October 27, 2013

Diakah Jodohku?

Suatu ketika, ada seseorang yang menghampiri saya, mengajak saya berbincang di salah satu pojok masjid. Kebetulan saat itu saya baru selesai mengimami shalat maghrib di masjid. Beliau adalah salah satu guru saya, yang selama ini membimbing saya menghafal Al Quran. Beliau tersenyum, mengucap salam dan menjabat tangan saya hangat. Saya tersenyum, dan menjawab salamnya.
            Berbicara dengan seorang guru, kadang membuat saya dag dig dug nggak jelas. Saya merasa ada sesuatu yang akan beliau bicarakan. Tidak biasanya beliau mengajak saya berbicara secara pribadi. Biasanya kami hanya berbincang sebentar selepas shalat, itu pun hanya bertanya kabar. Selebihnya bisa dibilang jarang terjadi perbincangan secara khusus.
            Beliau memulai perbincangan.
            “Umur antum sudah berapa, Ustaz?” saya memang biasanya dipanggil ustaz baik oleh anak-anak di sekolah, maupun jamaah di masjid.
            “Saya sudah 22 tahun, Ustaz.”
            “Sudah ada rencana untuk menikah?”
            Saya terdiam. Saya sama sekali tidak pernah mengira bahwa pertemuan sore itu akan berbicara tentang pernikahan. Saya baru saja lulus kuliah, baru saja mengabdikan diri di dunia pendidikan, dan sekarang ditanya tentang “pernikahan”. Meski saya tahu, kesiapan seseorang dalam hal membina rumah tangga bukanlah tergantung berapa usianya, atau apa pekerjaannya. Tapi lebih kepada kesiapan mental, dan memahami bahwa pernikahan adalah bagian dari beribadah kepada Allah Swt.
            “Saya masih mau kuliah dulu, Ustaz.” Saya menjawab pertanyaan beliau sambil tersenyum.
            “Jadi begini, saya mempunyai seorang adik perempuan. Dia adalah seorang janda dengan dua orang anak. Sebelumnya dia menikah dengan seorang kiyai, tapi suaminya sekarang sudah meninggal. Dia alumni pesantren, dia juga sama dengan antum, hafal Al Quran. Kedua anaknya berulang kali menanyakan kapan ia akan menikah, keduanya ingin memiliki seorang ayah.” Beliau berhenti sejenak, mengambil nafas, kemudian melanjutkan ucapannya.
            “Sebenarnya ada seseorang yang mencoba untuk mendekatinya, tapi dia bukanlah orang yang shaleh. Dia hanya menjadikan harta sebagai pemicu untuk menikahi adik saya. Saya ingin adik saya mendapatkan seorang suami yang shaleh, karena ini adalah amanah. Amanah untuk menjaga seorang janda, dan anak-anak yang masih perlu kehadiran sosok ayah.” Beliau berhenti lagi, mengambil nafas.
            “Apakah antum mau menikah dengan adik saya?”
            Saya sedikit terkejut dengan pertanyaan ini. Degup jantung saya tidak menentu, karena tidak siap dengan pertanyaan ini.
            “Antum tidak harus menjawabnya sekarang, Ustaz. Silahkan pikirkan terlebih dahulu.”
            Saya mencoba untuk tetap terlihat tenang. Keringat dingin membasahi kening saya. Beberapa saat kemudian barulah saya bisa menjawab.
            “Saya belum ada rencana untuk menikah, Ustaz. Saya masih mau melanjutkan pendidikan saya. Saya tidak ingin nantinya mengabaikan anak dan istri hanya karena alasan kuliah. Jadi saya memilih untuk menyelesaikan studi terlebih dahulu, baru kemudian menikah.”    
            “Sebentar lagi adik saya datang ke rumah. Dia akan ke makam mendiang suaminya, mau ziarah kesana. Jika antum berkenan, silahkan datang ke rumah, berkenalan dengan adik saya. Siapa tahu nanti Allah beri kesiapan untuk menikah.” Beliau menjelaskan lebih lanjut.
            Entah apa yang ada di dalam benak saya, tiba-tiba ada sebuah keinginan untuk bertemu dengan adik beliau, ingin mengenalnya secara langsung, meski pada awalnya saya ragu. Tapi pada akhirnya saya mempunyai sebuah keberanian untuk bertemu dengan adik beliau.
            Selepas halat isya berjamaah, saya ikut dengan beliau pulang ke rumahnya. Saya disuruh menunggu sejenak di teras depan rumah, kemudian baru dipersilahkan masuk. Degup jantung saya semakin tidak menentu, keringat saya bercucuran, membasahi kemeja yang saya kenakan. Saya tidak sempat mengganti pakaian, masih dengan sarung dan kemeja lengan panjang berwarna biru.
            Saya duduk di kursi tamu, berhadapan dengan adik beliau. Saya diberi kesempatan oleh beliau untuk berbincang sebentar. Saya tidak tahu harus memulai dari mana, tapi akhirnya Allah memberikan keberanian pada saya untuk memulai perbincangan. Saya memperkenalkan diri terlebih dahulu, menceritakan latar belakang saya, dan berlanjut begitu saja. Semuanya mengalir dengan tenang. Tidak ada lagi detak jantung yang membuat saya gelisah.
            Saat kami sedang berbincang, saling mengenal satu sama lain, kedua anaknya datang menghampiri. Keduanya menjabat tangan saya, dan menyebutkan nama masing-masing. Saya tersenyum menatap wajah kedua malaikat itu. Dari pertemuanku dengannya, saya tahu bahwa dia adalah seorang perempuan yang mempunyai agama dan berakhlak baik. Dia adalah seorang perempuan yang hafal Al Quran dan mengabdikan dirinya untuk melahirkan generasi Qurani, generasi yang cinta akan Al Quran. Dia menerima beberapa santriwati di rumahnya, diajarkan baca Al Quran dengan baik dan benar, kemudian menghafal Al Quran. Sudah beberapa santriwati yang berhasil menghafal Al Quran dalam bimbingannya. Ada rasa kagum yang menyeruak di dalam hati, kemudian merangkai doa semoga dia adalah jodohku.
            Saya pamit ulang, kemudian langsung menelpon kedua orangtua di kampung halaman. Saya menceritakan apa yang baru saja saya alami kepada Ibu. Beliau adalah seorang Ibu yang selalu mau mendengarkan keluh kesah saya. Ada ketenangan tiap kali mendengar suaranya di ujung sana. Beliau tidak melarang, tidak pula menyuruh. Beliau mempersilahkan saya untuk menentukan pilihan. Karena bagi Ibu, saya bukanlah anak kecil lagi. Seharusnya saya sudah bisa memilih mana yang baik untuk kehidupan saya. Tapi bagaimana dengan bapak? Saya tahu bapak sedikit sensitif dengan permasalahan ini. Bapak tidak setuju jika saya memilih menikah dengan seorang janda. Meski bapak tidak marah sama sekali, hanya saja dengan bahasa yang lembut, saya mengerti sebenarnya bapak keberatan jika saya harus menikah dengan seorang janda beranak dua.
            “Itu pendapat bapak, selebihnya kamu yang menentukan, karena yang akan menjalani adalah kamu sendiri, bukan bapak.” Bapak mengakhiri telephone.
            Saya bersandar di atas ranjang, kemudian mencoba untuk kembali berpikir. Benarkah dia jodohku? Seseorang yang telah Allah janjikan untukku? Seseorang yang akan menjadi pendamping hidupku? Dia adalah seorang wanita shalehah. Wanita seperti apa lagi yang ingin kucari? Bukankah wanita shalehah adalah dambaan setiap laki-laki?
            Tidak mudah bagi saya untuk membuat keputusan. Dalam shalat malam, saya menengadahkan kedua tangan di hadapan-Nya, memohon petunjuknya, memohon ketenangan pada jiwa ini. Saya tidak ingin terus dihantui oleh keraguan.
Ya Allah, jika dia adalah wanita yang Engkau janjikan untukku, maka persatukanlah kami.
Jika ia adalah jodohku, maka beri aku keberanian untuk menjalani semua ini
Setelah beberapa kali shalat istikharah, saya tidak lagi menemukan nama itu di dalam hati. Saya tidak lagi seyakin sebelumnya dengan pilihan yang akan saya ambil. Akhirnya saya memilih untuk tidak melanjutkan ke jenjang selanjutnya, hanya sebatas perkenalan saja.
Mungkin dia memang bukan jodoh saya.
            Beberapa bulan kemudian, saya mendapat kabar bahwa dia menikah dengan seorang kiyai. Saya mengucap syukur, meski dia tidak jadi menikah dengan saya, tapi dia berada di tangan yang tepat. Dia menjadi pendamping hidup seseorang yang shaleh. Semoga dia bahagia menjalani kehidupan bersama laki-laki yang telah Allah pilihkan untuknya.
            Sahabatku, kita bisa mengambil pelajaran dari kisah saya ini, bahwa rencana Allah Swt. tidak bisa kita ketahui. Jangan pernah putus asa mencari pasangan hidupmu. Mantapkan hati untuk mencari pendamping hidup yang shaleh/shalehah. Percayalah, Allah Swt. sedang menyiapkan seseorang sebagai pendamping hidupmu. Tak perlu engkau risau karena jodoh tak kunjung hadir, teruslah berusaha. Kesabaran selalu memberikan buah yang manis, bukan? Sabar bukan berarti berdiam diri, kamu harus berusaha mencari pasangan hidupmu, carilah sesuai dengan yang telah Allah tentukan. Jangan galau, karena kegalauan tidak akan menyelesaikan masalah. Percayalah dengan janji Allah Swt. Ketika kita percaya kepada-Nya, disanalah letak ketenangan hidup. Karena kita hidup bernaung pada Dia yang segala Maha. Bukankah jodoh sudah diatur oleh-Nya? Jadi apalagi yang engkau ragukan?

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan