December 21, 2013

Bukan Sebuah Akhir


20 Desember 2013
Sejak pagi, hujan tetap menyatu dengan semesta, tak sedetik pun ia biarkan semesta hening tanpa rintiknya, ia tetap berjatuhan meski hanya rintik-rinik yang menyejukkan. Aku duduk di dalam kelas seorang diri, anak-anak sudah berlibur, tidak ada lagi kudengar suara tawa mereka di setiap pagiku, tidak lagi kulihat senyum bahagia di wajah mereka kala menjabat kedua tanganku, mereka semua sedang istirahat sejenak dari rutinitas yang mungkin saja menjenuhkan.

            Aku masih duduk seorang diri, ditemani semilir angin yang berhembus, dingin. Aku sedang menunggu kedatangan wali murid, hari ini adalah pembagian hasil perkembangan siswa selama semester satu. Tiap kali akan berhadapan dengan wali murid, kadang aku dihinggapi oleh gugup yang tidak kumengerti. Ini adalah amanah, tanggung jawab yang sejak awal harus siap kupikul, menyampaikan perkembangan siswa sejak awal semester yang lalu.

            Pukul setengah sembilan pagi, satu persatu wali murid datang, dengan semangat dan penuh suasana akrab, aku menyampaikan perkembangan masing-masing anak yang di kelasku. Bagiku, setiap anak adalah istimewa, yang harus dihargai, yang harus dimengerti. Aku tidak ingin melukai hati mereka. Aku mencintai mereka sejak pertama kali bertemu dengan mereka.

            Di samping mejaku, ada kado yang sesuai dengan jumlah anak yang ada di kelasku. Masing-masing dari mereka akan mendapatkan reward, tidak hanya yang juara saja, tapi semua akan mendapatkan penghargaan dariku. Tidak ada anak yang tidak istimewa bagiku, mereka istimewa dengan karunia yang sudah Tuhan tanam pada diri mereka masing-masing.
            “Semua anak dapat reward, Ustadz?” tanya seorang wali murid.
            “Iya, Buk. Bagi saya, setiap anak itu istimewa, Tuhan tidak pernah sia-sia dalam penciptaan-Nya.”
            “Anak saya pasti senang sekali, Ustadz. Terimasih sudah mendidik anak saya dengan baik, saya doakan semoga kebaikan selalu ada pada Ustadz.”
            “Amin.”

            Wali murid terus berdatangan, matahari masih malu-malu untuk bersinar, hujan masih saja dengan rinainya yang lembut. Setelah semuanya selesai, ingatanku kembali ke beberapa bulan yang lalu, saat pertama aku menjadi wali kelas mereka. Seorang wali murid datang menemuiku dengan mata yang berkaca-kaca. Kulihat air mata bahagia di ujung matanya yang merah. Sambil terbata-bata, ia berucap.
            “Terimakasih, Ustadz. Sekarang anak saya sudah semakin mandiri, dia sudah rajin shalat lima waktu, sudah rajin tadarus Al Quran. Saya sangat bahagia sekali, terimakasih sudah membimbing anak saya dengan baik.”
            “Sama-sama, Buk. Doakan semoga saya bisa mendidik dengan baik, dan bisa menjadi teladan yang baik bagi anak-anak.”
            “Amin.”
            Begitulah, setiap pertemuan dengan wali murid, selalu ada cerita baru yang kudengar, dan aku semakin bahagia, saat tahu mereka semakin lebih baik.
¤ 
            Hingga malam menjelang, hujan semakin menderas, beberapa anak sedang chatdenganku di jejaring sosial.
            “Terimakasih hadiahnya, ya, Ustad,” tulis Aldi dalam pesannya.
            “Iya, semoga bermanfaat, ya,” balasku.
            Tidak berapa lama kemudian, Anin juga mengirim pesan padaku.
            “Terimakasih, Ustadz.”
            “Untuk apa, Mas?”
            “Hadiahnya,” tulisnya beberapa detik kemudian.
            “Sama-sama, semoga bermanfaat.”
            Aku tersenyum, saat tahu apa yang kuberikan bisa membuat mereka bahagia, dan merasa dihargai.

            Laporan perkembangan Faris sudah berada di dalam tasku, aku sengaja memberikannya langsung ke rumahnya. Tadi pagi Ibunya tidak bisa mengambil ke sekolah, karna harus menemani Faris terapi di Rumah Sakit. Sejak kemarin aku tidak bisa menemui pahlawan kecilku, karna kesibukan yang tidak bisa kutinggalkan. Dan malam ini aku kembali menemuinya, melihat senyum bahagianya yang semakin merekah, ia semakin membaik dari hari ke hari, dan aku bahagia dengan semua itu.
            Faris sedang melihat-lihat nilai yang ada di raportnya, kemudian tersenyum padaku.

            “Ini hadiah buat Faris, karna sudah menjadi anak yang baik, semoga tetap menjadi anak yang baik, ya, anak yang berbakti kepada orang tua.”
            Dengan hati-hati, ia membuka bungkus kado pemberianku, kemudian tersenyum.
            “Ustadz, terimakasih, ya,” ucapnya sambil memerhatikan sebuah notebook bermotif batik yang ada di tangannya.

            Pahlawan kecilku tersenyum manis, tidak kulihat kesedihan di wajahnya, Tuhan memang Maha hebat dengan rencana-Nya, kini Faris sudah semakin kuat menjalani semua ini dengan baik, meski ini bukanlah sebuah akhir.

            “Ini untuk Ustadz,” tiba-tiba Faris memberiku sebuah kado berukuran sedang. Ia sengaja menyimpannya di belakang tubuhnya yang ringkih, dan aku tidak menyadari itu.
            “Ini beneran buat, Ustadz?” aku menggodanya.
            “Iya, tadi setelah terapi, mampir beli ini untuk Ustadz.” Tuturnya penuh semangat.
            “Boleh Ustadz buka?”

            Ia mengangguk, dan membiarkanku membuka bungkus kado yang ada di hadapanku. Sebuah kaos bergaris hitam putih, berukuran sedang dan pas dengan ukuranku menjadi sebuah persembahan dari Faris untukku. Aku tersenyum, kemudian memeluk erat tubuhnya.

            “Terimakasih, ya, Nak.”
            “Sama-sama, Ustadz. Aku juga terimakasih, karena Ustadz sudah menjagaku dengan baik. Aku selalu bahagia, tiap kali Ustadz datang menjengukku, meski kadang Ustadz capek dengan rutinitas. Maafkan Faris, ya, kalo selama ini sering buat Ustadz tambah lelah.”

            Ia membalas dekapanku erat, kulihat bulir-bulir bahagia di ujung sana, merembesi pertahananku yang bahagia dengan perkembangannya akhir-akhir ini. Ia semakin sehat dan bahagia.

            “Sama-sama, Nak, Ustadz bahagia bisa menjadi bagian dari perjuangan Faris. Faris adalah anak yang hebat, Allah sudah memberi Faris pelajaran hidup tentang indahnya sebuah kesabaran. Seperti yang selalu Ustadz bilang, Allah tidak pernah salah dalam rencana-Nya, Ia tahu mana yang terbaik untuk Faris. Faris sudah membuktikan pada semua orang, bahwa Faris bisa bertahan, meski perjalanan ini tidaklah mudah. Faris hebat. Faris sudah membuktikan pada Ibu, bahwa Faris bisa berjuang dan bangkit kembali.” Jawabku sambil mengelus rambutnya yang mulai panjang.

            Pahlawan kecilku mengangguk, memegang erat kedua tanganku, kemudian ia berbaring, mencoba untuk istirahat dari perjalanan hari yang kadang melelahkan. Kedua tanganku berada di dalam genggamannya, diletakkannya di samping pipi kirinya, ia memegang erat-erat, seolah tidak ingin membiarkanku pergi. Esok aku akan pergi ke Bali, dan aku akan merindukan pahlawan kecil yang sekarang sedang lelap dalam tidurnya. Ia terus lelap, dan semakin lelap.

Tidurlah, Nak
Hanyutlah dalam mimpimu
Ada syukur yang kupanjatkan pada Tuhan

            Ini bukanlah sebuah akhir, ada banyak lika-liku hidup yang mungkin akan ia hadapi, tapi aku selalu percaya dengan rencana-Nya, Ia Maha tahu, mana yang terbaik bagi hamba-Nya. Semoga pahlawan kecilku tetap sabar dalam menjalani hidup. Amin

Terimakasih, Tuhan, atas karunia yang telah Engkau berikan padaku
Terimakasihku atas pelajaran hidup yang Engkau ajarkan padaku
Aku bahagia bisa menjadi bagian dari perjuangan hebatnya
Terimakasih sudah memberiku hidup dengan penuh cinta
Salam cinta untukmu, Tuhan, dariku yang mencintai-Mu
¤ 

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan