June 14, 2013

Curcol Ustad Galau


Guru yang masih membujang itu nggak cuma gue, ada banyak rekan guru lain yang sama nasibnya kayak gue, hidup membujang. Tapi kayaknya yang paling sering galau itu cuma gue. Sejak dari orok gue memang sudah sering galau. Ditambah lagi gue tinggal di kompleks dimana gue satu-satunya yang masih belum menikah. Tambah ngenes, nggak tuh? Seluruh tetangga gue sudah berkeluarga semua. Sedangkan gue hanya seorang diri menghuni rumah yang lebih dari kata ombreng untuk dihuni seorang diri. Kadang pengen deh nyewa genderuwo untuk nemenin gue di rumah. Ya kali aja genderuwo bisa jadi teman sejati gue di kamar #kumat.
            Nggak cuma sebatas itu kegalauan gue, ada lagi yang paling ngeselin bagi seorang bujangan seperti gue ini. Kalian mau tahu? Mari gue ceritakan secara runtut. Jangan lupa siapkan cemilan, air minum, kopi, dan sekotak tissue. Kali aja kalian bakalan laper dan terharu membaca curcol ustad galau kayak gue. Haha
            Jadi ceritanya begini, satu kali dalam seminggu, ada kelompok halaqah, semacam kelompok belajar sesama rekan guru yang dipimpin oleh seorang ustad senior. Gue sih seneng bisa kembali belajar melalui kelompok halaqah ini. Tapi yang gue sebel itu (tarik nafas dalam-dalam), kelompok gue dihuni oleh ustad-ustad yang masih bujangan semua. Keren, nggak tuh? Kayaknya kami disuruh galau berjamaah deh.
            Lebih parah lagi, ada ustad yang selalu membahas tentang nikah saat mengisi kajian di kelompok kami. Nggak peduli materinya tentang apapun, pasti selalu bisa nyerempet ke hal-hal yang berkaitan dengan nikah. Ya bagus sih, untuk memotivasi bujang galau kayak gue ini untuk segera mengakhiri masa lajang. Tapi masalahnya kalo hampir setiap pertemuan selalu dibahas, jadi males banget dengernya. Sumpah.
            Kelompok gue adalah kelompok ustad-ustad yang masih sendiri, masih sering galau, masih sering kesel, masih sering komentar berbagai macam hal saat sang guru mengisi kajian di kelompok kami. Dan status single kami menjadi bahan omongan yang sangat menarik bagi sang guru. Meski pembahasan materi berkaitan dengan shalat sunnah misalkan, tapi ujung-ujungnya tetap aja ngebahas nikah. Nggak tahu dari mana sinyalnya kok bisa nyambung ke masalah nikah.
            Ada lelucon yang sering keluar dari kalangan senior untuk junior macam gue ini. Kalo bujangan yang ngomong, sering dikomentarin gini;
            “Ah nggak valid tuh, nikah dulu baru ngomong dan bisa dipercaya.”
Ergh…kami pun tergelak.
Tapi kadang kami juga usil ngebalas ledekan sang guru, kalo beliau sering lupa dengan materi yang sedang dibahas, kami dengan santai bilang gini;
“Pengaruh usia tuh ustad, jadinya pikun.”
Ucapan itu akan diikuti derai tawa seluruh ustad yang ada di kelompok halaqah.
Meski kadang kesel karena sang guru selalu ngebahas tentang nikah dan menganjurkan kami untuk segera menikah, tapi gue mulai terbiasa dan menikmati semua itu. Kerennya lagi, udah banyak yang termotivasi untuk menikah. Sempat kaget juga waktu teman-teman rekan guru satu-persatu mulai menanggalkan status jomblo akut yang selama ini ada. Nah bagaimana dengan gue? Nampaknya gue masih setia dengan status jomblo akut ini. Masih belum pengen pisah dengan yang namanya status single #gigitpulpen.
Pernah pada suatu malam, saat sang guru tidak bisa hadir untuk mengisi kajian di kelompok kami, jadilah kami sekelompok ustad-ustad galau yang curhat satu sama lain haha. Gue malah asyik banget tuh curhatnya. Berasa kayak lagi berhadapan dengan biro jodoh. Setelah sesi gue curhat, gue iseng nanya ke teman yang ada di sebelah gue;
“Antum memang belum pengen nikah atau memang belum ada calon, Ustad?” Kejam banget nih pertanyaan gue. Dalem banget. Yang ditanya cuma nyengir doang.
 “Itu rahasia, Ustad,” ujar salah satu ustad.
Nggak berhasil bertanya dengan yang ini, gue nggak putus asa. Gue nanya ke rekan guru yang lain dengan pertanyaan yang sama. Gue nanya ke Ustad Andika. Sepertinya gue niat banget ingin tahu alasan mereka masih betah dengan kesendirian.
“Saya itu udah pengen banget nikah, Ustad, tapi belum ada calonnya,” jawab Ustad Andika dengan suara pelan.
Hening. Suasana mendadak hening. Angin tiba-tiba berhenti berembus, lampu tiba-tiba mati semua, hujan tiba-tiba deras banget (ini mulai lebay banget) Entah karena terharu dengan jawaban barusan atau memang lagi pada mikir gimana caranya ustad yang satu ini bisa segera mendapatkan calon. Eh tapi boro-boro nyariin dia calon, lah gue sendiri aja masih belum nemu juga #kode.
“Antum sendiri kenapa belum menikah, Ustad?” arghhh kenapa nanya balik? Haha gue cuma senyum-senyum nggak jelas saat pertanyaan itu ditujukan ke gue.
Di kelompok gue itu ada sembilan orang ustad. Satu orang sudah menikah, sedangkan delapan orang lainnya masih bujangan semua. Tidak lama lagi tiga orang ustad akan segera melangsungkan pernikahan. Itu artinya hanya ada lima orang lagi yang mempertahankan status jomblo akut ini, dan salah satu dari lima orang itu adalah gue. Seandainya gue salah satu dari tiga orang yang akan segera menikah itu #ngarep.
Waktu gue tanya ke teman-teman yang akan segera menikah, motivasi terbesar mereka untuk segera menikah ternyata juga dapat dari sang guru yang sering banget ngomongin masalah nikah saat kajian sedang berlangsung. Mendengar jawaban itu, gue akhirnya memutuskan untuk membuka hati gue untuk menjadikan itu sebagai pemicu untuk memperbaiki diri, mempersiapkan diri, menyiapkan mental untuk menikah dengan seseorang yang akan menjadi tempat berlabuhnya sang hati. Amin.
Ngomongin masalah jodoh, kita nggak pernah tahu, Bro. Meski lo suka banget ama anak tetangga lo, ama anak pembokat lo, anak bos lo de el el, kalo bukan jodoh ya nggak bakalan nikah juga. Tapi kalo memang jodoh, meski calon istri lo di dunia antah berantah sono, kalo memang jodoh pasti bakalan ketemu juga, kok. Jadi nggak usah khawatir. Emang dimana sih dunia antah berantah? Sudah, anggap saja ada.
Di tempat gue ngajar ada banyak juga kok ustadzah yang masih sendiri. Jadi gue sering iseng banget ngejodohin ustad dengan ustadzah yang masih sama-sama single. Tapi nggak pernah berhasil. Kayaknya gue memang nggak bakat buka biro jodoh. Selain itu gue juga pernah iseng ngomong ke teman kayak gini;
“Ustad, coba antum rajin-rajin berkunjung ke rumah murid, siapa tahu ada yang punya kakak perempuan cantik. Siapa tahu dia lah jodoh sampean.”
Teman gue biasanya malah nyuruh gue melakukan apa yang baru saja gue omong ke dia. Yah begitulah resiko omongan gue, belum valid kalo belum menikah #liriksenior.
Seperti liriknya lagu Afgan, Gr…rrr.. ternyata gue sering dengerin lagu Afgan akhir-akhir ini. Soalnya lagu ini kayaknya lagi ngehit banget di radio. Hampir setiap hari lagu ini mengudara di radio yang biasa gue dengerin kalo berangkat sekolah.

Jika aku memang bukan jalanmu
Kuberhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Kukan memilikimu
Jodoh pasti bertemu

Jadi nggak usah panik, Bro. Takdir kan menjawab siapakah yang akan menjadi pasangan hidup lo. Yang terpenting kita mau berusaha. Kalo mau dapat pendamping hidup yang baik, ya silahkan perbaiki diri lo dulu. Nggak usah berharap bakalan dapat pendamping hidup yang baik, kalo lo sendiri nggak berusaha menjadi orang yang baik.

Maaf, gue jadi ceramah gini ujung-ujungnya. #kalem

Purwokerto Kota Satria


Satu bulan pertama di Purwokerto gue memang selalu pake sepeda. Meski sepeda ini adalah hasil minjem. Sepeda minjem menjadi satu-satunya alat transportasi yang gue gunakan menjelalah Purwokerto. Sering nyasar nggak jelas, pernah jatuh ke selokan, pernah dikerjain sepeda yang tiba-tiba lepas rantainya padahal udah mau maghrib, pernah dimarahin orang gara-gara salah jalan, pernah mendorong sepeda pas jalanan menanjak terjal dan banyak lagi pengalaman yang gue dapatkan selama bersepeda.
            Di antara sekian banyak pengalaman itu, yang paling gue ingat adalah saat gue baru sadar bahwa dompet gue hilang. Setelah selesai sepedaan biasanya gue istirahat sebentar, kemudian mandi dan langsung menuju ke masjid dekat asrama. Gue jadi alim ceritanya. Setelah shalat isya, gue mau beli makan dan pusing tujuh keliling nyari dompet nggak ketemu-ketemu. Hingga malam semakin larut, gue masih nggak bisa menemukan dompet ajaib gue itu. Padahal gue udah laper banget.
            Seandainya dompet gue bisa di miss call, gue pasti nggak segalau ini, haha
            Karena nggak tahu dimana letak dompet gue, akhirnya gue galau dan curhat di jejaring sosial sambil menahan perut yang sudah mulai teriak meminta asupan makanan. Pada saat itu gue masih aktif di facebook dan belum punya akun twitter. Besok paginya gue baru sadar, kayaknya dompet gue jatuh pada saat keliling bersepeda. Gue pasrah sekaligus bingung. Gue bingung karena seluruh uang ada di dalam dompet, seluruh kartu ATM juga ada di dalam dompet (ceritanya gue punya beberapa kartu ATM yang semuanya kosong #plak). Seluruh identitas gue juga di dalam dompet. Kalian bisa bayangkan betapa pusingnya gue nggak punya duit, nggak punya identitas dan nggak punya pacar. Eh maksud gue nggak punya ATM.
            Setidaknya kalo kartu ATM gue nggak ikutan hilang, gue bisa mengambil uang dan gue bakalan bebas dengan yang namanya galau akut ini. Tapi masalahnya seluruh kartu ATM gue kabur ke dunia antah berantah bersamaan dengan dompet berwarna coklat tua lusuh itu.
            Pukul sembilan pagi gue langsung pergi ke kantor polisi terdekat, melaporkan tentang kehilangan yang baru gue alami. Yang jelas gue bener-bener melaporkan bahwa gue kehilangan belahan jiwa gue yang pergi membawa hati gue yang tinggal separoh, erghh mulai kumat nih gue. Maksud gue, gue melaporkan bahwa gue kehilangan dompet.
            “Ada surat keterangan domisili, Mas?” Pak Polisi nanyain surat keterangan domisili.
Nah lo, mampus gue. Gue aja baru sebulan di Purwokerto, jadi gue nggak kenal dengan yang namanya pengurus desa. Setelah bertanya ke sana-sini, akhirnya gue tahu bahwa tempat gue minta surat keterangan domisili adalah atasan gue sendiri, haha parah nih. Kok bisa gue sampai nggak tahu. Surat domisili akhirnya gue dapatkan dengan mudah. Hanya membayar uang sebesar lima ribu rupiah hasil minjem (lagi).
Setelah surat keterangan domisili dapat, gue langsung mengayuh sepeda ke kantor polisi. Gue minta surat keterangan kehilangan yang akan gue jadikan sebagai pengantar untuk membuat kartu ATM lagi. Karena gue nggak bawa kartu tabungan, dan nggak punya KTP. Jadi satu-satunya jalan ya minta surat keterangan kehilangan dari polisi. Begitulah yang gue yakini.
Matahari sudah mulai terik banget, surat keterangan polisi akhirnya selesai dibuat. Gue langsung menuju Bank BRI yang kebetulan berada pas di depan kantor polisi. Tapi lagi-lagi gue harus bersabar, karena BRI yang gue datangi tidak bisa melakukan pembuatan kartu ATM. Gue harus ke BRI cabang Purwokerto. Masih dengan penuh kesabaran, gue pergi mengayuh sepeda menuju ke Bank BRI cabang yang berada tidak jauh dari alun-alun kota.
Baju gue udah basah karena keringat. Pas masuk ke dalam Bank, jadi segerrrrr. Gue langsung mengambil nomor antrian, dan duduk manis di kursi yang sudah disediakan bagi nasabah. Setelah sekian lama ngantri dan mulai jenuh, nomor urut antrian gue akhirnya disebut. Gue langsung melenggang patah-patah haha, maksudnya gue langsung menuju ke counter kemudian menceritakan perasaan gue yang sesungguhnya bahwa gue jatuh cinta. Lah ini Bank apa biro jodoh sih? #kalem
Gue menceritakan kepada pihak Bank bahwa gue baru saja kehilangan kartu ATM dan gue bermaksud membuat kartu ATM baru.
“Ada KTP, Mas?”
Gue cuma bisa menggelengkan kepala penuh khusyu.
“Ada buku tabungan, Mas?”
Lagi-lagi gue cuma bisa menggeleng penuh khusyu dan khidmat layaknya sedang berhadapan dengan calon mertua yang galaknya minta ampun. Kesel. Apes banget gue.
“Maaf, Mas. Kami tidak bisa melakukan proses pembuatan kartu ATM baru tanpa adanya kartu identitas dari nasabah yang bersangkutan. Mas bisa minta surat keterangan domisili sebagai pengganti kartu identitas pribadi untuk bisa mengajukan pembuatan kartu ATM baru.”
“Tadi saya sudah membuat kartu domisili, Mbak. Tapi untuk meminta surat keterangan kehilangan dari polisi.”
“Baik kalau begitu. Silahkan buat kembali surat keterangan domisili dan silahkan datang lagi kesini jika surat keterangan domisili sudah ada.”
Gue keluar Bank sambil menahan nafas yang mulai sesak. Pegel juga harus bersepeda kesana-kemari, pergi ke rumah pengurus desa untuk membuat surat keterangan domisili, ke kantor polisi, ke Bank BRI dan sekarang harus kembali ke rumah pengurus desa untuk meminta surat keterangan domisili. Sumpah, gue rasanya mau pingsan saking capeknya bersepeda di bawah terik matahari yang panasnya bisa menggelapkan muka gue yang putih seperti bintang korea ini haha. Kalo ada duit, gue bisa saja naik taksi atau naik angkutan umum lainnya. Masalahnya gue nggak punya duit sama sekali. Gue juga belum makan dari tadi malam. Muka gue pucat banget. Sepeda minjem ini menjadi satu-satunya penolong meski harus bersusah payah di bawah terik matahari yang panasnya sampai ubun-ubun. Dengan penuh semangat perjuangan kemerdekaan 1945, gue bersepeda penuh semangat meski panas menerpa wajah.
“Bukannya tadi sudah membuat surat keterangan domisili, Mas?”
Mampus gue, gimana kalo ternyata nggak boleh membuat surat keterangan domisili lagi? Apa kata Ibu gue nantinya kalo gue nggak makan selama seminggu karena nggak punya duit? Apa kata Mak Erot nantinya kalo sampai orang-orang tahu bahwa gue adalah penyusup gelap tanpa identitas? hehe.
Fokus Arian…Fokus.
Setelah gue ceritakan bahwa kartu domisili ini sebagai syarat membuat kartu ATM baru, akhirnya gue bisa mendapatkan surat itu dan langsung kabur menuju Bank BRI cabang Purwokerto. Piuhhh……akhirnya.
Senyum gue lebar banget pas masuk ke dalam Bank. Senyum penuh rasa kemenangan bahwa gue bisa ngambil duit dengan nyaman di ATM, senyum bahagia karena gue bisa makan enak lagi, senyum sumringah kayak cinta gue baru saja diterima oleh si dia yang sudah lama gue taksir #kumat. Gue berharap proses pembuatan kartu ATM ini bisa semulus jalan tol tanpa hambatan.
Ternyata apa yang gue harapkan memang terwujud dengan mudahnya. Setelah pergi bolak-balik ke Bank, setelah dua kali minta surat keterangan domisili, setelah berpeluh di bawah teriknya matahari, akhirnya gue bisa mendapatkan kartu ATM baru dengan begitu mudahnya. Alhamdulillah.
Gue mengambil satu pelajaran berharga bahwa perlu kerja keras untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Semuanya akan menjadi sia-sia, jika kita hanya berharap ingin mencapai sesuatu tanpa pernah mencoba untuk meraihnya. Ibarat sebuah impian, ia hanya akan menjadi mimpi jika kita tidak bangun dan berusaha semaksimal mungkin untuk menggapai impian itu.
 So, selalu ada hasil pada sebuah kesungguhan, kawan. Jangan menyerah.