April 05, 2013

Adam dan Hawa

“Aku jatuh cinta, bro,” ucapku sambil menatap langit malam yang gelap.
“Ya, bagus, itu namanya lo normal.” Jawab Raihan sambil memainkan gadget di tangannya.
“Tapi, Aku jatuh cinta ama salah satu muridku sendiri.”
What? Are you sure?” Raihan mengambil posisi lebih dekat di hadapanku, kemudian meraba keningku seolah-olah memastikan bahwa aku benar-benar dalam keadaan sadar mengucapkan itu semua.
“Iya, Aku jatuh cinta ama Hawa, salah satu murid di kelas 9.”
“Ah, gawat ni orang. Bisa-bisa lo kena labrak ama orangtuanya kalo sampe ketahuan.”
“Lo itu, bisanya cuma nakut-nakutin doang. Aku kan nggak ngelakuin apa-apa ama tu anak, Aku cuma bilang tentang apa yang Aku rasain sekarang. Ah, lo itu jadi sahabat nggak ada pekanya.”
“Iya, deh Pak Guru, maaf. Tapi, menurut gue aneh aja gitu, kok bisa-bisanya lo jatuh cinta ama murid sendiri yang jelas-jelas beda umurnya jauh banget. Setidaknya umur lo dengan tu anak terpaut 10 tahun lebih. Lo bayangin, 10 tahun. Emang mau lo menunggu dia 10 tahun lagi?” Raihan malah ceramah, bukannya malah menenangkanku, dia malah tambah menakutiku.
“Aku yakin, Hawa juga merasakan hal yang sama. Dia juga jatuh cinta padaku. Dan aku siap jika harus menanti cintanya hingga 10 tahun atau bahkan seumur hidupku.”
“Hah? Kok lo bisa seyakin itu.?”
“Aku bisa tahu itu dari sorot matanya, dari caranya berbicara denganku, dari caranya menatapku tiap kali aku masuk ke kelas, dari caranya memerhatikan gerak-gerikku. Ada beberapa anak yang malu-malu mengatakan bahwa Hawa jatuh cinta padaku.”
“Gue nggak tahu harus kasih nasehat apa ama Lo, yang jelas, Lo bukan anak kecil lagi, gue rasa Lo tahu mana yang baik dan tidak. Coba Tanya lagi hati Lo, apakah Lo benar-benar mencintainya.”
Aku dan Raihan diam, membincangi malam dengan hati kami sendiri-sendiri. Gelap malam bergelayut di atas sana, bertemankan bintang dan sang rembulan yang bersinar berdampingan. Sedangkan hatiku, terus menyebut namanya, nama seorang siswa yang satu tahun terakhir memenuhi kekosongan hatiku. Diakah seseorang yang Tuhan kirimkan untuk menggantikan rasa kehilangan yang selama ini ada di hatiku? Tapi mengapa harus terjadi perbedaan umur yang sekian jauh antara aku dan dirinya?
“Kita tidak bisa memilih untuk jatuh cinta atau tidak jatuh cinta, Adam. Cinta itu datang dengan sendirinya. Cinta adalah rasa yang dianugerahkan Tuhan untuk manusia dan itu adalah wajar. Kamu tidak bisa memilih kepada siapa hatimu akan terpaut. Itulah cinta, kadang tak memerlukan alasan untuk mencintai seseorang.” Kak Rama sok puitis menasehatiku.
Di luar sekolah, anak-anak kelas 9 sering memanggilku “Kakak”. Aku nyaman dengan panggilan itu.
Selembar kertas terselip di buku peganganku. Ada sebuah pesan dari Hawa.
“Kak, nanti siang bisa ketemu, nggak? Hawa ingin bicara.”
Membacai pesan singkat darinya saja aku sudah merasa bahagia, apalagi bertemu dengannya. Ah Tuhan, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku mengatakan yang sesungguhnya bahwa aku benar-benar mencintainya? Haruskan kukatakan bahwa aku benar-benar ingin hidup bersamanya? Atau aku harus menunggu hingga waktunya tepat? Saat dia bisa mengerti akan cintaku? Tapi aku yakin dia juga merasakan hal yang sama.

10 Maret 2003
Di tepian sawah yang hijau, sambil menatap pepohonan yang rimbun di Kaki Gunung Slamet, aku dan Hawa akhirnya bertemu, mencoba menerka rasa yang ada di hati kami masing-masing. Kami tidak banyak bicara, hanya berjalan beriringan, sambil merasai sejuknya udara yang berembus. Tuhan, inikah cinta?
Hawa duduk dengan jarak kurang lebih dua meter dariku, sambil membasahi kakinya dengan dinginnya air yang mengalir dari kaki Gunung Slamet. Aku duduk berseberangan dengannya. Aku pun mulai memberanikan diri untuk bicara.
“Hawa, Kakak ingin mengatakan sesuatu.”
“Hawa sudah tahu apa yang Kak Adam maksud…”
Hawa ternyata sudah tahu tentang cintaku.
“Hawa pun merasakan hal yang sama. Tapi, Papa dan Mama tidak akan setuju, Kak. Hawa masih terlalu kecil untuk merasakan cinta yang tulus dari Kak Adam.”
Hawa ternyata bijaksana dalam menyikapi rasa yang bergejolak di hatinya.
“Hawa sengaja mengajak Kak Adam bertemu, karena Hawa ingin Kakak tahu bahwa Hawa pun memiliki cinta yang tulus untuk Kak Adam. Tapi, ada satu syarat yang ingin kupinta dari Kakak. Apakah Kakak bersedia memenuhi syarat yang Hawa ajukan?”
Aku hanya mengangguk, mencoba menahan rasa haru yang sedari tadi memenuhi rongga dadaku, mencoba untuk menahan detak jantung yang semakin tak menentu. Kata Ayah,
“Jantungmu akan berdetak kencang saat bertemu dengan belahan jiwamu.” Dan sekarang aku merasakan itu.
“Umur Kak Adam 10 tahun lebih tua dariku, Hawa baru memasuki umur 14 tahun. Dan Kakak pasti paham maksudku. Jika memang Kakak tulus mencintaiku, maukah Kakak menungguku tumbuh menjadi wanita dewasa? Hingga usiaku genap 24 tahun? Itu artinya, Kakak harus menunggu 10 tahun lagi untuk bisa bersamaku.”
Nafasku terasa sasak, detak jantungku semakin tak menentu. Aku melihat bulir-bulir itu jatuh di pipi Hawa, kemudian ia melanjutkan ucapannya.
“10 tahun lagi, kita akan bertemu kembali di sini, di bawah kaki Gunung Slamet.”
“Hawa….Hawa…Hawa…” terdengar suara seseorang memanggil nama Hawa.
“Itu pasti Papa, Kak. Hawa harus pergi, jangan sampai Papa tahu tentang pertemuan ini.” Belum sempat kami mengucapkan perpisahan, Papa Hawa sudah melihat kebersamaan kami dan mengucapkan sumpah serapahnya tentang pertemuan yang tak patut ini.
“Selaku Guru, seharusnya Anda bisa mengajarkan kebaikan kepada anak didik, bukan malah menjalin hubungan tak senonoh seperti ini. Mulai hari ini, jangan pernah temui Hawa lagi, dan saya akan melaporkan prilaku Anda kepada pihak sekolah, biar semua orang tahu Guru macam apa Anda sebenarnya.”
Aku memilih untuk tidak menjawab sumpah serapahnya, aku memilih diam. Aku tidak ingin kemarahannya semakin meluap-luap. Aku tahu diri, aku salah. Tapi tidak ada yang salah dengan hatiku, aku memiliki cinta untuk Hawa, meski perbedaan usia menjadi momok menakutkan bagi mereka yang tidak mengerti betapa aku mencintai Hawa.
Sejak kejadian itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengan Hawa, dia ikut Papanya pindah ke Kalimantan. Sedangkan aku, masih setia menemani Gunung Slamet yang dikelilingi hijaunya pepohonan. Aku berjanji, aku akan menanti cinta ini hingga 10 tahun yang akan datang. Aku berjanji akan menanti cinta Hawa datang menemuiku kembali di Kota Satria ini.

Purwokerto, Maret 2013
Bapak sudah tidak lagi ada di sisiku, ibu juga sudah tidak lagi bersamaku. Bapak dan Ibu sudah kembali ke sisi Tuhan. Aku sendiri menempati rumah ini, Kak Rama sudah pindah ke rumah miliknya sendiri, bersama istri dan anak-anaknya. Umurku sudah menjadi bahan ejekan tetangga, panggilan “bujang lapuk” pun melekat pada diriku. Usiaku sudah tidak lagi muda, cemoohan sering terdengar di telingaku, tentang umurku yang sudah 34 tahun tapi belum menikah.
“Apa lagi yang kamu tunggu, Nak Adam? Usiamu sudah hampir memasuki kepala empat, dan Kamu masih memilih untuk sendiri.” Pak Tua yang tinggal di depan rumahku sering bertanya kapan aku akan mengakhiri kesendirian ini.
“Adam, kamu masih yakin dengan cintamu pada Hawa? Aku mulai khawatir dengan keyakinan cintamu. Apa kamu masih yakin Hawa akan kembali ke sini, menemuimu setelah 10 tahun lamanya kalian berpisah? Kalian berdua tidak pernah bertemu sejak kejadian 10 tahun yang lalu. Kalian tidak pernah berkirim surat.” Raihan sesekali berkunjung ke rumahku, mulai khawatir dengan keyakinan cintaku yang masih sama seperti 10 tahun yang lalu.
“Aku yakin dengan perasaanku, Han.”
Raihan hanya mengangguk.
“Bagaimana keadaan istri dan anakmu?”
“Alhamdulillah baik, Dam.”
Raihan masih menjadi sahabat terbaikku.
Entah sudah berapa kali Kak Rama memarahiku, tentang kesetiaanku menunggu Hawa kembali, tentang kesetiaanku untuk menepati janjiku bertemu dengannya di kaki Gunung Slamet, di tengah hamparan sawah yang menghijau.
“Kamu bukan anak kecil lagi, Dam. Seharusnya kamu sudah bisa berpikir dewasa, memikirkan apa yang terbaik untukmu. Malu pada tetangga, mereka semua mencibirmu karena masih belum menikah di usia yang sudah tidak lagi muda.”
Setiap kali Kak Rama marah, aku hanya mencoba menjadi pendengar yang baik, tanpa banyak komentar.
“Aku tahu dengan apa yang kalakukan, Kak. Aku tahu konsekuensi yang akan kuterima jika memang Hawa tidak datang menemuiku. Aku paham semua itu. Tapi kali ini, izinkan aku menepati janjiku pada Hawa, menemuinya. Jika memang Hawa tidak datang, terserah Kakak, aku amu dijodohkan dengan wanita pilihan Kakak. Aku siap untuk itu, Kak.” Itulah jawaban terbaikku yang akhirnya melunakkan hati Kak Rama.

Purwokerto, 10 Maret 2013
Getaran ini masih sama dengan getaran yang kurasa 10 tahun yang lalu. Nervous ini masih sama dengan apa yang kurasa 10 tahun yang lalu. Yang membedakan hanyalah kadar kecintaanku kepada Hawa yang semakin besar. 10 tahun tidak bertemu, aku semakin mencintainya. Dan hari ini, aku duduk di pinggir sawah ini, menanti kedatangan wanita yang telah lama kucintai. Aku akan menanti cinta yang telah lama pergi meninggalkanku.
Sedari pagi aku sudah tidak bisa tenang, menunggu pelangi hatiku datang menemuiku. Hingga matahari berada di atas kepalaku, Hawa tak kunjung datang. Raihan dan Kak Rama beberapa kali mengirim pesan singkat.
“Hawa sudah datang belum?”
“Belum, Han.”
Ada juga beberapa teman yang terkesan mencibirku.
“Adam, ngapain lo duduk di tepian sawah siang hari gini. Mendingan balik ke rumah.”
Penantian cintaku telah lama menjadi perbincangan hangat di kantor. Aku tidak lagi menjadi guru. Sejak berpisah dengan Hawa, aku berhenti menjadi guru.
Matahari perlahan kembali ke peraduannya. Namun aku masih setia menanti kedatangan Hawa. Aku tetap percaya dengan cinta yang telah lama subur di hatiku.
“Makan dulu, Dam.” Raihan mengantarkan bekal makan malam. Sedangkan Kak Rama sedari tadi sudah menyuruhku untuk pulang ke rumah.
Malam semakin larut, jarum jam di tanganku sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Raihan meninggalkanku sendiri, karena harus menemani istri dan anaknya di rumah. Aku tidak memaksanya untuk tinggal, menemaniku menanti cinta yang aku sendiri tidak tahu dimana keberadaannya. Tapi hatiku yakin akan ada pertemuan dengannya.
Rembulan di atas sana masih setia dengan terangnya yang temaram. Malam sudah semakin larut dan aku mulai merasakan kecewa. Kecewa karena Hawa tak kunjung datang menemuiku. Aku sadar diri, kemudian memilih untuk kembali ke rumah.
Hawa, aku sudah menepati janjiku.
Taksi yang membawaku terasa lambat, membawaku kembali ke rumah dengan kehampaan hati. Hatiku terluka. Sekian lama penantian cintaku, semua berakhir sia-sia. Mungkin kisah cintaku tidak sama dengan kisah Nabi Adam dan Hawa yang kembali bertemu setelah sekian lama terpisahkan. Kisah cinta kami berbeda ending.

Wahai penilai hati lihat batinku
Nyaris bernanah karna luka tersayat
Merana menantikan cinta dan kasih hidupku
Rahasia itu hanya Kau yang tahu
Namun aku tak mau jadi tuna cinta
Tuntun hatiku dalam sabar menanti jodohku

Lagu menanti cinta dari Krisdayanti mengalun merdu dari radio yang ada di dalam taksi. Sesuai dengan apa yang sekarang sedang kurasakan.
Di depan rumahku, ada mobil Kak Rama dan juga Raihan. Ada satu mobil berwarna putih yang tidak kukenal.
Setelah salam kuucapkan. Aku melihat Kak Rama, Raihan dan istrinya duduk di ruang tamu dan menjawab salamku secara bersamaan. Ada satu suara yang begitu kukenal, menjawab dari balik pintu kamar bekas mendiang Bapak dan Ibu. Suara itu….ah Tuhan, apakah aku bermimpi?
Ia berdiri di hadapanku, dengan kerundung putih dan mukena di tangannya. Ia baru saja shalat.
Hawa?
Suaraku terhenti, dunia seakan berhenti berputar.
Ia menangkupkan kedunia tangannya di dada.
“Aku menepati janjiku, Kak Adam. Aku kembali.”
Aku mengangguk. Bahagia menyeruak. aku bahagia, layaknya Nabi Adam yang bahagia setelah sekian lama berpisah dengan Hawa, istrinya.

Cinta…..
Kadang aku tak mengerti dengan caramu menemukan tempat untuk berlabuh.
Kadang aku tersiksa dengan datang dan pergimu tanpa permisi
Meski demikian….
Aku bahagia karena engkau telah hadir menemani penantian panjangku
Inilah cinta sejatiku

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan