October 21, 2013

Wahai Generasi Muslim






Kamu mungkin punya idola, seseorang yang kamu banggakan, yang kamu puja, dan kamu betul-betul bangga karena menjadi bagian dari fans sang idola. Lantas bagaimana hukumnya mengidolakan seseorang?

 Pengidolaan full kepada seseorang bukanlah sesuatu yang wajar. Bahkan Rasulullah Saw saja tidak menyuruh umatnya untuk benar-benar 100% meniru tingkah laku beliau. Rasulullah memberi keleluasaan kepada para sahabat dalam urusan muamalah (keseharian dalam bisnis, dan inovasi-inovasi dalam bisnis). Kalo untuk urusan ibadah, semua memang harus sesuai dengan yang dicontohkan atau diajarkan oleh beliau.

 Suatu ketika, saya sedang berada di Bandung Indah Plaza, saya bertemu dengan remaja-remaja yang membuat suasana Plaza jadi gaduh dan berisik. Saya mencoba untuk mencari tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi disana, saya melihat mereka mengenakan kaos dengan gambar coboy junior, ya, coboy junior. Mereka membawa poster-poster besar, foto-foto sang idola dan masih banyak lagi pernak-pernik yang lain yang menurut saya aneh.

 Saya dekati mereka, seolah-olah ingin merekam kegiatan mereka dengan camdig yang saya bawa, saya bertanya kepada mereka,

“Beri saya satu alasan mengapa kalian ngefans dengan coboy junior?”

Dengan penuh semangat mereka menjawab, tanpa menunggu jeda satu sama lain.

“Pintar, Ganteng, Rajin Shalat, Suaranya bagus.” Itulah beberapa alasan dari mereka, sampai rela berdesak-desakan karena ingin menonton film coboy junior yang sedang tayang di bioskop. Saya tersenyum, kemudian melanjutkan keisengan saya,

“Ada satu sosok yang sebenarnya jauh lebih pintar, ganteng, rajin ibadahnya, dan suaranya juga jauh lebih bagus dari coboy junior,” terang saya.

“Siapa kak?” Tanya mereka bersamaan.

“Nabi Muhammad Saw,” jawab saya sambil tetap tersenyum di hadapan remaja-remaja yang mengenakan jilbab ini.

 Ya Allah, inikah generasi muslim saat ini?

Ironis memang, ketika melihat generasi muslim lebih bangga dengan idolanya, ketimbang dengan Nabinya.

Ironis memang, ketika melihat generasi muslim lebih tahu tentang idolanya ketimbang sejarah Nabinya.

Ironis memang, ketika generasi muslim rela berdesak-desakkan demi bertemu dengan sang idola, tapi tidak rela berjuang demi bisa shalat berjamaah.

Ironis memang, ketika generasi muslim rela bangun malam demi menonton tim kesayangannya bermain, tapi tidak rela bangun malam demi bersujud di hadapan Allah Swt.

Ironis memang ketika melihat generasi muslim sampai menangis histeris saat bertemu dengan idolnya, tapi malah tertawa, bercanda ria saat beribadah kepada Allah swt

 Renungkanlah

Pernahkah kalian melihat betapa generasi muslim saat ini begitu memuja idola mereka, sampai lupa bahwa sebenarnya pada diri kita terdapat anugerah yang luar biasa, yang bahkan tidak dimiliki oleh orang lain.

 Pernahkah kalian melihat seseorang rela mengoleksi gambar-gambar ataupun setiap benda yang bergambar artis tertentu, meskipun menurut kita benda itu adalah hal sepele. Hal itu dilakukannya karena mengidolakan artis tersebut. Mengapa semua itu bisa terjadi? Jawabannya tetap sama, karena mereka lebih bangga dengan kehebatan orang lain dibandingkan karunia yang sudah allah anugerahkan pada diri mereka. Mengapa kamu rela melakukan banyak hal demi sang idola yang belum tentu peduli tentang kamu?

 Popularitas tidaklah menunjukkan seseorang itu lebih baik. Jika kamu punya teman yang popular dan dikenal banyak orang, kenapa dia popular? Karena dia pandai mengeksplor kemampuan dan keunikan yang dimilikinya. Kita juga sama dengannya, memiliki kemampuan dan keunikan tersendiri. Tugas kita adalah menggali potensi diri kita, bukan menciptakannya. Kalo menggali berarti mengeruk sesuatu yang sudah ada, sesuatu yang sudah Allah tanamkan dalam diri kita.

 Di kesempatan lain, saya kembali bertanya kepada beberapa pria yang menjadi fans berat cherrybel.

“Beri saya satu alasan, mengapa kalian ngefans berat dengan cherrybel?”

Mereka hanya terdiam dan tidak bisa menjawab sama sekali.
 Inilah realita yang terjadi saat ini, dimana generasi muslim mulai lupa akan Nabinya, dimana generasi muslim lupa akan kitabnya. Al Quran yang seharusnya dibaca, dipelajari, diamalkan dan diajarkan hanya menjadi penghias meja belajar, penghias rak-rak masjid, penghias meja, tapi tidak dibaca.

 Bagaimana mungkin engkau menyatakan cinta kepada Allah, jika membaca ayat-ayatnya saja enggan engkau lakukan?

Bagaimana mungkin engkau mengaku cinta Nabi Muhammad, jika engkau sendiri tidak mengerti sunnah-sunnahnya.

Bagaimana mungkin engkau mengaku seorang muslim, jika shalat saja jarang engkau dirikan?

Ada banyak orang yang menjadi muslim karena kedua orangtuanya muslim. Ketika ada yang bertanya, mengapa anda muslim? Ya karena bapak dan ibu saya muslim. Ia hanya menjadi pengekor tanpa paham hakikat dari menjadi seorang muslim yang seutuhnya.


Ada banyak orang yang hanya menjadi pengikut buta, tidak paham apa-apa tentang agama yang selama ini menjadi idetitasnya, agama seolah hanya pelengkap identitas diri, selebihnya hanya tersimpan di dalam dompet.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita benar-benar mencintai Allah?

Ibnul Qayyim Al Jauziah pernah berkata,

“Kadar kecintaan seseorang kepada Allah, bisa dilihat seberapa banyak ia membaca Al Quran.”

Artinya, jika sehari kamu hanya membaca satu ayat, maka seperti itulah kecintaanmu kepada Allah. Jika sehari kamu membaca Al Quran sepuluh ayat, maka seperti itu jugalah kecintaanmu kepada Allah. Dan selanjutnya.


Rasulullah Saw, bersabda.
 “Tujuh Golongan yang akan dinaungi oleh Allah dibawah Naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya yaitu; Pemimpin yang adil, Pemuda yang senantiasa rajin beribadah kepada Allah swt, Laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul dan berpisah hanya karena Allah. Laki-laki yang diajak berzina oleh perempuan yang berkedudukan tinggi lagi berparas cantik lantas ia berkata “Sesungguhnya aku takut kepada Allah SWT, Laki-laki yang bersedekah secara sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, dan laki-laki yang senantiasa berdzikir kepada Allah hingga mengalir deras airmatanya”. ( Hadist Riwayat Bukhari-Muslim )

Apakah kita termasuk dari tujuh golongan yang terdapat di dalam hadis di atas? Apakah kita adalah seorang pemimpin yang adil? Apakah kita seorang pemuda yang rajin beribadah kepada Allah? Apakah kita seorang pemuda yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, yang selalu berusaha untuk shalat tepat waktu dan berjamaah di masjid? Apakah kita termasuk laki-laki yang senantiasa berdzikir kepada Allah hingga mengalir deras air matanya? Coba renungkan kembali.

 Mari terus mendekatkan diri kepada Allah Swt. Berhentilah menjadi pemuja kehebatan orang lain, sehingga lupa akan potensi yang ada pada diri kita masing-masing. Bangunlah dari mimpi panjangmu, lakukan sesuatu untuk mewujudkan semua potensi yang ada pada diri kita. Bangkitlah dari keterpurukan, sujudlah di hadapan Allah Swt dan semoga cinta kita kepada Allah tetap utuh. Semoga kita semua menjadi hamba-hamba penghuni surga Allah Swt.



1 comment:

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan