July 01, 2013

Wahai Lentera Bangsaku

Tengah malam, saat saya baru sampai Bandung, sahabat baik saya Siwi Mars Wijayanti tiba-tiba memberi pertanyaan yang rada-rada berat,
“Setelah kamu kerja, skills apa yg kamu pikir penting untuk survive dalam hidup dan juga dunia kerja?”
Kemudian saya iseng menjawab dengan jawaban ngawur,
“Saya mau menjadi profesor cinta”
Bukannya menjawab pertanyaan itu dengan serius, saya malah menjawabnya semena-mena. Beberapa detik kemudian, Mbak Siwi menulis begini,
“Aku pernah merasakannya, lulus terus bingung..gak punya "bekal" yg cukup. Kurikulum kampus cuma kasih akademik aja. It’s not enough. Aku merasa softskills justru yg menentukan. cara bekerja dalam tim, komunikasi dengan orang, percaya diri di hadapan publik, inisiatif, mampu mendeliver idea, mengambil keputusan, toleransi, dan laen-laen. Kebanyakan anak-anak yg ikut organisasilah yg tertempa kemampuan-kemampuan begini.  Sedangkan aku dulu tipe anak rumahan kuliahan yg taunya cuma belajar dan ujian, lulus kuliah bingung walau cum laude”
Baiklah, sepertinya sahabat saya ini memang lagi pengen berbincang serius dengan saya #halah. Bermula dari pertanyaan yang sedikit kejam untuk ukuran dinihari, timbullah perbincangan yang sedikit serius, meski saya tetap menjawab pertanyaan demi pertanyaan itu dengan lelucon hehe.
Intinya begini, coba perhatikan sistem pendidikan yang ada sekarang, saya merasa bahwa pendidikan kita tidak ubahnya adalah sekolah bagi para robot yang terus dijejali dengan pengetahuan-pengetahuan yang tentunya membuat anak-anak jenuh. Pernah mendapat curahan hati dari anak-anak yang stress karena sekolah? Saya sering dan saya memiliki rasa kasihan yang begitu dalam kepada mereka.
Coba perhatikan bagaimana reaksi anak-anak saat libur telah tiba, mereka seakan-akan terlepas dari belenggu yang telah sekian lama mereka rasakan, dan saat semuanya berakhir dengan liburan sekolah, mereka bersorak gembira dan merasa lepas tanpa beban. Karena memang kenyataannya di sekolah tidak ubahnya seperti robot yang terus diberi materi-materi dengan cara yang begitu-begitu saja. Tidak banyak guru yang mengubah pola belajar di kelas dan disesuaikan dengan kondisi anak-anak sekarang yang sudah jauh berbeda dengan zaman kita sekolah dulu.
Saya pernah bertemu dengan guru zaman sekolah dasar dulu, dari dahulu sampai sekarang ya mengajar seperti dulu, padahal anak-anaknya sudah jauh berbeda, dengan ragam dan corak yang jauh berbeda, dengan perkembangan zaman yang sudah jauh berbeda. (sampai disini saya sudah merasa seperti pengamat pendidikan)
Mbak Siwi berkomentar,
“Pendidikan sekarang itu kayak mendidik robot, kurang memanusiakan.”
Setuju. Coba ingat mengapa dahulu kita begitu bahagia saat masih berada di TK? Karena kita belajar dengan cara yang mendidik manusia, bukan mendidik robot. Di zaman TK, kita merasakan bahagia yang luar biasa bukan? Sampai kadang saat liburan telah tiba, masih saja ada anak yang tetap mau sekolah dan bertemu dengan guru-gurunya, karena mereka merasakan kebahagiaan dengan cara guru-guru mengajar. Karena proses transfer informasi dari guru ke anak-anak dilakukan dengan cara yang menyenangkan.
Nah, coba bandingkan dengan pendidikan selanjutnya. Di sekolah dasar, kita sudah kurang merasakan bahagianya belajar di sekolah, lanjut ke sekolah menengah pertama, kebahagiaan saat berada di sekolah semakin berkurang, lanjut ke sekolah menengah atas, kebahagiaan itu semakin berkurang dan saat lulus kuliah, kita hanya menjadi lulusan-lulusan yang memiliki nilai tinggi, tapi bingung karena tidak memiliki bekal untuk survive dengan zaman yang jauh berbeda dengan yang ada di sekolahan.
Stress? Oh banyak yang stress. Sudah stress dengan pendidikan yang ada di sekolah, tapi setelah itu bingung mau melakukan apa dan inilah yang banyak di hadapi oleh anak-anak sekarang.
Mbak Siwi dengan penuh semangat dan berapi-api (agak lebay deh saya) berkomentar,
“Banyak guru sekarang itu juga hasil produk pendidikan "kuno", kalau guru tidak belajar untuk berkembang, maka dia akan mengajarkan dengan pola yg sama, Kalau siklus ini berulang terus, kapan majunya negeri kita?”
Jujur, saya sih belum terlalu banyak pengalamana bagaimana mengkondisikan anak-anak agar merasa nyaman saat proses belajar sedang berlangsung, tapi setidaknya saya sedang berusaha untuk itu. Pendidikan Agama Islam tidak meski harus terus-terusan berada di dalam kelas, kemudian dijejali dengan sekian banyak dalil dan hadits dan membuat anak-anak mabuk dalil tapi tidak mengerti akan tujuan yang diinginkan. Contoh, kita bisa belajar di luar kelas, melihat ke sekitar bagaimana Tuhan menciptakan sekian banyak keajaiban, menatap langit, matahari, kemudian dijelaskan dari sudut ilmu pengetahuan kemudian diintegrasikan dengan konsep keimanan.
Biar saya kasih contoh lebih detil, misalkan ketika anak-anak belajar tentang bagaimana tata surya, seharusnya guru tidak hanya mengajarkan tentang tata surya saja, melainkan melakukan integrated learning dimana bisa menambahkan nilai-nilai keimanan anak. Bisa dengan menyebutkan bagaimana Allah menjelaskan tentang tata surya kita, bagaimana bumi berotasi dan berevolusi, yang mana semuanya sudah ada di dalam Al Quran. Bukankah dengan demikian akan lebih menarik? Selain anak-anak mengerti akan tata surya, mereka juga semakin bertambah keyakinannya akan kuasa Tuhan, karena ternyata sebelum ilmuan menemukan semua itu, Al Quran sudah jauh terlebih dahulu menyebutkan tentang semua itu.
Duh, saya sudah kayak seorang pakar aja nih hehe maafkan atas ceramah singkat saya ini.
Intinya begini, sebagai seorang pendidik, harus bisa mengajar dengan pola mengajar manusia, bukan mengajar robot. Seorang pendidik harus bisa menanamkan nilai-nilai yang bisa dianut oleh anak dalam setiap proses pembelajaran. Anak tidak hanya dijejali dengan materi-materi yang mereka sendiri bahkan bingung kegunaannya dalam keseharian mereka, akan tetapi diajarkan bagaimana anak-anak bisa bertahan dengan kondisi yang akan mereka hadapi nanti.
Anak-anak perlu diajarkan skill yang mampu menjadikan mereka anak-anak yang tidak hanya cerdas secara akademik saja, melainkan cerdas dalam menelurkan ide-ide, paham bagaimana membuat keputusan dan siap dengan semua konsekuensi yang ada, dan lain-lain. Sehingga mereka tidak hanya sekedar menjadi sarjana-sarjana yang punya nilai A pake Plus, tapi bingung dengan dunia luar yang jauh berbeda dengan dunia kampus.
Seperti Slogannya Indonesia Mengajar,
Berhenti mengecam kegelapan. Nyalakan lilin.
Ini negeri besar dan akan lebih besar. Sekedar mengeluh dan mengecam kegelapan tidak akan mengubah apapun. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu.

Saya percaya, ada banyak pendidik yang sudah menyalakan lilin, melakukan sesuatu yang luar biasa hebat untuk masa depan negeri ini, dan saya pun sedang berusaha untuk melakukan itu sebaik mungkin. Ayo Para Guru, mari kita lakukan yang terbaik untuk bangsa ini, karena kita adalah lentera bangsa ini.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan