February 28, 2013

Budayakan Membaca


26 Februari 2013
Dua hari sebelumnya, saya diminta untuk menjadi pembicara di kegiatan “Wisata Buku” SD Al Irsyad 02 Purwokerto. Setelah saya membaca undangannya, tema kegiatannya sangat menarik, sama seperti hal yang sekarang sedang saya lakukan. Yaitu mengajak anak-anak untuk gemar membaca. Satu tahun terakhir, saya memang lagi semangat untuk mengajak anak gemar membaca, agar membaca menjadi budaya.

“Budayakan Membaca Untuk Mewujudkan Generasi Berakhlak Mulia”

Inilah yang menjadi tema kegiatan wisata buku yang saya hadiri. Yang menjadi peserta dalam kegiatan ini adalah murid kelas V sejumlah 149. Jujur, sebelumnya saya belum pernah mengisi kegiatan untuk anak-anak SD. Sempat nervous juga saat pertama datang. Tapi setelah melihat wajah-wajah mereka yang lucu dan  ngegemesin itu, akhirnya saya jadi percaya diri.
            Saya diminta untuk mengajak anak-anak gemar membaca dan juga menulis. Sepanjang kegiatan, saya merasakan bahagia yang sangat luar biasa, melihat antusias anak-anak bertanya banyak hal. Satu jam waktu yang diberikan terasa kurang. Saya memang tidak bisa berlama-lama, karena saya harus kembali ke SMP untuk mengajar. Tapi, setidaknya saya sudah meninggalkan jejak-jejak motivasi kepada anak-anak, agar rajin membaca.
            Membaca adalah kegiatan ringan, namun sulit untuk dilaksanakan. Orang lebih suka pergi berbelanja ke Mall, makan di restoran, ngerumpi sana-sini, dibandingkan dengan membaca. Padahal, dengan membaca kita bisa mengetahui banyak hal. Bahkan di dalam Islam, ayat pertama yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad Saw adalah sebuah perintah untuk membaca. Wahyu pertama yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad Saw adalah surat Al-‘Alaq: 1-5:
           
            “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)
           
            Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa Allah memerintahkan kita untuk membaca; membaca alam raya selaku ciptaan-Nya, mengambil pelajaran dari apa yang ada di sekeliling kita, dan tentu termasuk membaca buku-buku yang berisi tentang berbagai macam ilmu pengetahuan. Bahkan Allah sendiri menyatakan di dalam Alquran, bahwa Ia akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.
           
            “….niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah: 11)

            Saya sering memberikan tantangan kepada anak-anak,
            “Siapa yang membaca lebih dari 500 halaman/bulan, maka ustaz akan kasih hadiah.”
            Ini adalah salah satu cara saya mengajak anak untuk rajin membaca. Saya juga mengajak anak-anak untuk membuat perpustakaan mini di kelas, agar mereka terbiasa bersentuhan dengan buku.
            Bicara soal buku, saya teringat kata-kata bijak cendekiawan Ali Syariati:
            “Buku adalah seperti makanan, tetapi makanan untuk jiwa dan pikiran. Buku adalah obat untuk luka, penyakit, dan kelemahan-kelemahan perasaan dan pikiran manusia. Jika buku mengandung racun, jika buku dipalsukan, akan timbul bahaya kerusakan yang sangat besar.” Demikian singkat dan lugasnya kata-kata itu mengemukakan tentang peran penting sebuah buku.
            Tokoh lintas bangsa dan lintas waktu Cicero mengatakan  “A Room without books is like a body without a soul.” Ruangan tanpa buku/jika seseorang tidak membaca bagai badan  tanpa jiwa. Hal ini semakin menegaskan betapa pentingnya membaca. Dengan membaca, kita bisa mengerti akan banyak hal. Tidak ada orang hebat yang tidak membaca. Lihatlah pendiri bangsa ini, Bung Karno, Bung Hatta, keduanya adalah orang-orang yang dekat dengan buku.
            Banyak orang-orang hebat yang tidak menempuh pendidikan tinggi, tapi bisa menjadi tokoh hebat karena rajin membaca. Sebut saja Buya Hamka, meski tidak mengenyam pendidikan formal terlalu tinggi, tapi ia bisa menjadi seorang tokoh yang hebat. Bahkan mendapat gelar Doktor kehormatan dari universitas top dunia. Semua bermula karena ia adalah sosok yang gemar membaca. Ada banyak contoh lain, betapa membaca merupakan kunci informasi.
            Ada banyak tulisan di media massa, tentang betapa rendah minat baca orang Indonesia. Sampai ada anekdot yang membandingkan minat baca Orang Indonesia dengan Orang Jepang.
            “Kalau Orang Jepang tidur sambil membaca, sedangkan Orang Indonesia membaca sambil tidur.”
            Itu artinya begini, sesantai apa pun orang Jepang, membaca tetap menjadi satu kebutuhan. Sebaliknya, bagi kita, sesantai apapun kegiatan yang dilakukan, membaca belum menjadi suatu kebutuhan.
            Orang tua memiliki peran penting dalam menumbuhkan minat baca anak. Orang tua bisa mengajak anak-anak untuk berwisata buku ke toko-toko buku, dan membiarkan mereka memilih buku-buku kesukaan mereka, dengan tetap mengontrol buku-buku yang mereka pilih. Orang tua juga bisa menyediakan buku-buku bacaan di rumah, agar anak bisa membaca dengan santai. Atau bahkan orang tua bisa membuat jadwal khusus bagi seluruh anggota keluarga untuk membaca bersama-sama, mendiskusikan hasil bacaan dan lain-lain. Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mendorong anak agar gemar membaca.
            Sesekali, cobalah pergi ke perpustakaan daerah, perpustakaan umum, atau perpustakaan-perpustakaan yang ada di sekitar kalian. Coba perhatikan, ada berapa banyak orang yang mengunjungi perpustakaan tersebut. Saya sering pergi ke perpustakaan daerah dan menemukan betapa sedikit orang-orang yang membaca buku disana. Bandingkan dengan tempat-tempat perbelanjaan, penuh sesak orang-orang yang berbelanja. Wisata buku masih belum banyak dikenalkan orang tua pada anak.
            Kalian pasti pernah melihat kuis yang berhadiah 1 miliar, yang dipandu oleh Tantowi Yahya. Selama bertahun-tahun, Tantowi Yahya memandu acara kuis tersebut, hanya ada dua orang yang mampu membawa pulang uang sebesar 500 juta; Guru Pesantren dan Loper Koran.
            Kalian pasti bertanya-tanya, bagaimana bisa seorang loper koran bisa memenangkan sebuah kuis yang menuntut pesertanya memiliki pengetahuan yang luas? Jawabannya ternyata sederhana, seorang loper koran yang bernama Agus Mulyadi ini adalah orang yang  “gemar membaca.” Kegemarannya membaca membuat dia berhasil memenangkan uang senilai 500 juta.
            Jadi, apa lagi yang kalian tunggu? Mari ajak anak-anak kita gemar membaca. Beri penjelasan sederhana kepada mereka betapa pentingnya membaca. Jika generasi muda sudah menjadikan membaca sebagai budaya, maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang hebat, yang penuh dengan orang-orang yang memiliki pengetahun yang luas.
           

Love Actions


 24 Februari 2013
Melihat orang lain tersenyum karena kita, tentu melukiskan bahagia di dalam hati. Melihat mereka tertawa, ikut merasakan kebahagiaan bersama kita, tentu meninggalkan benih-benih bahagia yang memenuhi rongga dada. Ada bahagia saat melihat orang lain tersenyum karena kita. Saling berbagi kepada mereka yang membutuhkan uluran tangan kita, tentu memiliki kesan tersendiri dalam hidup kita. Bisa berbagi bahagia bersama mereka yang tidak seberuntung kita, merupakan pekerjaan yang sangat mulia.
            Hari ini, saya mengajak anak-anak untuk ikut kunjungan ke Pesantren An-Nur, yang merupakan pesantren yatim, piatu dan dhuafa. Saya mewakili @bflactprwokerto melakukan kegiatan “love actions”. Love Actions adalah Aksi berbagi kasih sayang kepada Anak-anak panti asuhan. Berbagi cerita, berbagi keceriaan juga canda tawa, berbagi pelukan, berbagi semangat, berbagi rejeki, dan berbagi semua yang positif.
            Saya sengaja mengajak anak-anak untuk mengikuti kegiatan ini agar mereka mengerti akan kehidupan anak-anak yang berada di pesantren ini. Saya ingin mengajarkan kepada anak-anak betapa indahnya berbagi. Saya ingin menanamkan nilai-nilai sosial pada anak-anak, sehingga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang peduli dengan orang-orang yang ada di sekeliling mereka.
            Ada 11 anak yang ikut dalam kunjungan sosial ini; Azzam Helmi Muflih, Farrel, Patrem Sakti Mangliawan, Abdullah Fatih, Akmal, Barkah, Abror, Fuad, Ryan, Adam, dan Rizki Adi.


            Kami berkumpul di sekolah pukul 08.30 pagi. Setelah semuanya berkumpul, kami berangkat menuju lokasi dengan menyewa sebuah angkutan umum. Kami berangkat dengan selukis senyum, berharap apa yang akan kami lakukan hari ini bisa berjalan lancar.
            Anak-anak membawa pakaian bagus pakai, buku-buku bacaan, dan uang tunai untuk anak-anak yang di pesantren. Sedangkan saya, sudah terlebih dahulu membeli beberapa keperluan pesantren dengan donasi yang masuk ke rekening saya. Saya mengajak teman-teman yang menjadi follower saya di twitter untuk ikut berpartisipasi dalam kegaian love actions ini. Kegiatan ini sebenarnya mau dilakukan serentak di 11 kota di seluruh Indonesia pada tanggal 17 Februari lalu. Akan tetapi, berhubung pada tanggal 17 adalah pemilihan Bupati Banyumas, makanya kegiatan ini diundur.
            Saat sampai di pesantren, kami disambut langsung oleh Ust. Achmad Fasihin, selaku pimpinan pesantren. Sambil menunggu beberapa teman yang lain datang, kami berbincang sejenak. Saya melihat anak-anak panti sedang membersihkan aula, karena baru selesai acara maulib Nabi Muhammad Saw.
            Setelah semua kakak-kakak dari @bflactprwokerto datang semua, acara pun dimulai. Anak-anak di Ponpes An-Nur sudah duduk rapi di dalam Aula. Murid-murid saya juga ikut bergabung bersama mereka. Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh santri Ponpes An-Nur, dilanjutkan dengan sambutan dari saya, selaku perwakilan dari @bflactprwokerto, kemudian sambutan dari Ust. Achmad Fasihin selaku Pimpinan Ponpes.
            Acara dilanjutkan dengan ramah tamah. Kak Cita penuh semangat memandu acara ramah tamah. Kak Cita ini pintar dongeng, loh. Kami terpingkal-pingkal mendengar dongeng dari Kak Cita yang merupakan seorang penyiar salah satu radio di Purwokerto. Setelah selesai mendengarkan dongeng, selanjutnya adalah games dan lagi-lagi riuh renyah tawa anak-anak memenuhi aula. Ah, bahagia melihat mereka tertawa lepas. Bahagia melihat mereka menikmati rangkaian acara hari ini. Setelah selesai games, selanjutnya adalah penyerahan bantuan secara simbolis.
            Semoga apa yang kami berikan hari ini bisa memberi manfaat bagi pesantren. Kami sudah menabur benih-benih cinta di pesantren ini. Berharap akan ada pertemuan selanjutnya, dengan suasana yang berbeda, namun dengan semangat yang tetap sama. Semangat untuk berbagi kebahagiaan bersama mereka.
            Saya sangat senang melihat murid-murid antusias mengikuti rangkaian acara kunjungan sosial ini.
            “Gimana? Kalian seneng, kan diajak kesini?”
            “Seneng, Ustaz. Jadi tahu lebih banyak tentang kehidupan anak-anak disini. Kunjungan selanjutnya jangan lupa diajak lagi, ya, Ustaz,” jawab mereka mantap. Saya tersenyum mendengar jawaban itu.
            “Insya Allah. Semoga semangat berbagi ini tetap ada.”
            Saya dan anak-anak juga sempat melihat keadaan kamar tidur anak-anak yang ada di pesantren. Kasihan melihat kondisi kamar mereka yang sangat memprihatinkan. Saya menatap lekat-lekat wajah anak-anak yang dipanti. Wajah anak-anak yang masih sangat polos, namun mereka tetap melukis senyum di wajah. Di antara mereka, ada yang masih belum sekolah, bahkan mungkin mereka belum mengerti arti kehilangan orang tua mereka. Beberapa dari mereka masih sangat kecil. Sebagian yang lain ada yang sudah sekolah di SMP/MTs dan SMA.

          
            Lepas shalat dzuhur berjemaah, kami berpamitan. Kami meninggalkan jejak-jejak kasih, berharap apa yang kami lakukan ini bisa membuat mereka mengerti bahwa kami peduli dengan mereka.
            “Ustaz, kita berkunjung kesini lagi, ya, nanti.” Ucap Akmal.
            “Insya Allah,” jawab saya sambil tersenyum.
            Berikut komentar anak-anak setelah selesai kunjungan ke pesantren An-Nur:
            “Kunjungan ke Pesantren An-Nur sangat menyenangkan, karena bisa menghibur anak-anak pesantren.” (Abdullah Fatih)
            “Seru dan menyenangkan, banyak pelajaran yang bisa didapat.” (Azzam)
            “Dengan apa yang saya lihat, saya semakin bersyukur dengan apa yang saya dapat sekarang; kasih sayang, fasilitas, dan lain-lain.” (Adam)
            “Saya merasa senang, karena saya dapat mengambil pelajaran bahwa apa yang Allah berikan harus disyukuri. Ada banyak orang yang saat ini tidak bersyukur akan anugerah yang Allah berikan.” (Fachriansyah)

Keesokan harinya, banyak anak-anak yang ingin tahu tentang kunjungan saya dan beberapa anak ke Pesantren An-Nur, ada yang sedikit ngambek karena tidak diajak, ada yang sama sekali tidak tahu tentang rencana kunjungan dan sangat menyesal tidak ikut, atau bahkan ada yang ingin ikut dikunjungan selanjutnya.
            “Kapan ada kunjungan sosial lagi, Ustaz? Saya mau ikut.” Ucap beberapa murid.
            Saya tersenyum melihat semangat mereka, semangat untuk berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan bantuan. Saya bangga pada mereka, meski masih SMP, tapi jiwa sosial mereka sudah mulai tumbuh.
            Saya kadang jenuh mendengar mereka yang hanya bisa berkomentar banyak hal tentang keadaan bangsa ini. Tentang kemiskinan yang meraja lela, tentang anak-anak yang berada di jalanan, dan lain-lain. Saya jenuh mendengar semua itu. Jenuh karena nyatanya banyak yang hanya pandai berkomentar, tapi tidak melakukan apa-apa untuk merubah semua itu.
            Saya sering bilang ke anak-anak, “tidak perlu banyak komentar tentang  kemiskinan yang ada di bangsa ini, lakukan saja apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka. Sekecil apa pun yang kita berikan kepada mereka akan sangat berarti.
            Berhenti mengecam kegelapan. Nyalakan lilin. Ini negeri besar dan akan lebih besar. Sekedar mengeluh dan mengecam kegelapan tidak akan mengubah apapun. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu.” (Indonesia Mengajar)
             Iya, tidak perlu sumpah serapah engkau ucapkan tentang negeri ini. Mari lakukan sesuatu untuk mereka. Ada banyak anak-anak yang membutuhkan uluran tangan kita. Mari beri mereka semangat, agar mereka tetap bisa bermimpi besar. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mereka.
            Akhir pekan, kadang saya berkeliling ke desa, bertemu dengan anak-anak yang ada di sana, berbagi cerita, mendongeng, dan berbagi buku-buku bacaan. Saya bahagia melakukan itu semua. Untuk saat ini, belum banyak yang bisa saya lakukan untuk mereka, putra-putri bangsa ini. Tapi setidaknya saya sudah memulai untuk peduli dengan mereka. Dan saya berharap, saya bisa melakukan sesuatu yang lebih besar untuk mereka.
            Satu mimpi yang sekarang sedang saya perjuangkan. Saya ingin memunyai “rumah baca” untuk anak-anak yang ada di pedesaan. Saya suka melihat anak-anak hanyut dalam bacaan mereka. Saya ingin sekali memiliki rumah baca untuk mereka. Semoga apa yang saya impikan bisa terwujud. Mari lakukan sesuatu, mari berbagi.