December 19, 2013

Dear Faris


16 Desember 2013
            “Malam ini Ustadz mencoba sesuatu yang belum pernah Ustadz coba sebelumnya,” aku memulai pertemuanku dengan sebuah cerita keisengan yang baru saja kulakukan selepas shalat isya tadi. Faris mendengarkan ceritaku sambil duduk dan memijat lembut kaki kanannya.

            “Emang Ustadz ngapain, tadi? Melamar anak gadis orang, ya?” tanyanya sambil tersenyum menggoda, kemudian tertawa kecil. Ia tahu tentang perjalanan kisah cintaku yang cukup rumit, dan ia suka menggodaku dengan berbagai macam pertanyaan tentang bahtera rumah tangga.
            “Itu mah nanti, belum sekarang. Yang ini beda, ini jauh lebih keren dari itu.”
            “Apaan emangnya?”
            “Mau tahu atau mau tahu banget?”
            Kami berdua pun terkekeh.
            “Jadi begini, tadi Ustadz ke kedai kopi, dengan penuh percaya diri Ustadz memesan segelas kecil kopi medan, dicampur dengan es, kemudian segelas besar air putih hangat. Faris, kan tahu, Ustadz paling tidak suka dengan yang namanya kopi. Nah, tadi itu minumnya rada aneh, setiap kali minum kopi, langsung dilanjutkan dengan minum air putih, bahkan hingga tetes terakhir pun, dilanjutkan dengan minum air putih. Yah, semacam menghilangkan rasa pahit dengan kemurnian air putih. Mungkin ini cara minum kopi edisi terbaru yang pernah ada.” Aku mengakhiri cerita, sambil gemes melihat Faris yang sok serius mendengarkan ceritaku, padahal dia sudah menahan tawa sejak tadi. Aku mencubit pipinya, dan tawanya pun lepas, seolah baru saja mendengar lelucon hebat.

            Sekarang giliran Faris yang bercerita. Aku pun berusaha menjadi pendengar yang baik. Air mukanya yang tadi ceria, tiba-tiba berubah menjadi sedikit lunglai. Ia menunduk, dan mencoba untuk memulai ceritanya. Aku tidak memintanya untuk bercerita, dia sendiri yang kemudian memulai ceritanya hari ini.

            “Pagi tadi aku muntah-muntah, Ustadz. Tapi sekarang udah, nggak. Aku masih sedikit sedih sekarang, soalnya tadi sore aku tiba-tiba kangen Bapak. Semua tentang Bapak tiba-tiba hadir kembali, makanya aku nangisnya lama.” Ia menutup ceritanya sambil menerawang, kemudian menyentuh lembut kaos putih oblong yang ia kenakan, karena itu adalah kaos yang biasa dipakai Bapaknya. Aku masih melihat kedua matanya yang sedikit memerah, mungkin itu karena tangisnya yang membuncah kala rindu semakin menyesakkan dada. Rindu memang kadang misteri, ia datang tiba-tiba, menyesakkan dada dan membuat yang rindu semakin gila karena rindu yang tak sanggup untuk berlabuh.

            “Nggak apa-apa, rindu itu pasti bakalan datang di waktu-waktu tertentu, lama-lama Faris juga terbiasa. Sekarang bagaimana caranya Faris bisa bertahan menahan itu semua, perbanyak dzikir pada Allah, ya, perbanyak doa, semoga Bapak bisa tenang di alam sana, meski sudah tidak bersama Faris lagi. Faris mau terus mendoakan Bapak, kan?”

            “Insya Allah, Ustadz.”

            Sambil menikmati sedapnya bebek goreng yang sengaja kupesan untuknya, kami bercerita tentang mimpi hidup kami masing-masing; aku berharap bisa segera menghajikan Bapak dan Ibu, sedangkan Faris berharap bisa segera kembali pulih, bisa berjalan seperti sedia kala. Hingga makan malam usai, kami masih melanjutkan cerita tentang harapan-harapan yang ingin kami capai, bukankah Tuhan Maha baik? Selagi kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh, Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik buat kita, bukan?

            “Begitu juga dengan usaha Faris untuk bisa jalan lagi, semuanya harus sungguh-sungguh. Ustadz senang melihat Faris sudah semangat belajar jalan lagi. Allah pasti bakalan memberikan yang terbaik, karena Faris juga sudah berusaha melakukan yang terbaik.” Aku memberinya semangat, sebelum menghantarkannya dalam dunia mimpinya.

Cahaya itu kembali menerangi gulita malam yang sempat menjadi duka perjuangan
Cahaya itu kembali hadir, menyemai semangat perjuangan yang sempat pergi menjauh
Cahaya itu kembali merengkuh rindu akan semangat perjuangan hebat yang pernah pergi
Ia kembali bersinar, dengan cahaya yang mulai menyinari pagi yang tersenyum pada dunia

Selamat pagi, mentariku
Sinarmu mulai menghangatkan hari-hariku
Senyummu mulai meneduhkan hatiku
Tawamu mulai mewarnai pagiku yang kadang mendung
Selamat pagi untukmu, Faris
Tetaplah bersinar, meski mendung kadang menyapa harimu
Tetaplah bersinar, meski hidup tak selamanya putih
Selamat pagi untukmu, anakku

Merinduimu


17 Desember 2013
Faris sedang menonton film 3 idiots yang ada di laptopku, aku sengaja membawa laptop dalam kunjunganku kali ini, karena kerap kali ia bosan dengan rutinitas kesehariannya. Cara ini cukup menghibur, ia menikmati sajian cerita yang ada di film. Kudengar tawanya berulang kali memecah kesunyian malam.

            “Filmnya keren, Ustadz.” Ucapnya sambil tersenyum.
            Ia membuka folder my pictures yang ada di laptopku, aku membiarkannya melihat koleksi gambar yang ada, sambil sesekali memijat pundaknya.
            “Ini foto Ustadz umur berapa?” tanyanya padaku, sambil menunjuk satu gambar yang begitu polos. Aku tersenyum.
            “Itu waktu Ustadz baru mulai kuliah, keren, kan?”
            “Rambutnya itu, loh, Ustadz. Super culun banget.”
            “Kayaknya Faris cocok jadi penata rambut profesional, deh. Yang dikomentarin rambut mulu, nggak lihat apa? Udah keren gitu, masih dibilang culun.”
            “Iya, deh, keren.”
            Kami berdua sama-sama tersenyum.
            Sebuah pesan masuk di handphone-ku, dan aku harus segera pulang. Ada pertemuan yang harus segera kuhadiri secara mendadak.
            “Faris….”
            “Iya, Ustadz, kenapa? Ustadz ada urusan, ya?”
            “Iya, jadi harus segera pulang, nggak apa-apa, kan?”
            Ia mengangguk, kemudian menutup laptop dan memasukkanya ke dalam tasku. Ia menjabat tanganku, menciumi punggungnya dalam jeda waktu yang cukup lama. Ia melakukan itu berulang kali.
            “Ustadz, terimakasih, ya, sudah menyayangiku sepenuh hati. Aku semakin semangat untuk sembuh.”
            “Iya, manusia hanya bisa berusaha semaksimal mungkin, kan? Selebihnya Allah yang menentukan. Makanya Faris nggak boleh nyerah lagi, harus tetap semangat latihan, tetap semangat ibadahnya, ya.”
            “Insya Allah, Ustadz.”

18 Desember 2013
Anak-anak sudah mulai libur, hanya kelas sembilan yang masih masuk sekolah, karena mengikuti try out ujian nasional. Aku mengawas di ruang tiga, sambil melanjutkan penulisan naskah buku terbaruku yang belum rampung. Aku tersenyum, saat melihat ada kirimancover buku dari penerbit. Dalam waktu dekat buku itu akan segera terbit. Akhir tahun ini kuakhiri dengan sebuah karya, semoga memberi manfaat kepada pembaca. Amin.

            Ustadz Rizky, bendahara sekolah sedang bergegas menuju ke Bank, untuk menukarkan uang infaq anak-anak selama empat hari kemarin. Aku tersenyum bahagia, ada banyak orang yang begitu peduli dengan kondisi pahlawan kecilku, ia pun tahu, ada banyak orang yang begitu menyayanginya. Tidak hanya anak-anak di sekolah, ada banyak orang yang juga ikut membantu pengumpulan dana untuk biaya pengobatan Faris. Semoga kebaikan selalu menyertai mereka semua. Terimakasih, Tuhan.

            Lepas dzuhur, setelah mengikuti rapat Guru, aku dan beberapa rekan Guru pergi berkunjung ke rumah pahlawan kecilku. Kurang lebih dua puluh orang Guru yang bisa ikut serta dalam kunjungan kali ini. Kulihat mendung membungkus siang, dan tidak lama kemudian hujan pun turun, membasahi semesta. Akhir-akhir ini cuaca memang susah untuk ditebak, seperti siang ini, tiba-tiba mendung, kemudian turun hujan. Aku berlindung di depan lobi sekolah, menunggu hujan sedikit mereda. Aku lupa membawa jas hujan. Beberapa Guru sudah siap dengan jas hujan masing-masing.

            Hujan sedikit mereda, Faris pasti sudah menunggu sejak tadi. Aku tidak ingin membuatnya menunggu terlalu lama. Segera kutempuh perjalanan, meski hujan membasahi tubuh. Tak mengapa, aku tidak ingin pahlawan kecilku kecewa, karna aku sudah janji akan menjenguknya bersama beberapa rekan Guru yang lain. Bukankah menunggu adalah sesuatu yang membosankan?

            Rumah Faris sudah disulap sedemikian rupa, aku jadi tak enak hati, telah merepotkan tuan rumah. Kulihat aneka makanan sudah tersedia di ruang tamu. Beberapa kursi juga sudah berjejer rapi di teras rumah. Ada Ibu dan Bulenya Faris yang menyambut kedatangan kami. Kami dipersilahkan masuk, langsung menemui Faris yang sedang duduk di pinggir ranjang.

            Kulihat segurat senyumnya yang mengembang, ia bahagia bisa menumpahkan kerinduannya akan mereka, para Guru yang selama ini ia puja.

            “Ustadz keringetan sampe basah gitu?” tanya Faris sambil menjabat tangan para Guru. Aku duduk sedikit jauh darinya, membiarkan yang lain berbaur di dekat pahlawan kecilku. Aku sudah hampir tiap hari bersamanya, aku ingin memberi kesempatan Faris untuk bercengkerama dengan yang lain. Aku yakin ia sudah menahan rindu sejak lama.

            “Tadi Ustadz kehujanan, biasalah, lagi kangen dengan masa kanak-kanak, mandi hujan gitu.” Selorohku sekenanya. Aku mencandainya, kemudian membagikan air minum yang sudah disiapkan. Aku menyandarkan diri di kursi yang ada di pojok kanan, diam-diam memerhatikan mimik wajah pahlawan kecilku yang sedang berbunga. Bahagia itu sederhana, sesederhana pertemuan kali ini, saat ia tahu ada banyak cinta yang mengelilinginya.

            Sayup-sayup kudengar perbincangannya dengan para Guru, ia bercerita tentang kesehariannya selama ini, dan kulihat jelas raut wajah para Guru yang penuh iba akan kondisi yang ia alami.

            “Ustadz, kok duduknya jauh, sini,” ia memintaku untuk mendekat.
            “Baju Ustadz basah, bahu keringat juga.” Aku berkilah. Aku hanya tidak ingin jika perhatiannya terpusat kepadaku, biarlah ia merasakan cinta dari mereka yang selama ini ia rindukan.

            Hujan masih tetap dengan keindahannya. Aku suka berlama-lama menatap hujan yang berjatuhan, mengenang masa kecilku yang indah; saat dengan riangnya aku berlari di belakang Bapak, menikmati rintiknya, menuju pondokan yang ada di pinggir sawah. Hujan kadang juga mengingatkanku akan Kakek, laki-laki berusia senja yang penuh sabar mengajariku betapa hidup harus penuh syukur.

            “Bahkan banjir karna hujan lebat ini harus disyukuri,” ucap Kakek di suatu senja, saat melihat berita tentang Jakarta yang lumpuh total karena banjir.
            “Kenapa harus disyukuri, Kek?”
            “Karena ini pembelajaran bagi manusia, agar tetap melestarikan lingkungan, agar semua bisa kembali ke fungsinya masing-masing. Manusia kadang serakah, menebang pohon seenaknya, membuang sampah sesuka hati, dan lupa akan dampaknya.”

            Begitulah ia, laki-laki senja yang setiap hari selalu kurindukan. Akhir-akhir ini ia sering sakit-sakitan. Aku masih ingat dengan pesannya sebelum aku kembali ke perantauan.

            “Jika Kakek meninggal, kamu nggak usah pulang, biarkan Kakek istirahat dengan damai. Yang penting terus bantu Kakek dengan doa. Kakek bahagia mempunyai cucu yang shaleh. Jangan pernah khawatir, rencana Tuhan tidak pernah salah. Jika memang sudah waktunya, Kakek akan selalu siap untuk kembali ke sisi-Nya.” Ia memelukku, kemudian melepas kepergianku dengan tangis. Bahkan hingga malam menjelang, ia masih dengan isak tangisnya. Ibu memberitahuku tentang itu. Ia begitu menyayangiku.

            Tiba-tiba aku dikagetkan dengan sebuah suara yang sudah kuhapal dengan baik.

            “Ustadz….Ustadz…”

            Dengan sedikit terbata aku menjawab

            “I…ya, Nak,” kemudian berusaha untuk menghilangkan rasa kaget dari diri. Aku berusaha menguasai diri, setelah hanyut akan kenangan tentang masa lalu yang sempat kurindukan.

            “Ustadz-ustadz udah mau pulang.” Faris memberitahuku.

            Sebelum pulang, Ustadz Mustamim, selaku pihak manajemen sekolah sudah memberikan uang sumbangan anak-anak ke Ibunya Faris. Mereka pun pamit pulang, hanya aku sendiri yang masih menemani Faris.

            “Ustadz juga langsung pulang, ya,”

            “Jangan dulu, Ustadz, masa langsung sepi,” ucap Faris sambil tersenyum. Aku tidak tahan melihat garis senyumnya dan tidak tahan jika menolak keinginannya. Aku duduk di sampingnya, mengusap pundaknya.

            “Dua hari lagi Ustadz harus ke Bali, semua sudah siap. Jadi Ustadz nggak bisa nemenin Faris.

            “Sampai kapan di Bali?”

            “Sampai tanggal 29, kemudian tinggal di Jogja sampai tanggal 30. Awal tahun baru kembali lagi kesini, dan baru bisa jenguk Faris lagi, nggak apa-apa, kan? Faris mau minta apa oleh-olehnya?”

            “Faris nggak minta apa-apa, Ustadz bisa kembali dan menemani Faris aja udah cukup. Faris udah bahagia dengan itu.”

            Aku mendekapnya, kemudian mengelus keningnya.

            “Kamu yang semangat, ya. Jumat mau terapi, kan? Harus tetap semangat.”
            “Insya Allah, Ustadz.”

            Aku pun undur diri, meninggalkan secercah harapan yang semakin terang. Aku melihat Faris sudah semakin kuat dengan perjuangannya. Semoga ia baik-baik saja, Tuhan.