April 10, 2013

Trauma Masa Lalu

Bagi mereka yang tidak tahu tentangku, mereka akan mengatakan bahwa keputusan yang telah lama kuyakini ini adalah keputusan terburuk yang pernah mereka dengar. Namun bagi mereka yang tahu persis tentang perjalanan hidupku meniti cinta, mereka akan mengerti mengapa akhirnya aku memilih untuk “tidak menikah”.
Sahabat-sahabatku selalu berusaha untuk mencari pasangan hidup yang bisa membimbing mereka menjadi lebih baik. Laki-laki baik, shaleh, lembut, penuh kasih sayang, romantis dan sabar menjadi sebagian dari sekian banyak kriteria calon suami yang mereka inginkan. Bagiku? Aku sudah menghapus sekian banyak kriteria yang dulu pernah kujadikan tolak ukur bagi laki-laki yang ingin menjadi pendamping hidupku.
Jangan engkau tanyakan lagi, laki-laki seperti apa sebenarnya yang kuinginkan. Karena aku sudah menutup rapat-rapat pintu hatiku. Aku sudah mati rasa dengan yang namannya laki-laki. Sudah sejak lama aku mengakhiri perjalanan cintaku dan aku tidak ingin membuka kembali luka yang telah lama mengering di dalam dadaku. Aku tidak ingin merasakan sakit untuk yang ke sekian kalinya karena makhluk yang bernama lelaki.
Ibu sering kali menasehatiku, tidak seharusnya aku bersikap seperti ini. Tidak semua laki-laki itu bajingan, tidak semua laki-laki itu suka menyakiti hati perempuan.
“Tuhan sedang mempersiapkan seseorang yang akan menjadi pendampingmu dunia dan akhirat, Laila,” ujar ibu sambil mengelus rambutku yang tergerai.
“Ibu, maafkan Laila. Laila sudah bulat dengan apa yang Laila yakini. Laila sudah bahagia dengan Laila yang sekarang. Laila bahagia meski hanya hidup berdua denganmu, Ibu.”
“Tapi Ibu tidak bisa selamanya selalu ada di sampingmu, Nak. Ada saat dimana Ibu akan dipanggil oleh Yang Mahakuasa untuk kembali ke sisi-Nya.”
“Ibu, jangan ucapkan itu lagi. Laila sudah terlalu sering kehilangan orang-orang yang Laila cintai. Tolong jangan ucapkan itu lagi, Bu.” Aku memeluk Ibu yang sudah sejak lama menginginkanku untuk menikah. Usiaku sudah hampir memasuki kepala empat dan aku masih sendiri, bahkan sudah berterus terang pada Ibu, bahwa aku tidak akan menikah sampai akhir hayatku.
“Laila, aku punya sahabat baik, kamu mau nggak aku kenalin dengan dia?” Farah, sahabatku sejak masih kuliah mencoba untuk mengenalkanku dengan teman prianya untuk yang kesekian kalinya. Sambil tersenyum, aku menolaknya. Farah tahu apa arti senyumku itu. Senyum penolakan.
Berbagai macam gelar telah kuterima karena keputusanku untuk tidak menikah. “Perawan tua” menjadi gelar utama yang sering terucap dari sekian banyak kolega di kantor. Tapi apa peduliku? Aku tidak hidup dari jerih payah mereka, aku tidak menumpang hidup di rumah mereka, aku tidak pernah mengusik kehidupan mereka. Jadi apa peduliku dengan cacian yang keluar dari mulut mereka? Mengapa juga mereka terlalu repot mengurusi kehidupanku? Mengapa tidak mereka urus saja kehidupan mereka yang katanya “bahagia” karena telah menikah. Selamat berbahagia.

13 Tahun Yang Lalu
“Kamu sudah siap, Nak? Hari pernikahanmu hanya tiga hari lagi. Semua sudah disiapkan. Kamu tinggal siapkan mental di hari bersejarah dalam hidupmu ini.” Ibu duduk di sampingku, sambil bercerita banyak tentang bagaimana Ibu bertemu dengan Ayah sewaktu mereka masih sama-sama muda. Mereka bertemu saat sama-sama aktif di kegiatan sosial di kampus. Rutinitas pertemuan yang tergolong sering, menumbuhkan cinta di antara keduanya. Kisah cinta sederhana namun mengesankan. Ibu sudah menjaga cinta itu sejak awal mereka bertemu hingga ajal memisahkan.
Pagiku kali ini terasa berbeda. Semua sanak saudara sudah sejak kemarin sibuk menyiapkan semua ini. Hari ini adalah hari pernikahanku. Gaun pengantin sudah sejak tadi kupandangi, kubelai halus kainnya, kuciumi baunya yang harum. Aku akan mengenakannya di akad nikah nanti siang. Hanya menghitung jam saja, keinginan yang sejak lama telah kunanti akhirnya datang. Aku akan menikah.
Pukul delapan pagi, ada telpon dari Mas Yuda. Ucapan salam dari ujung sana kudengar merdu. Seperti biasa, suaranya selalu bisa menenangkanku. Tapi, apa yang diucapkannya setelah salam itu menusuk hatiku, menghancurkan impian yang telah kubangun sejak lama, menghancurkan semua yag telah kupersiapkan. Surat undangan yang telah tersebar luas, sanak saudara yang sudah siap akan menghadiri akad nikahku, dan semuanya. Semua yang kulakukan terasa sia-sia hanya karena ucapan dari Mas Yuda.
“Laila, aku tidak bisa menikah denganmu. Maafkan aku.”
Tuhan tidak adil padaku. Ini bukan kali pertama aku merasakan sakit seperti ini. Berapa lama lagi harus kutahan semua ini? Bukankah dulu semua ini pernah kualami? Saat seseorang yang kuanggap baik, bersedia menikah denganku, tapi tiba-tiba menghilang setelah proses lamaran terjadi? Dan sekarang, Mas Yuda memutuskan untuk tidak menikah denganku menjelang akad nikah dilaksanakan. Tuhan sungguh tidak adil. Aku harus menanggung malu teramat sangat.
Malu mungkin masih bisa kutahan, tapi luka di hatiku sudah teramat dalam. Aku tidak ingin menambah daftar kisah sedih di dalam hatiku. Aku tidak ingin merasakan sakit yang sama. Dua kali kurasa cukup sebagai alasan bahwa aku tidak akan pernah menikah dengan siapa pun.
Di tempat yang lain…
“Aku tidak tahu bagaimana caranya membatalkan pernikahan ini,” Yuda berbagi cerita kepada Darma sahabat karibnya.
“Mengapa tidak dari awal, Yud? Sekarang semuanya sudah terlambat. Semua sudah terlanjur dipersiapkan. Keluargamu akan malu, lebih-lebih Laila. Kamu tahu Laila sangat mencintaimu.
“Tapi, Dar, kamu tahu aku tidak mungkin berterus terang tentang penyakit yang ada di dalam tubuhku ini. Penyakit yang kudapat dari gelapnya masa laluku.”
Hening. Yuda hanyut dalam pikirannya sendiri. Darma sama sekali tidak tahu harus berkata apa lagi untuk meyakinkan sahabatnya. Di satu sisi, dia tidak setuju jika Yuda harus membatalkan pernikahan yang sudah dipersiapkan ini. Namun di sisi lain, ia mengerti bahwa Yuda seharusnya dari awal mengatakan yang sesungguhnya bahwa ia mengidap penyakit AIDS. Yuda mencintai Laila lebih dari cintanya pada dirinya sendiri. Hingga membuat Yuda lupa bahwa akan ada yang tersakiti karena penyakit yang ada di tubuhnya.
“Lebih baik sekarang kubatalkan pernikahan ini, Dar. Aku akan menelpon Laila.”
Tanpa menunggu persetujuan dari Darma, Yuda langsung menghubungi Laila. Tidak ada basa-basi,
“Laila, aku tidak bisa menikah denganmu. Maafkan aku.”
Yuda langsung mengakhiri, tanpa memberi Laila kesempatan untuk mendengar penjelasannya. Darma tidak bisa berbuat banyak. Yuda memeluk sahabatnya sambil menangis atas apa yang baru saja ia lakukan.
“Maafkan aku, Laila.” Ucapnya lirih.
***
Yuda dan Laila sama-sama memilih untuk tidak menikah, menjalani kehidupan mereka masing-masing bersama orang-orang yang mereka cintai. Laila bahagia dengan kehadiran Ibunya yang selalu ada di sisinya, hingga akhirnya Sang Ibu harus kembali ke sisi Tuhan Yang Mahaesa. Sendiri, Laila tetap berusaha untuk bahagia. Jika memang nanti ia ditakdirkan untuk menikah meski usia semakin senja, ia akan menjalani takdir itu dengan baik. Namun jika ia memang ditakdirkan untuk sendiri hingga senja itu menjelang, ia pun mencoba untuk pasrah dengan keputusan Ilahi.
Yuda hanya mampu bertahan beberapa tahun setelah ia membatalkan pernikahannya. Perjalanan hidupnya tak lagi panjang. Penyakit AIDS yang ada di tubuhnya terus menggerogoti pertahanan tubuhnya dan membuatnya meninggal dunia. Itulah rahasia Ilahi.


3 comments:

  1. Sedih bacanya :(....Mudah2an saya tidak seperti yang diceritakan yaa,,#berharap cepat ada yang menikahi :)

    *Salam kenal ya pak Guru, ini kali pertama saya mampir di sini...

    ReplyDelete
  2. Sedih bacanya :(....Mudah2an saya tidak seperti yang diceritakan yaa,,#berharap cepat ada yang menikahi :)

    *Salam kenal ya pak Guru, ini kali pertama saya mampir di sini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin. semoga segera diberikan pendamping hidup yg bisa membangun cinta bersama menuju ridha ilahi. amin. terimakasih sudah mampir

      Delete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan