June 04, 2013

Melbourne, here I’m


“Nggak usah bermimpi ketinggian, Nak. Nanti kalo nggak kesampaian bisa gila.” Suara itu terngiang di benak Meko. Suara yang menyudutkannya berulang kali karena ia memiliki mimpi yang tinggi. Tertulis jelas di dinding kamarnya, sebuah Negara yang jauh dari jangkauannya. Australia, itulah Negara yang ingin ia kunjungi, ingin ia jelajah, ingin ia taklukkan. Belajar ke Negeri Kangguru adalah mimpi yang sudah sejak lama ia rajut. Negeri Kanguru, dengan segala macam kehebatannya, dengan segala macam keragaman penduduknya, telah mampu menaklukkan hatinya. Ia yakin bahwa suatu saat pasti bisa belajar disana.
“Bu, apa salahnya jika aku bermimpi besar? Bukankah bapak selalu bilang bahwa selalu ada hasil pada sebuah kesungguhan? Mengapa sekarang Ibu tidak pernah mendukung mimpiku? Seharusnya Ibu memberiku semangat.
Bu Aida hanya terdiam menatap wajah putra semata wayangnya, putra yang sekian tahun menjadi teman hidupnya seorang. Jangan tanya suami, Bu Aida sudah tidak ingin lagi mengingat lelaki yang dulu pernah ia panggil sebagai seorang suami. Terlalu dalam luka yang menyayat hatinya, terlalu sakit rasa yang harus ia tanggung. Dan sekarang, Meko menyebut-nyebut nama itu, nama yang sudah lama ingin ia lupakan.
“Meko ingin kuliah, Bu. Meko tahu bagaimana kondisi keluarga kita yang hanya beratapkan rumah yang sudah reot, berlantaikan tanah, berdindingkan papan kayu yang sudah rapuh. Tapi Meko percaya bahwa Tuhan akan memberikan kesempatan yang sama kepada mereka yang sungguh-sungguh menggapai mimpinya.” Meko mencoba untuk menenangkan kembali hatinya yang kecewa karena Sang Ibu tak pernah mendukung keinginannya.
Jauh di dalam hati Sang Ibu, Bu Aida sebenarnya mendukung sepenuhnya keinginan buah hatinya. Tapi, dia tidak ingin melihat putranya kembali jatuh seperti sebelumnya, saat ia dinyatakan tidak lolos seleksi beasiswa ke Australia. Ia tidak ingin melihat putranya uring-uringan karena mimpinya tak kunjung digapai. Ada iba yang menyeruak saat melihat muka murung putranya.
***
Tahun ini adalah kali ketiga Meko memberanikan diri untuk menjadi satu dari sekian banyak lulusan Sekolah Menengah Atas yang menjadi pendaftar beasiswa belajar ke luar Negeri. Beasiswa dari Pemerintah Daerah sudah sejak lama ia incar, namun setelah dua kali mendaftar, ia selalu gagal. Meko pernah jatuh sejatuhnya, hingga akhirnya ia kembali bangkit dan ingin menunjukkan kepada dunia bahwa anak kampung yang selama ini selalu dianggap sering membual dengan mimpi besarnya itu bisa menggapai apa yang sudah diimpikannya sejak lama.
Meko menatap lekat-lekat peta Negara Australia yang ada di meja belajar kamarnya. Negara itulah yang membuatnya semangat menjalani hari menuju pantai harapan demi menggapai mimpi. Victoria University dan Monash University adalah dua Universitas yang ia idam-idamkan. Kedua uiversitas itu sama-sama berada di Melbourne, Australia.
Australia adalah Negara yang memiliki komitmen tinggi terhadap dunia pendidikan. Terbukti dengan banyaknya pelajar Internasional yang belajar ke Negeri Kangguru tersebut. Di Indonesia sendiri, ada beasiswa AusAID bagi mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan jenjang S2 dan S3.
Meko sudah memasukkan semua berkas yang diperlukan, memasukkannya ke dalam map berwarna coklat. Dengan mengucap bismillah, ia mengantarkan langsung berkas-berkas itu ke dinas pendidikan di daerahnya. Pemerintah Daerah memang sedang menyiapkan generasi penerus yang berkompeten, dengan cara memberi beasiswa bagi lulusan SMA sederajat untuk belajar ke luar negeri dengan syarat mereka akan kembali ke daerah demi membangun daerahnya sendiri.
***
Setelah menunggu, pengumuman siapa saja yang lulus administrasi sudah diumumkan. Setengah berlari, Meko menuju kantor dinas pendidikan, berharap ada namanya di antara sekian nama yang dinyatakan lolos tahap pertama seleksi beasiswa ini. Di hadapannya, ada banyak orang yang menangis, entah karena bahagia atau karena sedih. Ada juga yang berteriak gembira saat tahu namanya lolos tahap pertama.
Meko mempercepat langkah kaki mungilnya. Ia harus berdesak-desakan dengan peserta lain yang memiliki badan yang lebih bongsor darinya. Setelah semua berangsur pergi, barulah ia bisa melihat di papan pengumuman. Ia membaca satu persatu nama-nama yang tercantum.
“Alhamdulillah,” Seketika, Meko langsung sujud syukur saat melihat namanya di urutan ke 30. Itu adalah namanya. Ia melihat kembali dengan cermat, memastikan bahwa itu adalah namanya, dia tidak salah baca. Setelah berulang kali membaca nama itu, ia yakin bahwa ia tidak sedang bermimpi, itu adalah namanya.
Tahap pertama sudah berhasil ia lalui, tahap selanjutnya adalah wawancara dan tes kemampuan Bahasa Inggris. Meko sudah berlatih sebaik mungkin agar bisa percaya diri saat berhadapan dengan pewawancara dari pihak dinas pendidikan dan dari kedutaan besar Australia. Meko juga sudah membuat list pertanyaan yang biasa diajukan oleh pihak pemberi beasiswa. Ia sengaja bertanya kepada teman-temannya yang sudah lolos seleksi beasiswa ini.
Dua kali sudah Meko terjatuh, dan ia tidak ingin jatuh untuk yang kesekian kalinya. Ia sudah memantapkan hati bahwa ini adalah tes terakhir yang ia lalui. Jika di kali ini ia tidak berhasil lolos, maka ia akan berhenti mengejar mimpi itu.
Hari ini akhirnya tiba, Meko sudah rapi dengan kemeja panjang berwarna putih, dasi warna hitam, celana panjang berwarna gelap, dan sepatu hitam polos. Ia meminjam pakaian itu dari tetangganya. Ia menanggalkan rasa malunya, demi meminjam kepada tetangganya. Kemeja putih itu ia pinjam dari kawan lamanya, dasi hitam ia pinjam dari sepupunya, sedangkan celana dan sepatu ia pinjam dari Bapak Kepada Desa. Tuhan, aku sudah berusaha, sekarang semua kuserahkan padamu.
Setelah menunggu sekian lama, Meko pun masuk ke dalam ruangan wawancara. Ia berjalan mantap, tanpa gerogi sedikit pun. Ia melangkah penuh keyakinan bahwa ia sudah menyiapkan semuanya dengan sebaik mungkin. Setelah memperkenalkan diri, wawancara pun dimulai. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bisa dijawab dengan baik olehnya. Sampai akhirnya pewawancara bertanya tentang alasannya ingin belajar ke Australia.
“What motivate you to study in Australia?”
            Meko tersenyum mendengar pertanyaan itu, pertanyaan yang sudah tidak asing baginya.
“There are three things that motivate me to study in Australia. The first is its good education system, especially when it is compared to that of Indonesia’s in general. Secondly, in order for me to develop strong international network for my future career. Third, to enhance mutual understanding between the people of Indonesia and Australia being two closest neighbours in the region. Both Indonesia and Australia, I believe, will maintain its important roles to ensure the stability in the region.”
Setelah hampir satu jam lamanya, wawancara pun berakhir. Pertanyaan terakhir yang diajukan adalah.
“If you are selected, you will be in a group of very special Indonesians. How are you going to use your privilege for the good of other not-very-lucky Indonesians?”
Meko kembali menjawab pertanyaan itu denga lancar.
“First, I can spare some of my money from the allowance to help the needy. Second, I am willing to share my knowledge to those who need but with limited financial resources for free.”
Setelah mengucapkan terimakasih, Meko menjabat tangan kedua pewawancara di hadapannya.
***
Bu Aida memeluk erat putranya. Ini kali pertama ia memberi dukungan di hadapan putranya. Selama ini ia hanya mendukung dari balik ketidaksetujuannya akan hal ini. Ia tahu bahwa putranya memang pantas medapatkan beasiswa ini.
“Bu, doakan Meko. Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar. Doakan semoga aku sabar menghadapi berbagai macam cobaan hidup di Negeri orang.
Bu Aida kembali meneteskan air mata untuk yang ke sekian kalinya. Penumpang sudah diminta untuk masuk ke dalam pesawat. Pesawat yang akan membawa putranya ke Negeri Kangguru, negeri impian yang sejak lama tertanam di hati putranya.
Meko masuk ke dalam pesawat, mencari nomor kursi yang sesuai dengan nomor yang ada di boarding pass miliknya. Setelah duduk, Meko kembali mengenang bagaimaa perjuangannya hingga bisa mendapatkan beasiswa ini. Ia selalu percaya bahwa Tuhan selalu mendengar doa-doa hamba-Nya.
Dari Jakarta, pesawat terbang ke Singapura, transit beberapa jam kemudian barulah melanjutkan perjalanan ke Melbourne. Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, pesawat akhirnya mendarat dengan baik di Bandar Udara Internasional Melbourne, yang juga dikenal sebagai Bandar Udara Tullamarine, ini adalah bandar utama yang melayani kota Melbourne dan bandara tersibuk kedua di Australia.
Udara dingin menusuk kulitnya, ia tersenyum bahagia, akhirnya mimpi itu berhasil ia capai. Perjuangan pun kembali didengungkan, ia berjanji akan belajar sebaik mungkin dan akan berbakti kepada bangsanya dengan ilmu yang ia dapat.
Melbourne, here I’m.



No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan