina menyambut kedatanganku.
Are you Diana from Indonesia?” ia menanyaiku saat pertama kali membukakan pintu untukku.
Yes, I’m Diana From Indonesia.” Jawabku sambil mengatur nafas agar lebih tenang dan tidak nervous di hadapannya.
Ya Allah, aku sudah sampai di tempat ini, tempat dimana aku akan belajar. Terbayang wajah Ayah dan Ibu di dalam benakku. Terbayang wajah kakak dan adikku yang sempat menangis melepas kepergianku. Terbayang wajah sahabat-sahabatku yang selalu memberiku support meski aku hanyalah anak pelosok negeri. Aku mulai merindukan mereka semua, meski baru saja kujejakkan kakiku di atas salju yang dinginnya menusuk kulitku.
Aku menatap hamparan salju di hadapanku. Dingin.
“Ayah, sekarang Diana sudah merasakan dinginnya salju. Diana juga sudah menulis nama Ayah di salju belakang rumah tempatku tinggal.” Begitulah ceritaku beberapa hari yang lalu kepada Ayah melalui telpon. Ayah hanya tertawa dan ikut bahagia.
“Bagaimana dengan teman-teman yang ada di sana? Apa mereka semua baik padamu?” Tanya Ayah penuh khawatir.
“Semuanya baik, Yah. Mereka semua sangat peduli dan berbaik hati memberitahuku apa saja yang ingin kuketahui tentang Newcastle.”

3 tahun kemudian
Di tengah dingin yang menyelinap masuk ke kamarku, ada panggilan masuk dari nomor yang tidak kukenal dengan kode Negara Indonesia. Aku mengancingkan jaketku, agar dingin tidak menyiksa pertahanan tubuhku, kemudian menjawab panggilan telpon yang masuk.
Ucapan salam sambil terisak terdengar di ujung sana. Aku mengenal suara itu. Suara Kak Dani. Tidak ada ucapan yang terdengar, hanya salam dengan suara yang bergetar. Hatiku mulai diliputi oleh perasaan yang tidak enak. Ada apa sebenarnya? Mengapa Kak Dani menangis? Aku tidak pernah melihat Kak Dani menangis. Setahuku, Kak Dani adalah laki-laki yang tegar dengan jalan hidup kami yang tidak mudah. Meski kemiskinan menjadi teman hidup kami, tapi Kak Dani selalu mengajarkanku untuk berani bermimpi besar. Apa yang menyebabkan Kak Dani menangis?
“Kak, ada apa?”
Ia mencoba mengatur nafasnya yang tak menentu. Dengan terbata-bata, Kak Dani mulai bicara.
“Aaa..yahh…”
“Ada apa dengan Ayah, Kak?”
“Aa..yah sudah tiada.”
Duniaku terasa gelap, air mata langsung membasahi kedua bola mataku, merembes ke dalam hatiku. Aku menangis. Aku tidak mampu berucap lagi, hanya ada air mata duka yang terus menitik ke pipiku. Kudengar suara Ibu di ujung telpon.
“Nak, ini Ibu. Kamu jangan khawatir, ya, kamu harus tetap semangat belajar. Tepati janjimu pada Ayah. Kejarlah impianmu setinggi mungkin. Meski tanpa Ayah, Ibu percaya Allah SWT., akan membimbing kita semua menjadi hamba-Nya yang sabar dalam menghadapi cobaan hidup.”
Aku tahu Ibu hanya pura-pura untuk tegar di hadapanku. Aku tahu bahwa sebenarnya Ibu mencoba untuk menahan tangisnya. Aku tahu bahwa Ibu sebenarnya mengkhawatirkan semangat belajarku yang mungkin akan turun saat tahu bahwa laki-laki pejuang hidupku itu telah kembali ke sisi-Nya.

Tuhan,
Tiga tahun yang lalu ternyata menjadi pertemuan terakhirku dengan Ayah
Tiga tahun yang lalu ternyata menjadi pelukan terakhir Ayah untukku
Tiga tahun yang lalu ternyata senyum terakhir Ayah yang mampu kulihat
Tiga tahun yang lalu ternyata adalah perpisahan antara diriku dan Ayah

Ayah, aku memang tidak bisa kembali ke sisimu, tidak bisa hadir di acara pemakamanmu, tidak bisa memelukmu untuk yang terakhir kalinya, tidak bisa mencium keningmu untuk yang terakhir kalinya, tidak bisa menyentuh pusaranmu yang basah. Aku memang tidak bisa, Ayah. Tapi, ada doa yang kupanjatkan pada Allah SWT., dalam tiap sujudku. Ada doa yang kurangkai khusus untukmu sebagai pintaku kepada-Nya, semoga Engkau di tempatkan di sisi yang layak di sisi-Nya.

1 tahun kemudian
Penerbangan dari Newcastle terasa begitu cepat. Transit di Amsterdam, Singapura, Jakarta, kemudian melanjutkan penerbangan dengan pesawat lain ke Bengkulu. Sekian jam perjalanan tapi terasa begitu singkat. Rinduku pada keluargaku sudah menggunung. Empat tahun lamanya aku belajar di Newcastle, empat tahun pula rinduku semakin menggunung dan tak terbendung. Hari ini, rinduku akan berlabuh. Hari ini, akan kulihat kembali wajah-wajah mereka yang kucintai.
Turun dari pesawat, aku langsung menuju tempat pengambilan barang. Aku bergegas ke pintu keluar, dan mencari wajah-wajah yang kukenali. Aku langsung melihat Ibu melambaikan tangannya memanggilku untuk segera mendekapnya. Setengah berlari, kudekap hangat tubuh Ibu yang semakin ringkih saja. Garis-garis kehidupan tampak jelas dari wajah Ibu yang semakin menua. Aku menciumi wajahnya yang telah lama kurindukan. Aku memeluknya erat, erat sekali seolah tidak ingin terpisahkan lagi.
Aku hampir lupa dengan Kakak, Adik, dan juga saudara-saudaraku yang juga ikut menyambut kedatanganku. Aku menyalami mereka satu persatu. Sambutan hangat mereka menghilangkan lelahnya perjalanan dari Newcastle ke Indonesia. Senyum dan tawa mereka memberi semangat bagiku untuk tetap hidup dengan mimpi dan harapan.
Lima jam perjalanan dari air port ke kampung halamanku terasa begitu lama. Aku ingin segera menjenguk Ayah di tempat istirahatnya yang damai. Aku ingin bercerita banyak pada Ayah. Ibu, Kaka dan juga adik-adikku ikut serta menemani langkahku yang sengaja kupercepat.
Ayah, aku kembali untukmu. Diana sudah menyelesaikan pendidikan sarjana dengan nilai terbaik, Yah. Ayah, maafkan Diana, karena baru bisa kembali. Aku berjanji akan menjaga Ibu dengan baik, seperti Ayah menjagaku.
Ayah, bahagia ini kupersembahkan untukmu. Bahagiaku karenamu. Aku bisa seperti ini berkat doamu. Aku ingin ayah tahu bahwa aku merindukanmu. Aku ingin memelukmu, aku ingin berbagi bahagia ini bersamamu.
“Yang tabah, Nak.” Ibu mengelus pundakku, kemudian menghapus air mataku dengan punggung tangannya.
“Doakan Ayah, semoga ia tenang di alam sana.” ujar Ibu menguatkanku.
Di samping pusaran Ayah, kami berpelukan, mencoba untuk tabah dengan jalan hidup yang Ia takdirkan.

Ayah, Aku Ingin berbagi bahagia denganmu
Merasakan jabatan tanganmu, melihat senyuman kasihmu
Aku ingin dipelukmu, meneteskan air mata bahagia
Mendengarmu menyanjungku
Aku ingin membanggakanmu
Di saat semua ada di sisiku, di saat semua ada berbagi denganku
Tapi kau tak ada
Ayah, Aku merindukanmu
Aku menyayangimu selalu
Bahagia ini ku persembahkan untukmu, untukmu Ayah
Diana sayang Ayah, berbahagialah Ayah di Surga. Amin

April 05, 2013

Adam dan Hawa

“Aku jatuh cinta, bro,” ucapku sambil menatap langit malam yang gelap.
“Ya, bagus, itu namanya lo normal.” Jawab Raihan sambil memainkan gadget di tangannya.
“Tapi, Aku jatuh cinta ama salah satu muridku sendiri.”
What? Are you sure?” Raihan mengambil posisi lebih dekat di hadapanku, kemudian meraba keningku seolah-olah memastikan bahwa aku benar-benar dalam keadaan sadar mengucapkan itu semua.
“Iya, Aku jatuh cinta ama Hawa, salah satu murid di kelas 9.”
“Ah, gawat ni orang. Bisa-bisa lo kena labrak ama orangtuanya kalo sampe ketahuan.”
“Lo itu, bisanya cuma nakut-nakutin doang. Aku kan nggak ngelakuin apa-apa ama tu anak, Aku cuma bilang tentang apa yang Aku rasain sekarang. Ah, lo itu jadi sahabat nggak ada pekanya.”
“Iya, deh Pak Guru, maaf. Tapi, menurut gue aneh aja gitu, kok bisa-bisanya lo jatuh cinta ama murid sendiri yang jelas-jelas beda umurnya jauh banget. Setidaknya umur lo dengan tu anak terpaut 10 tahun lebih. Lo bayangin, 10 tahun. Emang mau lo menunggu dia 10 tahun lagi?” Raihan malah ceramah, bukannya malah menenangkanku, dia malah tambah menakutiku.
“Aku yakin, Hawa juga merasakan hal yang sama. Dia juga jatuh cinta padaku. Dan aku siap jika harus menanti cintanya hingga 10 tahun atau bahkan seumur hidupku.”
“Hah? Kok lo bisa seyakin itu.?”
“Aku bisa tahu itu dari sorot matanya, dari caranya berbicara denganku, dari caranya menatapku tiap kali aku masuk ke kelas, dari caranya memerhatikan gerak-gerikku. Ada beberapa anak yang malu-malu mengatakan bahwa Hawa jatuh cinta padaku.”
“Gue nggak tahu harus kasih nasehat apa ama Lo, yang jelas, Lo bukan anak kecil lagi, gue rasa Lo tahu mana yang baik dan tidak. Coba Tanya lagi hati Lo, apakah Lo benar-benar mencintainya.”
Aku dan Raihan diam, membincangi malam dengan hati kami sendiri-sendiri. Gelap malam bergelayut di atas sana, bertemankan bintang dan sang rembulan yang bersinar berdampingan. Sedangkan hatiku, terus menyebut namanya, nama seorang siswa yang satu tahun terakhir memenuhi kekosongan hatiku. Diakah seseorang yang Tuhan kirimkan untuk menggantikan rasa kehilangan yang selama ini ada di hatiku? Tapi mengapa harus terjadi perbedaan umur yang sekian jauh antara aku dan dirinya?
“Kita tidak bisa memilih untuk jatuh cinta atau tidak jatuh cinta, Adam. Cinta itu datang dengan sendirinya. Cinta adalah rasa yang dianugerahkan Tuhan untuk manusia dan itu adalah wajar. Kamu tidak bisa memilih kepada siapa hatimu akan terpaut. Itulah cinta, kadang tak memerlukan alasan untuk mencintai seseorang.” Kak Rama sok puitis menasehatiku.
Di luar sekolah, anak-anak kelas 9 sering memanggilku “Kakak”. Aku nyaman dengan panggilan itu.
Selembar kertas terselip di buku peganganku. Ada sebuah pesan dari Hawa.
“Kak, nanti siang bisa ketemu, nggak? Hawa ingin bicara.”
Membacai pesan singkat darinya saja aku sudah merasa bahagia, apalagi bertemu dengannya. Ah Tuhan, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku mengatakan yang sesungguhnya bahwa aku benar-benar mencintainya? Haruskan kukatakan bahwa aku benar-benar ingin hidup bersamanya? Atau aku harus menunggu hingga waktunya tepat? Saat dia bisa mengerti akan cintaku? Tapi aku yakin dia juga merasakan hal yang sama.

10 Maret 2003
Di tepian sawah yang hijau, sambil menatap pepohonan yang rimbun di Kaki Gunung Slamet, aku dan Hawa akhirnya bertemu, mencoba menerka rasa yang ada di hati kami masing-masing. Kami tidak banyak bicara, hanya berjalan beriringan, sambil merasai sejuknya udara yang berembus. Tuhan, inikah cinta?
Hawa duduk dengan jarak kurang lebih dua meter dariku, sambil membasahi kakinya dengan dinginnya air yang mengalir dari kaki Gunung Slamet. Aku duduk berseberangan dengannya. Aku pun mulai memberanikan diri untuk bicara.
“Hawa, Kakak ingin mengatakan sesuatu.”
“Hawa sudah tahu apa yang Kak Adam maksud…”
Hawa ternyata sudah tahu tentang cintaku.
“Hawa pun merasakan hal yang sama. Tapi, Papa dan Mama tidak akan setuju, Kak. Hawa masih terlalu kecil untuk merasakan cinta yang tulus dari Kak Adam.”
Hawa ternyata bijaksana dalam menyikapi rasa yang bergejolak di hatinya.
“Hawa sengaja mengajak Kak Adam bertemu, karena Hawa ingin Kakak tahu bahwa Hawa pun memiliki cinta yang tulus untuk Kak Adam. Tapi, ada satu syarat yang ingin kupinta dari Kakak. Apakah Kakak bersedia memenuhi syarat yang Hawa ajukan?”
Aku hanya mengangguk, mencoba menahan rasa haru yang sedari tadi memenuhi rongga dadaku, mencoba untuk menahan detak jantung yang semakin tak menentu. Kata Ayah,
“Jantungmu akan berdetak kencang saat bertemu dengan belahan jiwamu.” Dan sekarang aku merasakan itu.
“Umur Kak Adam 10 tahun lebih tua dariku, Hawa baru memasuki umur 14 tahun. Dan Kakak pasti paham maksudku. Jika memang Kakak tulus mencintaiku, maukah Kakak menungguku tumbuh menjadi wanita dewasa? Hingga usiaku genap 24 tahun? Itu artinya, Kakak harus menunggu 10 tahun lagi untuk bisa bersamaku.”
Nafasku terasa sasak, detak jantungku semakin tak menentu. Aku melihat bulir-bulir itu jatuh di pipi Hawa, kemudian ia melanjutkan ucapannya.
“10 tahun lagi, kita akan bertemu kembali di sini, di bawah kaki Gunung Slamet.”
“Hawa….Hawa…Hawa…” terdengar suara seseorang memanggil nama Hawa.
“Itu pasti Papa, Kak. Hawa harus pergi, jangan sampai Papa tahu tentang pertemuan ini.” Belum sempat kami mengucapkan perpisahan, Papa Hawa sudah melihat kebersamaan kami dan mengucapkan sumpah serapahnya tentang pertemuan yang tak patut ini.
“Selaku Guru, seharusnya Anda bisa mengajarkan kebaikan kepada anak didik, bukan malah menjalin hubungan tak senonoh seperti ini. Mulai hari ini, jangan pernah temui Hawa lagi, dan saya akan melaporkan prilaku Anda kepada pihak sekolah, biar semua orang tahu Guru macam apa Anda sebenarnya.”
Aku memilih untuk tidak menjawab sumpah serapahnya, aku memilih diam. Aku tidak ingin kemarahannya semakin meluap-luap. Aku tahu diri, aku salah. Tapi tidak ada yang salah dengan hatiku, aku memiliki cinta untuk Hawa, meski perbedaan usia menjadi momok menakutkan bagi mereka yang tidak mengerti betapa aku mencintai Hawa.
Sejak kejadian itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengan Hawa, dia ikut Papanya pindah ke Kalimantan. Sedangkan aku, masih setia menemani Gunung Slamet yang dikelilingi hijaunya pepohonan. Aku berjanji, aku akan menanti cinta ini hingga 10 tahun yang akan datang. Aku berjanji akan menanti cinta Hawa datang menemuiku kembali di Kota Satria ini.

Purwokerto, Maret 2013
Bapak sudah tidak lagi ada di sisiku, ibu juga sudah tidak lagi bersamaku. Bapak dan Ibu sudah kembali ke sisi Tuhan. Aku sendiri menempati rumah ini, Kak Rama sudah pindah ke rumah miliknya sendiri, bersama istri dan anak-anaknya. Umurku sudah menjadi bahan ejekan tetangga, panggilan “bujang lapuk” pun melekat pada diriku. Usiaku sudah tidak lagi muda, cemoohan sering terdengar di telingaku, tentang umurku yang sudah 34 tahun tapi belum menikah.
“Apa lagi yang kamu tunggu, Nak Adam? Usiamu sudah hampir memasuki kepala empat, dan Kamu masih memilih untuk sendiri.” Pak Tua yang tinggal di depan rumahku sering bertanya kapan aku akan mengakhiri kesendirian ini.
“Adam, kamu masih yakin dengan cintamu pada Hawa? Aku mulai khawatir dengan keyakinan cintamu. Apa kamu masih yakin Hawa akan kembali ke sini, menemuimu setelah 10 tahun lamanya kalian berpisah? Kalian berdua tidak pernah bertemu sejak kejadian 10 tahun yang lalu. Kalian tidak pernah berkirim surat.” Raihan sesekali berkunjung ke rumahku, mulai khawatir dengan keyakinan cintaku yang masih sama seperti 10 tahun yang lalu.
“Aku yakin dengan perasaanku, Han.”
Raihan hanya mengangguk.
“Bagaimana keadaan istri dan anakmu?”
“Alhamdulillah baik, Dam.”
Raihan masih menjadi sahabat terbaikku.
Entah sudah berapa kali Kak Rama memarahiku, tentang kesetiaanku menunggu Hawa kembali, tentang kesetiaanku untuk menepati janjiku bertemu dengannya di kaki Gunung Slamet, di tengah hamparan sawah yang menghijau.
“Kamu bukan anak kecil lagi, Dam. Seharusnya kamu sudah bisa berpikir dewasa, memikirkan apa yang terbaik untukmu. Malu pada tetangga, mereka semua mencibirmu karena masih belum menikah di usia yang sudah tidak lagi muda.”
Setiap kali Kak Rama marah, aku hanya mencoba menjadi pendengar yang baik, tanpa banyak komentar.
“Aku tahu dengan apa yang kalakukan, Kak. Aku tahu konsekuensi yang akan kuterima jika memang Hawa tidak datang menemuiku. Aku paham semua itu. Tapi kali ini, izinkan aku menepati janjiku pada Hawa, menemuinya. Jika memang Hawa tidak datang, terserah Kakak, aku amu dijodohkan dengan wanita pilihan Kakak. Aku siap untuk itu, Kak.” Itulah jawaban terbaikku yang akhirnya melunakkan hati Kak Rama.

Purwokerto, 10 Maret 2013
Getaran ini masih sama dengan getaran yang kurasa 10 tahun yang lalu. Nervous ini masih sama dengan apa yang kurasa 10 tahun yang lalu. Yang membedakan hanyalah kadar kecintaanku kepada Hawa yang semakin besar. 10 tahun tidak bertemu, aku semakin mencintainya. Dan hari ini, aku duduk di pinggir sawah ini, menanti kedatangan wanita yang telah lama kucintai. Aku akan menanti cinta yang telah lama pergi meninggalkanku.
Sedari pagi aku sudah tidak bisa tenang, menunggu pelangi hatiku datang menemuiku. Hingga matahari berada di atas kepalaku, Hawa tak kunjung datang. Raihan dan Kak Rama beberapa kali mengirim pesan singkat.
“Hawa sudah datang belum?”
“Belum, Han.”
Ada juga beberapa teman yang terkesan mencibirku.
“Adam, ngapain lo duduk di tepian sawah siang hari gini. Mendingan balik ke rumah.”
Penantian cintaku telah lama menjadi perbincangan hangat di kantor. Aku tidak lagi menjadi guru. Sejak berpisah dengan Hawa, aku berhenti menjadi guru.
Matahari perlahan kembali ke peraduannya. Namun aku masih setia menanti kedatangan Hawa. Aku tetap percaya dengan cinta yang telah lama subur di hatiku.
“Makan dulu, Dam.” Raihan mengantarkan bekal makan malam. Sedangkan Kak Rama sedari tadi sudah menyuruhku untuk pulang ke rumah.
Malam semakin larut, jarum jam di tanganku sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Raihan meninggalkanku sendiri, karena harus menemani istri dan anaknya di rumah. Aku tidak memaksanya untuk tinggal, menemaniku menanti cinta yang aku sendiri tidak tahu dimana keberadaannya. Tapi hatiku yakin akan ada pertemuan dengannya.
Rembulan di atas sana masih setia dengan terangnya yang temaram. Malam sudah semakin larut dan aku mulai merasakan kecewa. Kecewa karena Hawa tak kunjung datang menemuiku. Aku sadar diri, kemudian memilih untuk kembali ke rumah.
Hawa, aku sudah menepati janjiku.
Taksi yang membawaku terasa lambat, membawaku kembali ke rumah dengan kehampaan hati. Hatiku terluka. Sekian lama penantian cintaku, semua berakhir sia-sia. Mungkin kisah cintaku tidak sama dengan kisah Nabi Adam dan Hawa yang kembali bertemu setelah sekian lama terpisahkan. Kisah cinta kami berbeda ending.

Wahai penilai hati lihat batinku
Nyaris bernanah karna luka tersayat
Merana menantikan cinta dan kasih hidupku
Rahasia itu hanya Kau yang tahu
Namun aku tak mau jadi tuna cinta
Tuntun hatiku dalam sabar menanti jodohku

Lagu menanti cinta dari Krisdayanti mengalun merdu dari radio yang ada di dalam taksi. Sesuai dengan apa yang sekarang sedang kurasakan.
Di depan rumahku, ada mobil Kak Rama dan juga Raihan. Ada satu mobil berwarna putih yang tidak kukenal.
Setelah salam kuucapkan. Aku melihat Kak Rama, Raihan dan istrinya duduk di ruang tamu dan menjawab salamku secara bersamaan. Ada satu suara yang begitu kukenal, menjawab dari balik pintu kamar bekas mendiang Bapak dan Ibu. Suara itu….ah Tuhan, apakah aku bermimpi?
Ia berdiri di hadapanku, dengan kerundung putih dan mukena di tangannya. Ia baru saja shalat.
Hawa?
Suaraku terhenti, dunia seakan berhenti berputar.
Ia menangkupkan kedunia tangannya di dada.
“Aku menepati janjiku, Kak Adam. Aku kembali.”
Aku mengangguk. Bahagia menyeruak. aku bahagia, layaknya Nabi Adam yang bahagia setelah sekian lama berpisah dengan Hawa, istrinya.

Cinta…..
Kadang aku tak mengerti dengan caramu menemukan tempat untuk berlabuh.
Kadang aku tersiksa dengan datang dan pergimu tanpa permisi
Meski demikian….
Aku bahagia karena engkau telah hadir menemani penantian panjangku
Inilah cinta sejatiku