August 22, 2013

Kejutan Ramadhan


“Hidayah ibarat cahaya; ia tak menyapa kamar yang tidak dibuka jendelanya.”
(Faisal Tehrani)

Bus yang membawaku melaju dengan pesat, melewati jalanan yang mulai berlubang; batu-batu kecil berserakan di sepanjang jalan, debu yang berterbangan, dan air yang tergenang.
“Yuk ajak warga menanam padi di tengah jalan sana,” celetuk Dona, sahabat yang duduk di sampingku sambil menunjuk ke jalanan berlubang yang digenangi air.
Aku dan beberapa penumpang yang ada di bus serentak terkekeh dengan celetuknya.
“Bagaimana kalo kita bikin ternak ikan saja disana,” ujar salah seorang penumpang yang ada di kursi belakangku.
Kami kembali tertawa, menertawakan kondisi jalan yang ada di negeri ini. Aku sama sekali tidak bisa mengingat kapan terakhir kali jalanan ini asri. Seingatku, setiap tahun aku mudik dan selalu melewati jalan yang sama, tiap tahun pula lah aku harus menyaksikan kondisi jalanan yang jauh dari kata layak. Entahlah, aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Aku tertidur lelap, sambil menahan degup jantungku yang mulai tak menentu. Aku sudah menahan rindu yang sejak lama ingin berlabuh kepada Ayah dan Bunda. Aku merindukan kebersamaanku dengan mereka semua. Terbayang dalam mimpi-mimpiku, wajah Ayah dan Bunda yang tersenyum di hadapanku, kemudian memelukku erat dan membisikkan,
“Ayah dan Bunda menyayangimu, Nak.”
Aku amat merindukan mereka semua; Ayah, Bunda, Kakek, Kak Ita dan juga ketiga adikku. Apa kabar mereka semua Tuhan? Semoga mereka semua baik-baik saja.
Bus berhenti di dekat pom bensin yang tidak jauh dari rumah. Bus tidak bisa menghantarkanku di depan rumah, karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan.
“Kakak sudah sampai, Dek.” Aku langsung menghubungi adikku.
Tidak lama kemudian, Meko, adikku langsung datang menjemputku dan membawaku ke rumah. Sepoi angin pesisir yang berembus, derai ombak yang terdengar merdu, nyiur yang melambai-lambai dalam temaramnya malam, semua terasa begitu indah bagiku. Aku selalu merindukan itu semua.
Di tengah penerangan cahaya lampu yang temaram, aku melihat seseorang dengan pakaian jubah panjang menghampiriku. Aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang menuju ke arahku. Meko sedang sibuk membawa barang-barangku ke dalam rumah.
“Assalamu’alaikum, Nak.” Aku mengenal dengan baik suara itu, suara Bunda.
Sedikit berlari aku menghampiri Bunda dan memeluknya. Ada yang berbeda dengan Bunda, hijab anggun yang menutupi auratnya terasa begitu indah dan menawan. Ada keteduhan di raut wajahnya. Bunda memelukku erat dan mencium keningku hangat.
“Bunda sangat merindukanmu, Nak.”
“Rayyan juga sangat merindukan Bunda.”
Kami terus berpelukan, kulihat Ayah ikut menghampiriku dan kami bertiga berpelukan. Meko tidak ingin membiarkan pertemuan ini berlalu begitu saja, ia ikut memelukku. Kami menangis, menumpahkan kerinduan setelah sekian lama kami tidak bertemu.
Aku duduk di tengah-tengah keluargaku, bercengkrama satu sama lain, tertawa, dan juga diiringi air mata bahagia. Kakek, dia tersedu-sedu menangis di sampingku. Ahhh… aku tidak pernah sanggup jika duduk berlama-lama di sampingnya. Aku tidak sanggup jika harus menahan air mataku, aku pasti ikut menangis. Kakek dan aku memang sangat dekat, dan ia sangat menyayangiku. Setiap kali aku mudik dan akan kembali lagi ke perantauan, Kakek adalah orang yang paling dramatis dalam menyambut dan melepaskanku. Air matanya seolah tak pernah habis untuk menangisiku.
Aku masih ingat dengan baik saat Kakek melepas kepergianku tahun lalu, tangisnya memecah keheningan pagi, untaian doa tak pernah habis ia panjatkan kepada Yang Mahakuasa, berharap aku akan kembali di tahun yang akan datang dan masih bisa melihatnya meski usianya sudah senja. Kakek, aku selalu mendoakanmu, jika memang kita terpisah karena kematian, semoga kita dipisahkan dalam keadaan khusnul khatimah.
Aku menatap lekat-lekat wajah Bunda yang begitu meneduhkan kalbuku. Bunda sudah memakai hijab dengan sempurna. Sudah sejak lama aku menganjurkan Bunda untuk segera menutup auratnya, tapi selalu saja ada alasan Bunda untuk tidak mentaati perintah Tuhan.
“Panas, Nak. Bunda nggak siap untuk memakai hijab.” Begitulah jawaban yang selalu Bunda ulang-ulang tiap kali aku memintanya untuk memakai hijab sebagai wujud ketaatan kepada Tuhan.
Pernah suatu ketika Bunda marah kepadaku, karena aku selalu menganjurkannya untuk memakai hijab. Tapi aku tidak pernah bosan untuk mengajak Bunda memakai hijab. Aku sering mengiriminya buku-buku keislaman, dengan harapan Bunda akan segera bertaubat dan mulai memakai hijab.
“Bukankah pada akhirnya kita semua akan dibalut dengan kain kafan? Satu-satunya pakaian yang akan kita bawa mati, yang akan menutupi aurat kita? Jika pada akhirnya aurat Bunda akan ditutup juga pas mati, mengapa harus menunggu kematian tiba, Bunda?” begitulah kalimat yang terlontar dariku dan membuat Bunda marah besar padaku. Aku hanya bisa diam, membiarkan Bunda memarahiku.
Setelah sekian lama aku berdoa kepada Tuhan, memohon agar Bunda mendapatkan hidayah-Nya, malam ini aku melihat doaku terkabul. Aku tersenyum dan Bundapun tersenyum.
 “Gimana kuliahmu, Nak?” Tanya Bunda padaku.
“Kuliahku baik-baik saja, Bunda. Tanggal 24 sepetember nanti baru mau sidang dan kalo tidak ada halangan, Rayyan akan wisuda di bulan November.”
Perbincangan kami terpaksa harus diakhiri, karena malam yang semakin larut. Nanti kami harus bangun untuk makan sahur. Puasa Ramadhan masih belum usai, masih ada dua hari lagi dan aku sangat bersyukur atas kesempatan yang Tuhan berikan untuk bisa berjumpa dengan bulan Ramadhan.
***

Gema takbir itu sejak lama kurindukan, aku menjabat kedua tangan Ayah dan Bunda, memohon maaf kepada mereka akan apa yang selama ini telah kulakukan; mungkin ada kataku yang menyakiti hati mereka, mungkin ada tingkahku yang tidak patut di hadapan mereka, mungkin ada banyak kesalahan yang telah kuperbuat dan aku tidak menyadarinya.
Dalam tiap doaku, aku selalu berdoa, semoga keluarga kami ini menjadi keluarga bahagia, keluarga yang diridhai oleh Allah, keluarga yang selalu berusaha untuk menjadi lebih baik, keluarga yang terus melantunkan ayat-ayat-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Allah memberi keberkahan.
Gema takbir terus mewarnai dunia, mengagungkan kebesaran Tuhan, memuji kuasa-Nya dan berharap kami akan dipertemukan dengan bulan Ramadhan yang akan datang. Ramadhan berlalu, disambut dengan senyum hangat bulan syawal. Tuhan memberikan kejutan yang begitu indah terhadap Bunda. Tuhan memberikan hidayah untuk berhijab di bulan Ramadhan dan semoga Bunda bisa istiqamah dengan hijabnya. Bunda, terimakasih atas kasih dan sayangmu, semoga kebaikan selalu menyertaimu.
Sahabat, kita memang tidak bisa memaksa orang-orang terdekat kita menjadi seperti yang kita mau. Kita hanya bisa terus mengingatkan mereka dengan cara-cara yang baik. Kelembutan kita, kesabaran kita dalam membimbing mereka akan memberikan secercah harapan lebih baik. Jangan berputus asa ketika melihat orang-orang terdekatmu tidak seperti yang kalian inginkan. Tetap saling menasehati dalam hal kebaikan. Tetap semangat, agar keluarga kita menjadi keluarga yang diridhai Allah Swt. Selamat berdakwah, Kawan.

2 comments:

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan