September 27, 2013

DUNIA DALAM SUNYI



Sudah menjadi rutinitas tahunan, aku kembali ke kampung halaman menjelang hari raya idul fitri. Rutinitas tahunan juga, merasakan hiruk pikuk perjalanan mudik yang entah kapan bisa berubah menjadi kenyamanan. Tak pernah kurasakan nyamannya suasana mudik ke tempat dimana aku dilahirkan, baik melalui udara, darat apalagi laut. Sesak, dan berbagai macam kendala yang seolah tak pernah habis.
            “Berapa lama lagi kami harus menunggu di sini, Pak?” suara bapak berkepala botak itu kudengar untuk yang kesekian kalinya. Dia sudah menanyakan pertanyaan itu berulang kali, karena kesal dengan pihak maskapai yang tidak profesional. Lelah rasanya terus menunggu sesuatu yang tidak bisa dipastikan kapan kedatangannya. Tiga jam yang lalu, pihak maskapai mengatakan pesawat delay satu jam. Satu jam kemudian mereka mengatakan hal yang sama, dan satu jam yang baru saja kulalui pun tetap dengan ucapan yang sama. Sampai kapan kami harus menunggu?
            Seorang ibu dan kedua orangtuanya memaki pihak maskapai. Aku sama sekali tidak memaki pihak maskapai, hanya membuang-buang energi saja dan tidak akan mempercepat keberangkatan. Aku memilih untuk menyendiri di salah satu sudut ruang tunggu, berselancar ke dunia maya yang entah kapan akan menjadi nyata. Andai saja perjalananku kali ini selancar perjalananku menjelajah dunia melalui dunia maya, mungkin sekarang aku sudah bisa bertemu kakek di istananya.
            Kuhentikan jemariku yang lincah menari di atas keyboard. Aku mengambil secarik kertas yang ada di dalam saku celanaku, surat dari kakek. Zaman sudah semakin maju, tapi kakek memilih surat sebagai media informasi.
            “Menulis surat itu memiliki nuansa tersendiri, lebih eksklusif dari hanya berkirim pesan singkat. Perjalanan panjang surat menuju alamat yang dituju adalah sebuah perjuangan.” Itulah alasan kakek. Ia tidak ingin memiliki HP, karena memang tidak ada sinyal di desaku. Untuk bisa mendapatkan sinyal, penduduk harus naik ke bukit-bukit yang mengelilingi tempat aku dibesarkan. Aku selalu membalas surat-surat kakek yang sok puitis dan terlalu pendek itu. Kadang surat kakek hanya berisi sebuah pertanyaan, “Apa kabarmu, Damar?” hanya itu dan aku harus menunggu beberapa hari hanya untuk sebuah pertanyaan itu dan beberapa hari juga jawabanku bisa sampai ke tangan kakek.
            Kubacai lagi surat kakek. Aku tersenyum.
            Cucuku..
            Matahari baru saja bersinar, saat kakek mulai merangkai kata menjadi kalimat untukmu. Ayam tetangga sedang berkokok merdu di sudut rumah, menyapa mentari yang perlahan menghangatkan semesta.
            Ah iya, kakek terbiasa menjadi pujangga gagal tiap kali mengirim surat untukmu. Entahlah, kata seolah berhenti tiap kali kucoba merangkainya menjadi untaian kata indah.
            Apa kabarmu? Semoga cucu kakek selalu sehat. Amin
            Lebaran tahun ini kamu mudik? Kakek dan rumah tua ini selalu menantimu kembali.
            Salam

            Aku tersenyum lebar setelah membaca surat dari kakek. Sudah kubaca berulang-ulang, selalu membuatku bergetar. Kakek, dengan gayanya yang kadang aneh, dengan bahasanya yang kadang membuatku senyum-senyum sendiri, selalu bisa membuatku bahagia. Dialah satu-satunya alasanku kembali ke kampung, dialah satu-satunya keluarga yang kumiliki setelah kecelakaan itu, saat kedua orangtuaku dan kedua adikku meninggal karena kecelakaan maut itu. Sempat kututup rapat-rapat melodi rindu yang ada di hatiku, tak ingin rasanya kuingat kembali semua kenangan bersama ayah dan ibu, serta cerita bahagiaku dan kedua adikku. Sakit.
            Pesawat akhirnya datang juga, kukemasi barang-barang bawaanku yang tercecer. Aku melangkah pasti, memasuki kabin pesawat, kemudian duduk di kursi nomor terdepan. Pramugari sibuk memberi informasi kepada penumpang saat pesawat akan mengudara. Aku melongok ke luar jendela, melihat langit Jakarta yang mulai kelam. Sepertinya akan terjadi hujan lebat.
¤
Aku mengantri di barisan penumpang yang sedang mengambil barang bawaan yang tadi masuk ke bagasi pesawat. Sebuah koper berukuran sedang, berwarna merah tua dan bergaris keemasan itu adalah milikku, aku mengambilnya dan berjalan keluar menuju tempat parkir. Sudah ada travel yang menungguku, aku sengaja tidak ingin berlama-lama di Kota, ingin segera kuhirup segar udara di desaku, bertemu dengan laki-laki berkumis tebal, berambut putih dan berkacamata bak harry potter itu.
            Jalanan bebas hambatan, tidak seperti Jakarta yang penuh sesak. Macet seolah tak pernah ada habisnya. Aku menikmati pemandangan selama perjalanan menuju kampung halaman; pohon niur yang melambai tinggi, air sungai yang masih jernih, hamparan sawah yang hijau, serta hewan-hewan ternak yang sedang mencari makan di padang rumput.
            Kantukku semakin tak tertahan, aku memejamkan kedua mataku, sepersekian detik kemudian, aku sudah berada di alam mimpi. Hening.
            “Kite lah nyampai, Damar.[1]
            “Lah nyampai mane kiye?[2]
            “Sampai di depan rumahmu.”
            Aku mengeliat, mengernyitkan dahiku dan mencoba untuk melihat ke sekelilingku. Gelap, tidak ada cahaya listrik di desa ini. Desa Air Jelatang, itulah nama desaku. Gelap, sunyi, tanpa adanya penerangan listrik. Hanya lampu-lampu minyak yang menjadi penerang rumah penduduk. Aku sudah sampai di pelosok negeri ini.
            Laki-laki yang kurindu sudah duduk di depan rumah, memegang sebuah tongkat kayu dan kaca mata khas miliknya. Samar-samar kulihat senyumnya yang terukir di wajah yang dipenuhi garis-garis kehidupan. Ada paman yang mengurus kakek.
            Sedikit berlari aku menujunya, kuciumi punggung tangannya yang kasar, dan kupeluk erat tubuhnya yang tak berisi. Ia tersenyum, kemudian menggerakkan kedua tangannya dengan bahasanya tersendiri. Sudah lama aku tidak menggunakan bahasa isyarat seperti ini. Hanya saat bertemu dengan kakek aku menggunakannya. Kakek baru saja menanyakan kabarku.
            Dunia kakek memang sunyi, ia tak mampu mendengar dan tak mampu berbicara. Ia berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat. Ayah juga tuna rungu, mungkin menurun dari kakek. Sudah berulang kali aku mengajak kakek untuk tinggal bersamaku di Jakarta, tapi kakek tetap memilih tinggal disini, mencari ketenangan hidup. Ia tidak ingin berada di tengah kota yang sama sekali tidak ia kenali.
¤
Azan subuh mengangkasa, aku bangun dari lelap tidur. Di ruang sebelah kulihat kakek sedang duduk bersimpuh di atas sajadah, memegang tasbih, kemudian mengangkat kedua tangannya seraya berdoa. Tidak ada suara, namun sudut matanya mulai berair.
            Aku berjalan di samping kakek, sesekali kubantu ia menapaki jalanan yang berlobang dan berbatu. Entah kapan jalan disini akan diperbaiki, sejak aku lahir dan sebesar ini, belum pernah kulihat adanya perbaikan jalan secara maksimal. Hanya janji-janji dari pejabat daerah yang memuakkan, janji yang tidak pernah ditepati. Tiap kali pemilihan kepala daerah, selalu ada janji perbaikan jalan, tapi sampai hari ini janji itu hanya omong kosong. Begitu juga dengan listrik. Desaku tetaplah gelap gulita, jauh dari gemerlap cahaya.
            Ba’da subuh, aku duduk di samping kakek. Dengan bahasa isyarat dan raut wajah yang sedikit sedih, kakek memulai ceritanya.
            “Sudah lama kakek tidak pernah melihat muda-mudi yang menyandang kitab suci, seperti zaman ayahmu masih ada. Tidak ada lagi terdengar lantunan ayat-ayat suci selepas shalat maghrib. Dulu ada banyak anak-anak yang belajar mengaji di masjid setelah shalat maghrib, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Sedih melihat apa yang terjadi saat ini, generasi muslim banyak yang lupa akan kewajibannya mempelajari Al Quran.”
            Sesekali aku menganggukkan kepala, atau menjawab beberapa pertanyaan kakek. Aku lebih banyak mendengarkan apa yang ia ucapkan dengan bahasanya.
            “Ada banyak orang yang mendengar, tapi sebenarnya mereka tuli. Suara azan didengar, tapi diabaikan. Ada banyak orang yang bisa berbicara dengan baik, tapi mereka bisu. Al Quran hanya dijadikan pajangan, tidak dibaca.”
            Air muka  kakek semakin sedih.
            “Kamu harus ajarkan generasimu untuk mengenal Allah.”
            Kakek mengakhiri ucapannya.
            Memang tak pernah lagi kulihat anak-anak kecil yang berlarian menuju masjid demi belajar membaca kitab suci. Zaman sudah semakin berubah, bahkan di pelosok negeri seperti desaku. Agama seolah hanya menjadi pelengkap identitas. Agama seolah hanya menjadi garis keturunan, selebihnya tidak dicoba untuk dimengerti oleh penganutnya.
            Gema takbir menggema, memecah kesunyian malam. Suara mesin genset milik Pak Kades juga ikut memeriahkan malam hari raya idul fitri. Aku dan kakek menikmati kue lebaran khas desaku; ada juadah keras yang kerasnya super dan tentu tidak bisa dinikmati oleh kakek, aku harus membantu kakek merubahnya menjadi potongan-potongan kecil, agar kakek bisa menikmatinya. Ada kue bawang yang tidak kalah kerasnya dan masih banyak lagi yang lain.
            Kenangan tentang malam hari raya puluhan tahun yang lalu kembali hadir, saat ayah dan ibu masih bersamaku, saat kedua adikku dengan lincahnya bergelayut manja di pundakku. Aku merindui mereka.
            Kakek menatapku, gerakan tangannya dapat kupahami dengan baik.
            “Kapan nikah?” raut wajah kakek menunjukkan bahwa ia bertanya serius.
            “Insya Allah segera, Kek.”
            Kakek hanya menganggukkan kepalanya, kemudian melanjutkan usahanya untuk menikmati aneka kue lebaran.
            Subuh kedua, di pagi hari raya idul fitri. Tidak kulihat laki-laki senja itu bersimpuh di sajadah usangnya. Tidak kulihat untaian tasbih yang biasanya selalu ada di genggamannya. Dimana kakek? Tidak biasanya ia belum bangun dari lelap tidurnya. Meski tidak mampu mendengar, tapi kakek tidak pernah kulihat telat menunaikan shalat malam dan shalat subuh.
            Aku menuju kamar kakek. Tubuhnya masih dibalut selimut putih bergari-garis hitam yang sudah mulai usang. Kakek tertidur masih lengkap dengan pakaian shalat isya tadi malam. Tasbih terjuntai dan tetap berada di dalam genggamannya. Al Quran berada di samping kepalanya, di atas bantal tidurnya. Kakek masih tidur.
            Dengan sedikit hati-hati, aku membangunkan kakek. Biasanya, hanya dengan sentuhan lembut di bahunya, kakek langsung bangun dari tidurnya. Sudah beberapa kali kucoba untuk membangunkannya, tapi ia tak kunjung bangun. Matanya tetap menutup, tidak kudengar suara tarikan nafasnya, tidak kutemukan denyut nadinya.
            Mungkinkah kakek telah pergi untuk selamanya? Aku berteriak memanggil-manggil kakek. Aku berteriak sekuat-kuatnya, meski aku tahu semua percuma, kakek tidak akan mendengar apa yang kuteriakkan. Aku memeluknya untuk yang terakhir kalinya, kubisikkan permintaan maaf yang belum sempat terucap, kubisikkan untaian doa di telinga kanan dan kirinya. Semua tiba-tiba menjadi semakin gelap, lampu minyak yang menerangi kamar kakek tiba-tiba padam. Nafasku sesak, tangisku semakin menjadi dan aku terjatuh. Pingsan.
            Aku tersentak kaget, terbangun dari lelap. Kulihat ia berdiri di hadapanku, tersenyum dan dengan kedua tangannya ia memberitahuku bahwa subuh sudah menjelang. Ia mengajakku pergi untuk shalat berjemaah di masjid. Ia tersenyum dan melanjutkan gerakan kedua tangannya.
            “Kamu baru saja bermimpi, Damar.”
            Syukur kuucapkan kepada Ia yang segala Maha. Ternyata semua hanya mimpi. Kakek masih ada di sampingku. Aku dan dirinya berjalan beriringan menuju rumah Allah. Bahagia, saat tahu orang yang kucintai masih bersamaku di hari raya ini. Karena tidak ada yang tahu kapan seseorang akan sampai pada tujuan akhir dari perjalanan panjangnya. Seperti kata Imam Ghazali,
            “Yang paling dekat dengan kita adalah kematian. Maka bersiaplah.”



                [1] “Kita sudah sampai, Damar.”
                [2] “Sudah sampai mana?”

1 comment:

  1. Saya tak sangka yang boleh dari Msia juga setanding dgn
    blog dari luar. Tahniah blogger Msia.

    Also visit my webpage :: Rahsia Hebat Diranjang

    ReplyDelete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan