June 18, 2013

Edisi Curdad

Cinta memang aneh
Dia datang tanpa diundang
Dia datang tanpa permisi
Kadang pergi begitu saja
Tak lagi kembali
Inikah cinta yang sesungguhnya?

Pernah mendengar kata curdad? Itu edisi terbaru yang lagi keren sekarang, mampu mengalahkan edisi terdahulunya, yaitu curhat haha. Curdad itu istilah gue untuk curhat dadakan. Keren, kan? Anggap saja keren, sama kayak gue kerennya (edisi narsis parah).
            Malam yang gelap, hanya bertemankan sebatang lilin hasil minta ke kamar sebelah (ini kenapa jadi bikin narasi kacau gini?). Suatu ketika pernah mati lampu lama banget, dari siang sampai malam pukul sembilan. Setelah shalat isya berjamaah di masjid, gue ngobrol dengan salah satu ustad senior. Intinya gue tiba-tiba pengen banget cerita ke seseorang yang bisa gue percaya. Gue pengen banget ada orang yang mendengarkan curahan hati gue. Gue butuh masukan dari beliau.
Manusia adalah makhluk sosial, kita perlu bersosialisasi, bertemu dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Dengan hidup membaur, kita akan merasakan bahwa hidup itu lebih bermakna. Saling membantu satu sama lain, saling mengingatkan untuk tetap taat kepada Tuhan de el el.
            “Ustad, saya mau cerita, tapi tolong jangan cerita ke orang lain. (ini curhat kok pake ngancem sih? hehe)”
            “Insya Allah, ada apa Ustad?” jawab beliau.
            Tidak mau menunggu terlalu lama lagi, gue langsung menceritakan apa yang selama ini mengganggu keseharian gue. Gue katakan mengganggu karena sepertinya gue memang lagi jatuh cinta. Gue suka dengan seseorang, hanya bertemu satu kali, kemudian ada rasa yang tiba-tiba muncul begitu saja. Padahal gue nggak pernah ngobrol ama dia, gue nggak pernah tahu nomor handphonenya, gue nggak pernah bertemu secara sengaja. Gue cuma pernah melihat dia sekilas. Tapi gue merasa ada yang beda. Setelah curhat dadakan panjang lebar kali tinggi (seperti rumus matematika saja), beliau langsung tersenyum, kemudian bertanya beberapa hal.
“Apa yang antum rasakan saat pertama kali bertemu?  Antum deg-degan, nggak? Antum merasa ada rasa yang tiba-tiba datang begitu saja nggak pada saat melihat wajahnya? Antum merasa bahagia, nggak?”
Gue mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan beliau yang beruntun.
“Itulah cinta,” lanjutnya.
Gue tertegun, hening dalam gelapnya malam. Nyamuk juga ikut diam, cicak juga ikutan tertegun, kecoak juga ikutan terharu. Hanya kami berdua di masjid (nyamuk, cicak, kecoak de el el tidak usah dianggap)
Tiba-tiba gue teringat teman gue yang sering deg-degan kalo bertemu dengan penagih hutang, kemudian dia langsung bilang mungkin penagih-penagih hutang itu adalah jodohnya, meski mereka semua laki-laki haha.
Demi memecah keheningan, beliau menceritakan pengalamannya saat dulu masih muda (berarti sekarang sudah berumur (baca: tua) ya?) #dilemparkalender
“Dulu, saya pernah mencintai seorang perempuan. Kala itu dia baru menyelesaikan sekolah menengah pertama (wow banget ini, baru tamat SMP, bro). Saya langsung bertemu dengan kedua orangtuanya dan melamar anaknya. Anaknya setuju, tapi orang tuanya menolak dengan alasan karena dia masih terlalu muda untuk menjadi seorang istri. Saya menerima alasan itu, tapi perempuan itu tidak bisa menerima. Dia ingin segera menikah. Dia adalah perempuan yang menjadi rebutan pemuda-pemuda di kampungnya (oh di kampung hehe). Karena melihat kesungguhan sang anak, akhirnya orangtuanya menerima lamaran saya.
Saya langsung memberitahu orangtua di kampung (oh sama-sama berasal dari kampung #kalem), tapi mereka tidak ada yang setuju, dengan alasan jauh. Saya asli pulau seberang, sedangkan dia asli pulau Jawa. Takut berat di ongkos. Tapi saya menunjukkan keseriusan kepada kedua orangtua saya, hingga akhirnya disetujui. Saya langsung melamar perempuan yang saya cintai, saya berikan dia sebuah cincin. Tapi ternyata dia menunda pernikahan, dia hanya mau tunangan saja dulu. Pernikahan ditunda hingga waktu yang tidak pasti. Saya tidak ingin menunda-nunda lagi, saya ingin segera menikah.
Saya bilang ke orangtuanya,
“Jika memang tidak bisa dipercepat pernikahannya, maka saya akan mundur.”
Ternyata mereka tidak mau pernikahan segera dilangsungkan, masih mau menunggu beberapa bulan lagi (puk-puk ustad senior). Saya sudah terlanjur berkata demikian, kemudian saya mundur. Kedua orangtua saya sangat senang saat saya tidak jadi menikah dengannya (ini namanya berduka di atas penderitaan orang lain hehe). Tapi saya tidak bisa membohongi cinta yang ada di hati saya. Saya mencintainya.
Empat sampai lima tahun kemudian, saya tetap mencintainya. Saya tidak pernah bisa menerima perempuan lain sebagai istri saya. Orangtua sudah memaksa saya untuk segera menikah, karena usia yang sudah tidak lagi muda. Tapi saya masih mencintai dia yang dulu pernah saya lamar. Karena terpaksa dan ingin membuat orangtua bahagia, akhirnya saya menikah dengan perempuan yang mereka kenalkan ke saya. Saya menikah bukan karena cinta, melainkan karena terpaksa.
“Saran saya, menikahlah dengan orang yang memang kamu cintai, bukan karena terpaksa, apalagi kasihan.” Beliau mengakhiri ceritanya dengan sebuah pesan, kemudian mencoba menatap langit-langit masjid dalam kegelapan malam.
Eh bentar, sebenarnya yang mau curhat ini gue atau beliau sih? Kok jadi gue yang mendengarkan curhat beliau yang panjang lebar?
Tapi gue mendapat sedikit pencerahan dari cerita beliau.
“Apa antum benar-benar mencintainya?”
Gue mengangguk. Kecoak, cicak, nyamuk, semua ikutan mengangguk. Lol
Berbicara tentang curdad alias curhat dadakan, gue kadang memang suka melakukan itu kepada seseorang yang dapat gue percaya. Kalian tahu, kadang saat ada orang berbagi cerita pada kalian, dia tidak membutuhkan komentar dari kalian, kadang dia hanya butuh untuk didengarkan. Gue belajar untuk menjadi pendengar yang baik, sekaligus pelaku curhat yang baik.
Ada satu sahabat yang paling sering mendengarkan curhatan gue. Namanya Siwi Mars Wijayanti, dia yang paling sering mendengarkan kegalauan gue. Seperti yang gue tulis, kadang gue hanya butuh untuk didengarkan, gue hanya butuh seseorang yang bersedia meluangkan waktunya untuk mendengarkan curhatan gue. Kadang ada candaan darinya,
“Mau curhat lagi? Siapin kotak sampah yang gede ah.”
Kami pun terkekeh. Mempunyai sahabat yang bisa mengerti kita itu adalah anugerah. Menjadi tempat berbagi suka maupun duka. Tapi kalo Mbak Siwi ini seringnya kebagian dukanya dari pada sukanya.
Gue paling suka curhat pada Tuhan. Ada ketenangan saat bersujud di hadapan-Nya, kemudian bercerita tentang apa yang sedang gue alami. Gue suka melakukan itu. Kadang gue bercerita di hadapan-Nya layaknya sedang berbicara dengan seorang sahabat karib. Gue bebas berbagi apa saja kepada Dia yang segala Maha. Karena pada hakikatnya, Tuhanlah tempat kita mengadukan segala keluh kesah yang ada. Percayalah, Tuhan selalu mendengar, Tuhan selalu mengetahui apa yang terbetik di hati kita. Jangan sungkan untuk curhat maupun curdad kepada Tuhan.
Gue siap kok kalo ada yang mau curhat ke gue, tapi harus buat janji dulu, ya. Takutnya jam terbang gue padat, jadi harus pintar-pintar membagi waktu untuk mendengarkan curhatan kalian (sok sibuk).

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan