July 26, 2013

Aku Jatuh Cinta

setelah selesai menyiapkan tempat tidur pada saat pesantren Ramadhan

Aku jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya kepada mereka; anak-anak yang penuh dengan kejutan-kejutan yang tidak pernah ada habisnya, mereka dengan tingkah yang kadang-kadang membuatku harus bertahan di tengah rasa yang aku sendiri tidak mengerti entah apa itu namanya, mereka yang dengan polosnya berlarian menjabat tanganku, mereka yang dengan senyum terukir indah di wajah mereka masing-masing, aku jatuh cinta dengan mereka semua.
 Kami juara 1 lomba membuat poster

15 Juli 2013
Tahun ajaran baru, sekolah baru dan tentunya semangat baru menyambut murid baru dan anak-anak yang baru saja menghabiskan masa liburan kurang lebih sebulan lamanya. Kami berbaris rapi di bagian depan sekolah, menyambut kedatangan anak-anak. Aku melihat wajah-wajah baru yang nantinya akan menjadi murid-muridku.
anak-anak sedang mendengarkan tausiah

Aku pertama kali bertemu dengan mereka di hari ini, melihat wajah-wajah yang asing, melihat senyum yang baru kulihat di hari ini, melihat mereka yang berlarian kesana kemari dan berebut menyambut tangan kami para guru. Aku menatap lekat-lekat wajah-wajah itu, wajah polos nan menyejukkan.
Setelah serangkaian kegiatan awal masuk selesai, saatnya pembagian kelas. Aku menjadi wali kelas 7 F. Aku berdiri di depan kelas, tersenyum di hadapan mereka dan mulai memperkenalkan diri. Tidak banyak yang kucoba jelaskan kepada mereka, aku hanya memperkenalkan nama, TTL, asal, alamat dan juga status.  Selebihnya aku mempersilahkan mereka bertanya apa saja, agar perkenalan lebih hangat.
Satu persatu aku membaca nama-nama yang ada di daftar hadir, nama yang juga masih asing bagiku. Tapi aku jatuh cinta kepada wajah-wajah yang sekarang ada di hadapanku. Ada yang tersenyum, ada yang menunduk, ada yang sibuk mengamati langit-langit kelas, ada yang sibuk memerhatikan kertas kosong yang ada di tangan dan lain-lain. Aku jatuh cinta dengan segala tingkah mereka.
Sebelum pulang, aku sengaja menghafal sepuluh nama anak terlebih dahulu, rencananya satu minggu ke depan saya sudah harus hafal nama-nama mereka semua. Setelah menghafal nama sepuluh anak, aku mempersilahkan mereka pindah tempat duduk sesuka hati mereka dan aku akan mencari sepuluh anak yang tadi sudah kuhafalkan wajah dan nama mereka semua. Ah, aku masih belum berhasil menghafal wajah dan nama mereka dengan baik. Dari sepuluh nama, hanya delapan yang berhasil kuhafal nama dan wajah mereka. Next day tantangan untuk menghafalkan dua puluh nama berikut wajah mereka tentunya.
Kami juara 2 lomba MTQ

Dua minggu kami bersama, kami sudah mulai saling mengenal satu sama lain, kami sudah mulai akrab satu sama lain, kami sudah mulai menjalankan janji kami bahwa kami adalah satu keluarga. Aku masih ingat di hari-hari pertama mengenal mereka semua, kami berdiri kemudian saling menjabat tangan satu sama lain dan berjanji bahwa kami adalah satu keluarga; layaknya sebuah keluarga, kami harus peduli satu sama lain, saling menghormati, dan saling menyayangi.
Aku terharu saat mereka mengucapkan janji itu, janji kami sebagai sebuah keluarga. Di kelas ini, kami adalah satu keluarga yang akan saling membantu satu sama lain, agar semua bisa merasa nyaman dengan kondisi kelas yang ada.
Saat pesantren Ramadhan, semua memiliki kesan tersendiri, bisa menemani mereka hingga malam tiba dan terpaksa harus kembali ke rumah karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan. Kami juga menjadi juara pertama di lomba membuat poster dan juara kedua di lomba MTQ. Kami sudah memiliki rasa bahagia satu sama lain.

26 Juli 2013
Hari ini aku sudah bisa kembali ke sekolah setelah dua hari tidak masuk sekolah karena sakit. Ustadzah Liliq memberitahukan hasil rapat wali kelas 7. Dari awal memang sudah diberitahukan kepada seluruh siswa bahwa kelas yang ada hanyalah sementara, akan ada pergantian anggota kelas yang satu dengan yang lainnya.
Sempat kaget dan sempat terlupakan juga dengan hal ini. Aku sempat lupa bahwa kelas yang sekarang hanyalah sementara. Aku membacai satu persatu daftar nama-nama yang akan menjadi penghuni kelasku. Ada 60% perubahan; ada anak-anak yang sudah terlanjur dekat tapi harus pindah ke kelas yang lain, ada anak yang baru mulai merasa nyaman denganku tapi harus pindah ke kelas lain. Ah iya, inilah namanya cinta. Aku harus mencintai mereka meski mereka bukanlah anak-anak yang ada di kelasku lagi, bukankah aku harus membagi cintaku kepada mereka semua, terlepas apakah mereka ada di kelasku atau tidak, bukan?
Ada satu kekagetan saat membaca dafar nama-nama siswa yang akan menjadi penghuni kelasku. Ada satu nama yang dinyatakan penderita ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)
ADHD adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik anak-anak hingga menyebabkan aktivitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan. Hal ini ditandai dengan berbagai keluhan perasaan gelisah, tidak bisa diam, tidak bisa duduk dengan tenang, dan selalu meninggalkan keadaan yang tetap seperti sedang duduk, atau sedang berdiri. Beberapa kriteria yang lain sering digunakan adalah suka meletup-letup, aktivitas berlebihan, dan suka membuat keributan.
Pihak BK menjelaskan bahwa menurut pertimbangan BK, Pihak kesiswaaan dan guru yang pernah menangani anak ini sebelumnya, aku dirasa cocok membina anak ini. Aku tidak banyak komentar, hanya bertanya lebih jauh bagaimana kondisi anak itu sebenarnya, bagaimana cara penanganan yang baik agar anak bisa nyaman dan lain sebagainya.
Akhir-akhir ini aku memang tertarik membaca buku-buku tentang anak-anak autis, ADHD, dan anak-anak istimewa lainnya. Aku menjadikan ini adalah sebuah tantangan, sebagai cambuk untuk bisa lebih baik lagi. Aku percaya, ketika aku sudah melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh, semua akan membuahkan hasil. Sebelumnya aku sempat dekat dengan beberapa anak autis dan aku nyaman bersama mereka semua.
Ketika aku berdiri di hadapan anak-anak, dan memberitahu mereka bahwa besok akan terjadi pembagian kelas lagi, suasana kelas menjadi riuh dan mereka berharap tidak pindah kelas. Mungkin mereka sudah merasa nyaman dengan kelas yang sudah mereka huni selama dua minggu terakhir. Aku tersenyum dan berkata kepada mereka,

“Anak-anakku, di kelas mana pun kalian berada, kalian tetap murid-murid ustadz, ustadz akan menyayangi kalian sama seperti ustadz menyayangi kalian sekarang. Jadi jangan khawatir.”

Tuhan, Engkau memang memiliki cara yang tidak pernah bisa kutebak. Engkau selalu memberiku kejutan-kejutan yang memberikan rona bahagia di wajah ini. Aku selalu berdoa, semoga aku bisa menjadi guru yang baik, yang bisa mereka teladani. Aku selalu berusaha untuk bisa menjadi lebih baik lagi, Ya Allah.
Anak-anakku, selamat bergabung di kelas yang baru, selamat belajar dan semoga kalian semua menjadi anak yang shaleh dan shalehah.
Salam.

July 07, 2013

Kursus Mahir Dasar

Foto bersama di depan SMA IT Al Irsyad Purwokerto
Apa yang ada di dalam benak kalian ketika saya penyebut kata Pramuka? Mungkin yang ada di dalam benak kalian tidak jauh berbeda dengan apa yang saya pikirkan. Ketika mendengar kata Pramuka, saya langsung membuat suatu kesimpulan bahwa pramuka adalah sekumpulan orang-orang yang kreatif, tangguh, dan memiliki kepribadian yang baik. Mungkin ada yang tidak setuju dengan apa yang saya gambarkan, tapi itulah yang saya rasakan saat pertama kali mengikuti Kursus Pembina Pramuka Mahir Dasar atau biasa dikenal dengan sebutan KMD.
Selama tiga hari, sejak tanggal 5 lalu sampai tgl 7 Juli 2013, kami yang merupakan guru-guru dari SD s/d SMA IT Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto mengikuti kursus mahir dasar di SMA IT Al Irsyad Purwokerto. Kesan saya saat di hari pertama sampai hari terakhir sungguh sangat menyenangkan, kami diberi materi-materi dasar tentang kepramukaan, karena sebagian besar dari kami belum terlalu banyak mengerti tentang dunia pramuka.
Ini pas upacara pembukaan kursus mahir dasar
Waktu saya masih di pesantren dulu, saya pernah ikut pramuka, tapi hanya sekedar ikut-ikutan dan tidak membekas. Tapi kali ini, tiga hari itu sangat berkesan. Kami bertemu dengan pelatih-pelatih yang luar biasa, yang melatih kami berbagai macam ketrampilan; bagaimana bisa menjalin kerjasama yang baik, membuat keputusan dengan baik dalam waktu yang sangat singkat, berbagi bahagia satu sama lain, dan lain-lain.
Narsis dulu yuk, sebelum upacara dimulai :p
Sofskills adalah hal yang sangat penting di dalam kehidupan, di kursus kali ini, saya mendapatkan banyak sekalian pelajaran yang tidak saya dapatkan di bangku sekolah. Wajar saja adik saya yang laki-laki “Meko Anggia Saputra” begitu tertarik dengan dunia pramuka. Dia jauh lebih kreatif dari saya, jauh lebih mandiri dari saya dan dia mendapatkan itu semua dari keikutsertaannya di pramuka. Dia menjadi anak yang sangat mandiri, berbeda dengan murid-murid saya yang sekarang. Adik saya ini baru lulus SMP, tapi dia sudah bisa melakukan banyak hal yang kadang saya sendiri tidak bisa melakukannya. Dia tumbuh menjadi anak yang sangat kreatif dan mandiri.
Suasana kelas putri
Di hari kedua kursus, saya sempat ngantuk di satu materi, karena penyampainnya yang tidak menarik, selebihnya saya sangat antusias, meski kadang juga sembrono hehe. Saya paling suka dengan nyanyian-nyanyian yang diajarkan, dengan berbagai macam tepuk tangan yang seru, dengan kakak-kakak pelatih yang hebat, dengan materi tentang softskill dan juga dengan rekan guru yang super.
Di dunia Pramuka itu keren, tidak peduli berapapun usia kami, kami selalu dipanggil “kakak”, padahal ada yang usianya sudah lebih setengah abad. Yupz di Pramuka dia selalu dipanggil kakak, dan mungkin di rumah dia dipanggil kakek hehe.
Suasana penutupan KMD
Di hari ketiga, kursus semakin seru karena seluruh peserta sebagian besar menikmati proses pembelajaran dengan baik dan tentunya mulai jatuh cinta dengan pramuka #lebay. Ada yang lucu, ada kakak pelatih yang menjadikan Bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar, mungkin 80% bahasa yang beliau gunakan adalah bahasa jawa. Nah saya sama sekali tidak paham dengan bahasa jawa, saya heran, sebagian besar peserta kursus tertawa terbahak-bahak dan saya hanya diam membisu, bengong dengan apa yang disampaikan pemateri haha. Saya merasa dizholimi #lebay karena tidak bisa larut dalam tawa mereka, saya malah sibuk sendiri di pojok hehe
Kalo ini saya dong :)
Ah saya tidak mau bercerita banyak tentang kursus mahir dasar ini. Intinya saya bahagia. Itu saja. Tangan saya masih pegel, badan saya masih capek, jadi malas ngetik banyak-banyak. Sampai jumpa di pelatihan KMD tahap dunia, karena seharusnya pelatihan ini diikuti selama enam hari, namun berhubung menjelang Ramadhan, jadi akan dilanjutkan setelah hari raya Idul Fitri Insya Allah.

July 01, 2013

Wahai Lentera Bangsaku

Tengah malam, saat saya baru sampai Bandung, sahabat baik saya Siwi Mars Wijayanti tiba-tiba memberi pertanyaan yang rada-rada berat,
“Setelah kamu kerja, skills apa yg kamu pikir penting untuk survive dalam hidup dan juga dunia kerja?”
Kemudian saya iseng menjawab dengan jawaban ngawur,
“Saya mau menjadi profesor cinta”
Bukannya menjawab pertanyaan itu dengan serius, saya malah menjawabnya semena-mena. Beberapa detik kemudian, Mbak Siwi menulis begini,
“Aku pernah merasakannya, lulus terus bingung..gak punya "bekal" yg cukup. Kurikulum kampus cuma kasih akademik aja. It’s not enough. Aku merasa softskills justru yg menentukan. cara bekerja dalam tim, komunikasi dengan orang, percaya diri di hadapan publik, inisiatif, mampu mendeliver idea, mengambil keputusan, toleransi, dan laen-laen. Kebanyakan anak-anak yg ikut organisasilah yg tertempa kemampuan-kemampuan begini.  Sedangkan aku dulu tipe anak rumahan kuliahan yg taunya cuma belajar dan ujian, lulus kuliah bingung walau cum laude”
Baiklah, sepertinya sahabat saya ini memang lagi pengen berbincang serius dengan saya #halah. Bermula dari pertanyaan yang sedikit kejam untuk ukuran dinihari, timbullah perbincangan yang sedikit serius, meski saya tetap menjawab pertanyaan demi pertanyaan itu dengan lelucon hehe.
Intinya begini, coba perhatikan sistem pendidikan yang ada sekarang, saya merasa bahwa pendidikan kita tidak ubahnya adalah sekolah bagi para robot yang terus dijejali dengan pengetahuan-pengetahuan yang tentunya membuat anak-anak jenuh. Pernah mendapat curahan hati dari anak-anak yang stress karena sekolah? Saya sering dan saya memiliki rasa kasihan yang begitu dalam kepada mereka.
Coba perhatikan bagaimana reaksi anak-anak saat libur telah tiba, mereka seakan-akan terlepas dari belenggu yang telah sekian lama mereka rasakan, dan saat semuanya berakhir dengan liburan sekolah, mereka bersorak gembira dan merasa lepas tanpa beban. Karena memang kenyataannya di sekolah tidak ubahnya seperti robot yang terus diberi materi-materi dengan cara yang begitu-begitu saja. Tidak banyak guru yang mengubah pola belajar di kelas dan disesuaikan dengan kondisi anak-anak sekarang yang sudah jauh berbeda dengan zaman kita sekolah dulu.
Saya pernah bertemu dengan guru zaman sekolah dasar dulu, dari dahulu sampai sekarang ya mengajar seperti dulu, padahal anak-anaknya sudah jauh berbeda, dengan ragam dan corak yang jauh berbeda, dengan perkembangan zaman yang sudah jauh berbeda. (sampai disini saya sudah merasa seperti pengamat pendidikan)
Mbak Siwi berkomentar,
“Pendidikan sekarang itu kayak mendidik robot, kurang memanusiakan.”
Setuju. Coba ingat mengapa dahulu kita begitu bahagia saat masih berada di TK? Karena kita belajar dengan cara yang mendidik manusia, bukan mendidik robot. Di zaman TK, kita merasakan bahagia yang luar biasa bukan? Sampai kadang saat liburan telah tiba, masih saja ada anak yang tetap mau sekolah dan bertemu dengan guru-gurunya, karena mereka merasakan kebahagiaan dengan cara guru-guru mengajar. Karena proses transfer informasi dari guru ke anak-anak dilakukan dengan cara yang menyenangkan.
Nah, coba bandingkan dengan pendidikan selanjutnya. Di sekolah dasar, kita sudah kurang merasakan bahagianya belajar di sekolah, lanjut ke sekolah menengah pertama, kebahagiaan saat berada di sekolah semakin berkurang, lanjut ke sekolah menengah atas, kebahagiaan itu semakin berkurang dan saat lulus kuliah, kita hanya menjadi lulusan-lulusan yang memiliki nilai tinggi, tapi bingung karena tidak memiliki bekal untuk survive dengan zaman yang jauh berbeda dengan yang ada di sekolahan.
Stress? Oh banyak yang stress. Sudah stress dengan pendidikan yang ada di sekolah, tapi setelah itu bingung mau melakukan apa dan inilah yang banyak di hadapi oleh anak-anak sekarang.
Mbak Siwi dengan penuh semangat dan berapi-api (agak lebay deh saya) berkomentar,
“Banyak guru sekarang itu juga hasil produk pendidikan "kuno", kalau guru tidak belajar untuk berkembang, maka dia akan mengajarkan dengan pola yg sama, Kalau siklus ini berulang terus, kapan majunya negeri kita?”
Jujur, saya sih belum terlalu banyak pengalamana bagaimana mengkondisikan anak-anak agar merasa nyaman saat proses belajar sedang berlangsung, tapi setidaknya saya sedang berusaha untuk itu. Pendidikan Agama Islam tidak meski harus terus-terusan berada di dalam kelas, kemudian dijejali dengan sekian banyak dalil dan hadits dan membuat anak-anak mabuk dalil tapi tidak mengerti akan tujuan yang diinginkan. Contoh, kita bisa belajar di luar kelas, melihat ke sekitar bagaimana Tuhan menciptakan sekian banyak keajaiban, menatap langit, matahari, kemudian dijelaskan dari sudut ilmu pengetahuan kemudian diintegrasikan dengan konsep keimanan.
Biar saya kasih contoh lebih detil, misalkan ketika anak-anak belajar tentang bagaimana tata surya, seharusnya guru tidak hanya mengajarkan tentang tata surya saja, melainkan melakukan integrated learning dimana bisa menambahkan nilai-nilai keimanan anak. Bisa dengan menyebutkan bagaimana Allah menjelaskan tentang tata surya kita, bagaimana bumi berotasi dan berevolusi, yang mana semuanya sudah ada di dalam Al Quran. Bukankah dengan demikian akan lebih menarik? Selain anak-anak mengerti akan tata surya, mereka juga semakin bertambah keyakinannya akan kuasa Tuhan, karena ternyata sebelum ilmuan menemukan semua itu, Al Quran sudah jauh terlebih dahulu menyebutkan tentang semua itu.
Duh, saya sudah kayak seorang pakar aja nih hehe maafkan atas ceramah singkat saya ini.
Intinya begini, sebagai seorang pendidik, harus bisa mengajar dengan pola mengajar manusia, bukan mengajar robot. Seorang pendidik harus bisa menanamkan nilai-nilai yang bisa dianut oleh anak dalam setiap proses pembelajaran. Anak tidak hanya dijejali dengan materi-materi yang mereka sendiri bahkan bingung kegunaannya dalam keseharian mereka, akan tetapi diajarkan bagaimana anak-anak bisa bertahan dengan kondisi yang akan mereka hadapi nanti.
Anak-anak perlu diajarkan skill yang mampu menjadikan mereka anak-anak yang tidak hanya cerdas secara akademik saja, melainkan cerdas dalam menelurkan ide-ide, paham bagaimana membuat keputusan dan siap dengan semua konsekuensi yang ada, dan lain-lain. Sehingga mereka tidak hanya sekedar menjadi sarjana-sarjana yang punya nilai A pake Plus, tapi bingung dengan dunia luar yang jauh berbeda dengan dunia kampus.
Seperti Slogannya Indonesia Mengajar,
Berhenti mengecam kegelapan. Nyalakan lilin.
Ini negeri besar dan akan lebih besar. Sekedar mengeluh dan mengecam kegelapan tidak akan mengubah apapun. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu.

Saya percaya, ada banyak pendidik yang sudah menyalakan lilin, melakukan sesuatu yang luar biasa hebat untuk masa depan negeri ini, dan saya pun sedang berusaha untuk melakukan itu sebaik mungkin. Ayo Para Guru, mari kita lakukan yang terbaik untuk bangsa ini, karena kita adalah lentera bangsa ini.