May 02, 2013

Mencintamu Dalam Diam


“Aku mencintaimu,” ucapku dalam diam.
Aku selalu mencintai semua tentangmu; renyah tawamu saat berada di hadapanku, senyum manismu yang selalu membuatku ingin selalu berada di dekatmu, perhatianmu yang tak pernah lelah mengingatkanku untuk terus mengawali hari dengan senyuman. Aku mencintaimu dulu, sekarang, dan nanti.
Aku mencintaimu meski engkau tidak pernah tahu bahwa hatiku sering berteriak memintamu untuk membalas cintaku. Aku mencintaimu meski rasaku kadang kaku saat menyebutmu sebagai cintaku. Aku mencintaimu, meski hanya dalam diamku.
Wahai hati yang sedang dilanda cinta, mengapa engkau selalu menyebut namanya dalam diam? Tak bisakah engkau membantuku berucap, mengatakan apa yang sebenarnya ada di dalam lubuk hatiku yang paling dalam? Bahwa aku mencintainya sejak lama dan tak akan pernah berhenti mencintai.
“Hana, kok ngelamun?” Fajar duduk bersila di hadapanku, layaknya sedang berhadapan dengan seorang raja, menunggu petuah dari sang raja. Aku tersenyum menatap mata itu, matanya yang hitam, alisnya yang hitam dan tebal. Aku memandangi garis wajahnya, bibirnya, kedipan matanya. Aku hapal dengan baik semua itu.
“Hey…kamu lagi ngelamunin apa, sih?” Fajar menepuk pundakku halus, penuh dengan kehangatan.
“Aku lagi berpikir, seandainya nanti kita sudah berpisah, akankah ada kebersamaan seperti ini? Menanti senja, menatap matahari yang terbenam, mengawali pagi dengan sepiring penuh gudeg Jogja. Aku pasti akan merindukan kebersamaan ini.”
“Cieee…romantis bener. Kesambet apa, Neng?” Fajar tertawa mendengar jawaban yang aku sendiri bahkan baru sadar akan apa yang baru saja terucap dari kedua bibirku. Itukah rasa yang sebenarnya ingin kuucapkan padanya? Tapi mengapa aku tidak pernah benar-benar berani mengatakan bahwa “Aku mencintaimu, Fajar.”
“Aku juga pasti akan merindukan kebersamaan ini.” Jawabnya sambil memakai kembali jaket hitam ke tubuhnya.
Kami berjalan beriringan menelusuri jalanan setapak di sudut kota ini, kota yang selalu membuatku ingin selalu berada di sisinya. Jogja, kotaku, kotanya juga. Meski akhirnya kami harus terpisah karena yang namanya pekerjaan. Fajar di Jakarta, kota sibuk yang membuatnya sering stres. Sedangkan aku, aku memilih Malang menjadi kota cinta keduaku. Aku mencintai Malang sama seperti aku mencintai Jogja.
“Kapan balik ke Jakarta?”
“Besok.”
“Kamu kapan ke Malang?”
“Lusa”
Duhai hati, mengapa engkau sering berteriak di dalam sana? Meneriakkan cinta yang begitu dalam kepada lelaki yang sekarang berada di sampingku. Mengapa aku tidak pernah berani untuk mengatakan bahwa ada cinta dalam kebersamaan ini.
Aku ini wanita, Aku tidak memiliki keberanian untuk menyatakan cinta lebih dulu kepada seorang lelaki yang kucintai. Tak pernahkah ia menyadari bahwa ada cinta dalam setiap perhatianku? Tak pernahkah ia menyadari bahwa ada sayang dalam tiap rindu yang selalu membuncah tiap kali pertemuan lama tak terjadi?
“Kamu harus jujur, Hana. Kamu tidak bisa terus-terusan seperti ini. Setidaknya kamu harus tahu, apakah Fajar juga mencintaimu.” Begitulah komentar salah satu sahabatku yang selalu menjadi tempatku untuk berbagi kegelisahan hati.
“Tuh, kan. Kamu ngelamun lagi. Kamu aneh. Akhir-akhir ini kamu sering ngelamun.” Fajar mencubit punggungku dan aku hanya tersenyum menatap wajah itu. Wajah yang selalu hadir dalam hidupku. Ah Tuhan. Mengapa harus ada cinta dalam kebersamaan ini?
“Coba lihat Kakek dan Nenek yang ada di ujung sana.” Fajar menunjuk ke sudut bangunan tua. Aku mencoba untuk memerhatikan Kakek dan Nenek yang sedang duduk bersebelahan, saling menatap dan mengusap peluh yang ada di wajah mereka. Mesra.
“Aku berharap bisa memiliki wanita yang akan menemaniku hingga akhir usia memisahkan,” ujarnya pelan, namun terdengar jelas di telingaku.
Lelakiku, tak pernahkah engkau sadar bahwa ada cintaku untukmu?
***

Pelan, kusebut namamu dalam doaku. Kuucap pinta kepada Dia yang Mahacinta.
Yakin, kuyakinkan hatiku untuk memilihmu, meski entah kapan rasaku dan rasamu akan menyatu.
Rindu, kutahan rindu yang terus menyesakkan dadaku, saat kita terpisahkan oleh jarak.
Tuhan, diakah jodoh yang telah Engkau janjikan untukku?

Haruskah cinta dinyatakan dengan kata-kata indah penuh kalimat puitis? Haruskah cinta diutarakan kepada seseorang yang kita cintai? Aku tidak mampu untuk melakukan itu. Aku hanya bisa menyatakan cintaku melalui sikapku, semoga akhirnya dia mengerti bahwa aku mencintainya sejak lama dan akan selalu mencintainya.

Kala jarak memisah rindu
Kala hati berucap rindu
Kala senja mengukir kisah
Kala angin membawa cerita
Kala pagi menyapa kasih
Kala waktu menjawab pinta
Kala Tuhan merestui rasaku
Semoga kita akan bersama, selamanya cinta.

Aku tidak pernah bermimpi menjadi seorang pengagum, bahkan kupikir aku sangat amatir dan norak. Kau benar, aku sudah sangat menganggu dan nekat luar biasa. Jutaan kali keluar kata dalam benakku yang mengutuk perbuatan bodoh ini. Jutaan kali aku memangkas rasaku padamu, namun jutaan kali pula ia kembali tumbuh setiap kau hadir di hadapanku. Jutaan pula rasa berdosa dan pengkhianatan terurai padanya yang telah Rabb tetapkan padaku. 
Padamu aku malu, terlebih pada-Nya nanti ketika bertemu, duhai jauh lebih memalukan rasa-rasanya aku ini di hadapan Tuhanku. Karena itu, setelah ini aku akan berhenti sepenuhnya dari mengejarmu, aku tahu Tuhan hanya sedang mendiamkanku dalam kubangan, dan disana aku diminta-Nya untuk berpikir panjang.
Kau tahu, aku pernah pula membencimu. Mengapa harus kau yang tak terjangkau? Tapi kau dan aku sudah tahu jawabannya, bahwa cinta adalah anugerah yang tak bisa ditolak. Kau benar, aku salah memahami satu ujian ini, aku belum selesai, doakan semoga aku lulus. 
Aku tidak tahu ini cinta versi apa, kau sebut versi pragmatis atau versi gombal pun tak apa. Aku tak tahu kapan kita bisa kembali berjumpa. Yang ku tahu, kau pernah ada dalam salah satu lembaran mimpi yang masih jauh untuk kuraih.

Duhai, seperti katamu. Allah lebih dekat keberadaan-Nya padaku
Duhai, aku akhirnya tahu mana yang harus kusambut
Aku akan menyucikan diriku
Kembali menata rapi hati dan meredam luka perih ini

Semoga waktu kembali merekatkan yang retak dan Allah mengelusnya dengan lembut hingga hilang sempurna.  Aku juga berterima kasih, karena kau telah mengenalkan cinta-Nya padaku.
Suatu saat, hanya jika Allah mengizinkan, kau akan tahu tentang cintaku.

4 comments:

  1. kenapa pilihan kotanya itu ada Jogya sama Malang, itu kota2kuuh #sok protes ahaha ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha mungkin karena habis baca postingan tentang Malang di blogmu wkwk

      Delete
  2. Kalian berdua serasi, amin. Eh, tapi boleh add Blogspot Saya loh di http://sipecandubuku.blogspot.com/ Terimakasih.

    ReplyDelete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan