April 08, 2013

Ayah, Doaku Menyertaimu



Aku menoleh untuk kesekian kalinya, melihat raut wajah Ayah, Ibu, dan keluarga besar yang menghantarkanku ke Bandara Fatmawati Bengkulu. Wajah-wajah mereka kutatap satu persatu, ada air mata yang basah di ujung mata mereka, ada lambaian tangan yang ditujukan untukku. Aku tetap melangkah, kemudian tersenyum kepada mereka semua. Aku pergi untuk kembali, bukan pergi untuk selamanya. Aku pergi dalam rangka menjalankan perintah Allah SWT., untuk menuntut ilmu.
“Jaga dirimu baik-baik, Nak. Jangan lupa shalat. Inggris adalah Negara yang jauh dari tanah air. Pegang teguh agamamu, Insya Allah semua akan baik-baik saja.” Begitulah pesan Ayah sebelum melepas kepergianku. Ayah tidak banyak bicara, hanya memelukku, kemudian meyakinkanku bahwa inilah jalan terbaik yang memang sudah Allah SWT., takdirkan. Aku akan belajar di sebuah Negara yang telah lama ingin kudatangi. Aku selalu menulis di daftar mimpiku, bahwa aku akan belajar ke luar negeri. Banyak yang mencibirku karena bermimpi terlalu tinggi, tapi Ayah selalu meyakinkanku bahwa tidak usah malu untuk bermimpi.
Aku sudah di dalam pesawat menuju Jakarta. Aku hanya seorang diri, tidak ada siapa-siapa yang menemani. Beasiswa Pemerintah Daerah yang kuperoleh hanya untukku seorang. Tidak ada biaya untuk keluarga yang ingin menghantarkanku pergi. Aku hanya sendiri. Tapi, sendiri tidak menyurutkan niatku untuk tetap pergi belajar. Bukankah aku sudah menyiapkan diri untuk semua ini? Aku sudah siap terpisah untuk sementara waktu dengan orang-orang yang kucintai. Aku sudah siap untuk menahan getar-getar rindu yang akan terasa menyesakkan dada saat harus menunggu sekian tahun untuk bisa kembali bersua dengan Ayah, Ibu dan mereka yang kucintai. Aku sudah siap untuk semua itu.
Setelah kurang lebih satu jam mengudara, aku sampai di Jakarta dan akan melanjutkan penerbangan berikutnya. Setelah beberapa saat menunggu, penumpang dipesilahkan masuk ke dalam pesawat menuju Singapura. Kami akan transit di Singapura. Dari Singapura, kami melanjutkan perjalanan menuju Amsterdam, transit beberapa jam di Amsterdam, kemudian melanjutkan perjalanan ke Newcastle.
Perjalanan dari Indonesia ke Newcastle adalah perjalanan bersejarah dalam hidupku. Ini adalah kali pertamanya aku merasakan betapa gugupnya diriku saat terbang untuk pertama kalinya. Terbang jauh dari kampung halaman menuju Negara yang akan menjadi tempatku belajar selama empat tahun ke depan.
“Inggris itu dimana, Nak?” begitulah pertanyaan Ibu saat tahu bahwa aku lulus tes beasiswa dari Pemerintah Daerah. Aku menunjukkan letak Negara Inggris di peta yang ada di kamarku. Kemudian menjelaskan kepada Ibu bahwa aku akan belajar di Newcastle yang merupakan sebuah kota di Tyne and Wear, Inggris.
Ibu hanya berdecak kagum saat tahu anaknya akan pergi belajar seperti yang selama ini sering didambakannya. Jangankan ke luar negeri, Ibu bahkan tidak pernah pergi dari Bengkulu. Ibu setia menetap di kampung halamanku yang ada di pelosok Propinsi Bengkulu. Desaku jauh dari keramaian. Sejuk dengan lambaian pohon kelapa yang mengelilingi rumahku.
Aku sudah sampai di Newcastle, dari Air Port aku menaiki sebuah taksi yang akan membawaku ke rumah yang akan menjadi tempat tinggalku selama di sini. Sebelum berangkat, aku sudah diberitahu oleh pihak Pemda tentang rute perjalanan, rumah yang akan menjadi tempat tinggalku, tempat khursus Bahasa Inggris sebagai persiapan sebelum mulai kuliah dan biaya hidup selama di Newcastle. Semua sudah disiapkan.
Taksi membawaku menuju alamat yang ada di selembar kertas di hadapanku. Sempat lama mencari-cari alamat yang ada, karena supir taksi salah menurunkanku. Dengan Bahasa Inggris seadanya, aku mencoba untuk bertanya kepada siapa saja yang lewat di hadapanku. Aku nyasar dan tak tahu dimana rumah yang akan menjadi tempat tinggalku. Aku lelah, menarik koper berukuran besar dan menyandang tas punggung yang beratnya lebih dari sepuluh kilogram. Tubuhku yang kecil ini kontras jika dibandingkan dengan barang bawaanku yang menggunung.
Ya Allah, beri aku kemudahan.
Setelah bertanya ke beberapa orang yang kutemui, akhirnya aku sampai ke rumah yang akan menjadi tempat tinggalku selama di Newcastle. Seorang Ibu keturunan Cina menyambut kedatanganku.
Are you Diana from Indonesia?” ia menanyaiku saat pertama kali membukakan pintu untukku.
Yes, I’m Diana From Indonesia.” Jawabku sambil mengatur nafas agar lebih tenang dan tidak nervous di hadapannya.
Ya Allah, aku sudah sampai di tempat ini, tempat dimana aku akan belajar. Terbayang wajah Ayah dan Ibu di dalam benakku. Terbayang wajah kakak dan adikku yang sempat menangis melepas kepergianku. Terbayang wajah sahabat-sahabatku yang selalu memberiku support meski aku hanyalah anak pelosok negeri. Aku mulai merindukan mereka semua, meski baru saja kujejakkan kakiku di atas salju yang dinginnya menusuk kulitku.
Aku menatap hamparan salju di hadapanku. Dingin.
“Ayah, sekarang Diana sudah merasakan dinginnya salju. Diana juga sudah menulis nama Ayah di salju belakang rumah tempatku tinggal.” Begitulah ceritaku beberapa hari yang lalu kepada Ayah melalui telpon. Ayah hanya tertawa dan ikut bahagia.
“Bagaimana dengan teman-teman yang ada di sana? Apa mereka semua baik padamu?” Tanya Ayah penuh khawatir.
“Semuanya baik, Yah. Mereka semua sangat peduli dan berbaik hati memberitahuku apa saja yang ingin kuketahui tentang Newcastle.”

3 tahun kemudian
Di tengah dingin yang menyelinap masuk ke kamarku, ada panggilan masuk dari nomor yang tidak kukenal dengan kode Negara Indonesia. Aku mengancingkan jaketku, agar dingin tidak menyiksa pertahanan tubuhku, kemudian menjawab panggilan telpon yang masuk.
Ucapan salam sambil terisak terdengar di ujung sana. Aku mengenal suara itu. Suara Kak Dani. Tidak ada ucapan yang terdengar, hanya salam dengan suara yang bergetar. Hatiku mulai diliputi oleh perasaan yang tidak enak. Ada apa sebenarnya? Mengapa Kak Dani menangis? Aku tidak pernah melihat Kak Dani menangis. Setahuku, Kak Dani adalah laki-laki yang tegar dengan jalan hidup kami yang tidak mudah. Meski kemiskinan menjadi teman hidup kami, tapi Kak Dani selalu mengajarkanku untuk berani bermimpi besar. Apa yang menyebabkan Kak Dani menangis?
“Kak, ada apa?”
Ia mencoba mengatur nafasnya yang tak menentu. Dengan terbata-bata, Kak Dani mulai bicara.
“Aaa..yahh…”
“Ada apa dengan Ayah, Kak?”
“Aa..yah sudah tiada.”
Duniaku terasa gelap, air mata langsung membasahi kedua bola mataku, merembes ke dalam hatiku. Aku menangis. Aku tidak mampu berucap lagi, hanya ada air mata duka yang terus menitik ke pipiku. Kudengar suara Ibu di ujung telpon.
“Nak, ini Ibu. Kamu jangan khawatir, ya, kamu harus tetap semangat belajar. Tepati janjimu pada Ayah. Kejarlah impianmu setinggi mungkin. Meski tanpa Ayah, Ibu percaya Allah SWT., akan membimbing kita semua menjadi hamba-Nya yang sabar dalam menghadapi cobaan hidup.”
Aku tahu Ibu hanya pura-pura untuk tegar di hadapanku. Aku tahu bahwa sebenarnya Ibu mencoba untuk menahan tangisnya. Aku tahu bahwa Ibu sebenarnya mengkhawatirkan semangat belajarku yang mungkin akan turun saat tahu bahwa laki-laki pejuang hidupku itu telah kembali ke sisi-Nya.

Tuhan,
Tiga tahun yang lalu ternyata menjadi pertemuan terakhirku dengan Ayah
Tiga tahun yang lalu ternyata menjadi pelukan terakhir Ayah untukku
Tiga tahun yang lalu ternyata senyum terakhir Ayah yang mampu kulihat
Tiga tahun yang lalu ternyata adalah perpisahan antara diriku dan Ayah

Ayah, aku memang tidak bisa kembali ke sisimu, tidak bisa hadir di acara pemakamanmu, tidak bisa memelukmu untuk yang terakhir kalinya, tidak bisa mencium keningmu untuk yang terakhir kalinya, tidak bisa menyentuh pusaranmu yang basah. Aku memang tidak bisa, Ayah. Tapi, ada doa yang kupanjatkan pada Allah SWT., dalam tiap sujudku. Ada doa yang kurangkai khusus untukmu sebagai pintaku kepada-Nya, semoga Engkau di tempatkan di sisi yang layak di sisi-Nya.

1 tahun kemudian
Penerbangan dari Newcastle terasa begitu cepat. Transit di Amsterdam, Singapura, Jakarta, kemudian melanjutkan penerbangan dengan pesawat lain ke Bengkulu. Sekian jam perjalanan tapi terasa begitu singkat. Rinduku pada keluargaku sudah menggunung. Empat tahun lamanya aku belajar di Newcastle, empat tahun pula rinduku semakin menggunung dan tak terbendung. Hari ini, rinduku akan berlabuh. Hari ini, akan kulihat kembali wajah-wajah mereka yang kucintai.
Turun dari pesawat, aku langsung menuju tempat pengambilan barang. Aku bergegas ke pintu keluar, dan mencari wajah-wajah yang kukenali. Aku langsung melihat Ibu melambaikan tangannya memanggilku untuk segera mendekapnya. Setengah berlari, kudekap hangat tubuh Ibu yang semakin ringkih saja. Garis-garis kehidupan tampak jelas dari wajah Ibu yang semakin menua. Aku menciumi wajahnya yang telah lama kurindukan. Aku memeluknya erat, erat sekali seolah tidak ingin terpisahkan lagi.
Aku hampir lupa dengan Kakak, Adik, dan juga saudara-saudaraku yang juga ikut menyambut kedatanganku. Aku menyalami mereka satu persatu. Sambutan hangat mereka menghilangkan lelahnya perjalanan dari Newcastle ke Indonesia. Senyum dan tawa mereka memberi semangat bagiku untuk tetap hidup dengan mimpi dan harapan.
Lima jam perjalanan dari air port ke kampung halamanku terasa begitu lama. Aku ingin segera menjenguk Ayah di tempat istirahatnya yang damai. Aku ingin bercerita banyak pada Ayah. Ibu, Kaka dan juga adik-adikku ikut serta menemani langkahku yang sengaja kupercepat.
Ayah, aku kembali untukmu. Diana sudah menyelesaikan pendidikan sarjana dengan nilai terbaik, Yah. Ayah, maafkan Diana, karena baru bisa kembali. Aku berjanji akan menjaga Ibu dengan baik, seperti Ayah menjagaku.
Ayah, bahagia ini kupersembahkan untukmu. Bahagiaku karenamu. Aku bisa seperti ini berkat doamu. Aku ingin ayah tahu bahwa aku merindukanmu. Aku ingin memelukmu, aku ingin berbagi bahagia ini bersamamu.
“Yang tabah, Nak.” Ibu mengelus pundakku, kemudian menghapus air mataku dengan punggung tangannya.
“Doakan Ayah, semoga ia tenang di alam sana.” ujar Ibu menguatkanku.
Di samping pusaran Ayah, kami berpelukan, mencoba untuk tabah dengan jalan hidup yang Ia takdirkan.

Ayah, Aku Ingin berbagi bahagia denganmu
Merasakan jabatan tanganmu, melihat senyuman kasihmu
Aku ingin dipelukmu, meneteskan air mata bahagia
Mendengarmu menyanjungku
Aku ingin membanggakanmu
Di saat semua ada di sisiku, di saat semua ada berbagi denganku
Tapi kau tak ada
Ayah, Aku merindukanmu
Aku menyayangimu selalu
Bahagia ini ku persembahkan untukmu, untukmu Ayah
Diana sayang Ayah, berbahagialah Ayah di Surga. Amin

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan