October 28, 2013

Bersabar Dalam Penantian

 
Saya mengajar di sekolah yang sebagian besar guru-gurunya adalah mereka yang belum menikah. Kalian bisa bayangkan ada berapa banyak rekan kerja saya yang juga belum menikah. Ada salah satu program sekolah untuk meningkatkan pemahaman para guru dalam hal ketaatan kepada Allah Swt. Program itu adalah halaqah. Satu pekan sekali, kami dibagi dalam beberapa kelompok kecil; ada seorang musyrif (ketua kelompok), ada seorang mu’allim (pemateri) dan beberapa guru sebagai anggota.
            Beberapa semester sebelumnya, saya selalu digabungkan dengan kelompok guru-guru yang masih bujangan, dan itu sukses membuat kelompok saya itu sebagai kelompok paling sering galau karena sering dijadikan bahan candaan para mu’allim dan rekan lain yang sudah menikah. Kadang saya bercanda dengan teman-teman satu kelompok, “kayaknya kita memang sengaja dijadikan satu kelompok, biar galau berjamaah”. Candaan saya diikuti oleh derai tawa semua yang hadir.
            Ada salah satu mu’allim yang cukup terkenal dengan guyonannya yang selalu mengarah ke arah pernikahan. Saya tidak tahu apakah ini adalah titipan dari pihak lembaga agar kami segera menikah, atau memang inisiatif beliau agar kami segera mengakhiri masa lajang ini. Yang jelas, materi apapun yang beliau sampaikan, semua pasti lari ke pernikahan. Entah bagaimana ceritanya beliau bisa menyangkutpautkan berbagai macam materi ke tentang pernikahan.
            Contohnya, saat kami sedang membahas tentang shalat, beliau selalu bilang, “kalo sudah menikah itu bangun malam jadi nikmat. Bangun malam jadi lebih semangat, karena bisa shalat malam berjamaah bersama dengan istri. Merangkai doa-doa yang diaminkan oleh istri dan para malaikat. Bukankah indah bisa beribadah bersama dengan seseorang yang kita cinta?”
            Jika sudah begitu, kami hanya bisa tersenyum dan kadang diikuti oleh tawa dari yang lain. Beliau selalu menyampaikan materi yang kadang membuat saya bertanya, “apa tidak ada materi lain selain membahas pernikahan?” saya bisa pastikan dari seratus persen yang beliau sampaikan, hanya 40 atau 50% tentang materi utama, selebihnya lebih banyak membahas tentang pernikahan. Seru? Terkadang ia, terutama bagi mereka yang memang sudah ingin menikah, tapi belum bertemu jodoh.
            Awalnya saya menganggap semua itu omong kosong, karena saya merasa tidak banyak mendapatkan pengetahuan baru dari materi-materi yang disampaikan, hingga akhirnya di beberapa pertemuan terakhir halaqah kami, ada beberapa guru yang akhirnya memutuskan untuk segera menikah.
            Saya iseng bertanya akan motivasi terbesar mereka menikah. Dan ternyata, salah satu motivasi mereka menikah adalah dari Sang Guru yang selalu membahas tentang pernikahan saat proses halaqah sedang berlangsung. Bagaimana dengan saya? Apakah pada akhirnya saya termotivasi juga untuk segera menikah? Iya, meski pada awalnya saya merasakan jenuh yang luar biasa dengan materi yang itu-itu saja.
            Pada suatu kesempatan, mu’allim tidak bisa hadir untuk memberi materi di kelompok halaqah kami. Jadilah kami sekelompok pria lajang yang curhat satu sama lain. Oh iya, kalian jangan tanya siapa yang paling semangat curhat dari sekian guru yang ada, karena jawabannya pasti saya. Bakat iseng saya memang super, tapi kalau ditanya balik bisanya cuma senyum-senyum nggak jelas, kemudian menjawab singkat, “Insya Allah segera”.
            Kami berbargi cerita satu sama lain tentang alasan masing-masing, mengapa masih memilih untuk sendiri. Ada beberapa teman yang ternyata sudah sejak lama ingin menikah, umur mereka sudah hampir tiga puluh tahunan, bahkan ada yang sudah lebih dari tiga puluh tahun.
            “Sebenarnya saya sudah lama ingin menikah, tapi belum ada calonnya,” ujar salah seorang rekan guru.
            Suasana mendadak hening dengan pikiran masing-masing. Mungkin semua sedang berpikir bagaimana caranya teman yang satu ini bisa segera mendapatkan jodohnya. Eh, jangankan mencarikan dia pasangan hidup, kami saja masih belum punya (malah curhat).
 “Antum sendiri kenapa belum menikah, Ustad?” saya cuma bisa senyum-senyum sendiri saat pertanyaan itu ditanya balik.
Saya suka membantu teman-teman yang ingin segera menikah, saya berusaha untuk mencarikan mereka pasangan. Tapi sampai hari ini masih belum pernah ada yang berhasil saya jodohkan, karena memang semua itu adalah rahasia Allah Swt. Saya hanya sekedar berusaha. Saya pernah beberapa kali memperkenalkan teman saya dengan akhwat yang juga ingin segera menikah, tapi semuanya gagal dengan alasan masing-masing.
Bagaimana dengan saya? Mengapa saya tidak berusaha mencari jodoh untuk diri sendiri, malah sibuk mencarikan jodoh untuk orang lain? Tenang, tidak usah khawatir. Sekarang saya juga sedang berproses ke arah sana.
Ada satu hal yang selalu menjadi kekhawatiran teman-teman yang usianya sudah lebih berumur dari saya. Kekhawatiran mereka kadang membuat hidup menjadi tidak nyaman; resah, gelisah. Ditambah lagi dengan pandangan masyarakat kita yang kadang membuat mereka semakin gelisah akan jodoh yang tak kunjung datang.
Saya selalu berpesan kepada sahabat saya, agar mereka tidak menjadikan itu beban pikiran yang membuat keadaan menjadi tidak nyaman. Jalani semuanya sebaik mungkin, berusaha, kemudian diiringi doa kepada Dia yang Mahacinta. Percayalah, bahwa jodoh itu sudah Allah gariskan dalam perjalanan hidup kita.
Biasanya, masalah usia adalah bagian kekhawatiran terbesar dari para perempuan. Ada banyak perempuan yang khawatir dan gelisah karena usianya sudah lebih dari 30 tahun, atau bahkan sudah memasuki umur kepala empat dan masih belum menemukan pasangan hidupnya. Bahkan ada yang sampai putus asa karena merasa terlambat mendapatkan jodohnya.
Saudariku, tidak ada kata terlambat untuk menikah, berapapun usiamu. Ada banyak orang yang menikah di atas umur 30, bahkan di atas umur 40 tahun. Tidak perlu gelisah dan resah karena jodoh tak kunjung datang. Gelisah dan resah tidak akan merubah semuanya, bukan? Jadi untuk apa gelisah. Jalani kehidupan sebaik mungkin, seringlah mengadu kepada Allah Swt. dalam shalat malammu. Sampaikan keinginanmu untuk segera menikah. Bersabarlah, karena kesabaran akan mengajarkanmu tentang indahnya hidup. Gelisahmu tidak akan menyelesaikan permasalahan, saudariku.
            “Siapa yang membiasakan bersabar maka Allah memberikan kesabaran kepadanya. Dan tidaklah seseorang diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih luas melebihi kesabaran” (Muttafaq ‘alaih)
            Percayalah, Allah Swt. sedang mempersiapkan seseorang yang akan menjadi pendampingmu, teruslah memperbaiki diri, jangan hanyut dalam kegelisahan dan resahmu. Buang semua itu jauh-jauh dari benakmu, yakinkan dalam diri bahwa Allah Swt. Tidak akan pernah mengingkari janji-Nya, bahwa setiap orang akan mendapatkan pasangannya (jodohnya).

October 27, 2013

Diakah Jodohku?

Suatu ketika, ada seseorang yang menghampiri saya, mengajak saya berbincang di salah satu pojok masjid. Kebetulan saat itu saya baru selesai mengimami shalat maghrib di masjid. Beliau adalah salah satu guru saya, yang selama ini membimbing saya menghafal Al Quran. Beliau tersenyum, mengucap salam dan menjabat tangan saya hangat. Saya tersenyum, dan menjawab salamnya.
            Berbicara dengan seorang guru, kadang membuat saya dag dig dug nggak jelas. Saya merasa ada sesuatu yang akan beliau bicarakan. Tidak biasanya beliau mengajak saya berbicara secara pribadi. Biasanya kami hanya berbincang sebentar selepas shalat, itu pun hanya bertanya kabar. Selebihnya bisa dibilang jarang terjadi perbincangan secara khusus.
            Beliau memulai perbincangan.
            “Umur antum sudah berapa, Ustaz?” saya memang biasanya dipanggil ustaz baik oleh anak-anak di sekolah, maupun jamaah di masjid.
            “Saya sudah 22 tahun, Ustaz.”
            “Sudah ada rencana untuk menikah?”
            Saya terdiam. Saya sama sekali tidak pernah mengira bahwa pertemuan sore itu akan berbicara tentang pernikahan. Saya baru saja lulus kuliah, baru saja mengabdikan diri di dunia pendidikan, dan sekarang ditanya tentang “pernikahan”. Meski saya tahu, kesiapan seseorang dalam hal membina rumah tangga bukanlah tergantung berapa usianya, atau apa pekerjaannya. Tapi lebih kepada kesiapan mental, dan memahami bahwa pernikahan adalah bagian dari beribadah kepada Allah Swt.
            “Saya masih mau kuliah dulu, Ustaz.” Saya menjawab pertanyaan beliau sambil tersenyum.
            “Jadi begini, saya mempunyai seorang adik perempuan. Dia adalah seorang janda dengan dua orang anak. Sebelumnya dia menikah dengan seorang kiyai, tapi suaminya sekarang sudah meninggal. Dia alumni pesantren, dia juga sama dengan antum, hafal Al Quran. Kedua anaknya berulang kali menanyakan kapan ia akan menikah, keduanya ingin memiliki seorang ayah.” Beliau berhenti sejenak, mengambil nafas, kemudian melanjutkan ucapannya.
            “Sebenarnya ada seseorang yang mencoba untuk mendekatinya, tapi dia bukanlah orang yang shaleh. Dia hanya menjadikan harta sebagai pemicu untuk menikahi adik saya. Saya ingin adik saya mendapatkan seorang suami yang shaleh, karena ini adalah amanah. Amanah untuk menjaga seorang janda, dan anak-anak yang masih perlu kehadiran sosok ayah.” Beliau berhenti lagi, mengambil nafas.
            “Apakah antum mau menikah dengan adik saya?”
            Saya sedikit terkejut dengan pertanyaan ini. Degup jantung saya tidak menentu, karena tidak siap dengan pertanyaan ini.
            “Antum tidak harus menjawabnya sekarang, Ustaz. Silahkan pikirkan terlebih dahulu.”
            Saya mencoba untuk tetap terlihat tenang. Keringat dingin membasahi kening saya. Beberapa saat kemudian barulah saya bisa menjawab.
            “Saya belum ada rencana untuk menikah, Ustaz. Saya masih mau melanjutkan pendidikan saya. Saya tidak ingin nantinya mengabaikan anak dan istri hanya karena alasan kuliah. Jadi saya memilih untuk menyelesaikan studi terlebih dahulu, baru kemudian menikah.”    
            “Sebentar lagi adik saya datang ke rumah. Dia akan ke makam mendiang suaminya, mau ziarah kesana. Jika antum berkenan, silahkan datang ke rumah, berkenalan dengan adik saya. Siapa tahu nanti Allah beri kesiapan untuk menikah.” Beliau menjelaskan lebih lanjut.
            Entah apa yang ada di dalam benak saya, tiba-tiba ada sebuah keinginan untuk bertemu dengan adik beliau, ingin mengenalnya secara langsung, meski pada awalnya saya ragu. Tapi pada akhirnya saya mempunyai sebuah keberanian untuk bertemu dengan adik beliau.
            Selepas halat isya berjamaah, saya ikut dengan beliau pulang ke rumahnya. Saya disuruh menunggu sejenak di teras depan rumah, kemudian baru dipersilahkan masuk. Degup jantung saya semakin tidak menentu, keringat saya bercucuran, membasahi kemeja yang saya kenakan. Saya tidak sempat mengganti pakaian, masih dengan sarung dan kemeja lengan panjang berwarna biru.
            Saya duduk di kursi tamu, berhadapan dengan adik beliau. Saya diberi kesempatan oleh beliau untuk berbincang sebentar. Saya tidak tahu harus memulai dari mana, tapi akhirnya Allah memberikan keberanian pada saya untuk memulai perbincangan. Saya memperkenalkan diri terlebih dahulu, menceritakan latar belakang saya, dan berlanjut begitu saja. Semuanya mengalir dengan tenang. Tidak ada lagi detak jantung yang membuat saya gelisah.
            Saat kami sedang berbincang, saling mengenal satu sama lain, kedua anaknya datang menghampiri. Keduanya menjabat tangan saya, dan menyebutkan nama masing-masing. Saya tersenyum menatap wajah kedua malaikat itu. Dari pertemuanku dengannya, saya tahu bahwa dia adalah seorang perempuan yang mempunyai agama dan berakhlak baik. Dia adalah seorang perempuan yang hafal Al Quran dan mengabdikan dirinya untuk melahirkan generasi Qurani, generasi yang cinta akan Al Quran. Dia menerima beberapa santriwati di rumahnya, diajarkan baca Al Quran dengan baik dan benar, kemudian menghafal Al Quran. Sudah beberapa santriwati yang berhasil menghafal Al Quran dalam bimbingannya. Ada rasa kagum yang menyeruak di dalam hati, kemudian merangkai doa semoga dia adalah jodohku.
            Saya pamit ulang, kemudian langsung menelpon kedua orangtua di kampung halaman. Saya menceritakan apa yang baru saja saya alami kepada Ibu. Beliau adalah seorang Ibu yang selalu mau mendengarkan keluh kesah saya. Ada ketenangan tiap kali mendengar suaranya di ujung sana. Beliau tidak melarang, tidak pula menyuruh. Beliau mempersilahkan saya untuk menentukan pilihan. Karena bagi Ibu, saya bukanlah anak kecil lagi. Seharusnya saya sudah bisa memilih mana yang baik untuk kehidupan saya. Tapi bagaimana dengan bapak? Saya tahu bapak sedikit sensitif dengan permasalahan ini. Bapak tidak setuju jika saya memilih menikah dengan seorang janda. Meski bapak tidak marah sama sekali, hanya saja dengan bahasa yang lembut, saya mengerti sebenarnya bapak keberatan jika saya harus menikah dengan seorang janda beranak dua.
            “Itu pendapat bapak, selebihnya kamu yang menentukan, karena yang akan menjalani adalah kamu sendiri, bukan bapak.” Bapak mengakhiri telephone.
            Saya bersandar di atas ranjang, kemudian mencoba untuk kembali berpikir. Benarkah dia jodohku? Seseorang yang telah Allah janjikan untukku? Seseorang yang akan menjadi pendamping hidupku? Dia adalah seorang wanita shalehah. Wanita seperti apa lagi yang ingin kucari? Bukankah wanita shalehah adalah dambaan setiap laki-laki?
            Tidak mudah bagi saya untuk membuat keputusan. Dalam shalat malam, saya menengadahkan kedua tangan di hadapan-Nya, memohon petunjuknya, memohon ketenangan pada jiwa ini. Saya tidak ingin terus dihantui oleh keraguan.
Ya Allah, jika dia adalah wanita yang Engkau janjikan untukku, maka persatukanlah kami.
Jika ia adalah jodohku, maka beri aku keberanian untuk menjalani semua ini
Setelah beberapa kali shalat istikharah, saya tidak lagi menemukan nama itu di dalam hati. Saya tidak lagi seyakin sebelumnya dengan pilihan yang akan saya ambil. Akhirnya saya memilih untuk tidak melanjutkan ke jenjang selanjutnya, hanya sebatas perkenalan saja.
Mungkin dia memang bukan jodoh saya.
            Beberapa bulan kemudian, saya mendapat kabar bahwa dia menikah dengan seorang kiyai. Saya mengucap syukur, meski dia tidak jadi menikah dengan saya, tapi dia berada di tangan yang tepat. Dia menjadi pendamping hidup seseorang yang shaleh. Semoga dia bahagia menjalani kehidupan bersama laki-laki yang telah Allah pilihkan untuknya.
            Sahabatku, kita bisa mengambil pelajaran dari kisah saya ini, bahwa rencana Allah Swt. tidak bisa kita ketahui. Jangan pernah putus asa mencari pasangan hidupmu. Mantapkan hati untuk mencari pendamping hidup yang shaleh/shalehah. Percayalah, Allah Swt. sedang menyiapkan seseorang sebagai pendamping hidupmu. Tak perlu engkau risau karena jodoh tak kunjung hadir, teruslah berusaha. Kesabaran selalu memberikan buah yang manis, bukan? Sabar bukan berarti berdiam diri, kamu harus berusaha mencari pasangan hidupmu, carilah sesuai dengan yang telah Allah tentukan. Jangan galau, karena kegalauan tidak akan menyelesaikan masalah. Percayalah dengan janji Allah Swt. Ketika kita percaya kepada-Nya, disanalah letak ketenangan hidup. Karena kita hidup bernaung pada Dia yang segala Maha. Bukankah jodoh sudah diatur oleh-Nya? Jadi apalagi yang engkau ragukan?

Kriteria Calon Suami/Istri Yang Baik

 
Adakah yang mengharapkan memiliki pasangan (jodoh) dengan orang-orang yang tidak baik? Saya rasa tidak ada. Saya sendiri mendamba pasangan hidup yang baik, yang akan bersama-sama meniti jalan hidup yang telah Allah gariskan. Saya ingin memiliki pasangan yang mencintai Tuhannya melebihi cintanya kepada makhluk. Tidak ada salahnya mengharapkan jodoh yang terbaik untuk kita, karena bersamanyalah kita akan membangun bahtera rumah tangga yang diridhai oleh-Nya. Akan tetapi perlu diingat, hanya sekedar berharap saja tidaklah cukup. Boleh berharap, tapi harus sadar diri. Jangan hanya mendambakan pasangan hidup yang baik, tanpa mau berusaha untuk menjadi baik. Bukankah tidak seimbang jika yang satu rajin shalat, sedangkan yang satunya masih susah untuk diajak shalat? Bukankah indah jika bisa bersama-sama sujud di hadapan Allah Swt di malam-malam-Nya?
            Teruntukmu wahai saudariku, pilihlah calon suami yang mempunyai agama dan akhlak yang baik. Dengan demikian, dia akan mencintaimu karena Allah. Dia tidak akan berlaku dzalim kepadamu, karena dia tahu bahwa wanita adalah ciptaan Allah Swt., yang seharusnya disayangi, diperlakukan secara manusiawi. Dia tidak akan berkata kasar kepadamu ketika ia mendapati kamu melakukan kesalahan. Dia akan mengingatkanmu dengan cara yang baik, sebagaimana diajarkan oleh baginda Nabi, bahwa menasehati pun memiliki etika, yaitu dengan cara yang baik dan penuh kesabaran.
            Seorang laki-laki yang mempunyai agama yang baik akan selalu menjaga dirinya dari perbuatan-perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah Swt. Dia akan senantiasa membimbingmu untuk terus meningkatkan keshalehan kepada Dia yang telah menciptakan alam raya ini. Bukankah indah memiliki suami yang bisa menjadi imam bagimu? Bisa mengajarkan agama kepada anak-anakmu, sehingga keluarga kecilmu menjadi keluarga yang penuh dengan nilai-nilai keislaman, bersama-sama membangun rumah tangga menuju ridha-Nya. Indah, bukan?
            Suatu ketika ada seorang laki-laki bertanya kepada Hasan bin Ali: Saya punya seorang putri, siapakah kiranya yang patut jadi suaminya?” Hasan bin Ali menjawab, “Seorang laki-laki yang bertaqwa kepada Allah, sebab jika ia senang ia akan menghormatinya, dan jika ia sedang marah, ia tidak suka zalim kepadanya.”
            Bandingkan jika kamu menikah dengan laki-laki bukan karena agama dan akhlaknya, dia belum tentu bisa menjadi seorang imam yang baik bagimu. Dia belum tentu bisa mengajarimu tentang agama.
            Saudariku, jika ada seseorang yang datang melamarmu, dang engkau ridha dengan agama dan akhlaknya, maka menikahlah dengannya. Insya Allah engkau akan merasakan betapa indah kehidupan yang didasari oleh ketaatan kepada Allah Swt. Tapi perlu engkau pahami juga wahai saudariku, laki-laki yang mempunyai agama dan akhlak yang baik bukan berarti tidak memiliki kekurangan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Akan tetapi, dia akan memperlakukanmu dengan baik, sebagai wujud ketaatan kepada Allah Swt.
            Teruntukmu wahai saudaraku, carilah pasangan hidup karena ketaatannya kepada Allah Swt. Jika engkau menikahi perempuan karena baik agamanya, maka dia akan mencintaimu sebagai bentuk ketaatan. Dia akan menerimamu apa adanya, tanpa menuntut sesuatu yang melebihi batas kemampuanmu. Dia akan bersabar menjalani bahtera rumah tangga bersamamu. Dia akan bersabar dengan semua cobaan yang ada dalam hidup dan selalu mengingatkanmu untuk tetap besabar. Bukankah indah jika kita memiliki seorang istri yang selalu mampu mengingatkan kita dalam hal kebaikan? Bisa saja kita lalai, tapi dia mengingatkan kita dengan lembut sebagai bentuk kasih sayangnya kepada kita.
            Jika engkau mencintai perempuan karena kecantikannya, maka kecantikan itu akan memudar saudaraku. Wajah yang dulu kencang, lambat laun akan dipenuhi oleh garis-garis kehidupan. Tangannya yang dulu halus, lambat laun akan menjadi kasar karena ditempa oleh kehidupan. Beda hal ketika engkau menikahi perempuan karena baiknya agam dan akhlaknya, semua itu akan tetap ada.       Ingat, carilah pasangan hidup yang tidak hanya tahu tentang agamanya, tapi memiliki pemahaman akan beragama. Selain paham, dia harus memiliki kesadaran untuk menjalankan perintah-perintah Tuhannya.
            Lantas bagaimana caranya mengetahui apakah dia termasuk wanita yang taat kepada Allah Swt. ?
  1. Engkau bisa melihat dari caranya berpakaian. Apakah dia termasuk orang yang sangat peduli dengan kewajiban seorang perempuan untuk menutup hijabnya? Pastikan dia adalah perempuan yang memakai pakaian sesuai syariat. Bukan berjilbab tapi telanjang, dalam artian bukan menutup auratnya, tapi membalut auratnya, sehingga tampak jelas lekukan-lekukan tubuhnya.
  2. Lihatlah dari caranya berbicara, lihatlah bagaimana caranya bergaul dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Seberapa baik dia di mata orang-orang yang ada di sekelilingnya. Tanyakanlah kepada mereka tentang si dia yang akan menjadi pasangan hidup kita. Jadikan itu sebagai bahan pertimbangan untuk menilai kebaikannya.
  3. Engkau bisa langsung bertemu dengan keluarganya, dan menanyakan bagaimana si dia sesungguhnya. Engkau juga bisa langsung berbincang dengan si dia, dan pastikan dia ditemani oleh keluarganya, sehingga engkau bisa tahu tentangnya secara langsung dari kedua orangtuanya.
Saudaraku, jika ada seorang perempuan yang engkau ridhai agama dan akhlaknya, makan menikahlah dengannya. Jangan engkau ragu untuk menjadikannya pasangan hidup. Dia akan mendidik anak-anakmu dengan baik, sesuai dengan tuntunan Islam. Dia akan mengajarkan anak-anakmu tentang pemahaman tentang keislaman, karena pendidikan pertama bagi anak berada di rumah. Memiliki pasangan hidup yang mampu mendidik anak-anakmu untuk menjadi anak-anak yang shaleh/shalehah adalah hal yang indah, bukan? Setiap orang pasti mendamba memiliki istri yang shalehah.
Perempuan yang shaleh paham bahwa “anak adalah titipan Allah Swt., yang harus dijaga dan dididik dengan baik”. Dia tidak akan menyerahkan pendidikan anak-anakmu pada pembantu rumah tangga, kemudian dia sibuk dengan urusan yang lain. Dia akan selalu menomorsatukan hal-hal yang berkaitan dengan anak-anak. Wanita beragama mampu menggunakan sifat-sifat  keibuannya hanya untuk  membimbing anak-anaknya. Sifat keibuan  wanita ini didukung oleh   dua hal, pertama; wanita itu memiliki rasa cinta  lebih besar  yang  karenanya besar pula pengorbanan  demi anak-anaknya, kedua;  memiliki  kelembutan rasa yang  karenanya  anak-anak lebih dekat dan dalam kehangatan dekapannya (Quraish Shihab).
Saudaraku, perlu diingat bahwa istri bukanlah seorang pembantu bagimu; yang harus mengerjakan semuanya untukmu, yang bisa kamu suruh sesuka hatimu, padahal sebenarnya kamu mampu untuk membantunya. Bantulah pekerjaan-pekerjaan istrimu, dan sayangilah dia.
Pada akhirnya, kita akan merasakan indahnya berumah tangga ketika dibangun atas kecintaan kepada Allah Swt.
Teruntukmu yang masih tak nyata
Jika nanti kita bersama, semoga cinta kita kepada-Nya masih tetap utuh. Melangkahlah bersamaku, menuju jalan cinta-Nya yang hakiki.