June 30, 2013

Kawah Putih

Kawah Putih yang membuat saya jatuh cinta dengan tempat ini

Hari keempat di Bandung, saya itu rajin banget. Setelah subuh nggak ada yang namanya tidur molor lagi hehe, soalnya saya mau pergi ke Kawah Putih yang jauhnya itu kebangetan kalo dari Bandung kota #lebay.
Jam 5 pagi saya sudah mandi, sudah wangi dan tentunya sudah berpakaian rapi. Jam 5.30 saya langsung pergi menuju kawah putih dengan rute perjalanan yang Masyaallah jauhnya. Dari penginapan saya harus naek angkot menuju KalapaàLeuwi Panjang àCiwideu àKawah Putih. Dari gerbang Kawah Putih saya harus naek angkutan wisata “Ontang Anting” namanya. Keren banget tuh nama angkutannya, padahal menanjaknya nggak sampai pontang-panting juga.
Narsis dulu :)
Tiket masuk ke Kawah putih + angkutan Ontang anting Pulang pergi itu harganya 28.000, jadi saya nggak perlu lagi naik ke atas kawah dengan jalan kaki seperti yang saya lakukan waktu di tangkuban perahu, meski cuma setengah jalan. Lagian saya memang nggak ada niat untuk jalan kaki dari gerbang sampai ke pusat kawahnya. Soalnya, dari gerbang ke pusat kawah itu kurang lebih 6 atau 7 km, jauh kan? Ya lumayanlah, mana nanjak banget.
Masih pagi banget, tapi pengunjung udah rame
Bagi kalian yang mau liburan ke Kawah Putih, jadi harus siap-siap masker, karena bau belerang yang menyengat di pusat kawahnya. Pengunjung juga maksimal hanya 15 menit, lebih dari itu kebanyakan pengunjung udah pada pusing karena bau blerang dari kawahnya. Saya sih nekad aja, malah lebih dari 15 menit, hampir 30 menitan kayaknya, ya jangan ditiru. Setelah dari kawah, saya malah pusing + mual gitu.

Meski perjalanan menuju ke kawah putih itu super jauh kalo dari Bandung kota, tapi semua itu terbayar kok. Kawahnya emang indah banget. Romantis juga tepatnya, namun sayang seribu sayang, saya kan pelancong single, jadi ya cuma bisa menikmati keindahan kawah seorang diri #sabarMenantiJodoh J
Seperti biasa, kalo jalan-jalan ke suatu tempat tapi nggak punya foto diri sendiri kan nggak seru, jadi saya minta tolong ke anak-anak SMA dari pesantren ‘Urwatul Wutsqo Indramayu” yang sedang jalan-jalan ke kawah putih. Ya lumayan, dapat teman ngobrol plus dapat teman yang bisa dimintai bantuan untuk motret kenarsisan saya selama di kawah. Nggak cuma saya sih, mereka juga saya bantu potret, semacam simbiosis mutualisme lah.
Semacam Menanti seseorang :)
Berhubung saya sudah pusing, akhirnya saya memutuskan untuk langsung menuju shelter ontang anting, sambil menunggu angkutannya penuh, terjadilah obrolan kacau balau antara saya dan beberapa orang yang dari Jakarta, pokoknya mereka itu sukses membuat suasana di dalam ontang anting jadi kayak pertunjukan komedi haha, ada aja lelucon mereka yang membuat saya tertawa terbahak-bahak. 
Penampakan para pelawak di dalam ontang anting :p
Setelah dari kawah putih, saatnya pergi ke kampung strawberry, dengan tiket masuk hanya 15.000, kalian sudah bisa metik strawberry langsung dari kebunnya. Seru loh. Kampung strawberry itu banyak kok di sepanjang jalan menuju kawah putih, ada banyak tulisan yang menjelaskan bahwa pengunjung bisa langsung memetik strawberry dari kebunnya. Seru.
Masih fresh :)
Terbayar sudah kelelahan perjalanan saya, saya menikmati keindahan yang disajikan oleh Tuhan melalui kawah putihnya yang menawan. Kayaknya jika nanti saya sudah menikah, bakalan ngajak istri saya ke kawah putih haha #khusyuBerdoa.
Saya sudah berada di penginapan kurang lebih pukul tiga sore, langsung membayar biaya penginapan, karena malamnya saya sudah harus kembali ke Purwokerto lagi. Oh iya, jangan aneh melihat muka saya yang keren banget alias berkerak, hitam dan super gersang ya. Harap maklum, hasil perjalanan saya selama liburan ini membekas banget di wajah saya yang aslinya super putih ini (ini bohong, emang dasar wajah saya itu hitam). Ah ya sudahlah, namanya juga sedang belajar menjadi traveller sejati, jadi ndak usah takut dengan sinar matahari hehe.
Kampung Strawberry
Ada satu lagi, mungkin ada yang nanya, katanya saya rajin banget makan selama di Bandung. Yupz, saya rajin banget makan selama di Bandung, tapi saya nggak mengabadikan semua makanan yang saya cicipi, soalnya waktu di tangkuban perahu saya sempat mendapat kritik dari seorang ibu dari Jambi. Waktu itu sebelum makan saya motret jagung bakar yang saya beli, terus ibu itu berkomentar,
“Anak sekarang beda dengan zaman dulu, sebelum makan ada ritual motret makanan dulu, bukan malah baca bismillah,” ucap sang Ibu sambil tersenyum
Glekk….Saya langsung istighfar, emang iya sih apa kata ibu itu, meski sebenarnya saya selalu berusaha membaca bismillah sebelum makan, meski emang kadang diawali dengan motret makanan terlebih dahulu. Nah sejak mendengar komentar ibu itu, selama di Bandung saya nggak pernah motret makanan-makanan yang saya nikmati. Saya juga nggak ada makan sambil online, kalo makan ya makan, nggak usah sibuk sambil ngetweet.
Selama di Bandung, saya juga menghilang dari jejaring sosial, saya nggak mau waktu liburan saya terbuang hanya karena kesibukan berjejaring sosial, share foto-foto selama liburan dan lain sebagainya. Saya sudah niatkan di dalam hati bahwa liburan kali ini tanpa ada kesibukan online, meski sebenarnya ada fasilitas wifi dari penginapan.
Next trip Insyaallah ke Karimun Jawa dan Makasar, amin. Sampai jumpa di cerita selanjutnya, ya, mari kita jalan-jalan men.

Bandung Indah Plaza


Hari ketiga di Bandung, saya terkena penyakit malas ditambah lagi capek yang luar biasa. Padahal baru juga dua hari di Bandung, udah capek banget. Belum banyak tempat yang saya jelajahi. Dari pagi sampai jam 11 siang, saya memilih untuk nonton di kamar, kemudian ngetik cerita pengalaman selama dua hari di Bandung. Karena hari ketiga adalah hari Jum’at, jadi mau nggak mau ya harus mandi dan pergi ke masjid untuk menunaikan shalat jum’at.
Setelah juma’t, saya merasakan bosan yang amat luar biasa di kamar, saya langsung kabur ke BIP kemudian nonton. Nah di XXI ini nih saya punya pengalaman yang super usil. Waktu lagi nunggu film dimulai, saya duduk di salah satu pojok XXI, ngotak-atik camdig, potret sana-sini, kemudian camdig saya ngarah ke asal suara berisik yang amat super, udah kayak pasar aja. Setelah saya amati dengan penuh seksama, akhirnya saya paham bahwa rombongan remaja-remaja labil yang ada di pojok yang berlainan itu adalah fans-nya coboy junior. Mereka semua memakai kaos berwarna putih yang bertuliskan SoniQ kalo nggak salah, saya nggak terlalu memperhatikan tulisan yang ada di kaos mereka.
Nah disinilah bakat iseng saya itu super banget. Saya langsung mendekati mereka kemudian sok nanya, padahal udah tahu.
“Adek-adek ini fans-nya Coboy Junior, ya?”
“Iya, Kak. Emangnya kenapa?”
“Ehm, Kakak boleh nanya, nggak?”
“Boleh,” jawab mereka secara bersamaan.
“Coba berikan satu alasan mengapa kalian ngefans banget dengan yang namanya coboy junior?”
“Ganteng, pintar, rajin shalat, dan…”
“Eitzzz tunggu dulu, Kakak cuma minta satu alasan aja. Tadi udah lebih dari satu.” #Mendadakhening
“Ganteng,” jawab salah satu dari mereka.
“Pintar,” jawab yang lainnya.
“Rajin shalat,” jawab yang rada-rada kecil sendiri.
Ya Tuhan, cuma gara-gara itu mereka sampai rela berisik di sini, kemudian rela memakai kaos sebagai identitas mereka, kemudian bela-belain nonton film coboy junior yang menurut saya ng**k banget itu.
“Kakak boleh ngerekam kalian, nggak? Biar coboy junior tahu bahwa kalian adalah fans mereka. Kasian dong, kalian udah capek-capek, udah ngelakuin banyak hal, tapi mereka nggak pernah tahu kalian dan belum tentu juga mereka peduli ama kalian.” (sampai disini saya udah kejam banget dan udah rada-rada kelewatan nih)
“Boleh aja, Kak. Tapi rame-rame, ya.”
“Nggak jadi deh.” Malas banget saya kalo harus ngerekam mereka haha.
Keisengan saya nggak cuma sampai disitu, berhubung yang paling semangat menjawab tadi adalah tiga remaja labil dengan Jilbab yang ada di kepala mereka, saya langsung deh ceramah meski nggak diundang #parah.
“Gini, deh, berdasarkan jawaban kalian tadi, Kakak membuat suatu kesimpulan bahwa sebenarnya ada yang jauh lebih layak kalian idolakan ketimbang coboy junior, dialah Nabi Muhammad Saw yang jauh lebih rajin ibadahnya ketimbang coboy junior, yang jauh lebih pintarnya dibandingkan seluruh anggota coboy junior dan yang jauh lebih ganteng dibandingkan mereka semua, sampai-sampai kita tidak diperbolehkan membuat lukisan Nabi Muhammad Saw karena tidak ada yang bisa melukiskan kesempurnaan beliau.” (Mendadak hening semua, hanya ada tiga orang yang masih berada di hadapan saya, sementara yang lainnya sudah kembali ke posisi masing-masing)
Setelah menjelaskan itu semua, saya langsung kembali ke tempat duduk semula, menunggu pintu teater dibuka. Rasanya puas bisa menjelaskan itu semua kepada remaja-remaja labil itu. Mereka terlihat menundukkan kepalanya sewaktu lewat di hadapan saya, wuahhaha saya usil banget nih #dijitak
Kafe Ndeso
Setelah dari BIP, saya pergi ke Kampung Daun yang merupakan sebuah café, tempatnya romantis nih. Tapi sayang, saya cuma sendirian #kalem. Setelah itu, saya pergi ke Bandung Electronic Center, sempat galau juga mau beli apaan, karena memang asal pergi aja. Rencananya sih saya mau beli DSLR gitu, tapi masih belum yakin mau beli yang mana, karena nggak yakin mau beli apaan, akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke penginapan. Setelah sampai di penginapan, saya mendapat kabar buruk haha #lebay, biaya penginapan yang tadinya 50.000, berubah mendadak jadi 100.000, untung saya cuma satu malam lagi, jadi nggak terlalu memberi pengaruh juga hehe, soalnya dua malam sebelumnya tetap dihitung 50.000,/bed.
Inilah kegiatan saya di hari ketiga di Bandung, sebenarnya ada banyak makanan yang sudah saya cicipi selama seharian, kurang lebih lima tempat makan saya coba, tapi saya malu kalo harus menceritakan kerakusan saya ini, nanti ketahuan deh kalo saya itu makannya banyak banget J

Tangkuban Perahu


Hari kedua di Bandung, saya bangun tidur menjelang subuh. Setelah selesai subuh, saya kembali terkantuk-kantuk dan akhirnya bablas ketiduran lagi sampai pukul  delapan pagi. Setelah mandi dan sarapan pagi, saya siap-siap pergi ke Tangkuban Perahu. Kata mereka yang sudah berkunjung ke Bandung, nggak sah rasanya kunjungan ke Bandung kalo nggak berkunjung ke Tangkuban Perahu yang terkenal dengan legenda Sangkuriangnya. Yang jelas, terlepas dari Legenda yang sampai hari ini tidak saya percayai itu, saya tetap akan berkunjung dan menyaksikan langsung keindahan puncak Gunung Tangkuban Perahu.
Kawah Ratu
Setelah semua siap, dengan backpack yang hanya diisi oleh sebotol air minum, selembar kaos ganti, buku yang saya jadikan panduan menuju ke Tangkuban Perahu, dan sebuah camdig, saya pun pergi menuju Tangkuban Perahu. Backpack saya terasa super ringan, karena saya sudah berniat untuk jalan kaki sampai puncaknya haha.
Dari penginapan saya harus gonta-ganti naek kendaraan umum. Harap maklum, saya kan jalan-jalan ala backpacker amatiran, kendaraan umum menjadi transportasi yang paling keren. Dari penginapan saya naik angkot sampai simpang, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Ledeng, dari ledeng naek angkot lagi menuju Lembang, dari Lembang naek angkot lagi menuju Cikole. Fiuhhh banyak banget nih gonta-ganti angkotnya. Sebenarnya dari Ledeng ada mobil kayak L300 gitu yang langsung sampai Tangkuban Perahu, tapi emang dasarnya saya aja yang ngeyel, lebih memilih gonta-ganti angkot demi mendapatkan pengalaman keren di angkot, kali aja nanti ketemu jodoh di angkot hehe.
Setelah sampai di Cikole, supir angkotnya menawarkan harga 50.000, sampai puncak tangkuban perahu, belum termasuk tiket masuknya. Saya yang sudah berniat jalan kaki dari Cikole, akhirnya terpaksa harus menolak tawaran supir angkot tersebut. Ayo semangat, mendaki gunung tangkuban perahu ini, anggap saja latihan sebelum bener-bener menjadi pendaki handal #kalem.
Ya Tuhan, ternyata jauh banget loh mendakinya, tapi semangat masih menggebu-gebu hingga akhirnya baru setengah jalan, saya udah nggak kuat haha parah nih, sok kuat jadinya gini. Akhirnya gue ikut rombongan yang lewat, naek angkot sampai ke puncak tangkuban perahu. Kesan pertama setelah sampai kawah Tangkuban Perahu itu, saya berdecak kagum, kemudian bilang ke diri sendiri,
Ini keren banget
“Wow, keren, ya, akhirnya saya bisa sampai sini juga,”
Harap maklum, ini kunjungan pertama saya ke Tangkuban perahu. Ternyata banyak banget wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung kesini. Dan disinilah saya baru menyadari bahwa banyak pengunjung yang berasal dari Saudi Arabia. Soalnya saya beberapa kali disapa dengan ucapan assalamu’alaikum. Penasaran, akhirnya saya memberanikan diri untuk berbincang dengan beberapa pengunjung asal Jeddah dan Yaman.
Ada kejadian yang sedikit membuat saya kesel #sabar, jadi ceritanya beberapa turis asal yaman ini mau membeli beberapa macam jualan yang ada di sepanjang jalan mengelilingi kawah ratu. Harganya kalo nggak salah 275.000, untuk beberapa barang. Kerennya lagi, saya yang menerjemahkan ke penjual ini kok merasa malu, ya, karena mereka nawarnya nggak pake otak #emosi. Harga segitu ditawar 50.000, berghh. Penjualnya langsung ikutan kesel dan ngomel-ngomel. Untungnya mereka nggak ngerti bahasa Indonesia, jadi saya dan penjual cuma nyengir doang sambil senyum sinis #elusdada. Nawar sih nggak apa-apa, tapi kalo nawarnya kelewatan gitu sih nggak etis juga menurut saya. #sabararian
Untuk bisa foto disini harus ngantri loh :)
Seperti tulisan saya sebelumnya, resiko jalan-jalan sendiri itu susah motret diri sendiri. Jadi harus sok akrab dengan orang dengan maksud agar mereka mau motretin saya. Cara lama yang saya gunakan untuk bisa punya foto di tempat-tempat yang saya kunjungi. Kalo nggak punya foto diri sendiri, kan nggak bisa pamer dong #modus. Emang dasarnya saya itu super aktif, baru satu jam di Tangkuban Perahu, tapi udah punya banyak banget kenalan yang jadi kawan ngobrol ngalor ngidul sambil mengelilingi kawah ratu yang cukup membuat saya ngos-ngosan. Halah, bagaimana mau mendaki gunung Krakatau, kalo mengelilingi kawah ini aja saya udah capek banget.
Mahasuci Allah dengan segala keindahan-Nya
Kalo di Jogja, biasanya saya sering bertemu dengan turis-turis dari Inggris, Belanda, Germany dan lain-lain, dimana mereka rata-rata bisa berbahasa Inggris (analisa asal versi saya). Tapi di Bandung ini keren, saya jadi bisa menggunakan Bahasa Arab untuk berkomunikasi dengan pendatang-pendatang dari Saudi, karena setelah saya ajak bicara, ternyata tidak semua dari mereka bisa berbahasa Inggris.
Saya berjalan kaki menuju kawah upas, tapi sedang ditutup, jadi saya nggak bisa masuk kesana. Kawah upas memiliki dasar yang dangkal dan datar, dengan pepohonan liar yang tampak banyak tumbuh di salah satu sisi dasar kawah menyajikan pemandangan yang sangat natural. Pengunjung harus berjalan kaki +/- 500 m dari pos pemantau.
di depan pintu keluar Goa
Saya melanjutkan perjalanan ke atasnya lagi, ada air keramat cikahuripan dan sebuah goa pendek. Jalan menuju kesana juga lumayan membuat keringat membasahi kaos yang saya pakai. Setelah sampai di Goa dan air keramat cikahuripan, saya masuk ke dalam Goa dengan membayar 1.000, murah meriah. Air keramatnya itu merupakan tempat mandi ratu siapa gitu, saya lupa penjelasan penjaga goanya. Yang jelas air keramat itu sudah di dalam bak penampungan, pengunjung boleh mencuci muka disana. Tapi saya malah nampung airnya ke dalam botol minum yang sudah kosong. Buat cuci muka nanti kalo berkeringat di perjalanan pulang haha.
Setelah dari air keramat cikahuripan, saya kembali turun, menuju warung-warung tenda yang ada di sepanjang jalan, membeli jagung bakar yang harganya 8.000, kemudian membeli gorengan yang harga satuannya 2.000, dan sempat kaget waktu ke toilet, airnya super dingin. Ya iyalah, namanya juga di gunung, ya pasti dingin.
Di depan kantor bagian informasi
Setelah puas foto-foto, adzan dzuhur berkumandang, setelah shalat dzuhur, saya turun ke bawah dengan jalan kaki, menuju kawah domas yang masih aktif. Kawah yang dipuncak kayaknya udah nggak aktif lagi, sedangkan di kawan domas ini masih aktif, itu kata beberapa pengunjung yang saya temui.
Jalan kaki dari puncak menuju kawah domas juga menguras energi. Tapi nggak apa-apa, saya menikmati perjalanan ini #eluskaki. Setelah cukup lama berjalan kaki, akhirnya sampai juga ke pintu masuk ke kawah domas. Dari pintu masuk kawah domas, saya harus berjalan lebih dari 1 km untuk bisa sampai ke kawahnya. Sebenarnya dari puncak tangkuban perahu kita bisa menuju kawah ini dengan menuruni anak tangga hingga ke kawah domas. Tapi saya memilih melewati jalanan beraspal. Lagi-lagi karena emang super iseng aja.
Kawah Domas
Di kawah domas ini, pengunjung bisa menemui sumber mata air panas yang tak henti-hentinya menggelegak. Sebuah kubangan kecil juga bisa dijumpai disini, dimana pengunjung dapat merendam kaki menikmati hangatnya air kapur yang dipercaya dapat menghilangkan penyakit kulit.
Di kawah domas ini pengunjungnya di dominasi oleh turis dari Arab. Saya menyempatkan diri untuk merendamkan kedua kaki sampai lutut di air kapur yang hangatnya tidak terlalu berlebihan. Saya dan tiga orang turis berasal dari Yaman bersenda gurau, sambil menikmati hangatnya air kapur yang membasahi kaki.
Penampakan kaki saya yang bebas dari penyakit kulit, tapi tetap direndam :p
Sebelum merendamkan kedua kaki di air kapur, saya membeli dua butir telur, kemudian merebusnya di sumber air panas kurang lebih 12 belas menit lamanya. Pemandangan di kawah domas ini keren, saya berasa kayak sedang dunia antah berantah J
Merendam kaki di air kapur sudah, merebus telur di mata air panas sudah, foto-foto juga sudah banyak, akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Udah capek juga karena jalan kaki mulu. Dari kawah domas sampai ke cikole, saya lagi-lagi memilih berjalan kaki. Entah berapa km perjalanan yang saya tempuh dari puncak hingga sampai ke cikole.
Tempat membeli oleh-oleh khas tangkuban perahu
Sebenarnya di Tangkuban perahu ini ada banyak objek wisata. Kawah yang paling atas, yang paling banyak pengunjungnya disebut kawah ratu. Menikmati pemandangan kawah ratu seperti melihat mangkuk besar raksasa yang besar dan dalam. Saat cuaca cerah, lekukan tanah pada dinding kawah demikian juga pada dasar kawah dapat terlihat cukup jelas sehingga mampu menyajikan pemandangan panoramic yang spektakuler.
Over all, saya sangat menikmati waktu saya selama di tangkuban perahu, perjalanan menurun dari atas sampai bawah juga cukup berkesan, meski harus merasakan capek yang luar biasa. Jadi wajar kalo ada yang bilang bahwa belum sah ke Bandung kalo belum pernah berkunjung ke tangkuban perahu, meski letaknya sendiri sebenarnya jauh dari Kota Bandung, sudah di arah Lembang. Tangkuban perahu memiliki daya tarik sendiri. Di sini juga ada flora dan fauna khas tangkuban perahu. Misalkan Cantigi yang merupakan pohon-pohon yang sering diburu orang untuk Bonsai. Ada macan tutul, ada kukang, lutung jawa yang merupakan jenis satwa yang dilindungi undang-undang, dan ada juga surili yang merupakan lutung endemik Jawa.
Telur Hasil ngerebus di sumber air panas :)
Setelah menempuh perjalan dengan kendaraan umum, saya menyempatkan diri menikmati berbagai macam kuliner, dalam hati saya berdoa,
“Ya Tuhan, hindarkan saya dari godaan berbagai macam aneka ragam kuliner ini,” #nyengir
Tapi rugi dong ya kalo nggak menikmati nuansa masakan sunda dan banyak lagi kuliner yang lainnya. Setelah puas dan sudah menjelang maghrib, saya kembali ke penginapan dan istirahat. Sebelum istirahat, saya terlebih dahulu pergi ke tukang pijat, karena kaki saya kayaknya mau copot #Lebay. Setelah dipijat, lumayan menghilangkan pegal-pegal yang ada. Malam pun datang, saya bisa istirahat dengan damai di penginapan. 

Hutan Raya Juanda Bandung #Day1


Sebelum saya bercerita tentang kegiatan hari pertama di Kota Bandung, saya ingin bercerita tentang perjalanan panjang yang sangat melelahkan dari Jakarta. Jadi ceritanya begini, sebelum ke Bandung, saya dan anak-anak pergi ke Jakarta terlebih dahulu, menikmati sehari penuh di Jakarta; berkunjung ke Batan dan Ancol. Yang paling berkesan tentu di Ancol, saya mencoba berbagai macam wahana yang ada; mulai dari Histeria, Tornado, Perahu Ayun dan lain sebagainya. Sempat juga menyaksikan pertunjukan Treasurland Temper of fire sebelum akhirnya kembali ke Bus.
Waktu di Ancol, saya sempat muntah juga hehe, malu-maluin nih, masa cuma naek Tornado doang bisa muntah-muntah. Muntahnya nggak nanggung-nanggung lagi, buanyak banget jendral. Fiuhhh.. waktu naek Tornado itu saya nggak berani membuka mata sedikitpun haha. Setelah selesai baru deh berani buka mata dan elus-elus dada kemudian lari ke bagian pinggir dan muntah. Ya begitulah adanya. Tapi nggak kapok, masih ada histeria dan seabrek permainan lainnya yang saya coba. Biar kelihatan keren, meski udah muntah-muntah di muka umum lol.
Setelah selesai menikmati berbagai macam wahana di Ancol, saya dan anak-anak menikmati menu makan malam di rumah makan Laut Biru yang ada di pinggir laut. Sambil menikmati embusan angin laut yang sepoi-sepoi, kami menikmati menu makan malam seadanya (yang nggak ada jangan ditanya).
Sekarang saatnya kembali ke Purwokerto, menikmati perjalanan pulang sambil tidur karena super capek. Nah, di perjalanan pulang, saya malah turun di Kota Bandung, berencana menghabiskan liburan selama beberapa hari di Kota Kembang ini. Yuhuuu.. Bandung kan terkenal dengan kecantikan perempuannya. Eh tapi tenang, saya ke Bandung bukan untuk mencari jodoh.
Sampai di Bandung sudah hampir pukul satu malam. Kendaraan sudah sepi, lalu lalang kesibukan penduduk Bandung juga sudah tidak terlihat. Hanya beberapa pedagang kaki lima yang masih terlihat santai menunggui dagangan mereka. Saya naek angkot menuju Cicaheum, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Sava Guest House yang ada di Jl. Kiara Condong. Saya sudah menghubungi pihak Sava Guest House sejak beberapa hari sebelumnya. Nggak enak rasanya kalo datang ke Bandung tengah malam kemudian harus muter-muter mencari penginapan.
kamar saya di guest house
Sava Guest House itu cocok banget bagi backpacker mania. Ya kayak saya ini, meski backpacker amatiran sih. Ya harap maklum, jam terbang saya baru dimulai, belum banyak pengalaman. Tapi saya sudah bertekad bahwa akan menghabiskan liburan di Bandung dengan biaya seminim mungkin. Tidak menginap di hotel mewah (karena memang mahal), tidak mau makan di rumah makan mewah (karena mahal juga), tidak mau naek taxi (lagi-lagi karena rada mahal) #kalem.
Jadi selama di Bandung, saya akan menjadi seorang petualang sejati (halahhh lebay nih). Saya menginap di guest house yang hanya 50.000/bed. Keren kan? Ya iyalah, namanya juga guest house, bukan hotel bintang lima. Eh meski cuma 50.000/bed, wifi-nya keren loh (maniak internet gratis). Biasanya kalo saya jalan-jalan, tempat menginap favorit saya itu ya hotel muslim (baca: masjid).
Setelah sampai di penginapan, saya malah nggak bisa tidur, karena sudah tidur lama waktu di bus dari Jakarta sampai Bandung. Saya online sampai subuh, kemudian baru bisa tidur. Hari pertama saya bangun jam 10 siang haha, habis subuh malah terkulai lemah dan ngantuk berat. Padahal saya itu anti loh tidur habis subuh. Hari pertama saya masih malas pergi, masih mau mengumpulkan kekuatan dulu, biar jalan-jalannya bisa maksimal (alesan aja tuh, padahal emang orangnya males).
Siang harinya ternyata saya dipindah ke guest house yang ada di Jalan Riau, dan kerennya lagi, saya tinggal di kamar yang hanya ada 1 bed. Horee… keren dong, saya nggak jadi tinggal di kamar yang dihuni oleh empat orang lebih. Enaknya lagi, guest house yang di Jalan Riau lebih strategis menurut saya (analisa abal-abal).
Ya ampun, ini kapan cerita jalan-jalannya sih, malah jadi ngawur gini. Baiklah kita mulai ceritanya.
Setelah mandi siang, kemudian shalat dzuhur. Saya kabur ke Hutan Raya Ir. H. Juanda yang ada di arah Dago. Dari penginapan, saya harus naek angkot dua kali baru bisa sampai ke Dago dan karena ini adalah kunjungan pertama saya ke arah Dago, yang saya cari pertama kali adalah Gua Belanda yang letaknya ternyata jauh di atas sono huwaaahhha saya nekat jalan kaki dari bawah sampai ke gerbang hutan raya dan tetap nekad jalan kaki mengelilingi Hutan Raya yang luasnya super. Ya karena jalan kaki, jadi nggak sukses dong kelilingnya, kesiangan juga datangnya, jadi nggak bisa mengeksplor semua keindahan hutan raya.

Di dalam Hutan Raya ini ada banyak tempat-tempat yang sebenarnya bisa kita kunjungi. Tapi karena saya ini orangnya pergi nggak ada perencanaan, jadilah asal mau aja. Tempat pertama yang saya masuki adalah Gua Jepang, masuk ke dalam gua yang tidak ada penerangan itu ya gelap jendral. Jadinya harus nyewa senter dengan biaya 3.000,. dengan bermodalkan sebuah senter kecil ini, saya memasuki Gua Jepang ini. Nah keselnya lagi, pas di dalam Gua, ada anak-anak yang dari Solo, mereka itu ngagetin saya dan membuat saya jantungan, pengen loh rasanya jitak kepala mereka satu persatu (ini bohong).
Berhubung saya cuma seorang diri, saya memanfaatkan anak-anak dari salah satu Sekolah Menengah Atas kota Solo ini untuk menjadi teman saya selama di Hutan Raya ini #kejam, ya lumayan dong bisa minta tolong ambil gambar saya. Kalian kan tahu sendiri resiko jalan-jalan seorang diri itu ya susah kalo mau motret diri sendiri. Harus banyak-banyak ngeluarin kalimat “Mas,Mbak,Om,Tante, tolong fotoin saya,” kemudian tersenyum semanis mungkin, agar yang dimintai tolong mendapat hidayah dan bersedia mengabadikan saya dalam camdig.
Setelah dari Gua Jepang, saya dan beberapa anak SMA tadi melanjutkan ke Gua Belanda. Lagi-lagi harus nyewa senter dengan biaya 3.000, karena di Gua ini juga tidak ada penerangan. Di dalam Gua Belanda dan Gua Jepang sih nggak ada apa-apa, cuma terowongan peninggalan zaman Jepang dan Belanda. Awalnya sih saya kira ada seorang permaisuri cantik yang menjaga kedua Gua ini, tapi nyatanya cuma dijaga oleh bapak-bapak dengan beberapa senter di tangannya kemudian menyewakannya ke para pengunjung yang datang.

Setelah dari Gua Belanda, saya melanjutkan perjalanan ke Curug Omas yang merupakan aliran lava dari Gunung Api Purba. Jalan menuju kesana ternyata jauh banget, saya harus jalan kaki kurang lebih satu jam lamanya untuk bisa sampai dan melihat langsung bagaimana aliran Curug Omas ini. Saya kira ini curug milik Omas yang terkenal itu hehe. Ya lumayan, keringat bercucuran dan membuat badan saya yang tadinya wangi jadi bau asem. Anggap aja perjalanan ini sebagai latihan awal untuk kegiatan selanjutnya kalo mau mendaki gunung.
Curug Omas
Sempat kecewa sih waktu sampai ke Curug Omas. Kecewa karena sampah yang menjadi pemandangan yang tidak enak dan bikin saya kesal dengan siapa pun yang membuang sampah di aliran curug ini. Sampah-sampah itu merusak pemandangan yang seharusnya bersih dari sampah. Air yang ada di bawah aliran curug omas ini dipenuhi oleh sampah-sampah pengunjung; botol aqua bekas, bungkus makanan ringan, dan masih banyak lagi yang laen.
Ini sampah di bawah aliran curug Omas :(
Saya kecewa karena apa yang saya harapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada di hadapan saya. Awalnya saya berpikir bakalan terkagum-kagum dengan keindahan curugnya, tapi nyatanya malah kesal duluan dengan sampah di sepanjang jalan menuju curug sampai curug omasnya sendiri. Masalah klasik yang sampai sekarang belum terselesaikan karena masyarakat kita masih belum memiliki kesadaran akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Oke, sampai disini, saya sudah seperti duta lingkungan hidup. Tapi itulah yang saya rasakan.

Jika kalian ingin melihat curug omas ini, kalian bisa naek ojek sebenarnya, tapi karena saya sudah bertekad untuk jalan sehemat-hematnya, jadilah saya menikmati perjalanan satu jam lamanya baru bisa sampai ke curugnya. Meski kecewa, akhirnya saya terhibur dengan dua anak kecil dari Saudi Arabia yang terlihat kebingungan waktu mereka mau membeli jagung bakar, karena ibuk yang menjual itu nggak bisa Bahasa Arab. Saya tersenyum, kemudian menerjemahkan apa yang mereka inginkan ke ibuk yang jualan. Sambil menunggu jagung bakar siap untuk di santap, saya berbincang sejenak dengan kedua anak kecil ini. Nama mereka adalah Ahmad dan Abdul Aziz.
Ahmad dan Abdul Aziz
Setelah puas, akhirnya saya memutuskan untuk kembali, karena sudah hampir pukul enam sore. Sudah mulai gelap. Awalnya saya masih nekad mau jalan kaki dan itu artinya jam tujuh lebih saya baru bisa sampai ke gerbang masuk hutan raya. Tapi berhubung semua pengunjung naek ojek, akhirnya saya ikut naek ojek, serem juga kalo saya harus jalan seorang diri di hutan tanpa penerangan.
saya pesen dua porsi haha
Setelah dari Hutan Raya Ir. H. Juanda, saya kabur menuju alun-alun Kota Bandung. Menyempatkan diri untuk shalat di Masjid Raya Bandung, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Museum Konperensi Asia Afrika yang ada di jalan Asia Afrika. Sambil menikmati tahu gejrot khas Cirebon, saya duduk menikmati lalu lalang kendaraan di depan Gedung Merdeka yang besebelahan dengan Museum Konperensi Asia Afrika. Sempat narsis juga di depan Gedung Merdeka, sempat ngajakin yang jualan tahu gejrot untuk ikutan narsis, sempat nyuruh beberapa orang untuk motretin saya (derita jalan-jalan sendiri), dan saat malam semakin larut, saya pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke penginapan. Sampai di kamar sudah hampir pukul 11 malam. Kaki saya rasanya mau copot, pegelnya mintak ampun. Setelah mandi, shalat dan laen sebagainya, saya pun tidur dengan lelap.

June 19, 2013

Menanti Cinta



Hanya pada-Mu ku bertanya
Lewat setiap sujudku ini
Siapakah nanti
Cinta untukku
(Menanti Cinta)

Gue yakin akan janji Tuhan tentang jodoh gue. Siapapun nantinya yang ditakdirkan menjadi jodoh gue, gue berharap bisa menjadi pendamping hidup yang baik untuknya; baik dalam suka maupun duka, dan selalu berusaha menjalani kehidupan sebaik mungkin sesuai dengan aturan-Nya.
            Sepertinya kegalauan gue tentang jodoh baru akan terhenti kala pernikahan sudah terlaksana. Buktinya gue sering banget galau kalo ditanya dengan pertanyaan sakral.
“Kapan nikah?”
Entah sudah berapa kali gue mendengar pertanyaan itu diajukan baik dari rekan sesama guru, murid-murid, wali murid, sahabat, de el el. Mengapa mereka tidak bosan menanyakan pertanyaan itu, bahkan selalu diulang? Kadang gue berpikir bahwa itu adalah wujud perhatian mereka ke gue. Tapi kadang gue juga terlalu sensitif dengan pertanyaan itu.
Ada sahabat yang akhirnya memilih untuk cepat-cepat menikah, karena tidak ingin mendengar pertanyaan sakral itu lagi. Kami sempat geleng-geleng kepala saat mendengar pengakuannya tentang hal itu. Aneh. Tapi gue mengakui, kadang memang ada rasa yang mencoba untuk berontak setiap kali pertanyaan itu diajukan. Eh bukankah pertanyaan sakral itu akan terus berlanjut, meski gue sudah menikah? Hanya pertanyaannya yang berubah “kapan punya anak?” nanti kalo sudah punya anak “kapan punya anak lagi?” dan seterusnya hehe. Semoga tidak ada pertanyaan “kapan nikah lagi?” lol
Gue memang belum ada rencana untuk menikah, meski sudah beberapa kali ada yang datang ke rumah, mencoba untuk mengenalkan seseorang yang mungkin cocok dengan kriteria perempuan yang akan gue pilih menjadi pendamping hidup. Tapi tiap kali ada yang datang, gue nggak pernah mempunyai nyali untuk mengatakan iya. Gue nggak pernah punya keberanian untuk mengatakan bahwa gue sudah siap untuk membina rumah tangga. Gue nggak pernah seberani itu. Bahkan gue terkadang mengulur waktu untuk memberi jawaban, meski akhirnya gue sudah tahu jawaban apa yang akan gue berikan. Selalu jawaban belum ingin menikah.
“Maaf, saya belum ada rencana untuk menikah.”
Itulah jawaban sederhana yang sering gue ucapkan. Namun gue sering bingung sendiri kala pertanyaan mereka berlanjut.
“Apa yang membuat ustad belum mau menikah?”
Ya, gue sering bingung jika ada pertanyaan seperti ini. Jujur, di hati kecil gue, kadang gue iri melihat ada keluarga yang sedang bermain bersama, berlarian kesana kemari, tertawa, atau bahkan gue sering galau melihat anak-anak kecil yang lucu. Kadang gue sering galau saat sedang berada di Sekolah Dasar, melihat anak-anak yang berlarian ke arah gue, mereka menarik-narik tangan gue mengajak bermain bersama mereka. Gue sering galau karena itu.
Sepulang sekolah, kadang gue sengaja mampir ke Sekolah Dasar, hanya untuk melihat anak-anak yang berlarian kesana-kemari, tertawa lepas, kemudian mereka berlarian ke arah gue, mengajak gue bermain bola bersama mereka. Mereka terbiasa bermain sepak bola di halaman sekolah sambil menunggu jemputan datang. Gue menikmati kebersamaan kami; tawa mereka, senyum mereka, semuanya membuat selukis senyum selalu ada di hadapan mereka. Bahagia, teduh. Kadang mereka membuat gue bergumam dalam hati,
“Anak gue nanti kayak gimana, ya, mukanya? Selucu mereka kah?”
Ada teman gue yang berceloteh tentang keinginannya memiliki anak, tapi belum ingin menikah haha. Gue tahu dia hanya bercanda.
“Apa lagi yang kamu tunggu, Yan? Segeralah menikah,” ucap salah satu kawan lama yang sudah lama tidak berjumpa. Gue tidak memberikan jawaban apa-apa terhadap pertanyaannya. Kami sama-sama diam.
Pernah suatu ketika ada seseorang yang datang ke rumah.
“Ustad, antum sudah punya calon istri belum?”
“Belum.”
“Aku punya kakak, sekarang dia sedang kuliah.”
Awalnya gue masih belum paham arah pertanyaannya. Beberapa detik kemudian gue baru mengerti arah pertanyaannya. Dengan semangat yang menggebu-gebu, dia menceritakan semua tentang sang kakak, dan gue hanya mendengarkannya sambil sesekali menganggukkan kepala, tersenyum.
Gue tahu nama kakaknya. Gue pernah bertemu dengan kakaknya pada suatu kesempatan. Hanya sekali bertemu. Pertemuan itu adalah pertemuan yang menyisakan perasaan aneh di dalam hati. Ada getaran-getaran aneh yang terus memenuhi dada gue. Kata teman-teman yang sering galau (melebihi kegalauan gue tentunya),
“Jika kamu bertemu seseorang, kemudian jantungmu berdetak lebih kencang, maka dia adalah jodohmu.”
Salah satu teman gue iseng memberi komentar.
“Gue sering kayak gitu. Kalo ada yang datang mau nagih hutang, gue pasti deg-degan banget. Berarti jodoh gue banyak, dong?”
“Loh kok bisa?”
“Soalnya banyak yang nagih hutang ke gue, parahnya lagi mereka semua laki-laki.”
Gr…rrrr… garing. Kami semua terkekeh.
Gue merasakan getaran itu, saat pertama kali bertemu dengannya. Gue pernah memohon kepada Tuhan agar dia menjadi jodoh gue. Sepertinya gue sudah menemukan seseorang yang akan mengisi kekosongan hati. Tapi, hingga hari ini, gue nggak pernah yakin dengan perasaan gue. Dalam tiap sujud, gue sering memanjatkan doa kepada-Nya, agar gue tidak diperbudak oleh rasa yang aneh ini. Gue tidak ingin jika perasaan ini membuat gue lalai. Gue malu pada Tuhan jika perasaan ini membuat gue menjauh dari hadapan-Nya. Gue hanya bisa memohon kepada-Nya agar diberi keberanian dan keyakinan untuk membuat keputusan besar dalam hidup.
Menikah, siapa sih yang tidak ingin menikah?
“Gue udah pengen banget nikah, Yan. Tapi belum ada yang mau. Seandainya gue jadi diri lo, gue bakalan langsung lamar perempuan itu. Masalah diterima atau tidak itu urusan belakangan.” Begitulah komentar seorang kawan. Tapi mengapa gue tidak seberani itu? Apalagi sebenarnya yang gue ragukan?
Wahai penilai hati lihat batinku
Nyaris bernanah karna luka tersayat
Merana menantikan cinta dan kasih hidupku
Rahasia itu hanya Kau yang tahu
Namun aku tak mau jadi tuna cinta
Tuntun hatiku dalam sabar menanti jodohku
Sampai hari ini, gue masih terus berdoa kepada Tuhan, agar dia menjadi jodoh gue. Semoga suatu saat gue memiliki keberanian untuk mengutarakan rasa ini, dan semoga suatu saat kami dipersatukan oleh-Nya. Amin #khusyu
Berbicara tentang jodoh, gue pernah terpingkal-pingkal membaca humor doa minta jodoh.
Ya Tuhan, kalau dia memang jodohku,
Dekatkanlah…
Tapi kalau bukan jodohku,
Jodohkanlah…
Jika dia tidak berjodoh denganku,
Maka jadikanlah kami jodoh…
Kalau dia bukan jodohku,
jangan sampai dia dapat jodoh yang lain, selain aku.
Kalau dia tidak bisa di jodohkan denganku,
Jangan sampai dia dapat jodoh yang lain,
Biarkan dia tidak berjodoh sama seperti diriku.
Dan saat dia telah tidak memiliki jodoh,
Jodohkanlah kami kembali.
Kalau dia jodoh orang lain,
Putuskanlah! Jodohkanlah denganku.
Jika dia tetap menjadi jodoh orang lain,
Biar orang itu ketemu jodoh dengan yang lain,
Dan kemudian Jodohkan kembali dia dengan ku.
“Amin…”[1]
Haha… Tapi gue nggak pernah berdoa kayak gitu pada Tuhan.
Ada lagi kegalauan gue yang lain (Kapan gue berhenti galaunya sih?). Pernah ada wali murid yang bertanya,
“Ustad, maaf. Saya mau nanya, tapi ini sedikit pribadi. Ustad sudah punya calon istri belum?”
Jeng-jeng….Pertanyaan ini pagi-pagi banget, gue nggak jadi ngantuk waktu membacanya. Gue membalas pesan singkatnya.
“Belum, Buk. Saya memang belum ada rencana untuk menikah.”
“Saya punya seorang mahasiswi, dia kayaknya seumuran ama Ustad. Dia mahasiswi terbaik saya. Ustad lahir tahun berapa?”
“Saya lahir tahun 1989.” (gue nggak mungkin kan ngejawab kalo gue lahir di tahun gajah? hehe)
            “Kalo Ustad bersedia, saya bisa bilang ke dia, siapa tahu jodoh ama Ustad.”
            “Terimakasih, Buk. Tapi saya belum mau menikah.”
            Jawaban gue nggak berhasil mengakhiri pertanyaan yang terus berlanjut ini.
            “Nggak mesti harus langsung nikah, Ustad. Dia juga mau melanjutkan S2 ke Thailand. Jadi dijalani dulu, kalo cocok ya dilanjutkan. Kalo Ustad mau, baru saya akan bilang ke dia.”
Nah loh? Pingsan gue. Jawaban gue tetap sama. Gue kira semua sudah berakhir begitu saja. Tapi ternyata belum. Pada saat pengambilan laporan termin siswa (kebetulan gue adalah wali kelas), ternyata wali murid yang tadi pagi sms ke gue tidak bisa mengambil laporan progress report putranya, seseorang diwakilkan untuk mengambilnya. Gue nggak banyak nanya, gue cuma menjelaskan perkembangan putranya kepada perempuan yang mewakilkannya mengambil progress report.
Siang harinya, ada pesan singkat dari wali murid tersebut.
“Gimana Ustad? Cocok, nggak?”
Sumpah, gue langsung bingung. Apanya yang cocok? Gue bingung, galau, Krisdayanti ikutan galau, tetangga gue galau, Presiden SBY malah lebih galau dari gue. #lostfocus
“Cocok nggak dengan (gue lupa namanya siapa), dia yang mengambil laporan termin tadi.”
Jiannnn….jadi yang ngambil laporan termin tadi itu adalah perempuan yang mau dikenalkan ke gue? Lah mana gue tahu. Gue langsung nyengir seorang diri di kamar. Gue sempat berusaha mengingat raut wajah perempuan yang tadi datang ke sekolah dan gue gagal untuk mengingatnya haha.
“Maaf, Buk. Saya tidak bisa.”
Permasalahan pun berakhir. #elusdada
See? Gimana nggak sering galau coba? Tapi memang dasar guenya aja yang super sering galau. Apa-apa digalauin.
Gue yakin bahwa jodoh seseorang itu tidak jauh dari seperti apa dirinya. Kalian sering mendengar ada banyak orang yang ingin mendapatkan pasangan  hidup yang shaleh/shalehah? Dengan harapan kehidupan akan menjadi lebih baik jika mendapatkan pasangan hidup yang shaleh/shalehah.
Pertanyaannya adalah, sejauh mana seseorang itu mengoptimalkan keshalehan dirinya sendiri tanpa menuntut orang lain yang notabene orang yang akan menjadi pasangannya untuk menjadi seseorang yang shaleh/shalehah? Sementara dirinya jauh dari keshalehan. Seseorang yang paham akan berusaha memperbaiki dirinya terlebih dahulu, sebelum ia mencari seseorang yang shaleh/shalehah yang akan menjadi pasangan hidupnya.
            Gue sedang berusaha untuk memperbaiki diri. Gue yakin seseorang yang akan menjadi jodoh gue juga sedang berusaha memperbaiki dirinya. Hingga akhirnya kami akan dipertemukan di waktu yang tepat, untuk membangun rumah tangga, meraih ridha Tuhan.
Tuhan, rahasia itu hanya Engkau yang tahu. Satu hal yang ingin kupinta pada-Mu, tuntun hatiku agar selalu sabar menanti jodohku.

June 18, 2013

Edisi Curdad

Cinta memang aneh
Dia datang tanpa diundang
Dia datang tanpa permisi
Kadang pergi begitu saja
Tak lagi kembali
Inikah cinta yang sesungguhnya?

Pernah mendengar kata curdad? Itu edisi terbaru yang lagi keren sekarang, mampu mengalahkan edisi terdahulunya, yaitu curhat haha. Curdad itu istilah gue untuk curhat dadakan. Keren, kan? Anggap saja keren, sama kayak gue kerennya (edisi narsis parah).
            Malam yang gelap, hanya bertemankan sebatang lilin hasil minta ke kamar sebelah (ini kenapa jadi bikin narasi kacau gini?). Suatu ketika pernah mati lampu lama banget, dari siang sampai malam pukul sembilan. Setelah shalat isya berjamaah di masjid, gue ngobrol dengan salah satu ustad senior. Intinya gue tiba-tiba pengen banget cerita ke seseorang yang bisa gue percaya. Gue pengen banget ada orang yang mendengarkan curahan hati gue. Gue butuh masukan dari beliau.
Manusia adalah makhluk sosial, kita perlu bersosialisasi, bertemu dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Dengan hidup membaur, kita akan merasakan bahwa hidup itu lebih bermakna. Saling membantu satu sama lain, saling mengingatkan untuk tetap taat kepada Tuhan de el el.
            “Ustad, saya mau cerita, tapi tolong jangan cerita ke orang lain. (ini curhat kok pake ngancem sih? hehe)”
            “Insya Allah, ada apa Ustad?” jawab beliau.
            Tidak mau menunggu terlalu lama lagi, gue langsung menceritakan apa yang selama ini mengganggu keseharian gue. Gue katakan mengganggu karena sepertinya gue memang lagi jatuh cinta. Gue suka dengan seseorang, hanya bertemu satu kali, kemudian ada rasa yang tiba-tiba muncul begitu saja. Padahal gue nggak pernah ngobrol ama dia, gue nggak pernah tahu nomor handphonenya, gue nggak pernah bertemu secara sengaja. Gue cuma pernah melihat dia sekilas. Tapi gue merasa ada yang beda. Setelah curhat dadakan panjang lebar kali tinggi (seperti rumus matematika saja), beliau langsung tersenyum, kemudian bertanya beberapa hal.
“Apa yang antum rasakan saat pertama kali bertemu?  Antum deg-degan, nggak? Antum merasa ada rasa yang tiba-tiba datang begitu saja nggak pada saat melihat wajahnya? Antum merasa bahagia, nggak?”
Gue mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan beliau yang beruntun.
“Itulah cinta,” lanjutnya.
Gue tertegun, hening dalam gelapnya malam. Nyamuk juga ikut diam, cicak juga ikutan tertegun, kecoak juga ikutan terharu. Hanya kami berdua di masjid (nyamuk, cicak, kecoak de el el tidak usah dianggap)
Tiba-tiba gue teringat teman gue yang sering deg-degan kalo bertemu dengan penagih hutang, kemudian dia langsung bilang mungkin penagih-penagih hutang itu adalah jodohnya, meski mereka semua laki-laki haha.
Demi memecah keheningan, beliau menceritakan pengalamannya saat dulu masih muda (berarti sekarang sudah berumur (baca: tua) ya?) #dilemparkalender
“Dulu, saya pernah mencintai seorang perempuan. Kala itu dia baru menyelesaikan sekolah menengah pertama (wow banget ini, baru tamat SMP, bro). Saya langsung bertemu dengan kedua orangtuanya dan melamar anaknya. Anaknya setuju, tapi orang tuanya menolak dengan alasan karena dia masih terlalu muda untuk menjadi seorang istri. Saya menerima alasan itu, tapi perempuan itu tidak bisa menerima. Dia ingin segera menikah. Dia adalah perempuan yang menjadi rebutan pemuda-pemuda di kampungnya (oh di kampung hehe). Karena melihat kesungguhan sang anak, akhirnya orangtuanya menerima lamaran saya.
Saya langsung memberitahu orangtua di kampung (oh sama-sama berasal dari kampung #kalem), tapi mereka tidak ada yang setuju, dengan alasan jauh. Saya asli pulau seberang, sedangkan dia asli pulau Jawa. Takut berat di ongkos. Tapi saya menunjukkan keseriusan kepada kedua orangtua saya, hingga akhirnya disetujui. Saya langsung melamar perempuan yang saya cintai, saya berikan dia sebuah cincin. Tapi ternyata dia menunda pernikahan, dia hanya mau tunangan saja dulu. Pernikahan ditunda hingga waktu yang tidak pasti. Saya tidak ingin menunda-nunda lagi, saya ingin segera menikah.
Saya bilang ke orangtuanya,
“Jika memang tidak bisa dipercepat pernikahannya, maka saya akan mundur.”
Ternyata mereka tidak mau pernikahan segera dilangsungkan, masih mau menunggu beberapa bulan lagi (puk-puk ustad senior). Saya sudah terlanjur berkata demikian, kemudian saya mundur. Kedua orangtua saya sangat senang saat saya tidak jadi menikah dengannya (ini namanya berduka di atas penderitaan orang lain hehe). Tapi saya tidak bisa membohongi cinta yang ada di hati saya. Saya mencintainya.
Empat sampai lima tahun kemudian, saya tetap mencintainya. Saya tidak pernah bisa menerima perempuan lain sebagai istri saya. Orangtua sudah memaksa saya untuk segera menikah, karena usia yang sudah tidak lagi muda. Tapi saya masih mencintai dia yang dulu pernah saya lamar. Karena terpaksa dan ingin membuat orangtua bahagia, akhirnya saya menikah dengan perempuan yang mereka kenalkan ke saya. Saya menikah bukan karena cinta, melainkan karena terpaksa.
“Saran saya, menikahlah dengan orang yang memang kamu cintai, bukan karena terpaksa, apalagi kasihan.” Beliau mengakhiri ceritanya dengan sebuah pesan, kemudian mencoba menatap langit-langit masjid dalam kegelapan malam.
Eh bentar, sebenarnya yang mau curhat ini gue atau beliau sih? Kok jadi gue yang mendengarkan curhat beliau yang panjang lebar?
Tapi gue mendapat sedikit pencerahan dari cerita beliau.
“Apa antum benar-benar mencintainya?”
Gue mengangguk. Kecoak, cicak, nyamuk, semua ikutan mengangguk. Lol
Berbicara tentang curdad alias curhat dadakan, gue kadang memang suka melakukan itu kepada seseorang yang dapat gue percaya. Kalian tahu, kadang saat ada orang berbagi cerita pada kalian, dia tidak membutuhkan komentar dari kalian, kadang dia hanya butuh untuk didengarkan. Gue belajar untuk menjadi pendengar yang baik, sekaligus pelaku curhat yang baik.
Ada satu sahabat yang paling sering mendengarkan curhatan gue. Namanya Siwi Mars Wijayanti, dia yang paling sering mendengarkan kegalauan gue. Seperti yang gue tulis, kadang gue hanya butuh untuk didengarkan, gue hanya butuh seseorang yang bersedia meluangkan waktunya untuk mendengarkan curhatan gue. Kadang ada candaan darinya,
“Mau curhat lagi? Siapin kotak sampah yang gede ah.”
Kami pun terkekeh. Mempunyai sahabat yang bisa mengerti kita itu adalah anugerah. Menjadi tempat berbagi suka maupun duka. Tapi kalo Mbak Siwi ini seringnya kebagian dukanya dari pada sukanya.
Gue paling suka curhat pada Tuhan. Ada ketenangan saat bersujud di hadapan-Nya, kemudian bercerita tentang apa yang sedang gue alami. Gue suka melakukan itu. Kadang gue bercerita di hadapan-Nya layaknya sedang berbicara dengan seorang sahabat karib. Gue bebas berbagi apa saja kepada Dia yang segala Maha. Karena pada hakikatnya, Tuhanlah tempat kita mengadukan segala keluh kesah yang ada. Percayalah, Tuhan selalu mendengar, Tuhan selalu mengetahui apa yang terbetik di hati kita. Jangan sungkan untuk curhat maupun curdad kepada Tuhan.
Gue siap kok kalo ada yang mau curhat ke gue, tapi harus buat janji dulu, ya. Takutnya jam terbang gue padat, jadi harus pintar-pintar membagi waktu untuk mendengarkan curhatan kalian (sok sibuk).