October 27, 2013

Kriteria Calon Suami/Istri Yang Baik

 
Adakah yang mengharapkan memiliki pasangan (jodoh) dengan orang-orang yang tidak baik? Saya rasa tidak ada. Saya sendiri mendamba pasangan hidup yang baik, yang akan bersama-sama meniti jalan hidup yang telah Allah gariskan. Saya ingin memiliki pasangan yang mencintai Tuhannya melebihi cintanya kepada makhluk. Tidak ada salahnya mengharapkan jodoh yang terbaik untuk kita, karena bersamanyalah kita akan membangun bahtera rumah tangga yang diridhai oleh-Nya. Akan tetapi perlu diingat, hanya sekedar berharap saja tidaklah cukup. Boleh berharap, tapi harus sadar diri. Jangan hanya mendambakan pasangan hidup yang baik, tanpa mau berusaha untuk menjadi baik. Bukankah tidak seimbang jika yang satu rajin shalat, sedangkan yang satunya masih susah untuk diajak shalat? Bukankah indah jika bisa bersama-sama sujud di hadapan Allah Swt di malam-malam-Nya?
            Teruntukmu wahai saudariku, pilihlah calon suami yang mempunyai agama dan akhlak yang baik. Dengan demikian, dia akan mencintaimu karena Allah. Dia tidak akan berlaku dzalim kepadamu, karena dia tahu bahwa wanita adalah ciptaan Allah Swt., yang seharusnya disayangi, diperlakukan secara manusiawi. Dia tidak akan berkata kasar kepadamu ketika ia mendapati kamu melakukan kesalahan. Dia akan mengingatkanmu dengan cara yang baik, sebagaimana diajarkan oleh baginda Nabi, bahwa menasehati pun memiliki etika, yaitu dengan cara yang baik dan penuh kesabaran.
            Seorang laki-laki yang mempunyai agama yang baik akan selalu menjaga dirinya dari perbuatan-perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah Swt. Dia akan senantiasa membimbingmu untuk terus meningkatkan keshalehan kepada Dia yang telah menciptakan alam raya ini. Bukankah indah memiliki suami yang bisa menjadi imam bagimu? Bisa mengajarkan agama kepada anak-anakmu, sehingga keluarga kecilmu menjadi keluarga yang penuh dengan nilai-nilai keislaman, bersama-sama membangun rumah tangga menuju ridha-Nya. Indah, bukan?
            Suatu ketika ada seorang laki-laki bertanya kepada Hasan bin Ali: Saya punya seorang putri, siapakah kiranya yang patut jadi suaminya?” Hasan bin Ali menjawab, “Seorang laki-laki yang bertaqwa kepada Allah, sebab jika ia senang ia akan menghormatinya, dan jika ia sedang marah, ia tidak suka zalim kepadanya.”
            Bandingkan jika kamu menikah dengan laki-laki bukan karena agama dan akhlaknya, dia belum tentu bisa menjadi seorang imam yang baik bagimu. Dia belum tentu bisa mengajarimu tentang agama.
            Saudariku, jika ada seseorang yang datang melamarmu, dang engkau ridha dengan agama dan akhlaknya, maka menikahlah dengannya. Insya Allah engkau akan merasakan betapa indah kehidupan yang didasari oleh ketaatan kepada Allah Swt. Tapi perlu engkau pahami juga wahai saudariku, laki-laki yang mempunyai agama dan akhlak yang baik bukan berarti tidak memiliki kekurangan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Akan tetapi, dia akan memperlakukanmu dengan baik, sebagai wujud ketaatan kepada Allah Swt.
            Teruntukmu wahai saudaraku, carilah pasangan hidup karena ketaatannya kepada Allah Swt. Jika engkau menikahi perempuan karena baik agamanya, maka dia akan mencintaimu sebagai bentuk ketaatan. Dia akan menerimamu apa adanya, tanpa menuntut sesuatu yang melebihi batas kemampuanmu. Dia akan bersabar menjalani bahtera rumah tangga bersamamu. Dia akan bersabar dengan semua cobaan yang ada dalam hidup dan selalu mengingatkanmu untuk tetap besabar. Bukankah indah jika kita memiliki seorang istri yang selalu mampu mengingatkan kita dalam hal kebaikan? Bisa saja kita lalai, tapi dia mengingatkan kita dengan lembut sebagai bentuk kasih sayangnya kepada kita.
            Jika engkau mencintai perempuan karena kecantikannya, maka kecantikan itu akan memudar saudaraku. Wajah yang dulu kencang, lambat laun akan dipenuhi oleh garis-garis kehidupan. Tangannya yang dulu halus, lambat laun akan menjadi kasar karena ditempa oleh kehidupan. Beda hal ketika engkau menikahi perempuan karena baiknya agam dan akhlaknya, semua itu akan tetap ada.       Ingat, carilah pasangan hidup yang tidak hanya tahu tentang agamanya, tapi memiliki pemahaman akan beragama. Selain paham, dia harus memiliki kesadaran untuk menjalankan perintah-perintah Tuhannya.
            Lantas bagaimana caranya mengetahui apakah dia termasuk wanita yang taat kepada Allah Swt. ?
  1. Engkau bisa melihat dari caranya berpakaian. Apakah dia termasuk orang yang sangat peduli dengan kewajiban seorang perempuan untuk menutup hijabnya? Pastikan dia adalah perempuan yang memakai pakaian sesuai syariat. Bukan berjilbab tapi telanjang, dalam artian bukan menutup auratnya, tapi membalut auratnya, sehingga tampak jelas lekukan-lekukan tubuhnya.
  2. Lihatlah dari caranya berbicara, lihatlah bagaimana caranya bergaul dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Seberapa baik dia di mata orang-orang yang ada di sekelilingnya. Tanyakanlah kepada mereka tentang si dia yang akan menjadi pasangan hidup kita. Jadikan itu sebagai bahan pertimbangan untuk menilai kebaikannya.
  3. Engkau bisa langsung bertemu dengan keluarganya, dan menanyakan bagaimana si dia sesungguhnya. Engkau juga bisa langsung berbincang dengan si dia, dan pastikan dia ditemani oleh keluarganya, sehingga engkau bisa tahu tentangnya secara langsung dari kedua orangtuanya.
Saudaraku, jika ada seorang perempuan yang engkau ridhai agama dan akhlaknya, makan menikahlah dengannya. Jangan engkau ragu untuk menjadikannya pasangan hidup. Dia akan mendidik anak-anakmu dengan baik, sesuai dengan tuntunan Islam. Dia akan mengajarkan anak-anakmu tentang pemahaman tentang keislaman, karena pendidikan pertama bagi anak berada di rumah. Memiliki pasangan hidup yang mampu mendidik anak-anakmu untuk menjadi anak-anak yang shaleh/shalehah adalah hal yang indah, bukan? Setiap orang pasti mendamba memiliki istri yang shalehah.
Perempuan yang shaleh paham bahwa “anak adalah titipan Allah Swt., yang harus dijaga dan dididik dengan baik”. Dia tidak akan menyerahkan pendidikan anak-anakmu pada pembantu rumah tangga, kemudian dia sibuk dengan urusan yang lain. Dia akan selalu menomorsatukan hal-hal yang berkaitan dengan anak-anak. Wanita beragama mampu menggunakan sifat-sifat  keibuannya hanya untuk  membimbing anak-anaknya. Sifat keibuan  wanita ini didukung oleh   dua hal, pertama; wanita itu memiliki rasa cinta  lebih besar  yang  karenanya besar pula pengorbanan  demi anak-anaknya, kedua;  memiliki  kelembutan rasa yang  karenanya  anak-anak lebih dekat dan dalam kehangatan dekapannya (Quraish Shihab).
Saudaraku, perlu diingat bahwa istri bukanlah seorang pembantu bagimu; yang harus mengerjakan semuanya untukmu, yang bisa kamu suruh sesuka hatimu, padahal sebenarnya kamu mampu untuk membantunya. Bantulah pekerjaan-pekerjaan istrimu, dan sayangilah dia.
Pada akhirnya, kita akan merasakan indahnya berumah tangga ketika dibangun atas kecintaan kepada Allah Swt.
Teruntukmu yang masih tak nyata
Jika nanti kita bersama, semoga cinta kita kepada-Nya masih tetap utuh. Melangkahlah bersamaku, menuju jalan cinta-Nya yang hakiki.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan