June 15, 2013

Galau di Malam Minggu

Edisi narsis :p 

Kalo pas malam minggu kelabu datang, gue biasanya terkena penyakit galau dadakan (sebenarnya memang hampir tiap hari sih gue galau). Kalo udah galau, gue biasanya buka twitter, memantai lalu lalang di timeline yang dipenuhi oleh para jomblowan dan jomblowati akut. Gue mungkin satu-satunya guru di sekolah ini yang paling suka berpetualang di jejaring sosial, terutama twitter. Gue juga satu-satunya yang suka berkicau di blog pribadi, meski cuma iseng nulis yang kadang nggak jelas. Gue juga yang paling suka galau di setiap malam minggu. Kayaknya gue serba paling dalam hal galau menggalau, apalagi narsis #kalem
            Ah iya, kata beberapa followers gue, gue itu guru yang narsis banget. Kalian tahu kenapa? Karena gue suka share foto-foto gue bersama murid-murid. Gue sih santai aja menanggapinya. Selagi gue narsis nggak mengganggu keutuhan rumah tangga mereka, ya, nggak apa-apa juga, kan?  Kecuali kalo saat melihat foto-foto gue, keutuhan rumah tangga mereka bakalan berada di ujung tanduk, mungkin gue bakalan berhenti narsis. Itu cuma persepsi mereka saja sih menurut gue. Kadang masyarakat memang terlalu berlebihan dalam menilai orang lain. Apa salahnya kalo gue suka difoto? Mungkin ini minat yang baru gue sadari akhir-akhir ini hehe
            Hampir setiap malam minggu, gue biasa membuat puisi, kadang-kadang banyak di retweet ama murid-murid gue dan akan banyak juga yang mention gue;
“Ustad Arian lagi galau.”
Biasanya gue balas komentar mereka dengan alasan lagi belajar bikin puisi. Biar galaunya bermanfaat, makanya merangkai kata-kata menjadi kalimat-kalimat yang memiliki arti indah, sok romantis padahal gue bukan cowok romantis. Gue memang nggak punya bakat untuk jadi cowok yang romantis. Gue punya bakat jadi cowok yang manis doang #uhuk
Murid gue kalo udah baca tweets gue yang isinya galau (itu sih kata mereka), bakalan di retweet semua. Sampai ada yang rela ngeretweet semua tweets gue. Aneh, kan murid-murid gue? Nggak jauh beda ama gue.
Lagi-lagi gue tidak setuju dikatakan galau kalo gue menulis puisi. Karena terkadang gue memang sengaja belajar bikin puisi dengan berkicau. Jadi tidak semua yang sering membuat puisi itu suka galau, kan? Tapi lagi-lagi itulah persepsi masyarakat, kita tidak bisa merubah persepsi mereka agar sama dengan apa yang ada di benak kita.
Sebagian besar dari followers gue adalah murid. Itu artinya sebagian besar murid-murid gue membaca semua tweets gue; entah yang sok islami, sok bijak, sok puitis, curcol, galau, de el el. Jadi nggak aneh kok kalo gue mendapat predikat ustad yang paling sering berkicau dan paling sering galau di jejaring sosial. Jejaring sosial yang sering gue pakai adalah twitter, gue jarang membuka lapak di facebook. Palingan gue cuma share tulisan-tulisan gue yang ada di blog, ama ngurus fans page. What? Fans page? Nggak salah ni gue? yupz gue punya fans page dan bisa dipastikan orang-orang yang nge-like itu pasti bingung siapakah gerangan yang punya page ini? Terkenal juga kagak, iya kan? Tapi ya sudahlah, kalo berkenan ya silahkan di like, kalo nggak berkenan ya tetap harus di like juga (edisi maksa).
Sebenarnya, awalnya gue hanya sering berinteraksi dengan teman-teman penulis doang di twitter. Tapi lama kelamaan banyak murid yang jadi followers, gue mulai mengurangi jam terbang gue di timeline. Untuk mengurangi kegalauan gue di malam minggu, gue biasanya membuat kuis berhadiah pulsa gratis. Yah lumayan membuat gue sedikit move on. Berbagi di malam minggu kelabu.
Pernah gue bikin tweets puisi tentang jatuh cinta, rame tuh murid-murid yang mention gue. Padahal gue cuma bikin puisi doang. Gue aja nggak tahu puisi itu gue tujukan ke siapa, gue cuma pengen aja bikin puisi. Setiap kali gue bikin puisi, gue dikatain galau.
“Cieee.. Ustad lagi jatuh cinta, ya? Ama siapa?”
“Uhuk..numpang batuk, ya Ustad.”
“ehm.. ada yang lagi jatuh cinta ni kayaknya. Akhirnya Ustadku jatuh cinta.” (Baca mention ini gue jadi pengen nimpukin dia pake permen satu kardus)
 “Semoga dia memang jodoh ama Ustad, ya.” (ah ini anak bijak banget. Tapi siapa dia?)
Mungkin karena gue bikin puisinya di malam minggu, makanya banyak yang mengira gue lagi galau. Ada murid yang pernah nanya,
“Kok bikin puisi seringnya malam minggu?”
Kalo gue bikin puisi malam Jumat Kliwon, gue takut setan pada jatuh cinta ama gue #dicekeksetan.
Awalnya gue itu nggak pernah berani memakai foto asli di jejaring sosial. Alasannya sih simpel banget, gue cuma takut banyak yang galau melihat wajah gue yang nggak jauh beda ama Tom Cruise kalo dilihat dari puncak monas. Semoga penggemar Tom Cruise tidak membaca tulisan ini, takutnya gue didemo kemudian diminta untuk menampakkan diri dihadapan publik. Bisa berabe urusannya kalo kayak gitu. Jadi jangan bilang-bilang fans-nya Tom Cruise, ya, Bro. #nyengir
Setelah hampir setengah tahun gue punya akun twitter, akhirnya gue berani juga pasang muka labil gue jadi avatar. Mulai deh banyak komentar. Selain berani masang foto asli, gue jadi ketagihan share foto. Kalo baru aja ada kegiatan sekolah dan kebetulan gue bawa camdig, pulangnya biasanya gue langsung share di twitter. Itu berlangsung hampir satu tahunan lebih. Setelah itu, akhir-akhir ini gue sudah jarang banget bawa camdig. Udah jarang juga share foto-foto. Udah mulai bosan, kebanyakan foto kayaknya.
Galau di timeline itu ada serunya juga loh, Bro (akhirnya ngaku juga kalo sering galau di timeline). kadang kalo gue lagi rajin banget ngetweet puisi, ada juga yang iseng ngebalas tweets gue dengan puisi juga. Nah kalo sudah demikian, biasanya akan terjadi saling berbalas mention berupa puisi. Seru aja sih menurut gue. Tapi ya nggak jauh-jauh dari puisi galau sih (itu kata mereka)
-Benciku padamu, hanya akan membuatku selalu ingat akan dirimu. Aku tak pernah benar-benar membenci- #nomention
-Aku tak pernah benar-benar menjauh darimu, aku hanya mengeja jarak, berharap rasaku mengutuh, menyemai rindu untukmu-
-Dalam diam, kusebut namamu, kuucapkan rindu, kusemai benih-benih cintaku untukmu-
-Luka, mungkin hanya goresan rasa yang akan hilang bersama hangatnya mentari pagi, ada rindu yang menanti tuk didekap-
-Bukankah hadirku untuk menerangi hatimu dengan warna-warni pelangi yang terukir indah di raut wajahku? Mungkin.-
-Cinta, mungkin hanya tetesan bahagia yang jatuh perlahan dari mahligai kasih, yang terus menetes dan memenuhi sanubariku.”
-Benci, mungkin hanya gejolak rindu yang sedang berlari tak tentu arah, mencari jalan untuk kembali-
-Rindu, mungkin hanya getaran rasa yang melambung tinggi bersama alunan nada hatiku dan hatimu-
Gue juga sering ngetweet kalo lagi kangen ama murid-murid. Saat liburan biasanya gue kangen banget ama mereka. Gue nggak tahu apakah mereka juga merasakan hal yang sama. Semoga.
-Aku merindukan kebersamaan kita, tertawa, berbagi suka dan duka, pun dengan langkah-langkah kecil kalian. Adakah rindu untukku?-
-Aku merindukan senyum khas yang selalu hadir menemani pagiku, senyum ramah yang menyapa hati di saat mentari memulai sinarnya. Aku rindu-
-Aku merindukan rasa yang selalu hadir saat tanganku menyentuh lembut telapak tangan kalian, pun dengan ucapan salam yang kalian ucapkan-
-Aku merindukan derap langkah kalian, berlari mengejar langkahku yang kadang terlalu cepat, pun dengan hentakan-hentakan kaki-kaki mungil kalian-
Kadang kalo lagi kangen Ibu, gue juga sering ngetweet.
-Kulihat wajahmu yang tak lagi seperti dulu, ada garis-garis kehidupan yang menghiasi wajahmu. Aku ingin melihatmu bahagia karenaku-
-Kulihat mentari yang perlahan menghangatkan semestaku. Kasihmu tak pernah hilang, menjelma menjadi rindu yang menggunung. Aku rindu Ibu-
-“Adakah rindu yang sama yang engkau rasa?” Tanyaku padamu. Ada rindu untukmu, Ibu. Selalu-
-“Kapan pulang?” tanyamu padaku saat getar-getar rindu itu semakin kuat. “Nanti,” jawabku. Kemudian engkau merapal harap segera-
-Jiwaku tenang saat jemariku memegang erat kedua tanganmu yang dulu menuntunku untuk berdiri kuat melawan kehidupan. Ada rindu untukmu-
-Pagi datang membawa senyuman, menata rindu akan hadirmu di sisiku, Ibu. Ibu, utuhkah rindu menjelma di hatimu?
Kurang lebih demikianlah tweets gue di malam minggu. Sebelum ngetweets puisi, biasanya gue izin dulu ke followers gue, udah kayak mau nikah aja, kudu izin ke followers.
Ada juga murid gue yang rela scroll down tweets gue yang udah lama, kemudian nge-retweet semua tweets gue yang sok puitis bin galau. Handphone gue berdenting mulu karena notification dari twitter. Fiuh…kamu tega.
Ada yang belum gue ceritakan, di jejaring sosial gue memiliki dua gelar; Pak Guru dan Ustad. Kalo Pak Guru adalah panggilan dari mereka yang bukan murid, meski ada juga yang manggil gue ustad. Sedangkan ustad adalah panggilan resmi dari murid-murid gue.
Pada akhirnya gue menyadari satu hal, tidak masalah kalo memang gue aktif di jejaring sosial, dalam hal ini twitter, selama itu masih wajar-wajar saja. Yang jadi masalah adalah ketika sudah menjadi kecanduan akut, hingga melupakan banyak hal lain yang seharusnya kita lakukan. Selama itu masih dalam batas yang wajar, silahkan saja, jangan sampai menjadikan itu semua sebagai suatu hal yang wajib dilakukan.
Segalau sesuatu yang dilakukan berlebihan memang tidak baik, kan? Contohnya kamu suka maen game, ya, silahkan maen. Tapi jangan sampai bermain game melupakan kewajibanmu, misalkan shalat. Gue punya murid yang rela maen game di warnet dari maghrib sampai subuh, parah nggak tuh? Sekalian aja bikin kontrakan di warnetnya.
Selamat berkicau dan jangan lupa follow gue di @ariansilencer (modus nyari followers).

Ini Tentang Penampilan



Seorang guru itu ditiru dan digugu. Gue pernah berada pada satu titik dimana gue menjadi seseorang yang bingung dengan pertanyaan gue sendiri. Kalian mau tahu nggak? Mau tahu atau mau tahu banget? #alaydetected
“Apa yang salah dengan penampilan gue?”
Pertanyaan itu sering banget muncul kalo pas ketemu orang baru. Banyak yang nggak percaya kalo gue itu seorang guru Al Quran. Ketika bertemu orang baru otomatis akan ada perkenalan. Nah kalo mereka menanyakan pekerjaan gue, gue nggak mungkin jawab kalo gue ini tukang urut apalagi pangeran cinta. Kalo nanya kerjaan, gue pasti jawab kalo gue ini guru. Nah kalo ditanya lebih lanjut tentang mata pelajaran apa yang gue ampu, gue pasti jawab kalo gue mengajar Al Quran.
Anehnya, gue nggak pernah berhasil meyakinkan mereka bahwa gue guru Al Quran. Emang ada yang salah dengan tampang gue? Emang ada yang salah dari cara    gue berpenampilan? Apa salah emak gue? Apa salah tante gue? Apa salah Eyang Subur? Ada loh yang saking nggak percayanya malah pengen lihat jadwal mengajar gue untuk memastikan bahwa gue memang guru Al Quran. Ngeselin, nggak tuh? Selain itu, gue sering dikira pegawai Bank. Kata mereka penampilan gue lebih cocok jadi pegawai Bank dari pada penampilan seorang guru.
Dulu, pertama kali bertemu dengan sahabat baik gue Mbak Siwi Mars Wijayanti, beliau seorang dosen, penulis dan yang paling sering dengerin curhatan gue (ketahuan banget kalo gue tukang curhat). Beliau sempat mengira kalo gue itu guru Bahasa Inggris. Dahi gue berkerut waktu beliau bilang kayak gitu. Setelah itu, gue balik ke rumah, kemudian duduk lama banget di depan kaca, memperhatikan tampang gue yang nggak jauh beda ama Tom Cruise #dilemparbarbel.
Gue mencoba untuk meyakinkan diri, bahwa gue memang punya tampang jadi seorang guru Al Quran. Emang sih, waku itu gue masih suka banget pake celana levis, meski yang rada-rada gombrong. Kalian nggak bakalan menemukan gue memakai kopiah haji kalo nggak pas waktu shalat. Kalian juga bakalan jarang melihat gue pake baju koko karena gue lebih sering pake kemeja lengan pendek. Guru Al Quran nggak mesti harus pake peci, baju koko, celana bahan, apalagi jubah, iya, kan? #elusdada
Kalo pas bertemu teman-teman baru, kebanyakan pada nggak percaya kalo gue guru Al Quran. Pasti kebanyakan dari mereka mengira kalo gue itu guru Bahasa Inggris, bahkan ada juga loh yang mengira gue itu guru BK. What? Guru BK? Padahal gue sering dipanggil BK, sering juga konsultasi, jadi jelas gue bukan guru BK. Masa guru BK sering galau kayak gue, mau jadi apa nantinya mereka yang konsultasi? Masa gue kasih cara-cara ngetweet galau pada anak-anak yang konsultasi.
Gue punya teman namanya Dimas. Dia biasa manggil gue Mas Ustad Penulis. Panjang banget, kan? Nggak sekalian aja gue dipanggil “Mas Ustad Penulis Guru Al Quran Arian Sahidi”, biar lebih panjang dan lebih keren. Loh ini kenapa gue jadi emosi? #masukkulkas biar adem.
Gue pernah nitip sepeda di rumahnya Dimas, kemudian pas mau ngambil sepedanya, ternyata sudah diantar ama Dimas ke sekolah. Gue bertemu Ibu Dimas di rumahnya. Terus si Ibu nanya,
“Kerja dimana, Mas?”
“Guru di SMP Al Irsyad, Buk.”
“Ngajar apa?”
“Al Quran, Buk.”
“Ah nggak mungkin,” ujarnya sampil senyum tipis.
Arghhh tidakkk….. Dalem banget ucapannya. Masa gue harus bawa surat keterangan dari sekolah tiap kali bertemu dengan orang-orang baru.
Dimas pernah kaget juga waktu pertama kali maen ke rumah. Waktu itu kebetulan menjelang maghrib. Setelah adzan, gue ajak Dimas ke masjid untuk shalat berjamaah. Gue shalat sunnah di belakang tempat imam. Setelah iqamat dikumandangkan, gue maju ke tempat imam dan menjadi imam shalat maghrib. Setelah shalat, Dimas cerita.
“Aku kaget loh, Mas, waktu Mas maju ke tempat imam. Eh ternyata jadi imam. Aku nggak menemukan tampang imam di raut wajahmu.”
Gue cuma nyengir aja mendengar ceritanya.
Kok kayaknya panas juga telinga gue sering mendapat komentar ini dan itu gara-gara penampilan gue.
“Ustad kok pake levis, ustadz kok sering pake earphone kalo lagi naik motor, ustad kok sering bla-bla-bla.”
Dan banyak lagi komentar lain. Satu hal yang gue syukuri, itu artinya mereka peduli ama gue. Mungkin karena panggilan ustad yang sudah melekat di diri gue, jadi semuanya kudu sesuai dengan persepsi orang lain, meski gue nggak bisa menebak persepsi orang lain tentang gue.
  Waktu sepedaan hari Minggu, gue pergi ke GOR. Janjian ketemu ama Dimas. Dia malah komentar tentang penampilan gue.
“Olahraga kok pake celana bahan, kayak mau ke kantor aja.”
Gue cuma nyengir (lagi) sambil nunjukin sandal jepit yang gue pake. Dimas terkekeh.
Dari sini gue belajar, bahwa orang lain juga menilai dari cara kita berpenampilan. Gaya berpakaian kita sebenarnya juga bagian dari kepribadian kita. Kebanyakan orang mungkin akan menganggap rendah mereka yang berpakaian compang-camping, lusuh de el el.
Setelah gue memutuskan untuk merubah style berpakaian gue, orang mulai percaya bahwa gue memang guru Al Quran. Tidak ada lagi yang namanya perdebatan saat menjelaskan tentang profesi yang gue tekuni. Meski gue nggak pernah pake peci kalo lagi pergi ketemu teman, meski gue nggak pernah pake baju koko setiap kali bertemu dengan teman-teman komunitas tertentu, tapi gue mulai bisa menyesuaikan diri.
Kata Dimas, “Mas, kalo pas pakean formal terlihat lebih tua, kalo pas pakean santai, kaos oblong, celana training, terlihat kayak masih remaja.” Gue ngakak mendengar komentarnya.
Nggak ada yang salah kok ustad pake celana levis, kaos oblong, selama memang masih wajar. Gue juga malah nggak suka dengan celana yang ketat kayak kurang bahan itu, celana jeans, celana pensil, celana pulpen, celana setan atau apalah namanya. Tapi kan persepsi masyarakat tidak bisa dibentuk sesuai dengan persepsi kita. Satu hal yang gue harapkan, semoga gue bisa terus memperbaiki diri karena Tuhan, bukan karena manusia.
Kadang untuk melakukan suatu kebaikan butuh dorongan dari luar. Misalkan shalat berjamaah, masa ustad nggak shalat berjamaah di masjid? Masyarakat akan memberi komentar demikian, karena kita dikenal sebagai seorang ustad. Gue mengajar di sekolah yang sudah dikenal, dimana seluruh guru dipanggil ustad/ustadzah, terlepas dari apa mata pelajaran yang diampu. Tapi panggilan ustad itu sudah melekat pada diri, sudah sepatutnya bisa menjadi contoh.
Mungkin pada awalnya terpaksa, hanya karena tidak ingin mendapatkan komentar miring. Tapi lama kelamaan akan menjadi kebiasaan, kemudian menjadi sebuah keikhlasan. Bukankah demikian adanya? Kadang kita memang butuh dorongan dari luar diri kita sendiri untuk melakukan hal yang baik.
Menurut gue pribadi, tidak ada salahnya demikian, semua membutuhkan proses yang tidak semudah yang kita bayangkan. Untuk bisa tetap konsisten dengan kebaikan saja perlu kesabaran yang luar biasa. Tapi percayalah, kesabaran kita akan menjadikan kita sebagai orang yang lebih baik dari sebelumnya. Selamat mencoba.