March 13, 2013

Arti Idola



“Tidak ada teladan sebaik Rasulullah Saw. Barang siapa yang meneladani Rasulullah, maka dia akan menjadi teladan bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya.”

Apakah kalian mengidolakan seseorang? Penyanyi? Aktor? Pemain bola? Atau mungkin yang lain. Coba perhatikan anak-anak zaman sekarang, lihatlah bagaimana mereka mengartikan “idola”, lihatlah bagaimana mereka melakukan banyak hal demi sang idola. Percaya atau tidak, ada orang yang menangis histeris saat melihat idolanya berada di hadapannya. Ada yang rela berdesak-desakan demi bersalaman dengan sang idola. Ada yang rela datang ke pertujukan sang idola, meski jarak yang ditempuh cukup jauh. Itulah yang terjadi pada anak-anak zaman sekarang.
            Coba perhatikan di stasiun televisi, di acara musik, ada banyak anak-anak remaja yang menangis, berteriak histeris saat bertemu dengan idolanya. Ada juga yang bergaya layaknya sang idola, mulai dari gaya rambut, gaya berpakaian, dan lain sebagainya.
            Seingat saya, seumuran mereka, saya tidak pernah melakukan hal seperti itu. Kalau pun ada penyanyi yang saya sukai, atau aktor yang saya kagumi aktingnya, atau cendekiawan muslim yang saya kagumi keluasan ilmunya dan lain sebagainya, saya tidak pernah bertindak seperti itu. Bagi saya, bisa menikmati karya mereka sudah cukup. Saya tidak merasa wajib untuk datang pada setiap pertunjukan mereka, saya tidak merasa rugi tidak datang pada launching album mereka dan lain-lain. Saya tidak pernah memaksakan diri untuk melakukan itu semua. Dan sebenarnya saya tidak pernah mengidolakan siapapun.
            Kecintaan anak-anak remaja zaman sekarang dengan sang idola, kadang melebihi batas kewajaran. Bahkan mereka sampai hafal semua hal yang berkaitan dengan idola.
            Murid-murid saya di sekolah, kebanyakan memang fans berat sepak bola, entah itu Manchester United, Milan, dan lain sebagainya. Saya tidak terlalu paham tentang dunia bola. Saya sama sekali tidak melarang anak-anak untuk menyukai grouf yang mereka idamkan. Sama sekali tidak melarang. Namun saya sering melihat banyak hal yang berlebihan yang mereka lakukan. Sehingga keseharian hanya berbicara tentang bola, bola, bola dan bola. Pagi hari, saat bertemu di sekolah, topik pembicaraan adalah tentang pertandingan sepak bola, siang hari juga demikian, dan terus seperti itu.
            Saya memang tidak pernah merasakan gila bola, yang rela bangun malam demi melihat pertandingan tim kesukaan. Saya sama sekali tidak pernah merasakan itu, karena saya tidak menyukai bola. Dan jangan sampai saya menjadi orang yang rela melakukan kegilaan-kegilaan itu.
            Yang ingin saya tekankan disini adalah, jangan sampai kecintaan kita kepada sang idola mengalahkan kecintaan kita kepada Allah Swt selaku Tuhan semesta alam ini. Jangan sampai hanya gara-gara bola, kita rela bangun di tengah malam dan saat subuh menjelang kita terlelap tidur karena mengantuk. Jangan sampai kita bangun malam hanya sekedar untuk menyaksikan pertandingan tim yang diagungkan, sementara kita tidak pernah bangun malam, membasahi anggota badan kita dengan air wudhu, dan menghadap Allah Swt, bermunajat kepada-Nya. Jangan sampai kita hanya menjadi budak dari kecintaan kita pada sesuatu.
            Cinta kepada Allah harus menjadi nomor satu. Jika kita rela berjuang, rela berdesak-desakan demi bertemu dengan idola, demi menyaksikan pertandingan tim kesukaan, dan lain-lain, coba tanyakan pada diri, pernahkah kita merasakan kecintaan yang sama saat ingin menghadap Allah? Atau bahkan ada yang rela meninggalkan shalat demi menyaksikan pertandingan tim yang disukai? Naudzubillah.
            Coba tanyakan lagi, pernahkah kita menyengaja datang ke masjid, meski adzan belum berkumandang, berdzikir terlebih dahulu sambil menunggu masuknya waktu shalat? Pernahkah kita merasakan kekhawatiran yang sama saat kita tidak bisa melaksanakan shalat berjemaah di masjid, layaknya khawatir kehabisan tiket karena tidak bisa menyaksikan pertandingan bola? Pernahkah? Coba Tanya lagi. Mungkin cinta kepada makhluk melebihi kecintaan kita kepada Allah.
            Miris melihat banyak anak-anak remaja yang mengenakan jilbab, kemudian rela memeluk idolanya, bahkan ada yang sampai mencium sang idola. Lantas dimana letak ajaran yang terkandung dalam sehelai kain yang menutupi kepala itu? Benarkan idola mampu meruntuhkan keimanan? Lantas apa arti hijab yang kalian kenakan?
            Anak-anakku, ada banyak hal lebih penting yang bisa kalian lakukan selain menjadi gila karena idola, karena tim bola kesukaan kalian, karena aktor yang kalian puja dan lain-lain. Jika memang kalian menyukai semua itu, jangan sampai menjadikan kecintaan kepada makhluk mengalahkan kecintaan kita kepada Allah Swt yang telah memberikan kita anugerah dalam tiap embusan nafas kita. Jangan sampai kalian lupa, ada ayah dan ibu yang di dekat kalian, yang seharusnya kalian cintai sepenuh hati, bukan malah mengabaikan mereka karena kecintaan kalian pada sang idola.
            Di dalam Alquran, Allah sudah menjelaskan bahwa Rasulullah Saw adalah teladan yang seharusnya kita jadikan teladan dalam kehidupan kita. Rasulullah seharusnya menjadi orang yang kita cinta karena keluhuran budi pekertinya. Allah menjelaskan sendiri bahwa Rasulullah adalah makhluk ciptaan-Nya yang paling baik akhlaknya. Sudahkah kita mencintai Rasulullah? Atau bahkan kita sama sekali tidak menjadikan Rasulullah teladan dalam hidup kita sehari? Naudzubillah.

            “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi orang yang berharap kepada Allah, hari akhir dan bagi orang yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
           
            Cinta kepada makhluk tidaklah abadi, cinta kepada Allah lah yang abadi. Kecintaan kita kepada Allah akan membuatmu merasakan ketenangan di dalam hati. Hakikatnya cinta mampu membuat kita semakin dekat dengan-Nya, bukan malah menjauh dari-Nya.

Seharusnya


Ironis memang, ketika mengetahui generasi muslim lebih paham biograpi penyanyi favoritnya dari pada biografi nabinya.
 Ironis memang, ketika melihat generasi muslim lebih memilih terlambat shalat dari pada terlambat menonton pertandingan sepakbola.
 Ironis memang, ketika mengetahui bahwa berbicara tentang sang idola lebih menarik bagi generasi muslim ketimbang menghabiskan waktu membacai kalam Allah.
Ironis memang, ketika cinta kepada Tim sepakbola kesukaannya melebihi kecintaan kepada Allah Swt yang selalu bermurah hati memberi anugerah.
Ironis memang, ketika generasi muslim memilih untuk acuh dan menjauh saat adzan berkumandang, bukan malah berhenti dari aktifitas dan bersiap diri menghadap Allah Swt.
Ironis memang, ketika generasi muslim rela bangun malam demi melihat pertandingan sepakbola, namun enggan bangun malam demi bersujud di hadapan Allah Swt. 
Sungguh, seharusnya kecintaan kepada makhluk tidak melebihi kecintaan kepada Allah Swt, Tuhan yang telah menciptakan alam raya, yang telah memberi kita begitu banyak nikmat.